Tuesday, November 18, 2014

Merenggut Keperawanan Adik Sepupu

Cerita ini terjadi pada tahun 1997. Ini merupakan ceritaku nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada ibuku kalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan ide itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi.

Sepupuku (selanjutnya aku panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak montok seperti sekarang). Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku. Aku dianggapnya seperti kakak sendiri.


Nah kejadiannya itu waktu aku lagi liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya hubungan kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang aku yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga.

Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan (sorry udah lupa tuh judul filmnya).

Eh, Anita itu merespon dan bicara padaku, “Wah temenku sih biasa begituan (ciuman).”
Terus aku jawab, “Eh.. Kok tau..?”

Rupanya teman Anita yang pacaran itu suka cerita ke Anita kalau dia waktu pacaran pernah ciuman bahkan sampai ‘anu’ teman Anita itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk.

Setelah kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus aku bertanya padanya, “Eh, kamu mau juga nggak..?”
Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.
Dia bahkan bertanya, “Sakit nggak sih..?”
Ya kujawab saja, “Ya nggak tahu lah, wong belum pernah… Gimana.., mau nggak..?”
Anita berkata, “Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, ‘anunya’ jadi sakit.”
“Iya deh..!”, jawabku.

Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya (to the point bok..!). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang sejak lima hari lalu dia sedang menstruasi.

Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum sampai menyentuh ‘anunya’, dan terdengar suara desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.

Waktu pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar lima menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya.
“Auw..,” begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, “Eeessshhh..”, desisnya.
Lalu kutanya, “Gimana..? Sakit..?”
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.

Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku juga bangun, tapi aku belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal aku sudah ingin sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.

Hari berikutnya, aku dan Anita siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada aku dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.
“Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi”, katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.
“Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?”, tanyaku.
“Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?”, jawabnya.

Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak.

“Lho Mas, anunya Mas kok ngaceng..?”, katanya.
Ternyata dia melihatku, kujawab, “Iya ini sih tandanya aku masih normal…”
Aku terus melanjuntukan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
Kubisiki dia, “Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?”

Aku menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nanti. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling mengelus di bagian luar saja.

Malam harinya kami melakukan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.

“Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan”, kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.

“Eehhhsssttt… Eehhhsssttt… Ouw.., eehhhsssttt… Eehhhsssttt… Eehhhssstt..”
Begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
“Kocokkannya lebih pelan dong..!”, kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.
Dan akhirnya, “Oh.., oohhh.. Oohhh.. Ohhh..” Rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.

Kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung berdiri tegap. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu jangan sampai lepas dari batangku. Setelah lima menit, akhirnya aku klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.

Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton TV. Anita datang, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan untuk nonton, dia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia langsung menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.
“Eh, kamu udah selesai mens-nya..?”, tanyaku.
“Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?”, katanya.

Aku memang tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich. Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku, dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya.

“Uhhh.. Essshhh.. Eessshhh.. Essshhh..”, begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya.
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xxx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.

Tapi, “Auw.. Diapaain Mas..? Eshhh.. Uuhhh.”, desisannya tambah mengeras.
“Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!”, sambil terus kukocokkan jariku.
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
“Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?”, pancingku.
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
“Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?”, tanyaku.
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.

“Ini nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel tapi enak gitu.”
“Mana.., mana.., oh ini ya..?”, kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.
“Ahhh. Auu.. Enakkkk Maaasss… Eeehhh… Aaahhh.. Truusss Masss, terusiinn.. Ohhh..!”
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
Dan akhirnya, “Uhh.. Uhhh.. Uuhhh.. Ahhh.. Aahhh.”, dia mencapai klimaks.

Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Lalu kubertanya, “Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini…? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!”
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.

Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku tidak mempedulikan erangannya lagi.
Kutekan lagi dan, “Auuuwww.. Ehhssaaakkkiittt..!”
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
“Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?”, tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.

Karena dia tetap diam, maka kulanjuntukan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi dia seperti menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, “Wah aku memperawaninya nih.”
“Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?”, tanyaku.
“Uhhh.. Tadi sakiiittt sich… Uhhh. Geeelii.” Begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.

Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan muluntuku.

Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa dia sudah orangasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, “Crot.. Crot.. Crot..”, air maniku tumpah di vaginanya. Serasa aku puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula.

Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, sebab menuruntuku desisan dan suara dia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.
Sebelum tidur aku sempat berfikir, “Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!”

Sewaktu aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.
“Wah, bisa hamil nich anak..!”, pikirku.
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.

Begitulah ceritaku saat menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak “horny”. Tapi sampai saat ini kami tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi.
, ,

Sarah, Aku Pengganti Istri Anakku

Sejak kematian menantuku, Lina, anakku Dodi menjadi duda. Dia tinggal di rumahku, dengan membawa anaknya yang berusia 6 tahun. Kebetulan sekali putri tunggalnya itu begitu dekat denganku. Dodi pun seperti kehilangan semangat untuk melakukan apa saja. Setelah mengantar anaknya ke sekolah, dia langsung pulang ke rumah tak mau lagi mengerjakan apa pun juga. Aku sudah lelah menyemangatinya. Aku mengakui, kalau Lina orangnya sangat baik dan cantik. Pantas kalau Dodi anakku sangat kehilangan dirinya. Oh iya Perkenalkan namaku Sarah, Umur 42 tahun. Ukuran Bra 36D.

"Sudahlah, Dod. Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan," kataku menenangkan jiwanya. Aku menyuruhnya untuk menikah lagi, Tapi Dodi yang kini sudah berusia 25 tahun itu, tak mau menikah. Takut anaknya punya ibu tiri dan tak dapat menerima anaknya. Aku mengalah. Tapi aku tak sampai hati melihatnya selalu uring-uringan. Selalu termenung. Mungkin inilah kesalahanku. Aku mendekatinya, dengan maksud agar dia tetap hidup semangat menghadapi semua ini.


Jika pagi, kami selalu berdua di rumah. Dua anakku yang lain sedang bekerja dan kuliah. Sementara suamiku sudah lebih dulu meninggal dunia, 5 tahun lalu. Aku hidup dari deposito suamiku dan dari hasil sewa tanah dan sewa 7 buah toko di pusat perbelanjaan mewah, serta sewa beberapa hektar sawah di kampung.

Seusai mandi, aku memakai kimonoku, tanpa apa pun yang melapisinya di dalam kimonoku. Itu biasa kulakukan, karena di rumah tak ada yang melihat. Aku berjemur di atas kursi malas di halaman belakang yang dipagari tinggi pada sebuah taman kecil. Tiba-tiba Dodi datang dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Dia juga baru usai mandi. Dia mendatangiku dan menyeruput kopi panas yang tersedia di meja kecil dekat kursi malasku. Aku meraih tengkuknya dan mencium pipinya dengan kasih sayang, agar dia tetap semangat. Entah apa yang dipijaknya, Dodi terpeleset, hingga menimpa tubuhku dari atas. Saat itu aku sangat terkejut, Dodi mencium bibirku dengan lembut.

"Mama cantik sekali," katanya lembut di telingaku. Lalu dia mengecup kembali bibirku dan menjulurkan lidahnya.

"Dodi... Kenapa mencium bibir mama, sayang?" balasku dengan lembut pula. Dodi tersenyum. Dan berulang-ulang mengatakan, aku cantik. Ia mencium kembali bibirku dan mengelus rambutku.

"Jangan, Dod... mama risih," kataku. Aku berharap, Dodi menghentikan perlakuannya. Tapi malah sebaliknya, bibirku dikecupnya kembali dan sebelah tangannya menelusup di belahan kimono-ku dan mengelus buah dadaku.

"Dodi!" kataku membentak.

Dodi tersenyum. "Kenapa, Ma? Aku menyayangi Mama."
"Tapi..."

Kembali Dodi mencium bibirku dan memelukku erat sembari terus mengelus-elus buah dadaku. Aku ingin melawan, tapi sudah terlambat. Tali kimonoku sudah terlepas. Demikian juga handuk yang melilit tubuh Dodi sudah terbuang entah kemana. Kini bukan bibirku lagi yang dikecupnya, tapi buah dadaku sebelah, sudah berada dalam kulumannya dan sebelah dia remas. Aku berusaha menolak tubuhnya yang kekar itu. Sia-sia saja. Sebelah tangannya sudah menelusup mengelus vaginaku dan satu jarinya sudah memasuki lubang vaginaku.

"Dodi... Kamu ini..." Saat itu mulutnya yang berada di tetekku, sudah berpindah ke mulutku dan Dodi mempermainkan lidahnya dalam mulutku. Aku ditindihnya dari atas. Aku dikangkangkannya. Aku melawan sekuat tenagaku. Tapi aku mau bilang apa lagi, penisnya sudah berada dalam lubang vaginaku. Blesss! Penisnya masuk ke dalam vaginaku.

"Dodi... Aku ini ibumu, nak! Bagaimana ini?"

Dodi terus menekan penisnya ke dalam vaginaku. Makin dalam dan makin dalam sampai ke ujung yang paling jauh dalam vaginaku. Setelah semuanya berada dalam vaginaku, Dodi terus menjilati leherku, telingaku dan meremas-remas tetekku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Jujur saja, lama kelamaan aku menikmatinya juga. Sudah lima tahun lebih aku tidak merasakan penis berada dalam liang vaginaku.

"Dodi, jangan, nak! Aku ibumu!" hanya itu yang bisa kukatakan.


Dodi justru semakin buas dan terus memompaku dari atas tubuhku. "Mama... mama cantik sekali. Aku tak mau menikah lagi... Mama sudah ada. Semuanya sudah terpenuhi, Ma." katanya sembari terus memompa tubuhku.

"Tidak, Dodi... aku mamamu, sayang..." kataku terbata-bata dan tanpa sadar aku sudah memeluknya juga.

"Aku tak mau menikah lagi, Ma. Mama segalanya bagiku," katanya pula.

"Jangan, Dodi... nanti ketahuan." kataku.

"Kita harus pandai merahasiakannya, Ma." jawab Dodi, sembari terus menggenjotku dari atas.

"Tapi..."


"Ya, kita harus pandai menjaga rahasia ini, Ma," jawabnya. Dodi terus menggenjot tubuhku dan aku tak mungkin berkata-kata lagi, karena aku sudah berada di puncak nikmat.

"Dodi... mama sudah mau sampai, nak. Cepatlah!" kataku tak sadar. Mungkin ini pula kesalahanku yang kedua.

Dodi menggenjotku dengan lebih cepat, sampai aku memeluknya sekuat tenagaku dan menahan nafasku pada puncak kenikmatanku. Dodi menekan kuat penisnya ke dalam lubangku sembari memelukku kuat sekali. Aku merasakan tembakan spermanya berkali-kali dalam vaginaku. Aku juga melepas nikmatku sampai aku rasanya kehilangan nafasku.

Kami terkulai sejenak. Kami melepas nafas kami yang memburu. Penis Dodi keluar dari vaginaku. Nafas kami sudah normal. Dodi membopongku ke kamar mandi dan menceboki vaginaku, lalu dia mencuci penisnya. Setelah Dodi melap vaginaku dan penisnya, dia mengecup bibirku dengan lembut.

"Aku mencintaimu, Ma... Aku mencintaimu!" Aku tak bisa menjawab apa-apa. Lalu Dodi membopongku kembali ke taman belakang rumah dan meletakkan aku kembali di atas kursi malam yang terbuat dari kayu jati. Dia pakaikan kimonoku, lalu dia melilitkan handuk pada pinggangnya dan kami menyeruput segelas kopi bergantian.

"Kenapa ini bisa terjadi, Do?" tanyaku seperti menyesal.

"Karena aku mencintai mama. Aku yang salah, Ma. Tapi izinkan aku mencintaimu seumur hidupku," katanya.

"Tapi bukan begitu caranya, sayang."

"Inilah cara terbaik buatku, Ma. Izinkan aku terus melakukan ini," katanya sembari mengecup bibirku dengan lembut. Kepalaku dibelai-belainya. Aku diperlakukannya seperti anak kecil, seperti cucu anakku sendiri. Kini Dodi sudah duduk di tepi kursi malasku. Dia terus mengelus-elus kepalaku dan terus memuji kecantikanku.Tangannya mengelus tetekku dan sesekali mengecup pentil tetekku.

"Dodi, jangan ah. Nanti mama nafsu lagi. Mama sudah tua," kataku. Kata nafsu lagi membuatku menyesal, karena memang itu yang kutakutkan, aku takut bernafsu lagi. Dulu aku memang pantang disentuh suamiku, aku lantas meminta untuk disetubuhi.

"Gak apa-apa, Ma. Untuk mama, aku akan siap terus melayani," katanya. Dodi mengelus-elus perutku, terus ke bawah. Kini tangannya sudah mengelus-elus bulu vaginaku. Sesekali dia menyentuh klitorisku.

"Dodi... ah! Ntar mama jadi mau lagi. Kita tak boleh melakukan ini. Jangan, sayang!" kataku.

"Akan aku lakukan, Ma!" katanya sembari terus mengulum bibirku dan mempermainkan lidahnya. Lidah kami sudah berkaitan dan tanpa sadar, aku memegang penisnya yang sudah mengeras. Besar dan panjang. Lebih besar dan lebih panjang serta lebih keras dari milik almarhum suamiku.

Dodi turun dari kursi malasku. Dia berada di antara kedua pahaku lalu menjilati vaginaku. Hal yang belum pernah aku rasakan. Aku protes, tapi terlanjur. Dodi sudah menjilati klitorisku. Benar-benar aku merasakan sesuatu yang baru dan sangat nikmat. Aku sudah tak mampu menahan nikmatku. Aku menjepit kepala Dodi dengan kuat dengan kedua pahaku. Aku menjambak rambutnya. ”Dodiiii...!!!” hanya itu yang keluar dari mulutku, sampai jepitanku mengendur, karena aku sudah merasakan nikmatku.

"Sudah, Dodi, mama sudah sampai dan sudah tak tahan lagi," kataku. Saat itu pula Dodi justru memasukkan penisnya yang besar itu ke dalam vaginaku dan menekannya sampai amblas. Dodi membiarkan penisnya di dalam vaginaku tanpa mengerak-gerakkannya. Rambutku dielus-elusnya sampai nafasku kembali tenang dan normal.

Perlahan Dodi menarik penisnya dan memompanya kembali secara perlahan berulang-ulang dan berulang. Setelah lima menit demikian, aku kembali bernafsu dan memberinya respons. Dodi pun memberikan pompaan yang lebih agressif lagi. Kami saling merespons. Saling memeluk, saling mengecup dan saling membelai. Sampai akhirnya, aku meminta Dodi untuk mempercepat kocokan penisnya dalam vaginaku dan aku memeluknya. Dodi mempercepat kocokan penisnya dan memelukku dengan kuat juga, sampai kami sama-sama berteriak kecil penuh nikmat.

"Maaaa...."


"Ukhhh... sayaaaanngg..."

Dan kami sama-sama melepaskan nikmat kami yang tak dapat digambarkan dengan apa-saja. Kami saling berpandangan dan bertatapan dengan penuh mesra.

"Dodi, kamu jangan sampai bercerita pada siapapun," kataku. Dodi hanya tersenyum dan mengecup bibirku dengan lembut dan penuh kasih sayang.

***


Setelah kejadian itu, aku melihat Dodi semakin bersemangat hidupnya. Dia semakin menyayangiku. Jika kami berdua di rumah, Dodi selalu memanggilku sayang. Dodi sudah mulai keluar rumah mencari pekerjaan. Justru kini aku yang kesepian. Gila! Kenapa ini bisa terjadi? Aku membutuhkan Dodi, anakku. Membutuhkan belaiannya. Saat aku menyiapkan masakan untuk makan siang, justru aku gelisah. Aku ingin dibelai. Tapi haruskah Dodi lagi yang membelaiku? Kalau bukan dia, terus siapa? Haruskah aku mencari laki-laki yang iseng? Belum tentu aku mendapatkan kepuasan dan kasih sayang seperti yang diberikan oleh Dodi.

Cepat aku mengambil HP. Aku pencet nomornya dan... nyambung!

"Ada apa, Ma?"

"Cepat pulang dong, sayang. Mama rindu..." kataku. Dadaku begetar ketika menutup HP. Salahkah aku mengatakan kepada Dodi kalau aku merindukannya? Salahkah aku? Nampaknya aku sudah tak perduli lagi. Sudah lima tahun aku tak merasakan sentuhan laki-laki dalam usiaku 42 tahun ini.

Aku sudah siap dengan segalanya. Aku sudah memakai kimono tanpa pakaian apapun di dalamnya. Kue dan dua gelas kopi susu panas sudah kusiapkan di halaman belakang. Aku menyiapkan segalanya. Kursi malasku sudah kuratakan. Aku sudah melapisinya dengan selimut tebal, agar sedikit lebih lembut dan sedikit lebih mesra. Saat aku membenahinya, aku mendengar suara bel berbunyi. Cepat aku keluar. Aku yakin, yang memencet bel itu adalah Dodi, anakku. Benar saja, Dodi sudah berada di ambang pintu. Gerbang sudah dikunci dan sepeda motor langsung dimasukkan ke dalam rumah, bukan ke garasi. Dia tersenyum. Manis sekali senyumnya.

"Ma, aku juga sudah rindu sama mama. Aku ingin seperti dua hari lalu," katanya menggandeng tanganku.


Aku membawanya ke belakang rumah, taman yang asri dan teduh. Dengan cepat dia menggamit sebuah handuk besar dari jemuran. Dilepasnya semua pakaiannya. Aku dipeluknya dan mengecup bibirku. Oh... aku sudah tak tahan menantikan ini. Aku membalas kecupannya dengan hangat. Kami saling memagut.

"Oh, sayangku... cintaku..." bisiknya di telingaku. Aku melayang, kata-kata mesra itu. Nafsu membuncah-buncang tak menentu. Aku limbung. Dodi membopongku ke kursi malas. Aku direbahkannya. Mulai Dodi menjilati leherku, mengecup bibirku, menjilati leherku kembali dan terus menjilati buah dadaku. Perutku tak luput dari jilatannya. Kemudian wajahnya sudah berada diantara kedua pahaku. Kedua kakiku sudah mengangkang. Oh... lidah itu, bermain-main di sana. Aku membayangkan lidahnya menari bagaikan penari jaiponngan yang geraknya lincah dan gemulai.

"Oh... oh..." kataku tak beraturan.

"Aku akan memberikan yang terindah untuk mama," katanya.

Kami berpelukan. Kutuntun penisnya yang sudah tegang, keras dan panjang itu memasuki lubang vaginaku. Aku sudah tak tahan. "Ayo, nak... sirami mama, sayang!" kataku tanpa malu lagi.


Perlahan Dodi memasuki lubang vaginaku yang sudah basah kuyup. Perlahan penis itu memasukinya sampai semuanya habis. Ujungnya menyentuh-nyentuh pangkal lubang vaginaku yang teramat dalam. Aku benar-benar sudah basah. Basah...

Clepp... plok... clepp... plok, suara itu berganti-ganti terdengar dengan irama yang temponya sama. Aku sudah tak mampu menahan nafsuku. Kupeluk Dodi dan menggigit bahunya dengan kuat sembari mendesah. Kujepit pinggangnya dengan kedua kakiku. Aku memeluknya erat sekali. Aku sudah tak mampu menahan nikmatku. Dan aku melepaskan semua yang tertumpah dari tubuhku yang terdalam.Berkali-kali dan berkali-kali, sampai akhirnya aku melepaskan pelukanku dan aku lemas.

"Mama sudah sampai?"

"Maafkan mama, nak. Mama sudah tak mampu membendungnya..."

Aku melihat Dodi sedikit kecewa. Kubiarkan dia terus memompa tubuhku, sampai akhirnya dia melepaskan spermanya dalam lubang vaginaku. Kami bepelukan dan saling mengecup sebagai ucapan sama-sama mengucapkan terima kasih kami. Setelah membersihkan diri, kami duduk di taman kecil itu. Kami menyeruput kopi susu yang masih hangat. Dodi memelukku dari sisi kiriku. Betapa mesranya pelukan itu. Pelukan yang tak pernah aku rasakan dari almarhum suamiku. Kami bercerita tentang sekolah cucuku, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Sesekali kami bercerita sembari tertawa kecil. Layaknya dua pasang pengantin remaja yang sedang berbulan madu.

Dodi memelukku sembari meraba-raba buah dadaku. Dielusnya buah dadaku dengan lembut. Tak lama tangannya sudah berada di bulu-bulu kemaluanku, sembari lidahnya terus menjilati leherku. Aku tak tahu harus berbuat apa, selain menikmatinya. Kini salah satu ujung jarinya sudah mengelus-elus klitorisku dan aku semakin merasakan nikmatnya. Tubuhku seperti menggigil dan aku merasakan diriku kembali melayang. Kulepas handuk Dodi dan aku menaiki tubuhnya sembari memeluknya.

"Kita ulangi, Ma?" katanya lembut seperti mengejekku.

"Kamu yang memulai, sayang. Mama sudah basah lagi," kataku.

"Mama raihlah dan dan mama masukkan sendiri," katanya lagi seperti mengejekku. Aku tak perduli ejekannya. Kuraba penisnya yang juga sudah mengeras. Kutuntun penis besar, panjang dan keras itu memasuki lubangku. Kutekan tubuhku, agar penis itu benar-benar habis tertelan oleh vaginaku. Oh... penis itu sudah menyentuh bagian dalam vaginaku yang teramat dalam. Bulu-bulu penisnya, seperti mengelitik klitorisku. Aku tak mampu menahan diri. Aku mulai meliuk-liukkan tubuhku mencari kenikmatanku. Dodi mengisa-isap buah dadaku bergantian. Kedua tangannya mengelus-elus tubuhku.

Enak saja Dodi mengangkat-angkat tubuhku yang beratku hanya 53 kg sementara Dodi berat tubuhnya berkisat 79 kg. Tubuhnya juga tinggi, berkisar 175 cm sedang aku hanya 55 cm. Aku melingkarkan kedua tanganku di tengkuknya dan merapatkan dadaku ke dadanya. Gesekan pentil tetekku ke dadanya, membuatku semakin merasa nikmat. Sebelah tangannya mengelus-elus duburku dengan lembut. Ah... aku tak mampu lagi mengatakan apa pun, selain mendesah. Kenapa selama ini, aku tak pernah merasakan kenikmatan sex sepertai sekarang ini? Kenapa? Tapi aku tak menyesal. Kini aku menikmatinya saja.

Dengan kuat Dodi menekan tubuhku semakin rapat ke tubuhnya dan sebelah tangannya mencengkeram pantatku. "Sayang... ayo cepat, aku sudah mau sampai..." katanya.

"Iya, mama juga sudah mau sampai, sayang. Ayo lakukanlah... semprotlah tubuh mama, sayang!"

Dodi memelukku semakin erat. Tubuhnya bergetar kuat. Cengkeramannya pada pantatku semakin kuat dan ciumannya pada leherku semakin kuat juga. "Oh, mama. Sejak SMP aku mencintaimu, sayang. Nikmat sekali, sayang!"

"Ayolah, Dodi sayang. Puaskan dirimu, Nak. Ayo, Nak. Jangan buat mama gila, sayang..." Ah, aku tak mampu. Tak mampu. Aku melepaskan kenikmatanku. Dodi juga menyemprotkan spermanya ke dalam liangku. Kami benar-benar berpelukan semakin erat dan kuat. Rasanya tubuhku seperti hancur dipeluknya sekuat tenaga. Sampai akhirnya, kami sama-sama melemah. Nafasku terengah-engah.

"Mama cantik sekali..." bisiknya. Aku memaksakan senyumku dalam nafasku yang sangat terburu-buru. Dodi mencium keningku dengan lembut. "Aku ingin menikahimu, sayang..." katanya.

Aku diam saja. Karena itu tak mungkin sama sekali. Tapi Dodi justru menyelami tanganku dan berkata sendirian, "Kunikahi engkau dengan sepenuh hatiku. Dengan mahar, diriku sendiri," katanya tulus. Aku meneteskan air mata.

"Ayo jawab, sayang..." katanya berbisik di telingaku.

"Aku terima maharmu dengan tubuhku sendiri," kataku latah.


Dodi tersenyum manis dan aku juga tersenyum. Dia membopongku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu usai membersihkan diri, aku mendengar ada suara bel berbunyi. Pasti cucuku pulang sekolah. Ya ampun, tak sadar sekian jam kami bermesraan di taman belakang. Aku cepat keluar dan memakai kimonoku. Aku buka pintu dan memeluk cucuku. Dodi masih di kamar mandi membersihkan dirinya.


***


Selalu saja Dodi hampir keceplosan. Untung orang yang mendengarnya tidak menangkap.

"Kita mau makan apa, sayang?" kata Dodi padaku saat kami memasuki restoran. Kalau aku yang mengatakan itu, mungkin orang tak curiga. Tapi jika Dodi yang mengatakan itu, pasti orang tanda tanya. Usia Dodi, separuh dari usiaku.

Aku tak mengerti, semangat hidup Dodi semakin meninggi dan dia kerja selalu saja lembur. Uangnya bisa terkumpulkan dengan baik di salah satu bank. Jual beli mobil bekas yang ditekuninya semakin membuahkan hasil. Aku juga demikian, aku selalu siap bekerja menjualkan perhiasan berlian dan berbagai bentuk perhiasan dari emas. Kami maju bersama. Dodi justru sudah memiliki sebuah mobil sedang, walau bekas. Untuk mengatasi kesibukan, kami pun sudah memiliki seorang pembantu. Setelah cucuku pergi sekolah, aku menyarankan kepada pembantu untuk masak apa hari ini. Aku keluar rumah dengan Dodi pukul 09.00 Wib. Setelah mengantarku, Dodi pergi ke tempatnya mangkal untuk mencari mobil atau mencari pembeli mobil. Terkadang dia hanya mendapatkan komisi saja. Hasilnya lumayan banyak.

"Ma, Mama aku jemput ya? Aku sudah sangat kepingin. Kita ke hotel," katanya. Jam baru menunjukkan pukul 11 siang. Akhirnya aku setujui, karena sebenarnya sejak tadi malam aku juga sudah menginginkannya.


Kami menuju puncak melalui jalan tol. Kami menyewa sebuah kamar di hotel kecil. Setelah mobil masuk ke dalam garasi, pintu garasi langsung kami tutup. Dari pintu kamar depan, seorang pelayan mendatangi kami dan Dodi langsung membayar sewa kamar. Nanti kami tinggal membuka garasi dan langsung pergi pulang.

Setelah semua beres dan minuman serta makanan kami pesan dan sudah terhidang di meja kecil, kami menyantapnya dengan lahap di udara yang dingin dalam rinai gerimis. Usai makan, kami langsung mencuci mulut dan menyabun tangan kami di kamar mandi.

"Ma, aku sudah gak tahan," katanya merengek, persis rengekan anak SD.


Aku tersenyum. Aku langsung membuka pakaianku. Dodi juga menelanjangi dirinya dengan cepat. Blur..!!! Penisnya yang mengeras keluar dan berdiri seperti tiang bendera. Dodi langsung menerkam dan menciumi bibirku. Kami berpelukan dan saling membelai.

"Ma, jilatin dong punyaku!" pintanya. Aku menggeleng, karena aku tak mampu. Dodi diam saja dan tersenyum. "Oke, Ma. Kapan-kapan ya. Kalo mama sudah bersedia." katanya.


Kini dia menuntunku ke tempat tidur. Aku terbaring di tempat tidur. Dodi menindihku dari samping dan mulai menjilati tubuhku. Remasan pada buah dadaku dan jilatan-jilatannya membuatku selalu saja merasa nikmat. Sekujur tubuhku sudah dijilatinya, sembari mengelus-elusnya.

Dodi mengarahkan jilatannya pada vaginaku. Klitorisku menjadi sasarannya. Aku merasakan, ini adalah permainan yang selalu kutunggu. Betapa terkejutnya aku, ketika lidah Dodi mulai menjilati lubang duburku. Ujung lidahnya berputar-putar pada lubang duburku. Aku menggelinjang.

"Dodi, jangan, sayang! Jijik, Nak!" kataku sembari menggelinjang. Dodi bukan malah diam, melainkan semakin memutar-mutar lidahnya pada duburku. Aku sudah tak mampu membendung hasratku. Kutarik kepalanya agar dia menindih tubuhku dan menyetubuhiku. Langsung kudekap tubuhnya dan kuarahkan penisnya ke lubang vaginaku.


Vaginaku yang basah, langsung menelan penisnya yang besar dan panjang serta keras itu. Aku mulai menggoyang pinggulku dari bawah. Dodi menggenjotku dari atas. Kami terus melakukannya berkisar 12 menit. sampai akhirnya kami sama-sama mendesah dan berpelukan erat. Kami sama-sama sampai pada batas kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku membelai rambut Dodi dengan kasih sayang. Kami tidur bersisian sembari berpelukan.


***


Kutuang air mineral ke dalam gelas. Kami meminumnya bergantian sampai habis satu botol ukuran sedang. Kami kembali berbaring dan menghela nafas kami. Lima belas menit kemudian, kami sudah kembali segar. Dodi mulai lagi menciumiku. Aku berpikir, anakku tak puas-puasnya kah menyetubuhi diriku? Aku sendiri tak puas-puasnya kah menerima tubuh Dodi yang menggenjot tubuhku? Kami ternyata sama-sama membutuhkan dan kami aman. Karena rahasia dapat kami jaga dengan ketat.


Kembali Dodi menjilati lubang duburku dan aku kembali menggelinjang kenikmatan. Dodi memintaku untuk menungging yang katanya gaya anjing. Kami sudah berkali-kali melakukannya dan memnag mendapatkan sensasi yang luar biasa. Aku mengikuti kehendaknya, aku menungging di ujung tempat tidur. Dodi pun kembali menjilati lubang duburku. Sebelah tangannya mengelus-elus klitorisku. Aku merasakan ujung penis Dodi menyentuh lubang duburku.

"Dodi, bukan itu lobangnya, sayang!" kataku.

"Mama diam saja. Mama Nikmati saja. Nanti rasanya akan nikmat," katanya.

Aku membiarkannya. Ujung penis itu dia putar-putar di ujung lubang duburku. Perlahan Dodi menekan penisnya ke dalam duburku. Duburku yang sudah basah oleh ludahnya, terus ditusuknya. Aku merasa sakit. "Sakit, sayang...!" aku merintih.

Dodi mendiamkannya sejenak, kemudian menekan kembali. Aku merasakan sesuatu yang sangat berat. Sebelah tangannya terus mengelus-elus klitorisku. Ketika kujamah penisnya, aku yakin, penis itu sudah separoh menembus duburku. Dodi mendiamkanya sejenak, kemudian menembusnya lagi. Kemudian mendiamkannya, lalu menembusnya sampai ketika kuraba, penisnya sudah berada penuh dalam duburku.

"Sakit, sayang..." kembali aku merintih. Dodi terus mengelus-elus klitorisku. Aku merasakan nikmat. Saat itu, perlahan Dodi menarik penisnya berkisar sepertiga (mungkin), kemudian dia tusuk kembali. Menarik sedikit dan menusuknya. Begitu seterusnya.

"Perih, sayang..." kataku.

”Sebentar, Ma. Ini perawan mama untukku. Setelah terbiasa, nanti mama akan ketagihan," katanya.

Aku diam saja. Sampai akhirnya, aku merapatkan kedua kakiku dan aku mulai merasakan kenikmatan. Sepertinya aku sedang memotong-motong tinja yang keluar dari duburku. Dodi meringkih. "Teruskan, Ma. Enak! Teruskan, sayang. Enak, sayang..." desahnya.

Aku terusmelakukannya dan aku juga merasakan kenimatan. Sampai akhirnya, aku tidak merasakan perih lagi saat Dodi mempercepat kocokan penisnya di dalam lubang duburku. Aku merasakan nikmat luar biasa.
Dodi memeluk erat tubuhku dari belakang dan aku meremas bantal yang mengganjal wajahku.

Saat itu Dodi mencabut penisnya dari duburku dan aku merasakan nikmat luar biasa. Kemudian dia mencucukkannya ke lubang vaginaku. Dan croot... croot... croot... Spermanya muncrat memenuhi vaginaku. Kujepit penis itu sekuat tenaga. Aku mengerang kenikmatan. Sampai penis Dodi keluar dengan sendirinya karena sudah mengecil. Aku merebahkan tubuhku. Aku berkeringat. Dodi membelai-belai kepalaku dan menciumi kening dan pipiku.

Setelah minum air putih, kami terbaring sejenak. Setelah segar, kami mandi air hangat dan kami bersiap untuk pulang ke rumah. Kami harus tiba di rumah pukul 16.30. karena pembantu akan pulang pukul 17.00.

Sepanjang jalan kami tersenyum dan kami bercerita tentang apa saja. Tapi kami tak pernah sepatah katapun bercerita tentang persetubuhan kami. Tak pernah!

***

Tak terpikirkan selama ini. Aku dan Dodi terlalu asyik. Sudah sepuluh hari aku terlambat datang bulan. Aku membisikkan kepada Dodi. Dia juga terkejut. Kami singgah di sebuah tempat untuk makan minum pagi itu, walau kami dari rumah sudah sarapan.

"Apa yang kita lakukan, sayang? Andaikan UU tidak melarangnya, aku akan menikahi Mama," katanya setengah berbisik. Aku tersenyum. Aku tahu, Dodi sangat menyayangiku.

"Mama harus gugurkan, sayang!" kataku berbisik pula. Kulihat wajah Dodi tertunduk lesu.

"Kalau saja..."

"Ya sudah. Kita harus menjaga keadaan. Kita harus merelakannya untuk dibuang," kataku.

Aku ingat seorang teman lima tahun lalu menggugurkan kandunganya dengan ramuan tradisional. Aku menelponnya. Aku mengatakan, kemana aku harus menggugurkan kandunganku? Temanku itu terperanjat. Dia memintaku untuk datang. Aku meminta Dodi untuk mengantarkan aku ke rumah teman akrabku itu. Aku minta Dodi meninggalkan aku, nanti aku akan hubungi dia via HP untuk menjemputku. Dodi setuju. Temanku tak menanyakan dengan siapa aku melakukannya, hingga aku hamil. Dia pasti mengetahui, aku melakukannya dengan seorang laki-laki yang amat kucintai. Karena dia tahu, aku orang yang tidak liar, seperti dirinya.

Aku dibawa ke rumah seseorang. Ketika nadiku dipegangnya, orang itu mengetahui kalau aku sudah terlambat haid. ”Ini masih gampang, karena baru beberapa hari,” katanya. Dia mengambil ramuan dari tiga buah topless kaca. Ramuan itu disedu dengan air panas. Setelah suam-suam kuku, aku meminumnya. Kemudian dia memberiku dua sendok makan ramuan itu yang dibungkus pakai kertas. Setiap lima jam harus diminum. ”Besok pagi sudah keluar,” katanya. Aku menjadi tenang. Bayarannya tidak mahal. Hanya Rp. 50.000,- Setelah haid datang, tiga hari kemudian aku disuruhnya untuk kembali datang.

Benar sekali. Besok paginya berkisar pukul 07.00 aku sudah haid seperti biasa. Haidku kental dan hitam. Aromanya lebih anyir. Aku melaporkannya kepada Dodi. Dengan lesu Dodi mengecup bibirku sejenak. Wajahnya murung.

"Anakku telah terbuang, Ma."

"Tak ada jalan lain, sayang," bisikku menenangkan gemuruh dadanya.

Aku kembali datang ke rumah pembuat ramuan itu. Dia berkata, sebaiknya aku tidak hamil lagi dan tidak melahirkan lagi, karena usiaku sudah menua. Aku setuju. Dia memberiku ramuan untuk dua minggu. Bulan depan untuk satu mingu dan bulan depannya lagi untuk tiga hari dan seterusnya tiap bulan tiga hari minum ramuannya. Aku setuju. Aku membayar Rp.75.000,- Nanti setiap datang aku akan membayar Rp. 25.000,- Aku setuju. Menurutku sangat manjur dan sangat murah.

Dalam perjalanan, kami singgah di sebuah warung kecil agak di sudut. Ada bangku memanjang di bawah sepohon rindang. Di sanalah aku diciumi oleh Dodi. Dia mengelus-elusku.

"Tunggu sampai kering, sayang. Tiga hari lagi, kita sudah bisa mulai," kataku menyabarkannya.

Malamnya, di rumah, setelah cucuku tidur, dia dimasukkan ke dalam boxnya di kamarku. Kali ini Dodi tak mau tidur di kamarnya. Dia menemani aku tidur di kamarku. Dengan telaten, dia mengganti pembalutku. Aku risih sebenarnya, tapi Dodi memaksa.

"Sayang, aku sangat mencintaimu. Izinkan aku mengurusmu," katanya lembut. Aku pun tersanjung sekali. "Aku sudah tak tahan, sayang..." bisiknya.

"Bagaimana, kan masih belum kering?" kataku.


Akhirnya kami sepakat, kami harus pindah kamar ke kamarnya. Aku memberinya lotion. Aku mengelus-eluskan lotion itu ke batang penisnya, lalu ke lubang duburku. Aku menungging dan perlahan Dodi menusukku dari belakang. Licin dan tak perih lagi seperti pertama kali.

Kocokannya semakin cepat dan cepat. Aku merasakan darah haidku berdesir-desir membanjir dari vaginaku. Aku merasakan nikmatnya. Kami pun terus melakukannya sampai kami merasakan puncak nikmat yang luar biasa.

Hanya lima menit kami istirahat. Dodi membopongku ke toilet. Kami membersihkan diri. Aku mengganti pembalutku. Dibopongnya aku kembali ke kamar tidurku. Aku melihat cucuku tertidur dengan pulasnya. Dodi tidur di sisiku malam itu, Kami berpelukan dan saling membelai. Akhirnya, setelah menjelang subuh, kami belum juga memejamkan mata. Kami tak bersuara sedikitpun. Hanya nafas kami yang mendesah-desah dan tangan kami saling mengelus-elus.

"Sayang, aku mencintaimu!" bisik Dodi ke telingaku.

"Mama juga mencintaimu, Nak..."

"Aku kepingin lagi, Ma!”

"Tak puas-puasnya kah, sayang?"

"Aku kepingin, Ma..."

Aku bangkit. Kubuka celana pendeknya. Kukeluarkan penisnya. Aku mengelus-elusnya. Perlahan aku memberanikan diri untuk menjilati batang penis yang besar itu. Aku memulainya dari bawah, ke ujung dan memutar-mutar lidahku pada ujung penisnya sebelah bawah. Perlahan aku memasukkannya ke dalam mulutku.

"Sayang, jagan kena giginya dong. Sakit!" bisik Dodi.

Aku menyadarinya. Aku mulai perlahan mengulumnya dan memasukkannya ke dalam mulutku. Aku merasakan Dodi menjepit kepalaku dengan kedua pahanya dan menjambak-jambak kecil rambutku. sampai pada pucaknya, Dodi menusukkan penisnya sedalam-dalamnya ke rongga mulutku dan dia melepaskan sperma di dalam rongga tenggorokanku. Setidanya tiga kali. Kepalaku ditariknya kuat-kuat dan penisnya terbenam di dalam. Aku seperti susah bernafas. Tak lama, penis itu mengecil dan Dodi melepas kepalaku.

"Terima kasih, Ma," bisiknya.

Aku tersenyum. Aku telah memberikan kepuasan kepadanya. Aku lupa kalau hari ini Senin. Kami melakukannya setiap Senin, Rabu dan Sabtu. Jatah itu sudah kami atur. Kecuali kalau terkadang Dodi benar-benar kebelet atau aku yang kebelet minta disetubuhi.

Setelah meminum ramuan jamu, kami menjadi aman. Aku tak pernah hamil. Kini usiaku sudah 49 tahun. Sudah tujuh tahun lebih kami melakukan persetubuhan dengan rahasia yang ketat. Kami tak pernah bosan.

, , ,

Yuni, Gairah adikku

 Kejadian ini terjadi ketika aku lulus dari SMU. Perkenalkan, namaku Aris. Kejadian ini tidak akan terlupakan karena ini adalah pertama kalinya aku merasakan nikmatnya sex yang sebenarnya. Pada waktu itu aku make love dengan Mbak Yuni yang umurnya kira-kira 10 tahun lebih tua dariku. Wajahnya manis dan kulitnya putih.

Mbak Yuni adalah anak tetangga nenekku di desa daerah Cilacap yang ikut dengan keluargaku di Kota Semarang sejak SMP. Waktu SD ia sekolah di desa, setelah itu ia diajak keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku terutama merawat aku. Kami sangat akrab bahkan di juga sering ngeloni aku.
Mbak Yuni ikut dengan keluargaku sampai dia lulus SMA atau aku kelas 2 SD dan dia kembali ke desa. Namanya juga anak kecil, jadi aku belum ada perasaan apa-apa terhadapnya.

Setelah itu kami jarang bertemu, paling-paling hanya setahun satu atau dua kali. Tiga tahun kemudian ia menikah dan waktu aku kelas dua SMP aku harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yang dipindah tugas. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Kami hanya berhubungan lewat surat dan kabarnya ia sekarang telah memiliki seorang anak. pada waktu aku lulus SMA aku pulang ke rumah nenek dan berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.

Sesampai di rumah nenek aku tahu bahwa Mbak Yuni sudah punya rumah sendiri dan tinggal bersama suaminya di desa seberang. Setelah dua hari di rumah nenek aku berniat mengunjungi rumah Mbak Yuni. Setelah diberi tahu arah rumahnya (sekitar 1 km) aku pergi kira-kira jam tiga sore dan berniat menginap. Dari sinilah cerita ini berawal.

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah yang ciri-cirinya sama dengan yang dikatakan nenek. Sejenak kuamati kelihatannya sepi, lalu aku coba mengetok pintu rumahnya.

"Ya sebentar.." terdengar sahutan wanita dari dalam.
Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan aku masih kenal wajah itu walau lama tidak bertemu. Mbak Yuni terlihat manis dan kulitnya masih putih seperti dulu. Dia sepertinya tidak mengenaliku.
"Cari siapa ya? tanya Mbak Yuni".
"Anda Mbak Yuni kan?" aku balik bertanya.
"Iya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa?" Mbak Yuni kembali bertanya dengan raut muka yang berusaha mengingat-ingat.
"Masih inget sama aku nggak Mbak? Aku Aris Mbak, masak lupa sama aku", kataku.
"Kamu Aris anaknya Pak Tono?" kata Mbak Yuni setengah nggak percaya.
"Ya ampun Ris, aku nggak ngenalin kamu lagi. Berapa tahun coba kita nggak bertemu." Kata Mbak Yuni sambil memeluk tubuhku dan menciumi wajahku.
Aku kaget setengah mati, baru kali ini aku diciumi seorang wanita. Aku rasakan buah dadanya menekan dadaku. Ada perasaan lain muncul waktu itu.
"Kamu kapan datangnya, dengan siapa" kata Mbak Yuni sambil melepas pelukannya.
"Saya datang dua hari lalu, saya hanya sendiri." kataku.
"Eh iya ayo masuk, sampai lupa, ayo duduk." Katanya sambil menggeret tanganku.

Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol sana-sini, maklum lama nggak tetemu. Mbak Yuni duduk berhimpitan denganku. Tentu saja buah dadanya menempel di lenganku. Aku sedikit terangsang karena hal ini, tapi aku coba menghilangkan pikiran ini karena Mbak Yuni sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri.

"Eh iya sampai lupa buatin kamu minum, kamu pasti haus, sebentar ya.." kata Mbak Yuni ditengah pembicaraan.
Tak lama kemudian ia datang, "Ayo ini diminum", kata Mbak Yuni.
"Kok sepi, pada kemana Mbak?" Tanyaku.
"Oh kebetulan Mas Heri (suaminya Mbak Yuni) pergi kerumah orang tuanya, ada keperluan, rencananya besok pulangya dan si Dani (anaknya Mbak Yuni) ikut" jawab Mbak Yuni.
"Belum punya Adik Mbak dan Mbak Yuni kok nggak ikut?" tanyaku lagi.
"Belum Ris padahal udah pengen lho.. tapi memang dapatnya lama mungkin ya, kayak si Dani dulu. Mbak Yuni ngurusi rumah jadi nggak bisa ikut" katanya.
"Eh kamu nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama kamu" katanya lagi.
"Iya Mbak, tadi sudah pamit kok" kataku.
"Kamu mandi dulu sana, ntar keburu dingin" kata Mbak Yuni.

Lalu aku pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai aku lihat-lihat kolam ikan di belakang rumah dan kulihat Mbak Yuni gantian mandi. Kurang lebih lima belas menit, Mbak Yuni selesai mandi dan aku terkejut karena ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Aku pastikan ia tidak memakai BH dan mungkin CD juga karena tidak aku lihat tali BH menggantung di pundaknya.

"Sayang Ris ikannya masih kecil, belum bisa buat lauk" kata Mbak Yuni sambil melangkah ke arahku lalu kami ngobrol sebentar tentang kolam ikannya.

Kulihat buah dadanya sedikit menyembul dari balutan handuknya dan ditambah bau harum tubuhnya membuatku terangsang. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju. Mataku tak lepas memperhatikan tubuh Mbak Yuni dari belakang. Kulitnya benar-benar putih. Sepasang pahanya putih mulus terlihat jelas bikin burungku berdiri. Ingin rasanya aku lepas handuknya lalu meremas, menjilat buah dadanya, dan menusuk-nusuk selangkangannya dengan burungku seperti dalam bokep yang sering aku lihat. Sejenak aku berkhayal lalu kucoba menghilangkan khayalan itu.

Haripun berganti petang, udara dingin pegunungan mulai terasa. Setelah makan malam kami nonton teve sambil ngobrol banyak hal, sampai tak terasa sudah pukul sembilan.
"Ris nanti kamu tidur sama aku ya, Mbak kangen lho ngeloni kamu" kata Mbak Yuni.
"Apa Mbak?" Kataku terkejut.
"Iya.. Kamu nanti tidur sama aku saja. Inget nggak dulu waktu kecil aku sering ngeloni kamu" katanya.
"Iya Mbak aku inget" jawabku.
"Nah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nih" kata Mbak Yuni sambil beranjak melangkah ke kamar tidur dan aku mengikutinya dari belakang, pikiranku berangan-angan ngeres. Sampai dikamar tidur aku masih ragu untuk naik ke ranjang.
"Ayo jadi tidur nggak?" tanya Mbak Yuni.
Lalu aku naik dan tiduran disampingnya. Aku deg-degan. Kami masih ngobrol sampai jam 10 malam.
"Tidur ya.. Mbak udah ngantuk banget" kata Mbak Yuni.
"Iya Mbak" kataku walaupun sebenarnya aku belum ngantuk karena pikiranku semakin ngeres saja terbayang-bayang pemandangan menggairahkan sore tadi, apalagi kini Mbak Yuni terbaring di sampingku, kurasakan burungku mengeras.

Aku melirik ke arah Mbak Yuni dan kulihat ia telah tertidur lelap. Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ingin aku onani karena sudah tidak tahan, ingin juga aku memeluk Mbak Yuni dan menikmati tubuhnya, tapi itu tidak mungkin pikirku. Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak bisa sampai jam 11 malam. Lalu aku putus kan untuk melihat paha Mbak Yuni sambil aku onani karena bingung dan udah tidak tahan lagi.

Dengan dada berdebar-debar aku buka selimut yang menutupi kakinya, kemudian dengan pelan-pelan aku singkapkan roknya hingga celana dalam hitamnya kelihatan, dan terlihatlah sepasang paha putih mulus didepanku beitu dekat dan jelas. Semula aku hanya ingin melihatnya saja sambil berkhayal dan melakukan onani, tetapi aku penasaran ingin merasakan bagaimana meraba paha seorang perempuan tapi aku takut kalau dia terbangun. Kurasakan burungku melonjak-lonjak seakan ingin melihat apa yang membuatnya terbangun. Karena sudah dikuasai nafsu akhirnya aku nekad, kapan lagi kalau tidak sekarang pikirku.

Dengan hati-hati aku mulai meraba paha Mbak Yuni dari atas lutut lalu keatas, terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali. Karena semakin penasaran aku coba meraba celana dalamnya, tetapi tiba-tiba Mbak Yuni terbangun.
"Aris! Apa yang kamu lakukan!" kata Mbak Yuni dengan terkejut.
Ia lalu menutupi pahanya dengan rok dan selimutnya lalu duduk sambil menampar pipiku. Terasa sakit sekali.
"Kamu kok berani berbuat kurang ajar pada Mbak Yuni. Siapa yang ngajari kamu?" kata Mbak Yuni dengan marah.
Aku hanya bisa diam dan menunduk takut. Burungku yang tadinya begitu perkasa aku rasakan langsung mengecil seakan hilang.
"Tak kusangka kamu bisa melakukan hal itu padaku. Awas nanti kulaporkan kamu ke nenek dan bapakmu" kata Mbak Yuni.
"Ja.. jangan Mbak" kataku ketakutan.
"Mbak Yuni kan juga salah" kataku lagi membela diri.
"Apa maksudmu?" tanya Mbak Yuni.
"Mbak Yuni masih menganggap saya anak kecil, padahal saya kan udah besar Mbak, sudah lebih dari 17 tahun. Tapi Mbak Yuni masih memperlakukan aku seperti waktu aku masih kecil, pakai ngeloni aku segala. Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Yuni hanya memakai handuk saja didepanku. Saya kan lelaki normal Mbak" jelasku.

Kulihat Mbak Yuni hanya diam saja, lalu aku berniat keluar dari kamar.
"Mbak.. permisi, biar saya tidur saja di kamar sebelah" kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan keluar.
Mbak Yuni hanya diam saja. Sampai di kamar sebelah aku rebahkan tubuhku dan mengutuki diriku yang berbuat bodoh dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kurang lebih 15 menit kemudian kudengar pintu kamarku diketuk.

"Ris.. kamu masih bangun? Mbak boleh masuk nggak?" Terdengar suara Mbak Yuni dari luar.
"Ya Mbak, silakan" kataku sambil berpikir mau apa dia.
Mbak Yuni masuk kamarku lalu kami duduk di tepi ranjang. Aku lihat wajahnya sudah tidak marah lagi.
"Ris.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamu" katanya.
"Seharusnya saya yang minta maaf telah kurang ajar sama Mbak Yuni" kataku.
"Nggak Ris, kamu nggak salah, setelah Mbak pikir, apa yang kamu katakan tadi benar. Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kamu seorang anak kecil seperti dulu aku ngasuh kamu. Mbak tidak menyadari bahwa kamu sekarang sudah besar" kata Mbak Yuni.
Aku hanya diam dalam hatiku merasa lega Mbak Yuni tidak marah lagi.
"Ris, kamu bener mau sama Mbak?" tanya Mbak Yuni.
"Maksud Mbak?" kataku terkejut sambil memandangi wajahnya yang terlihat bagitu manis.
"Iya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masa' sih kamu masih tertarik sama aku?" katanya lagi.
Aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah lagi.
"Maksud Mbak.., kalau kamu bener mau sama Mbak, aku rela kok melakukannya dengan kamu" katanya lagi.
Mendengar hal itu aku tambah terkejut, seakan nggak percaya.
"Apa Mbak" kataku terkejut.
"Bukan apa-apa Ris, kamu jangan berpikiran enggak-enggak sama Mbak. Ini hanya untuk meyakinkan Mbak bahwa kamu telah dewasa dan lain kali tidak menganggap kamu anak kecil lagi" kata Mbak Yuni

Lagi-lagi aku hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin aku mengatakan iya, tapi takut dan malu. Mau menolak tapi aku pikir kapan lagi kesempatan seperti ini yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.

"Gimana Ris? Tapi sekali aja ya.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua" kata Mbak Yuni.
Aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa aku mau.
"Kamu pasti belum pernah kan?" kata Mbak Yuni.
"Belum Mbak, tapi pernah lihat di film" kataku.
"Kalau begitu aku nggak perlu ngajari kamu lagi" kata Mbak Yuni.

Mbak Yuni lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam sambil memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu Mbak Yuni mencopot roknya dan paha mulus yang aku gerayangi tadi terlihat. Tangannya diarahkan ke belakang pundak dan BH itupun terlepas, sepasang buah dada berukuran sedang terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan. Mbak Yuni lalu mencopot CD hitamnya dan kini ia telah telanjang bulat. Penisku terasa tegang karena baru pertama kali ini aku melihat wanita telanjang langsung dihadapanku. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya terlentang. Aku begitu takjub, bayangkan ada seorang wanita telanjang dan pasrah berbaring di ranjang tepat dihadapanku. Aku tertegun dan ragu untuk melakukannya.

"Ayo Ris.. apa yang kamu tunggu, Mbak udak siap kok, jangan takut, nanti Mbak bantu" kata Mbak
Segera aku melepaskan semua pakaianku karena sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi. Kulihat Mbak Yuni memperhatikan burungku yang berdenyut-denyut, aku lalu naik ke atas ranjang. Karena sudah tidak sabar, langsung saja aku memulainya. Langsung saja aku kecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, aku pikir mungkin suaminya tidak pernah melakukannya, tapi tidak aku hiraukan, terus aku lumat bibirnya. Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.

"Ooh.. Ris.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh.." Mbak Yuni mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini tepat berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah lelaki. Langsung aku jilati mulai dari bawah lalu ke arah putingnya, sedangkan buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.

"Emmh oh aarghh" Mbak Yuni mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.
Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Disana kurasakan ada rumput yang tumbuh di sekeliling memeknya. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa ia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari klentitnya. Kugerakkan jari-jariku keluar masuk di dalam lubang yang semakin licin tersebut.

"Aargghh.. eemhh.. Ris kam.. mu ngapainn oohh.." kata Mbak Yuni meracau tak karuan, kakinya menjejak-jejak sprei dan badannya mengeliat-geliat. Tak kupedulikan kata-katanya. Tubuh Mbak Yuni semakin mengelinjang dikuasai nafsu birahi. Kuarasakan tubuh Mbak Yuni menegang dan kulihat wajahnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam memeknya.

"Ohh.. arghh.. oohh.." kata Mbak Yuni dengan nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba..
"Oohh aahh.." Mbak Yuni mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi memeknya.
"Ohh.. ohh.. emhh.." Mbak Yuni masih mendesah-desah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.
"Ris apa yang kamu lakukan kok Mbak bisa kayak gini" tanya Mbak Yuni.
"Kenapa emangnya Mbak? Kataku.
"Baru kali ini aku merasakan nikmat seperti ini, luar biasa" kata Mbak Yuni.
Ia lalu bercerita bahwa selama bersama suaminya ia tidak pernah mendapatkan kepuasan, karena mereka hanya sebentar saja bercumbu dan dalam bercinta suaminya cepat selesai.
"Mbak sekarang giliranku" kubisikkan ditelinganya, Mbak Yuni mengangguk kecil.
Aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati, tak lupa jari-jariku kupermainkan di dalam memeknya.

"Aarghh.. emhh.. ooh.." terdengar Mbak Yuni mulai mendesah-desah lagi tanda ia telah terangsang.
Setelah aku rasa cukup, aku ingin segera merasakan bagaimana rasanya menusukkan burungku ke dalam memeknya. Aku mensejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan Mbak Yuni tahu, ia lalu mengangkangkan pahanya dan kuarahkan burungku ke memeknya. Setelah sampai didepannya aku ragu untuk melakukannya.

"Ayo Ris jangan takut, masukin aja" kata Mbak Yuni.
Perlahan-lahan aku masukkan burungku sambil kunikmati, bless terasa nikmat saat itu. Burungku mudah saja memasuki memeknya karena sudah sangat basah dan licin. Kini mulai kugerakkan pinggulku naik turun perlahan-lahan. Ohh nikmatnya.

"Lebih cepat Ris arghh.. emhh" kata Mbak Yuni terputus-putus dengan mata merem-melek.
Aku percepat gerakanku dan terdengar suara berkecipak dari memeknya.
"Iya.. begitu.. aahh.. ter.. rrus.. arghh.." Mbak Yuni berkata tak karuan.
Keringat kami bercucuran deras sekali. Kulihat wajahnya semakin memerah.
"Ris, Mbak mau.. enak lagi.. oohh.. ahh.. aahh.. ahh.." kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan memeknya dipenuhi cairan hangat menyiram penisku.

Remasan dinding memeknya begitu kuat, akupun percepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks aahh.., kubiarkan air maniku keluar di dalam memeknya. Kurasakan nikmat yang luar biasa, berkali-kali lebih nikmat dibandingkan ketika aku onani. Aku peluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya yang baru aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Setelah cukup kumenikmatinya aku cabut burungku dan merebahkan badanku disampinya.

"Mbak Yuni, terima kasih ya.." kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.
"Mbak juga Ris.. baru kali ini Mbak merasakan kepuasan seperti ini, kamu hebat" kata Mbak Yuni lalu mengecup bibirku.
Kami berdua lalu tidur karena kecapaian.

Kira-kira jam 3 pagi aku terbangun dan merasa haus sekali, aku ingin mencari minum. Ketika aku baru mau turun dari ranjang, Mbak Yuni juga terbangun.
"Kamu mau kemana Ris.." katanya.
"Aku mau cari minum, aku haus. Mbak Yuni mau?" Kataku.
Ia hanya mengangguk kecil. Aku ambil selimut untuk menutupi anuku lalu aku ke dapur dan kuambil sebotol air putih.
"Ini Mbak minumnya" kataku sambil kusodorkan segelas air putih.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi Mbak Yuni yang tubuhnya ditutupi selimut meminum air yang kuberikan.

"Ada apa Ris, kok kamu memandangi Mbak" katanya.
"Ah nggak Papa. Mbak cantik" kataku sedikit merayu.
"Ah kamu Ris, bisa aja, Mbak kan udah tua Ris" kata Mbak Yuni.
"Bener kok, Mbak malah makin cantik sekarang" kataku sambil kukecup bibirnya.
"Ris.. boleh nggak Mbak minta sesuatu" kata Mbak Yuni.
"Minta apa Mbak?" tanyaku penasaran.
"Mau nggak kamu kalau.." kata Mbak Yuni terhenti.
"Kalau apa Mbak?" kataku penuh tanda tanya.
"Kalau.. kalau kamu emm.. melakukannya lagi" kata Mbak Yuni dengan malu-malu sambil menunduk, terlihat pipinya memerah.
"Lho.. katanya tadi, sekali aja ya Ris.., tapi sekarang kok?" kataku menggodanya.
"Ah kamu, kan tadi Mbak nggak ngira bakal kayak gini" katanya manja sambil mencubit lenganku.
"Dengan senang hati aku akan melayani Mbak Yuni" kataku.

Sebenarnya aku baru mau mengajaknya lagi, e.. malah dia duluan. Ternyata Mbak Yuni juga ketagihan. Memang benar jika seorang wanita pernah merasa puas, dia sendiri yang akan meminta. Kami mulai bercumbu lagi, kali ini aku ingin menikmati dengan dengan sepuas hatiku. Ingin kunikmati setiap inci tubuhnya, karena kini aku tahu Mbak Yuni juga sangat ingin. Seperti tadi, pertama-tama bibirnya yang kunikmati. Dengan penuh kelembutan aku melumat-lumat bibir Mbak Yuni.

Aku makin berani, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku. Mbak Yuni pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku juga seperti tadi, beroperasi di dadanya, kuremas-remas dadanya yang kenyal mulai dari lembah hingga ke puncaknya lalu aku pelintir putingnya sehingga membuatnya menggeliat dan mengelinjang. Dua bukit kembar itupun semakin mengeras. Ia menggigit bibirku ketika kupelintir putingnya.

Aku sudah puas dengan bibirnya, kini mulutku mengulum dan melumat buah dadanya. Dengan sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang kanan. Kulihat mata Mbak Yuni sangat redup, dan ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.

"Oohh.. arghh.. en.. ennak Ris.. emhh.." kata Mbak Yuni mendesah-desah.
Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas dadanya dan menyeretnya ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, rupanya ia ingin aku segera mempermainkan memeknya. Jari-jarikupun segera bergerilya di memeknya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya membuatnya semakin menggelinjang tak karuan.

"Ya.. terruss.. aargghh.. emmhh.. enak.. oohh.." mulut Mbak Yuni meracau.
Setiap kali Mbak Yuni terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk memeknya, setelah dia agak tenang, aku permainkan lagi memeknya, kulakukan beberapa kali.

"Emhh Ris.. ayo dong jangan begitu.. kau jahat oohh.." kata Mbak Yuni memohon.
Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tidak akan membuatnya klimaks dengan jariku tetapi dengan mulutku, aku benar-benar ingin mencoba semua yang pernah aku lihat di bokep.

Segera aku arahkan mulutku ke selangkangannya. Kusibakkan rumput-rumpuat hitam yang disekeliling memeknya dan terlihatlah memeknya yang merah dan mengkilap basah, sungguh indah karena baru kali ini melihatnya. Aku agak ragu untuk melakukannya, tetapi rasa penasaranku seperti apa sih rasanya menjilati memek lebih besar. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.

"Ris.. apa yang kamu lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh.." kata Mbak Yuni.
Ia terkejut aku menggunakan mulutku untuk menjilati memeknya, tapi aku tidak pedulikan kata-katanya. Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama kemudian tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei dan mulutku di penuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

"Ohmm.. emhh.. ennak Ris.. aahh.." kata Mbak Yuni ketika ia klimaks.
Setelah Mbak Yuni selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku kembali mencumbunya lagi karena aku juga ingin mencapai kepuasan.

"Gantian Mbak diatas ya sekarang" kataku.
"Gimana Ris aku nggak ngerti" kata Mbak Yuni.

Daripada aku menjelaskan, langsung aku praktekkan. Aku tidur telentang dan Mbak Yuni aku suruh melangkah diatas burungku, tampaknya ia mulai mengerti. Tangannya memegang burungku yang tegang hebat lalu perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan memeknya diarahkan ke burungku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan memeknya. Mbak Yuni lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggangnya dan ketika sampai di kepala penisku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.

Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desih. Sungguh sangat sexy wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan. Wajah Mbak Yuni terlihat sangat cantik seperti itu apalagi ditambah rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepalanya. Buah dadanya pun terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tambah keras ketika jari-jariku memelintir puting susunya.

"Oh emhh yaah.. ohh.." itulah kata-kata yang keluar dari mulut Mbak Yuni.

"Aku nggak kuat lagi Ris.." kata Mbak Yuni sambil berhenti menggerakkan badannya, aku tahu ia segera mencapai klimaks.

Kurebahkan badannya dan aku segera memompa memeknya dan tak lama kemudian Mbak Yuni mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Mbak Yuni menikmati kenikmatan yang diperolehnya. Setelah itu aku cabut penisku dan kusuruh Mbak Yuni menungging lalu kumasukkan burungku dari belakang. Mbak Yuni terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang aku lakukan kepadanya. Ia hanya bisa mendesah kenikmatan.

Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh Mbak Yuni rebahan lagi dan aku masukkan lagi burungku dan memompa memeknya lagi karena aku sudah ingin sekali mengakhirinya. Beberapa saat kemudian Mbak Yuni ingin klimaks lagi, wajahnya memerah, tubuhnya menggelinjang kesana kemari.

"Ahh.. oh.. Mbak mau enak lagi Ris.. arrghh ahh.." kata Mbak Yuni.
"Tunggu Mbak, ki kita bareng aku juga hampir" kataku.
"Mbak udah nggak tahan Ris.. ahh.." kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. Cairan hangat menyiram burungku dan kurasakan dinding memeknya seakan-akan menyedot penisku begitu kuat dan akhirnya akupun tidak kuat dan croott.. akupun mencapai klimaks, oh my god nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat menikmati kenikmatan yang baru saja kami raih.

, , ,

Cerita Sex Putri Sulung

Belum lama ini aku kembali bertemu Nana (bukan nama sebenarnya). Ia kini sudah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, ia bersama anaknya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya. Nana masih seperti dulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah merekah, Rambutnya yang lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak kemerahan namun karena kulitnya yang putih bersih, selalu saja menarik dipandang, apalagi kalau berada dalam pelukan dan dielus-elus.

Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku.
Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Nana. Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota.

Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Nana) serta Nana dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.

Hari-hari berikutnya, Nana masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Nana. Kalau sedang rewel, menangis, meronta-ronta kalau digendong Nana menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Nana. Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Nana selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Nana sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Nana. Tampaknya Nana tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Nana mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya.

Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Nana tiba-tiba muncul.
“Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”
Nana mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Nana terlihat mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.
“Ada apa, Nana?”
“Mas… aku pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?”
Nana tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.
“Nana, apa-apaan kamu ini..”
Tanpa menungguku selesai bicara, Nana sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku. Nana merenggangkan pagutannya dan katanya,

“Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian.
Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas.”

Kuangkat tubuh Nana dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.

“Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Nana sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.

Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Nana merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal. Nana kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Nana. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatan ini.

“Kamu amat bergairah, Nana..” bisikku lirih di telinganya.
“Hmmm… iya… Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.
“Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama… ukh…” serunya sembari menelan ludahnya.
“Ayo, Mas… teruskan..”
“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”
“Semuanya,” kata Nana sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku.

Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Nana telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Nana lekat ke dadaku. Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Nana, namun menambah nikmat aroma gadis muda. Tangan Nana mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya.

“Sedot kuat-kuat Mas, sedooottt…” bisiknya.

Aku memenuhi permintaannya dan Nana tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat.

“Mas lepas…” katanya sambil telentang di lantai.

Nana meminta aku melepas pakaian. Nana sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam. Nana melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Nana melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.

“Mas sedot Mas… teruskan, enak sekali Mas… enak…”Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat pantatnya.

Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Nana. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Nana tampak sedikit tersentak.

“Ukh… khmem.. hsss… terus… terus,” lenguhnya tak jelas.

Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Nana dengan teknik petik melodi. Nana menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat.
“Mas… Mas… ampun… terus, ampun… terusukhhh…” Sebentar kemudian Nana lemas.

Namun itu tidak berlangsung lama karena Nana kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Nana menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Nana.

“Uh… Mas… apaanini,” kata Nana kaget. Tanpa menunggu jawabanku.

Tangan Nana langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.

“Mas… ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.

Nana geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.

“Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.”
“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”
“Alangkah bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?” Nana langsung menarik penisku.
“Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan.”

Nana menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Nana memandangiku penuh harap.

“Cepat Mas, cepat..”
“Sabar Nana. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang…”

Namun tampaknya Nana tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Nana. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya.

“Cepat Mas…” ajaknya lagi.

Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Nana justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Nana tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Nana tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.

“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.
“Terus. Paksa, siksa aku. Siksa… tusuk aku. Keras… keras jangan takut Mas, terus..” Dan aku tak bisa menghindar.

Kulesaikan keras hingga separuh penisku telah masuk. Nana menjerit,

“Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aku menekannya kuat-kuat.

Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Nana, meleleh keluar. Aku melirik, darah… darah segar. Nana diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap. Tidak
turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Nana dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Nana sedikit berkurang ketegangannya. Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Nana mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Nana pasrah dan tidak sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Nana mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit
lirih,

“Uuuhh.. Mas… uhhh… enaakkkk.. enaaakkk… Terus… aduh… ya ampun enaknya..” Nana melemas dan terkulai.

Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Nana yang terkulai.

“Nana, kenapa kamu?”
“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”
“Kamu juga liar.”

Nana memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Nana mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas. Sejak kejadian itu, Nana selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Nana waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Nana mengaku puas. Setelah lulus, Nana menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama
anaknya, aku berjumpa di rumah bude.

“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih. Aku hanya mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.
“Ya, tambah gede dong.”

Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.

“Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?” tanyanya.
“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.

Dan, Nana pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami
sama-sama terpuaskan.
, , ,

Pedagang Kain

Menjadi pedagang kain bukanlah cita-cita masa kecilku tapi itulah kini yang kulakukan bersama suamiku untuk hidup. Kami berjualan tidak dalam kios di sebuah pasar, biasanya saat weekend kami menuju tempat keramaian dengan mobil van berisi kain dan menggelar lapak disana.

Biasanya juga kami berjualan di pasar malam, itu sebabnya kami berdua jarang pulang karena berjualan di pasar malam kadang jauh dari rumah. Kami berdua tidur di dalam van yang berisikan kain dagangan kami. Itu sebabnya aku jadi terbiasa melakukan hubungan seks dengan suamiku di atas van, di pinggir jalan atau di siang hari di pasar malam saat orang-orang yang bekerja di pasar malam tidur.

Penghasilan kami berjualan lumayan agak besar, itu sebabnya kami betah jualan kain.


Pembeli kain kami biasanya perempuan, beberapa di antaranya perempuan muda yang berpenampilan seksi. Suamiku sangat senang melayani mereka dengan ramah. Seusai pasar tutup, pastilah habisnya aku disetubuhi suamiku dengan sangat bernafsu.

Sering juga pembeli pria mendatangi lapak kain kami. Aku disuruh suamiku berpenampilan seksi untuk menarik perhatian pembeli pria itu, kalau bisa dadaku dikeluarkan dari leher baju yang kupakai atau, celana jeans yang ku pakai harus sependek mungkin kalau perlu sampai kelihatan belahan pantatku. Supaya laris dagangan katanya.

Bila ku perhatikan, karena pakaian ku saat melayani pembeli selalu seksi, sering kali aku dilecehkan para pembeli laki-laki. Mereka ambil peluang pegang tanganku lah, menyiku buah dadaku, menggesekkan penisnya ke pantatku sambil memperhatikan kain yang kami jual. Setiap aku merasakan penis seorang pembeli menggesek di pantatku, aku diarahkan suami supaya cool. Dia sendiri seolah membiarkannya, tidak mau tahu pantat istrinya didorong penis pengunjung lapak yang tidak semuanya membeli, sebagian hanya lihat lihat saja.

Sehabis dilecehkan begitu, nafsu syahwatku yang naik jadi selalu ingin sentuh dan menaiki penis suamiku. Permainan seks kami pasti panas sepulangnya.

-------------

Aku ingat satu hari seorang sopir truk mengetuk van kami karena mendengar erangan ku saat orgasme. Sebelumnya saat kami mulai bersetubuh, truknya belum datang itu sebabnya aku berani mengerang agak keras saat mendapat klimaks syahwat sampai seseorang mengetuk van kami.

Suamiku bergegas memakai celana jeans nya sedangkan aku masih telentang di lantai van yang dipenuhi kain, hanya ada ruang kecil untuk rebahan disana.

"Ada apa?" tanya suamiku.
"Aku ingin nyobain" pinta sopir itu.

Suamiku masuk van menanyaiku, "Sopir truk ingin maen sama Arki" suami memberi tahuku.
"Abang!!! masa Arki disuruh maen sama orang lain?"
"Kalau Arki mau, abang gak papa kok"
"Dia sendirian?"
"Sendirian"

Aku bingung, sambil melap air mani suami yang meleleh dari memek, aku menatap mata suamiku dalam gelap.
"Abang gak kenapa-napa?"
"Abang gak masalah"
"Emmm yaudah panggil sini, tapi sekali ini aja"

Suamiku keluar van, menyatakan setuju. Tiba-tiba si sopir nanya suamiku, "Berapa?"
"Berapa?" tanya suami ku lagi tidak mengerti.
"Berapa duit?"

Suamiku masuk menanyaiku di dalam van, "Dia nanya Arki mau minta berapa duit katanya?"
Tak pernah sebelumnya aku berpikir akan dapat bayaran. Aku diam sejenak pasang tarif "Dua ratus aja bang, err sekali ini"

Suamiku keluar memberi tahu si supir, "Dua ratus ribu"
Orang itu mengeluarkan dua lembar merah dari dompet menyerahkan pada suamiku. Dia masuk van merangkak naik ke atas aku yang sudah meringkuk telanjang.

Aku dan sopir langsung main dengan kilat, dia menarik turun celana dan celana dalamnya, kontolnya sudah mengeras seperti kayu saat mulai menindihku. Besar dan panjang, tanpa pemanasan lagi tanpa berkata-kata dia arahkan kepala kontolnya pada lubang memekku yang menunggu.

Liang memekku lancar menerima kontol si sopir karena sudah disiram air mani suamiku tadi.

"Gede banget mas" bisikku ke telinganya. Dia mengayunkan selangkangannya pada pangkal pahaku pelan. Aku mengangkat kaki melingkarkan pada badannya supaya kontolnya bisa lebih dalam menyodoki memekku.

Entah apa yang diperbuat suamiku di luar van. Aku tak peduli. Cuaca di luar dingin karena sudah malam, ditambah lagi AC van namun aku dan si sopir memacu birahi justru merasa panas. Sekujur badanku berkeringat, paha yang mengangkang mulai terasa pegal, karena si sopir bertahan cukup lama menggenjot badanku.

"Terus massssss Arki mau nyampe lagiiiii"

Orang itu mempercepat entotannya. Aku hanya diam menggigit bibir dengan kepala mendongak. Memekku dihentak dengan tempo cepat terasa sangat sesak dijejali batang kontol sopir truk. Habis dientot begini pasti aku nanti gak bakal bisa berdiri tegak. bagian bawah tubuhku serasa mati rasa, namun syaraf di sekitar memekku menggelitikku menyetrum dengan kenikmatan karena trus digenjot kontolnya yang keras.

Aku benar-benar kelojotan saat meraih orgasme yang ketiga. Tanganku memeluk erat punggungnya. Suaraku meninggi, pasti terdengar suami di luar. Saat itu diiringi ujung kontol si sopir menumpahkan air main pada memekku dalam-dalam. Panas dan berkali-kali menembaki bagian dalam memekku.

Setelah kontolnya berhenti bucat, si sopir masih memeluk badanku, membiarkan penis besarnya mengecil dalam liang memekku beberapa saat. Dia bangkit dari atas badanku yang kusut. Aku membelai tangan kekarnya.
"Ganas banget mas" aku memujinya.
Dia lalu mencabut kontolnya dari memek milikku yang dibanjiri air mani.
"Gak suka?" tanyanya pendek.
"Puas" jawabku singkat. Dia membetulkan celananya kembali.
"Tunggu Mas..." aku memanggilnya pelan. Dia menolehku sebelum keluar van.
Aku ciumi bibirnya, "Siapa namanya Mas, Arki ingin tau biar nanti bisa ketemu lagi"
Satu tangannya meremas buah dadaku, satunya lagi meremas pantatku.
"Ilyas" jawabnya, lalu dia mengambil buku tulis di dekatku menuliskan nomer HPnya sebelum keluar van.

Saat suamiku kembali masuk, aku bersender di van.
"Arki gak papa?" sambil suamiku menyalakan mesin mobil van.
"Abis-abisan bang, Arki dikerjain sama sopir tadi" jawabku.
"Kita pulang yah" tanyanya.
"Abang nyetir sendiri ya, Arki tidur sini"
Aku tidur beretelanjang dengan kaki mengangkang di belakang van. Lelehan air mani Ilyas masih mengalir keluar celah memekku. Aku tak akan lupa dirinya.

--------------
Esok harinya aku smsi Ilyas, namun dia tak merespon.
Seminggu kemudian, baru dia menelponku. Saat itu suamiku ke pasar membeli kain untuk di jual kembali. Aku sendirian di rumah lalu Ilyas datang ke rumahku setelah kuberikan arahan tempat tinggal. Dia membawa serta temannya, aku kembali digagahinya. Kali ini dengan dua kontol yang keras memuaskan syahwatku.

Aku dibuat mereka orgasme beberapa kali sampai-sampai sangat kecapekan. Penis mereka berduapun berkali-kali menumpahkan benih calon anak dalam memeku, mulutku serta badanku. Sehabisnya aku mengantongi 500.000 dari Ilyas dan temannya.
, ,

Tuesday, November 11, 2014

Ketika Paman Pergi

Aku dibesarkan di sebuah desa yang boleh dibilang tidak begitu ramai. Akan tetapi karena nenek memiliki anak yang lumayan banyak, sehingga keadaan di rumah kami sedikit berbeda dengan tetangga yang lain. Aku sendiri sebenarnya hanya anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku perempuan, terpaut beda sekitar lima tahun denganku.

Keadaan keluargaku sedikit kurang beruntung dibanding saudara-saudara ibu yang lain, ayahku hanya seorang pekerja serabutan, sedang ibuku sesekali menjadi tukang cuci. Oleh sebab itu, sejak kecil kami telah banyak ditolong oleh saudara-saudara ibu yang lain. Kakakku sendiri sejak kecil sudah tinggal bersama kakak perempuan ibuku yang paling besar. Meski saudara-saudara ibu sudah mempunyai rumah sendiri, tetapi jarak yang tak begitu jauh, menjadikan anak-anak mereka lebih sering tinggal di rumah nenek.

Aku sendiri tinggal bersama nenek. Diantara semua cucu nenek, aku termasuk anak yang sedikit kurang pintar, atau dengan kata lain: bodoh dan polos. Sehari-hari, sudah menjadi makananku, jika aku menjadi bahan ledekan atau jahilan dari saudara-saudaraku. Meski begitu, aku tidak pernah merasa sakit hati. Diantara semua saudara ibu, aku paling dekat dengan pamanku, adik ibu paling kecil. Beliau merupakan paman yang baik. Sebenarnya paman menyayangi semua keponakan, tapi perasaanku mengatakan, aku jauh lebih disukai dibanding anak-anak lain. Terbukti jika paman memberi uang, aku selalu mendapat lebih.

Pernah suatu kali, aku tidak naik kelas. Ketika semua mencemooh, pamanlah yang berusaha menenangkan hatiku. Kata paman, tidak semua orang pintar di pelajaran. Mungkin unggul di hal lain, seperti aku, kata paman. Sifatku lebih baik dibanding keponakan lain. Aku orangnya jujur, begitu kata paman. Itu lebih penting dibanding pintar tapi gak baik.

Paman sendiri bekerja di luar kota, biasanya sabtu minggu baru pulang. Saat usiaku 9 tahun, paman akhirnya menikah, dengan seorang wanita yang usianya 8 tahun lebih muda dari paman. Saat menikah, paman sudah berusia sekitar 34 tahun. Dan ternyata, paman menikahi seorang wanita yang baik juga di mataku. Menurutku paman sangat beruntung.

Awalnya, satu tahun pertama pernikahan, mereka tinggal bersama kami, di rumah nenek. Tapi kemudian mereka pindah, walaupun rumahnya tidak begitu jauh, hanya 15 menit jika menggunakan sepeda dari rumah nenek. Menjelang tahun ketiga pernikahan mereka, pekerjaan paman mengharuskan paman sering berkeliling ke kota-kota besar, hingga kadang baru dua minggu bahkan sebulan, paman baru pulang.

Entahlah, karena mungkin ketidakhadiran momongan yang tak kunjung datang, membuat mereka jauh lebih memperhatikanku. Bahkan secara terus terang, paman bilang ke ibuku: untuk biaya sekolah, orang tuaku tak perlu kuatir. Memang, sejak menginjakkan kaki di bangku sekolah, pamanlah yang banyak membantuku. Hingga akhirnya, permintaan paman untuk menemani bibi jika dia tidak ada, tidak bisa aku tolak. Begitu juga dengan kedua orang tuaku, mereka malah kelihatan jauh lebih bahagia dibanding aku.

Lama-kelamaan, hubunganku dengan bibiku makin terjalin erat. Bahkan akhirnya sejak masuk SMP, aku memutuskan untuk tinggal dengan mereka sepenuhnya. Tak jarang, bibi selalu tertawa melihat tingkahku, atau mungkin kebodohanku. Dari aku juga, bibi kadang sering berusaha mengorek masa lalu paman, terutama mengenai gadis-gadis di kampung yang pernah dekat dengan paman. Jika keponakan lain kebanyakan berusaha memberi kesan bagus untuk paman, aku sendiri bicara apa adanya, karena paman yang menyuruhku.

“Gak apa-apa, bilang aja semuanya, toh masa lalu sudah lama berlalu.” katanya waktu itu.

Ya, sebenarnya pamanku termasuk orang lumayan juga, pacarnya bahkan banyak. Kata ibuku, sejak SMP, paman memang banyak disukai orang, terutama teman-teman wanitanya. Kata ibu, paman sepenarnya tidak pintar, tapi dia sangat rajin. Kepolosanku lah yang mungkin membuat bibi senang juga terhadapku.

Sejak pindah, perhatian bibi kurasa semakin besar. Bukan hanya perhatian sekolah, tapi kasih sayangnya kurasakan besar pula. Tak jarang dia mengusap kepala dan menbelai pundakku jika aku melakukan hal bodoh atau menjadi ledekan orang lain. Mungkin hanya badanku yang besar, tapi perkembangan tingkahku agak telat. Aku malah lebih sering main dengan anak-anak SD dibanding teman sebaya.

***

Suatu hari, saat sedang asyik nonton TV bertiga, tiba-tiba paman bertanya kepadaku. “Kamu sudah pernah lihat bokep ya? Andi yang bilang.” Andi adalah nama tetangga depan rumahku.

Aku mengangguk. ”Tapi dia juga pernah.” kataku membela diri.

“Kamu lihat di mana?” tanya paman.

“Dulu sih, waktu SD, di rumahnya kang Rosyid.” kataku.

“Kalau Andi?” tanya paman lagi.

”Gak ah, paman. Aku sudah janji gak bilang, pokoknya masih di tetangga lihatnya.” jawabku.

Mata paman mendelik, tapi kemudian dia berkata, ”Ya sudah,” dia tersenyum. ”Paman mau tidur dulu. Kamu jangan sering-sering nonton bokep, gak baik buat pertumbuhanmu.” paman mengingatkan.

Ketika paman sudah pergi, ganti bibi yang menanyaiku. “Emang Andi nonton di rumah siapa? Pasti Ical ya, memang nakal kan dia?” kata bibi.

“Aku sudah janji gak bilang, Bi.” kataku.

Bibi tersenyum. ”Ngomong-ngomong, kamu sudah mimpi belum?” tanyanya.

Aku mengangguk.

”Sejak kapan?” dia bertanya lagi.

”Akhir SD, Bi.” jawabku.

“Wah, belum lama juga.” katanya.

”Emang kenapa, Bi?” tanyaku.

“Gak apa-apa. Hati-hati aja kalau bergaul, dan jangan sering nonton yang gitu-gitu. Bener kata pamanmu.” katanya.

“Baru dua kali kok, Bi.” jawabku tanpa dosa.

Bibi tersenyum dan mengusap rambutku.

***

Dan akhirnya, dua minggu setelah kejadian itu...

Aku ingat betul, paman baru pulang malam itu saat aku sudah terlelap. Tapi udara yang begitu dingin membuatku terbangun dan ingin ke belakang. Namun niatku membuka pintu aku batalkan, karena kudengar suara desah seseorang di ruang TV yang tak begitu jauh dari kamarku. Akhirnya rasa penasaran membawaku mendekati jendela dan berusaha mengintip. Untung kamarku selalu aku matikan lampunya jika tidur, jadi dari dalam, aku leluasa bergerak.

Jantungku deg-degan saat kulihat TV menyala dan adegan mesum telah diputar disana, sementara di bangku panjang yang menghadap TV, kulihat paman telah melakukan sesuatu. Aku tahu dia sedang apa, walaupun badan bibi tertutup sandaran kursi panjang, dan hanya ujung kepalanya yang terlihat di pinggiran kursi, tapi melihat posisi paman yang duduk di hadapannya, dengan bagian atas tanpa penutup, aku tahu dia sedang menggauli bibi.

Paman sepertinya lebih konsentrasi dengan bibi daripada adegan di TV. Sesaat kulihat paman menengadahkan kepalanya sambil bersuara ahh... terdengar sangat lega. Kemudian dia berjalan mendekati meja dan mengambil remote, dan benar dugaanku, dia tidak berpakaian sama sekali. Kontolnya tampak basah dan mulai mengkerut. Dia sudah berhasil croot di dalam memek bibi.

Itu pertama kalinya aku melihat adegan paman dan bibi. Terus terang, aku terangsang. Kontolku ngaceng tak terkendali. Masih sambil menatap tubuh bugil bibi yang tidak begitu jelas, aku onani. Kukeluarkan pejuhku di lantai kamar, selanjutnya kulap dengan celana dalamku yang kotor. Malam itu aku tidur nyenyak sekali. Badan rasanya enteng dan nikmat.

***

Esok harinya, saat paman pergi kerja, aku pura-pura merapikan TV karena kutahu, ada kaset tergeletak di atasnya. Saat bibi lewat di depanku mau belanja ke pasar, segera kutegur dia. “Bi, kata paman nggak boleh sering-sering lihat bokep, trus ini apa?” kuperlihatkan dua kaset bergambar tak senonoh di tanganku.

“Ah, pamanmu kan sudah menikah.” kilahnya.

“Pantes semalam ribut,” kataku menyindir.

“Lho, kok kamu tahu, ngintip ya?” bibi menuduh.

“Gak, aku mau pipis. Tapi gak jadi gara-gara lihat paman dan bibi.” kataku terus terang.

“Kamu ini, badan kamu aja yang gede, tapi masih oon.” kata bibi. Dia memang kadang meledekku begitu. “Ya sudah, jangan ceritain sama siapa-siapa apa yang kamu lihat tadi malam ya. Bibi nanti malu.” tambahnya kemudian.

Aku mengangguk.

Setelah sekali lagi menyakinkanku, bibi akhirnya tersenyum. Ya, dia memang tahu, aku akan merahasiakan apapun jika aku diminta. Dan bibi memang sangat mempercayaiku.

“Bi, aku boleh lihat gak? Mumpung paman gak ada.” kataku penasaran.

“Jangan ah, nanti ketahuan orang.” katanya.

“Gak bilang siapa-siapa kok, ke paman juga gak kan bilang.” kataku meyakinkan.

Bibi tampak berpikir, lalu. “Bentar aja ya, keburu paman kamu pulang.” katanya.

Akhirnya, hanya sekitar 10 menit aku melihat, sebelum bibi mematikan dan membawa kaset itu ke dalam kamar. Aku sempat agak ngambek, tapi kemudian tersenyum saat bibi meraba burungku. “Tuh kan, aku bilang juga apa. Gak baik lihat ginian, jadi tegang deh burung kamu.“ katanya.

“Biarin aja, nanti juga tidur lagi.” sahutku cuek. Bibi masih memegang dan mengelus-elus burungku dari luar celana. Enak sekali rasanya. Geli-geli gimana gitu.

“Kamu sudah pernah onani?” tanyanya.

Aku mengangguk, ”Cuma sekali, Bi. Gak lagi deh, perih. Kencing jadi sakit.” kataku berbohong.

“Emang kamu make apaan?” tanya bibi lagi. Tangannya masih tetap asyik mempermainkan burungku yang sekarang sudah semakin keras dan menegang.

“Aku gosok pake sabun, temanku bilang gitu.” jawabku.

Bibi hanya tertawa, tapi kemudian kami diam karena kudengar pintu diketuk. Paman sudah pulang. Bibi segera menarik tangannya dan berlari untuk membukakan pintu. Sedangkan aku, dengan sedikit dongkol pergi ke kamar dan onani disana.

***

Sejak itu, ketika paman pergi kerja, aku jadi lebih dekat dengan bibi. Aku selalu menanyakan koleksi terbaru paman pada bibi, dan menontonnya bersama bibi. Tentu saja tanpa sepengetahuan paman.

Hubunganku dengan bibi pun makin tak canggung lagi. Sambil nonton, bibi selalu mengelus-elus kontolku. Saking enaknya, sering aku sampai muncrat di celana. Oh ya, bibi tidak pernah menyentuh langsung burungku. Dia cuma memegangnya dari luar celana. Meski aku sudah sering meminta, bibi tidak pernah mengabulkannya. ”Gini aja sudah enak kan?” kilahnya setiap kali aku memaksa. Dan memang enak banget, jadi aku pun diam. Kunikmati saja segala sentuhannya.

Kalau bibi sudah berani berbuat sejauh itu, aku malah tidak berani sama sekali. Benar kata bibi, badanku memang besar, tapi otakku oon. Meski bibi sudah berkali-kali ’memberikan’ tubuhnya, aku tak kunjung menjamahnya. Hingga akhirnya dia pun menyerah. Dibiarkannya aku bengong melongo nonton bokep di TV sementara dia sibuk mengelus-elus kontolku.

Pembicaraan kami juga mulai menyerempet hal-hal porno. Membuat paman tertawa saat mendengarnya. ”Wah, keponakanku sudah mulai dewasa ya?” begitu komentar dari paman. Dan bibi ikut tertawa sambil mencubit pipiku.

Suatu hari, ketika aku tak sengaja menggaruk kontolku waktu mau mandi, bibi berkata, ”Tuh lihat, pasti bulunya sudah banyak.” katanya sambil mencolek paman.

”Masih belum ada kok, Bi.” jawabku malu-malu.

”Masa sih? Kan sudah mimpi?” katanya.

“Iya, kalau diperhatiin sih mungkin ada.” sahutku.

Paman tiba-tiba merangkulku dari belakang. “Kita buktiin.” katanya sambil hendak menarik handuk yang melilit di tubuhku.

Aku pun menahannya erat. ”Paman, jangan! Malu!” kataku agak marah.

”Malu sama siapa, Cuma ada bibimu disini.” dia terus memaksa.

Tapi untung aku bisa erat memeganginya, hingga handukku tidak sampai melorot. Paman akhirnya menyerah. ”Hahaha... Iya sih, bulunya memang masih belum tumbuh.” katanya. Bibi hanya tertawa melihat tingkah laku kami.

Paman memang pernah beberapa kali melihatku kencing. Kadang jika diajak berenang, aku dan paman juga suka mandi bareng. Dan biasanya jika kita membicarakan hal-hal porno, paman selalu mengingatkanku untuk tidak bercerita ke orang lain. Aku selalu mengiyakannya.

Sampai akhirnya, suatu hari, aku kembali terlibat percakapan dengan paman, Saat itu bibi pergi ke rumah orang tuanya untuk membawakan oleh-oleh dari paman. Entah siapa yang memulai, saat itu aku bertanya mengenai malam pertama paman. Akhirnya paman cerita, bahkan dia seperti mengajariku jika nanti aku menemukan wanita.

“Tapi bibi memang sexy ya, paman? Terus kalau tidur, suka berantakan.” kataku tanpa rasa malu lagi. Berantakan disini dalam arti baju bibi, bajunya suka menyingkap dan melorot kemana-mana, hingga memperlihatkan kemontokan dan kemulusan kulit tubuhnya.

“Iya, memang parah bibimu itu.” paman mengangguk mengiyakan. ”malah pernah, waktu tidur, paman kerjai. Sampai pagi dia gak sadar, gak tahu!” kata paman sambil tertawa.

“Masa sih, paman?” aku bertanya tak percaya.

”Iya, waktu itu dia kan tidur menyamping, paman buka aja kainnya, terus pelan-pelan paman masukin, gini!” paman mempraktekkan dengan memeluk guling dan memajukan pinggulnya.

Aku cekikikan. ”Kan pake celana, paman. Gimana masuknya?” kataku.

“Bibi kamu itu kalau tidur jarang make celana. Panas katanya. Malah kadang BH juga gak pake.” kata paman terus terang.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

“Eh, tapi nanti jangan kamu coba buktiin lho ya!” kata paman sambil tersenyum.

“Ya gak lah, paman. Mana berani aku.” sahutku.

”Tapi paman suka kasian sama bibimu. Cewek biasanya kan dua kali seminggu pingin gituan, tapi paman cuma bisa sebulan sekali.” kata paman, matanya tampak menerawang. ”Bibimu pasti sange berat.” tambahnya.

“Masa sih, paman?” tanyaku baru tahu.

“Iya, malah waktu awal nikah, tiap hari kita ngelakuinnya. Makanya, paman suka kasian sama bibi kamu. Coba kamu perhatiin, pasti dia kadang suka cemberut sendiri kan?” kata paman.

“Iya, paman. Kalau aku tanya kenapa? Katanya, kangen paman.” jawabku. Dulu aku tidak tahu yang dimaksud ’kangen’ yang bagaimana, sekarang aku baru mengerti.

“Tuh kan, sebenarnya itu tandanya kalau dia lagi pengen negntot!” kata paman vulgar.

“Iya, kasian bibi ya, paman? Coba kalau aku bisa bantu.” kataku bodoh.

“Hehe, iya ya. Coba kalau kamu bisa bantu,” bukannya tersinggung, paman malah santai menanggapi omonganku. “Tapi paman berterima kasih sekali, kamu sudah nemani bibi selama ini.” tambahnya.

”Aku juga terima kasih, paman sudah bayarin sekolah aku.” aku menyahut.

Paman menepuk pundakku. ”Itu sudah tugasku sebagai seorang paman. Eh, ngomong-ngomong, gimana ya caranya supaya kamu bisa bantu bibi?”

Mendengar pertanyaannya, aku hanya bisa melongo.

“Gini aja,” paman merubah duduknya, mendekat padaku dan berbisik, ”Kalau bibi lagi cemberut, kamu gituin aja pas dia lagi tidur, hehehe... pasti gak akan sadar, dan besoknya pasti langsung bisa senyum.“ paman melontarkan ide gilanya.

”Iih, paman, gak berani ah.” kataku.

”Ayolah, apa kamu gak pengen ngentotin bibimu? Enak banget lho rasa memeknya. Peret dan anget banget.” Paman berkata semakin parah, terus berusaha membujukku.

”Apa paman gak marah nanti?” pengen sih pengen, tapi aku masih takut, juga sungkan kepadanya.

”Hehehe...kalau orang lain, pasti langsung paman bunuh. Kalau kamu sih, gak apa-apa.” katanya sambil tertawa.

“Iya, paman gak apa-apa,” kataku. “Lha bibi, begitu bangun, pasti aku langsung dicekiknya.” aku bergidik.

“Ah, gak bakalan bangun, percaya deh sama paman. Dulu sambil merem, bibi megang burung paman. Terus dibantuin masuk ke lubang memeknya. Lalu bibi ngorok lagi. Mungkin dipikirnya lagi mimpi. Kamu kan kalau mimpi juga kayaknya bener terjadi kan? Kadang bangun, terus tidur lagi. Begitu juga dengan bibimu.” kata paman meyakinkan.

Akhirnya, setelah didesak terus, dan karena aku juga sudah nggak tahan, kuiyakan tawarannya. ”Ini paman yang nyuruh lho, bukan karena aku yang pengen.” kataku sekali lagi untuk memastikan.

Dan percakapan sore itu pun berhenti sampai disitu, karena bibi sudah keburu datang.

***

Aku sedang asyik nonton bokep bersama bibi, dan seperti biasa, bibi mengusap-usap tonjolan kontolku dari luar celana. Paman saat itu sedang pergi ke rumah pak RT untuk mengurus KTP baru. Ketika itu aku bertanya. “Bi, kok sekarang nggak pernah main lagi di depan TV sama paman?” pancingku.

“Masih suka kok, tapi main di kamar. Takut ada yang ngintip.” kata bibi sambil tertawa. Dia menyindirku.

”Ah, bibi jahat. Hilang deh fantasiku buat onani.” kataku merajuk.

”Lho, kan sudah setiap hari dikocok sama bibi?” dia menatap wajahku. ”Kamu masih suka onani sendiri?” tanyanya tak percaya.

”Ya, iyalah, Bi. Anak seumurku kan lagi pengen-pengennya. Sehari lima kali juga masih kuat.” sahutku bangga.

”Hmm, pantes aja...” Bibi bergumam.

”Pantes apanya?” tanyaku tak mengerti.

”Burungmu jadi tambah gede!” dia tertawa.

”Masa sih?” perasaan dari dulu juga segini deh. ”Gede mana sama punya paman?” tanyaku penasaran.

”Ehm,” bibi tampak berpikir sejenak. ”Gede punya pamanmu. Tapi kamu kan masih kecil, kalau kamu sudah seumuran pamanmu, pasti punyamu lebih gede.” dia menjawab diplomatis.

Aku ingin bertanya lagi, tapi sudah keburu maniku muncrat duluan. Kalau sudah begitu, itu tanda kalau acara nonton bareng harus diakhiri. Bibi segera mematikan TV dan menyimpan lagi kaset bokep milik paman ke dalam kamar. Aku, dengan celana belepotan penuh sperma, beranjak ke kamar untuk tidur siang. Tubuhku lemas, tapi puas.

Di luar, kudengar pintu depan dibuka seseorang. Paman pulang. Hmm, benar-benar timing yang pas.

***

Senin subuh, paman berbisik saat bibi berada di kamar mandi. Paman saat itu sudah siap-siap berangkat kerja. “Jagain bibi ya. Kalau bisa tolongin dia kalau lagi cemberut.” katanya sambil tersenyum.

“Ih, paman.” kataku malu, meski juga sudah tak sabar menunggu saat-saat itu.

”Ingat, jangan sampai ada yang tahu. Awas kalau sampai ada yang melihat, paman akan balikin kamu ke ibumu, dan bilang kalau kamu nakal mau memperkosa bibimu.” ancamnya.

”Beres, paman.” aku mengangguk sambil mengacungkan jempolku.

“Ada apa nih, bisik-bisik sambil senyum-senyum?“ tegur bibi yang baru keluar dari WC.

“Ini, keponakanmu ini tadi malam mimpi basah.” jawab paman berbohong.

“Masa? Mimpiin siapa?” tanya bibi antusias.

“Gak, Bi, paman bohong.” kataku.

Mereka hanya tertawa mendengarnya. Paman pun berangkat sambil diantar bibi sampai gang depan.

***

Hari itu dan beberapa hari berikutnya, aku sibuk sekali, hingga lupa akan janji kepada paman. Apalagi, mencari waktu yang pas juga sangat sulit. Aku sekolah seharian, masuk pagi pulang sore. Begitu pulang, bibi sudah bangun dari tidur siang. Kalo malam, kami tidur beda kamar. Dan bibi selalu mengunci pintu kamarnya. Meminta langsung, aku masih takut.

Tapi acara nonton bareng dan kocok mengocok masih tetap rutin kami lakukan. Aku berniat untuk memancingnya saja saat itu, masih menunggu timing yang pas.

Empat hari setelah kepergian paman, bibi terlihat murung. Ia tidak banyak bicara, tapi kurasakan belaian dan kocokannya menjadi lebih nikmat. Aku langsung ingat cerita paman, inilah saat yang aku tunggu-tunggu. Bibi lagi sange berat.

Esoknya, setelah pulang sekolah, kuajak bibi untuk nonton bareng. “Bibi rindu paman ya?” tanyaku saat bibi mulai membelai dan mengelus-elus batang kontolku. Adegan di TV juga sudah mulai panas. Ini adalah koleksi terbaru paman, film JAV tentang seorang perempuan yang bermain gila dengan adik iparnya. Mirip-mirip dengan kisahku.

”Iya sih,” bibi mengangguk. ”Tapi sebenarnya bukan pamannya yang bibi kangenin,” ia menggantung kalimatnya.

“Apanya, bi?” tanyaku meski sudah tahu jawabannya.

“Ah, kamu pasti gak ngerti. Ini masalah orang menikah.“ rupanya dia masih menganggapku bloon, yang sukanya nonton bokep sambil dikocokin.

Aku sekarang sudah lebih pintar lho, Bi! kataku dalam hati.

”Pokoknya ingin dipeluk aja.” kata bibi menambahkan.

”Dipeluk di ranjang ya, Bi?” tanyaku memancing.

Bibi tampak kaget, tapi lalu tertawa. “Hehehe... kamu tahu aja.” katanya. “Coba kamu bisa bantu bibi ya...” ia menatap wajahku.

”Bantu meluk? Aku bisa kok.” kataku yakin.

Bibi hanya tersenyum mendengarnya. Dia mengocok penisku semakin cepat saat film sudah setengah jalan. Hingga akhirnya aku pun melenguh dan... croot, croot, croot! Pejuhku muncrat membasahi celanaku.

Bibi memandangi celanaku yang bernoda hitam. ”Tambah banyak aja manimu.” komentarnya.

”Iya, Bi. Nggak habis-habis ya, padahal sudah tiap hari dikeluarin.” sahutku bego.

Bibi tersenyum dan bangkit berdiri. “Eh, bibi mau keluar dulu, mau beli bakso. Kamu ikut gak?” tanyanya.

“Gak ah, Bi. Aku tunggu di rumah aja. Aku capek.” ini aku juga heran, sehabis moncrot, aku pasti capek.

Mengangguk mengerti, bibi pun melenggang keluar. “Kamu nitip apa, pangsit apa bakso?” tanyanya sebelum menutup pintu.

”Apa aja, Bi.“ sahutku lirih, mataku sudah mulai berat. Aku ngantuk. Bersandar di sofa, aku pun tertidur. Sementara di TV, film masih terus berputar dengan ajibnya, mempertontonkan sang adik ipar yang sedang menyetubuhi istri kakaknya dengan penuh nafsu.

***

Sekitar setengah jam aku tertidur. Aku terbangun oleh suara adzan maghrib dari musholla di ujung gang. Film sudah berhenti berputar, TV hanya menampakkan layar biru bertuliskan merk DVD player milik paman. Menguap dan melemaskan badan sebentar, aku pun bangkit dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bibi masih belum pulang.

Keluar dari kamar mandi, kulihat sudah ada bakso dan martabak di meja tengah, ”Ayo makan, mumpung masih panas.” bibi menawarkan. Rupanya ia kembali saat aku masih di kamar mandi.

Setelah berganti pakaian, kami pun makan bersama. Sambil mengunyah, pikiranku penuh dengan rencana-rencana agar bisa meniduri bibi malam ini. Tapi semuanya buntu, tidak ada yang bagus. Hingga ketika nonton TV bersama, justru bibi yang malah melontarkan ajakan. ”Nanti tiduran di tengah sini aja ya, temani bibi. Di dalam panas, bibi nggak kuat.”

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aku segera mengangguk penuh antusias. Kami kadang memang suka berleha-leha di depan TV, tapi tidak sampai tidur seperti malam ini. Kalau paman dan bibi sih sudah sering tidur disitu, bahkan main juga. Kalau aku, sekali pun tak pernah. Baru malam ini. Dan beruntungnya, bersama bidadari yang siap kunikmati tubuh indahnya.

Sambil menata bantal dan kasur tipis, bibi bertanya. ”Mau nonton sambil dikocokin lagi nggak?” dia menawarkan. Memang, biasanya aku dua kali sehari diservis olehnya. Sore setelah pulang sekolah, dan malam sebelum tidur.

”Nggak usah, Bi. Aku capek.” tapi untuk malam ini, terpaksa aku menolaknya. Aku harus menghemat pejuhku untuk menyetubuhinya nanti. Biar rangsangannya total dan maksimal.

”Tumben?” bibi tampak terkejut dengan perubahanku.

”Ehm, mungkin karena banyak kegiatan di sekolah tadi.” aku berbohong. Saat itu, kami sudah berbaring bersisian di depan TV. Bibi menonton acara reality show tentang ajang pencarian jodoh. Aku sama sekali tidak tertarik. Mataku lebih suka memandangi paha bibi yang putih mulus karena kain dasternya sedikit tersingkap.

Atau dia sengaja menyingkapnya? Karena meski sudah terangkat hingga hampir memperlihatkan celana dalamnya, bibi diam saja. Tampak cuek dan tidak berusaha untuk membetulkannya, membuatku pikiranku yang sudah ngeres jadi tambah kacau.

”Kamu kalau tidur suka bangun nggak?” tanya bibi.

”Nggak, Bi. Aku kalau tidur kaya orang mati. Malah kalau ada yang nampar, nggak kerasa.” kataku berbohong.

“Masa sih?” bibi tersenyum gembira menemukan orang yang sejenis. ”Bibi juga. Malah kalau ada yang merkosa, bibi nggak bakal tahu, hehehe...” katanya.

Aku mengangguk. Selanjutnya kami ngobrol biasa, mulai dari kegiatanku di sekolah hingga rencana masakan bibi esok hari. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kulihat bibi sudah tertidur, sementara aku masih betah nonton bola liga Italy. Dia terlihat nyenyak dan pulas sekali. Nafasnya teratur dan pendek-pendek. Inilah saatnya aku beraksi.

Tanpa mematikan TV, kupandangi paha bibi yang sejak tadi sudah menggodaku. Dengan hanya berbekal penerangan dari dapur, karena lampu ruang tengah sudah kumatikan, aku bergeser ke bawah, menuju paha dan bokongnya. Jantungku berdetak kencang, terus deg-degan saat melakukannya, takut kalau bibi tiba-tiba bangun dan memergokiku. Tapi teringat kata-kata paman, aku terus memberanikan diri.

Rasa penasaran menyergapku saat kupelototi kulit pahanya yang halus dan mulus. Ada sedikit bulu-bulu halus disana, juga urat nadi kehijauan yang semburat tak merata. Kulit bibi tampak putih sekali, begitu bercahaya di tempat yang setengah gelap itu. Aku menoleh, kulihat muka bibi ditutupi bantal dari samping. Dia masih tidur dengan lelapnya.

Pelan, kusingkap dasternya makin ke atas hingga aku bisa melihat... gila! ternyata bibi tidak mengenakan celana dalam. Benar kata paman! Bisa kulihat bulatan bokongnya yang bulat dan sekal, juga lubang anusnya yang mungil dan menghitam, dan ini yang membuatku menahan nafas... lubang senggamanya yang nampak mengintip malu-malu dari celah selangkangannya. Rambut hitam keriting tumbuh rimbun disana.

Sungguh, jantungku berdegup sangat kencang saat itu. Bila selama ini aku cuma melihat kelamin wanita dari video-video bokep, sekarang aku menyaksikannya secara langsung. Dan kalau aku beruntung, aku juga bisa merasakan betapa nikmat benda itu. Ehm, aku jadi tak tahan. Cepat aku melepas celana. Kubebaskan kontolku yang sudah menegang dahsyat untuk mencari mangsanya.

Kulihat bibi masih tertidur pulas, mukanya masih tertutup bantal. Posisi bibi agak menyamping, dengan badan sedikit melengkung. Kakinya agak ditekuk ke belakang hingga seperti menonjolkan bagian memeknya. Sesaat kuletakkan tanganku ke atas jembutnya, untuk memastikan dia benar-benar terlelap atau tidak. Kuraba benda kasar itu dan kutarik-tarik beberapa kali.

Dan ternyata benar. Bibi masih bernafas lembut, dan tanpa merubah posisinya sedikit pun. Paman tidak berbohong, bibi kalau tidur memang kayak orang pingsan. Berseru kegirangan, segera kuraba memeknya. Kali ini lebih keras. Dan bibi tetap tidak bangun.

Rasa takutku hilang sudah, berganti dengan gairah birahi yang menyala-nyala. Tanpa mempedulikan apa-apa lagi, kucoba mencari lubangnya dengan ujung telunjukku. Kutusuk-tusukkan tepat ke bagian tengah hingga aku menemukan belahannya. Kusentuh pelan sekali daging basah yang berlipat-lipat itu. Warnanya agak sedikit menghitam, mungkin karena sering kegesek kontol paman.

Tapi ketika kukuak lebih lebar lagi, warna coklat itu berangsung berubah menjadi merah hati, lalu merah tua, merah darah, dan akhirnya, tepat di kedalaman lubangnya, kulihat lorongnya yang menganga berwarna merah kekuningan seperti warna magma gunung berapi. Terasa basah dan sangat lengket saat kutusuk dengan jariku. Juga hangat dan berkedut-kedut. Ehm, pasti bakalan nikmat sekali kalau penisku yang masuk ke dalam sana.

Segera kudekatkan batang kontolku ke dalam lubang itu. Posisi bibi yang sedikit melengkung dan menyamping, memudahkanku untuk melakukannya. Daster bibi yang tersingkap hingga ke pinggang, kurapikan agar tak mengganggu gerakanku nanti.

”Inilah saatnya.” bertekad dalam hati, aku berusaha mencari lubangnya. Tapi ternyata sangat sulit. Berkali-kali kutekan, tetap tidak masuk-masuk. Ini aku yang goblok, atau apa karena lubang memek bibi yang terlalu sempit ya, jadi tidak bisa menampung penisku?

Masih kebingungan, aku terus menekan-nekan. Berharap keberuntungan, siapa tahu bisa pas dan bisa masuk dengan sendirinya. Tapi kontolku hanya bergeser naik turun, menggesek bibir luarnya berkali-kali. Ugh, susah sekali. Bahkan sampai lima menit berlalu, aku masih belum berhasil. Aku ingin sedikit melebarkan paha bibi, tapi takut dia terbangun.

Tiba-tiba kulihat tangan bibi bergerak, ia meletakkan satu tangan di paha atasnya. Aku sempat cepat-cepat menarik kontolku, takut tersenggol. Tapi saat kulihat setelah itu ia diam, aku kembali mendekatkan kontolku. Kembali aku berusaha memasukkan ke lubang kelaminnya, tapi tetap sulit. Saat itulah, tiba-tiba tangan bibi bergerak. Begitu cepatnya hingga aku tidak sempat menghindar. Dengan lembut dia memegang kontolku, dan sambil melebarkan pahanya, membimbing benda itu untuk memasuki lubangnya.

Aku tidak melawan, kuikuti apa yang ia lakukan. Lagi-lagi paman tidak berbohong. Bibi, masih sambil tidur, memberiku jalan untuk menyetubuhinya. Dengan bantuannya, aku bisa menemukan lubang memeknya tanpa susah payah. Begitu ujung kontolku sudah menancap, aku pun segera mendorong penisku kuat-kuat.

”Heghhk!!!” aku melenguh keenakan saat batangku terbenam seluruhnya. Nikmat kurasakan saat dinding vagina bibi berkedut-kedut pelan, seperti memijat dan mengurut penisku begitu rupa.

Dengan gerakan halus, aku mulai menariknya, lalu memasukkannnya lagi. Menariknya lagi, memasukkanya lagi. Begitu terus hingga gesekan antara batang kontolku dan dinding-dinding kemaluan bibi terasa begitu nikmat. Memek bibi kurasakan semakin berdenyut, begitu juga dengan batang kontolku. Semakin kupercepat genjotanku, semakin terasa kencang pula kedutannya.

Aku yang baru pertama merasakan nikmat persetubuhan, benar-benar terbuai. Begitu legitnya memek bibi hingga membuatku tak bisa menahan diri lebih lama. Mungkin hanya sekitar sepuluh kali aku memaju-mundurkan kontolku, sebelum akhirnya aku menggeram dan memuntahkan cairan spermaku di dalam benda itu. Dibarengi denyut kontolku yang menguras isinya, aku pun terkulai lemas. Capek tapi puas. Sangat puas. Juga sangat senang karena sudah berhasil menikmati tubuh wanita yang selama ini selalu menggodaku.

Tapi, apakah bibi puas juga dengan permainanku yang cuma sebentar itu? Rasanya tidak. Paman saja yang bisa bertahan lebih lama, kadang tidak bisa memuaskannya. Apalagi aku yang cuma sepuluh tusukan tadi...

Ah, tapi tenang, masih ada ronde kedua. Setelah beristirahat, aku pasti bisa bertahan lebih lama. Malam masih panjang. Masih banyak waktu bagiku untuk memuaskannya. Pelan-pelan kucabut kontolku yang kini sudah terkulai lemah. Rasa lega dan nikmat luar biasa masih kurasa di kepala kontolku. Aku ambil taplak meja, dan pelan kuusap memek bibi, kubersihkan dari lelehan spermaku. Aku tak merasa takut sama sekali, karena kata paman, paling bibi merasa mimpi basah.

Malam itu, kusetubuhi dia lima kali. Semakin lama, aku semakin kuat bertahan. Bahkan di permainan yang kelima, saat hampir mendekati subuh, kugoyang tubuh bibi hingga 15 menit. Bibi bahkan sedikit melenguh dan mengimbangi goyanganku. Sepertinya dia ngelindur.

Puas menumpahkan spermaku di dalam memeknya, cepat-cepat aku kembali ke kamar setelah terlebih dahulu merapikan daster bibi dan menyeka cairanku yang berceceran di selangkangannya.

***

Paginya, saat ketemu di meja makan untuk sarapan, kulihat wajah bibi ceria sekali. Aku jadi agak tenang, apa kata paman memang benar, pikirku. Tapi apa pantas kupanggil dia paman setelah kutiduri istrinya yang cantik? Ah, tidak apa-apa, toh dia yang menyuruh. Mengingatnya, hatiku jadi agak tenang.

Siangnya, sepulang sekolah, bibi sudah menungguku di depan TV. ”Nonton yuk, bibi punya kaset baru.”

Tidak bisa kutolak ajakannya. Dan seperti biasa, dia mengelus dan mengocok penisku dari luar celana. Benda ini sudah pernah masuk ke dalam memek bibi, merasakan kerapatan dan kehangatannya! batinku dalam hati.

”Kok dikit amat?” tanya bibi curiga saat melihat maniku yang cuma menetes dua kali.

Semalam sudah keluar banyak di memek bibi, ini cuma sisanya! Tapi tidak mungkin aku berkata seperti itu. ”Nggak tahu, Bi. Kecapekan kali, tadi sekolah aku main sepak bola.” itulah jawaban yang aku berikan.

Dan untungnya bibi percaya. Dia tidak bertanya apa-apa lagi.

***

Kira-kira empat hari setelah persetubuhan pertamaku, kulihat bibi sudah mulai cemberut lagi. “Bibi kangen pamanmu lagi,” katanya.

“Apa, Bi?” aku sedikit tidak konsen dengan omongannya. Aku sedang mengejar orgasmeku yang sebentar lagi sampai. Tak sampai satu menit, aku pun muncrat.

Setelah membersihkan tangannya dengan tisue, bibi mengganti tayangan bokep di TV dengan sinetron biasa. “Kemarin pas kangen gini, bibi mimpi ketemu pamanmu, jadi rindu bibi sedikit terobati. Mudah-mudahan malam ini bibi bisa mimpi ketemu dia lagi.” katanya penuh harap.

”Kemarin Itu aku, Bi...” jeritku dalam hati. “Emang mimpi apa, Bi?” aku bertanya, pura-pura tidak tahu.

“Mimpi basah,” sahutnya singkat.

“Emang perempuan bisa mimpi juga?” tanyaku jujur, aku memang tidak tahu kalau perempuan bisa mimpi juga.

“Emangnya cuma lelaki aja.” bibi mengacak-acak rambutku. “Kamu kalau tidur, kalau ada yang jahil, kerasa gak?” tanyanya kemudian.

“Nggak, Bi. Nggak kerasa sama sekali.” kataku, mempertahankan kebohonganku tempo hari.

***

Waktu belum pukul sembilan, tetapi aku telah pura-pura terlelap depan TV. Bibi mengikuti dengan berbaring di sebelahku. Setelah sekitar 15 menit, tiba-tiba kurasakan usapan-usapan lembut di celah pahaku.

“Duh, dasar! Kok sudah tidur sih?!” kudengar bibi berguman. Aku hanya diam saja, tetap pura-pura tidur. Tak lama, kurasakan usapannya makin mendekati daerah kemaluanku. Aku tetap diam. Saat itu bibi sudah mematikan lampu ruang tengah, bahkan lampu dapur juga dia matikan, sehingga keadaan sekarang gelap gulita. Hanya cahaya TV yang menerangi apa yang sedang dia lakukan.

Usapan bibi makin berani, dia sekarang meremas-remas kontolku. Kemudian kurasakan dia membuka resleting celanaku, dan kembali dia meremas gundukan kontolku yang masih terlindung celana dalam. Saat itu kontolku sudah mulai bangkit. Sungguh, saat itu, aku hanya bisa pura-pura tidur. Aku harus tetap diam karena sudah telanjur ngomong aku kalau tidur kayak orang mati.

Sampai kemudian kurasakan tangannya mengeluarkan kontolku pelan, inilah untuk pertama kali bibi memegang kontolku secara langsung. Rasanya nikmat banget saat jemari lentiknya membungkus dan memegang erat batangku, mengocoknya perlahan. Membuatku mendesis dan menggeram nikmat tertahan. Kudengar nafas bibi juga sudah mulai berat. Ia menggumam-gumam, seperti mengagumi ukuran dan panjang penisku.

”Gede banget... panjang... bikin ngilu... enak...” itulah sederet kata-kata yang kudengar keluar dari bibir manisnya.

Tiba-tiba dia menghentikan kocokan. Aku yang sudah mulai naik, sesaat sudah ingin protes. Biarlah samaranku terbongkar, yang penting aku bisa terus menikmati belaian tangannya. Sampai kemudian kurasakan kontolku seperti dihisap-hisap... oh, bukan! Kontolku dimasukkan ke dalam lubangnya yang bisa menghisap. Lubang memeknya. Bibi telah menunggangiku. Dia menduduki penisku yang sudah mengacung tegak ke atas hingga amblas seluruhnya, masuk ke dalam lubang surgawinya.

Rasanya sungguh nikmat. Kalau dulu aku yang aktif, sekarang gantian bibi yang aktif. Dengan cepat dia segera menggoyang tubuhnya hingga membuatku tak kuasa untuk menahan rasa. Geli, nikmat, dan enak bercampur menjadi satu, menjalar ke seluruh tubuhku. Saat kurasa spermaku sudah hampir muncrat, bibi tiba-tiba menggeram dan menduduki penisku dalam-dalam. ”Heghh!!!” dia memekik saat dari dalam memeknya menyembur cairan hangat. Deras dan banyak sekali. Kontolku rasanya seperti disiram air teh.

Aku yang terkaget-kaget, menyusul tak lama kemudian. Tanpa melepas penis, kutembakkan pejuhku ke mulut rahim bibi. Beberapa kali kedutan kurasakan sebelum akhirnya berhenti dan membuatku lemas. Melenguh keenakan, bibi segera mencabut memeknya dan kurasakan tangan bibi merapikan kembali celanaku, sebelum akhirnya dia melangkah menjauh, meninggalkanku sendirian di ruang tengah. Sedetik kemudian, kudengar pintu kamarnya ditutup dan dikunci dari dalam.

Selesailah permainan kami malam itu. Sama-sama ingin, sama-sama puas.

***

Sampai pagi, aku tidak pindah ke kamar. Badanku terlalu capek untuk sekedar bangkit dan berjalan. Kudengar bibi berkata saat matahari sudah bersinar terang lewat jendela. “Kamu nggak bangun? Cepat, nanti kesiangan ke sekolah.”

Aku langsung mandi, sementara bibi sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Selesai mandi dan ganti pakaian, bibi mengajakku makan. Selama itu, aku tidak banyak bicara, bingung mau ngomong apa. Tapi bibi bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan menurutku, ia terlalu periang pagi ini. Rupanya permainan denganku tadi malam cukup memuaskannya.

Sorenya, sepulang sekolah, aku mendapat kejutan. Saat aku hendak mandi, kulepas celana dan bajuku di kamar. Dengan hanya memakai handuk, aku melintas di depan bibi yang sedang sibuk mengelap meja makan. Dia menyapaku. “Hei, sini sebentar.” bibi melambaikan tangannya yang lagi memegang serbet.

Aku pun mendekat. ”Ada apa, Bi?” tanyaku tanpa rasa curiga sedikit pun. Kukira dia mau mengajakku nonton dan ngocok, seperti biasa. Kalau itu nanti saja, sehabis mandi.

“Ehm, anu...” bibi tampak ragu untuk mengutarakan maksudnya.

”Iya, Bi?” aku menunggu.

”Ehm, itu... bibi mau lihat, penasaran. Boleh ya?” tiba-tiba bibi bilang begitu. Dan belum sempat aku menjawab, dia sudah meraih handukku dan menariknya cepat hingga aku telanjang bulat di depannya.

”Ah, Bi! Apa-apaan sih?” cepat kututupi burungku yang setengah ngaceng dengan tangan.

“Ih, sudah kelihatan ya bulunya?” dia tertawa, tampak nakal sekali.

Aku yang awalnya kaget dengan tingkahnya, dengan cepat mengangguk mengiyakan. Begitu senang dengan perubahan besar ini. Bayangkan, bibi yang selama hampir dua bulan kupaksa untuk melihat kontolku, kini malah dengan senang hati memelototinya tanpa kuminta.

“Bi, udah ah. Aku mau mandi.” kataku jaim, padahal dalam hati tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir.

“Halah, baru juga jam empat sore.” sahutnya. ”Gak apa-apa, tenang saja. Sekarang kamu nurut sama bibi.” dia menarik tanganku agar tidak menutupi kontolku lagi. ”Bibi pengen lihat, jangan ditutupi.” bisiknya.

Sekarang jarak kami sudah tinggal sejengkal. Bibi tak berkedip menatap burung mudaku. Ia tampak suka dan terpesona. ”Kenapa tidak dari dulu. Bi?” tanyaku. Aku penasaran dengan tingkahnya yang nakal pagi ini.

”Bibi kemarin mimpi burung pamanmu masuk ke lubangnya bibi, membuat bibi kepikiran terus. Daripada sakit kepala gak bisa tidur, kan mending lihat punya kamu saja, toh panjang dan bentuknya juga sama.” terangnya tanpa malu-malu. ”Sini, deketin.” bibi menarik kontolku agar mendekat ke arah selangkangannya.

“Tapi, Bi.” sergahku saat kulihat bibi mulai membuka kakinya, siap menyelipkan batang penisku diantara lipatan pahanya.

“Sudah, gak apa-apa, kamu santai aja.” bisiknya menenangkanku.

Aku pun diam dan menurut. Memang ini yang kuinginkan, bersetubuh dengannya. Tapi saat kesempatan itu ada, kenapa aku malah grogi seperti ini? Benar-benar aneh.

Kurasakan ujung kontolku menyentuh benda berbulu saat bibi menyelipkan batangku masuk ke dalam belahan memeknya, membuat kontolku langsung mengeras perlaha. Aku hanya diam menikmatinya, tidak berani protes atau bicara sedikitpun. Biarlah bibi yang aktif, aku ikuti saja permainannya.

Perlahan bibi menyingkapkan dasternya. Seperti sudah bisa ditebak, tidak ada apa-apa lagi di dalamnya. Bibi tidak memakai celana dalam. Tampak selangkangannya yang rimbun, dengan penisku terselip di tengah-tengahnya. Kulihat bibir memeknya telah rapat dengan ujung kontolku.

Bibi menarikku mengikuti tubuhnya yang berjalan mundur, mendekati meja makan. Kini aku tahu kenapa tadi dia mengelapnya, rupanya dia mau menggunakan meja itu sebagai ajang pertempuran kami nanti. Saat pantatnya menyentuh meja, bibi melepas kain dasternya hingga kami sama-sama telanjang bulat. Bisa kulihat gundukan payudaranya yang begitu mengkal dan menggoda. Tampak bulat dan tidak turun sedikit pun karena bibi memang belum pernah hamil dan menyusui.

Tanpa basa-basi, bibi membaringkan tubuhnya sambil meraih kontolku, lalu membimbingnya untuk masuk ke dalam lubang kewanitaannya yang sudah merekah basah. ”Oughh..” aku melenguh nikmat saat batangku kudorong hingga amblas seluruhnya. Kurasakan tangan bibi mencengkeram pantatku, menyuruhku untuk menggerakkannya maju mundur tanpa suara.

Aku mengikuti gerakan tangannya, sampai akhirnya dua tangan bibi melingkar di leherku. Sambil menciumi payudaranya, aku terus mengenjot tubuh sintal istri pamanku itu.

“Ehm, enak banget! Kamu memang pintar.” rintihnya.

Tidak menjawab, kugoyang pinggulku semakin cepat. Meja makan sampai berderit-derit akibat menahan genjotanku.

”Kamu enak gak?” tanya bibi. Aku mengangguk agar dia juga tahu kalau aku menikmati persetubuhan ini. Bibi kemudian mencium bibirku. “Terima kasih ya, sudah bantu bibi nyalurin nafsu. Bibi cuma pingin aja tadi.” katanya sambil meraba batang kontolku, memintaku untuk menusuk semakin dalam.

”Kenapa nggak dari dulu, Bi?” tanyaku ingin tahu.

”Perempuan itu pemalu, tidak seperti laki-laki.” jawabnya diplomatis. ”Ahh, enak banget. Bibi nggak nyangka kontol kamu gede gini.” katanya.

Tidak menjawab, aku hanya terus menggenjotnya, menciumi bibirnya, dan meremas-remas payudaranya. Sesekali bibi menggeliat akibat tusukanku. Kurasakan memeknya menjadi semakin basah. Peluhku terus mengalir, bercampur dengan keringat bibi.

Akhirnya, setelah berusaha cukup lama, akupun mendekapnya erat, dibarengi dengan desahan ahh... dari mulutku. Aku orgasme. Begitu juga dengan bibi. Cairan kami bercampur, dan sekali lagi memenuhi memek bibi.

***

Sejak itu, kami tak ragu lagi untuk mengulangnya. Tidak ada lagi batas bibi dan keponakan diantara kami berdua. Di usiaku yang baru berjalan 14, aku telah merasakan nikmatnya dunia. Hampir tiap hari kami melakukanya. Yang membuatku heran, setiap paman akan berangkat kerja, dia selalu menitipkan bibi kepadaku, dan menyuruhku untuk memuaskannya. Tidak ada rasa cemburu sama sekali pada diri laki-laki itu meski tahu istrinya aku pakai.

Tahun keenam pernikahan mereka, akhirnya bibi hamil, anakku. Paman sangat senang, bahkan dia mengadakan syukuran. Aku dan bibi masih terus bersetubuh. Bahkan kini lebih gila karena kami sudah tidak sungkan-sungkan lagi untuk melakukannya di depan paman. Paman sama sekali tidak keberatan, malah dia beberapa kali ikut bergabung untuk memuaskan hasrat nafsu bibi yang menggebu-gebu.

END
, , ,