Coba kalian bayangkan aku seorang diri harus memberi makan 10 mulut di dalam rumahku. Itu termasuk aku, istriku, ibuku, kakak perempuanku dan suaminya serta kedua orang anaknya, adikku laki-laki dan istrinya serta anak tunggalnya. Betapa kerja kerasnya aku setiap hari agar semua yang di bawah atap ini tidak mati kelaparan.
Suami kakak perempuanku sebenarnya pengusaha mebel. Tapi bangkrut habis-habisan dengan meninggalkan utang yang bermilyar-milyar. Sehingga kakak perempuanku, Rani yang notabene adalah wanita rumah tangga memohon kepadaku untuk membantunya.
Waktu itu segala harta bendanya, rumah, mobil hingga, terus terang aja nih... kolor-kolor yang ada pun turut disita, bisa dikatakan waktu para penagih datang dan mengambil segalanya mereka cuma menyisakan apa yang melekat di badan mereka.
Sementara itu adik laki-lakiku, Budi gak bisa menjaga pekerjaan. Selalu saja dipecat. Akibatnya dia gak mampu kasih makan keluarganya. Dia pun datang kepada diriku untuk bantuan.
Aku sih punya bisnis pengolahan tinja. Yah dari hasil sisa mencretnya orang, aku olah jadi energi gas dan aku ekspor ke luar negri, sehingga aku punya penghasilan yang lumayan.
Waktu mereka datang kepadaku dan memintaku untuk mengurus mereka. Aku selalu mengajukkan satu syarat kepada mereka, yaitu, mereka harus mau melayani kebutuhan seksualku. Karena aku memang memiliki hasrat yang luar biasa besarnya. Sampai-sampai istriku gak sanggup lagi melayaniku.
Karena alasan itulah, aku sampai suatu malam memaksa ibuku sendiri untuk melayani kebutuhnaku.
Mereka sih awalnya terkejut habis-habisan mendengar permintaanku. Bahkan kakak perempuanku mencaci maki diriku, mengatakan aku bejat dan lain sebagainya. Ibuku sampai menangis. Istriku sampai minta pisah ranjang. Adikku....ah dia mah diam saja, mau gak makan?
Akhirnya sekitar sebulan kemudian kami menggelar pertemuan untuk membahas hal ini. Waktu itu kami semua berkumpul di rumahku/
"Ya, sudah Iwan kami semua sudah berembuk dan memutuskan untuk menyetujui persyaratanmu, asal kamu mau menerima kami semua," ucap suami kakak perempuanku.
"Iya kak, ok kami siap melayani kebutuhan kakak," tambah adikku.
"Apakah kalian yakin, itu termasuk juga anak-anak kalian lho...."
Semuanya terdiam... Istriku adalah yang paling bermuram durja di ruangan itu.
"Kenapa? Apakah kalian berubah pikiran?"
"Sebenarnya itu yang ingin kami bicarakan," kata istri adikku. Mirna namanya. "Apakah bisa kak Iwan biarkan anak-anak kami, biar kami saja yang melayani kakak," ucapnya sambil membetulkan posisi kacamatanya yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa.
"Ah tidak bisa...harus termasuk keponakanku yang cantik-cantik ini..."
Ruangan kembali jadi hening.
"Iwan, plis...mereka masih terlalu muda...," pinta kakak perempuanku.
"Kalau kak Ranti gak mau, gak apa-apa aku gak keberatan. Tapi yah jangan gantungkan nasib kalian sama aku."
Kak Rani mengepalkan tangan di atas pahanya dan menggigiti bibir bawahnya mendengar jawabanku.
"Ya ok ok ok... yah... kami sekeluarga akan layani kebutuhanmu yang satu itu," tampak suami kak Ranti, Farid sudah frustasi dan tidak mau berlarut-larut dalam masalah ini.
"Bagiamana dengan mu Mirna?"
Mirna tampak bingung dan tak bisa mengambil keputusan, alisnya mengernyit meminta suaminya alias adikku, Roni untuk mengambil keputusan. Adikku memandangi istrinyat dan anak tunggalnya, jelas ada keberatan yang sangat tergurat di wajahnya.
"Ya sudah....terserah kak Iwan....," ucapnya lemah.
"OK, sekarang tinggal istriku dan ibu...apakah kalian masih keberatan...?"
Mereka berdua saling pandang. Mereka tak kalah gundahnya dengan yang lain.
"Iwan...masak kamu mau ibu ngelayanin kamu juga...ibu kan sudah tua..."
Aku berdiri dari sofaku dan berjalan ke arahnya. Lalu duduk disampingnya.
"Jangan khawatir ibu, Iwan gak akan mintah yang aneh-aneh kok...," ucapku seraya menyampirkan kain baju pundaknya. Kuciumi pundaknya dan perlahan merambat ke lehernya. Ibu menggelinjang dan memiringkan tubuhnya menjauh dariku, sementara kedua tangannya menahan dadaku. Matanya yang sudah mulai terlihat keriput di pinggirnya menatapku dengan perasaan gelisah tak nyaman.
"Iwan! bisa gak nanti aja...jangan disini!" ucap istriku agak kesal.
"O...ok...hmm...apakah itu artinya kamu sudah setuju, sayang?"
"...Ah aku kan cuma istrimu bisa berbuat apa untuk nolak?" Jawabnya sambil berbalik memberikan punggungnya.
Aku pun berpindah posisi ke samping istriku dan memeluknya.
"Jangan marah donk sayang...kamu tetap yang paling aku cintai..."
"Aku lagi gak mau dirayu, mas," tukasnya ngambek.
Meskipun di BT-in aku tetap memeluknya mesra dari belakang dan menempelkan hidungku ke punggungnya dan menghirup tubuhnya.
Kemudian aku bangkit.
"Ok berarti semua setuju ya..."
"Ya..," jawab mereka pelan.
Setelah itu dengan tak sabar aku memeluk kembali ibuku dan kutempelkan pensiku ke paha ibuku dan kugesek-gesekkan mencoba mencari kenikmatan.
"Oh ibu dah lama Iwan mau main sama ibu..."
Semua yang ada disitu langsung kaget mendengarnya.
"Aku tak dapat melihat atau mendengar ini semua," keluh istriku dan dia beranjak pergi.
Yang lain pun segera hendak pergi meninggalkan rungan itu.
"Kak Rani, mau kemana...?" tanyaku dengan nada penuh arti.
"Aku mau meninggalkan kalian berdua....tunggu dulu...apakah kamu berpikir untuk...oh tidak...."
Aku hanya memberikan senyuman di pinggir bibir.
"Oh tidak...kamu mau aku...dan ibu...."
Aku mengangguk-angguk kecil.
"kamu memang bejat sekali, Iwan..."
Kulihat yang lain-lain pada geleng-geleng kepala mendengar permintaanku sambil melangkah pergi.
"Iwann....ibu gak bisa...ibu gak pernah begituan..," rengek ibuku. Raut wajahnya merengut.
"Shhhtt...."
Ku sampirkan kedua kain di pundak ibuku, dress yang lemas itu langsung jatuh memberikan tontonan payudara yang menakjubkan. Ibu langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Aku tersenyum melihat reaksinya.
Lalu aku berdiri.
"Kak Rani, ayo buka reseleting celanaku."
Kakak gw tampangnya BT. Dia emang orangnya agak judes, paling gak suka kalau disuruh-suruh. Sukanya merintah.
Waktu jarinya yang lentik itu menggapai tepi celana pendekku. Langsung aja gw tarik tangannya hingga tubuhnya doyong dan terhuyung, terjatuh ke sofa di samping ibu. Secepat kilat gw tindih tubuhnya, gw sibak roknya dan tangan gw nyelip di antara pahanya dari belakang.
"Kyaa!! gak! GAK! Iwan bajingan kamu!"
Tapi gw gak peduli, gw gosok-gosok kemaluannya dengan cepat. Ibu langsung mencoba mencegahku..
"Iwaaan...jangan gitu sama kakakmu...."
Kaki kakak meronta-ronta, menendang-nendang, sambil tangannya mencoba menepis tanganku yang telah melanggar perbatasannya.
Kesal karena mereka melawan terus, aku bangkit berdiri.
"Baik...kalau kalian begini terus....aku akan..."
Aku diam.... lalu aku naik ke lantai atas dan aku masuk ke sebuah kamar.
Gak berapa lama aku tarik keluar kedua keponakanku Nagita dan Murni yang masih duduk di bangku SD.
"Jangan...Wan..Jangan Wan...," pinta suami kak Rani mencoba menahan kedua anaknya.
"Apaan sih...tadi kalian sudah setuju!"
"Iya...tapi...."
Aku tak peduli aku tarik keponakanku turun ke bawah.
"Masuk lo! Atau lo keluar dari rumah ini" perintah gw ke adik ipar gw itu.
"Wan..jangan...Wan..."
Gw lihat yang lain pada ngintip dari kamar dari balik pintu kamar mereka masing-masing. Tanpa banyak bicara gw bawa turun kedua keponakan gw ke lantai bawah. Disitu kakak gw nangis.
"Wan...jangan anakku Wan..."
Ibu pun berusaha membujukku, gak kalah histerisnya, "Wan jangan Nagita dan Murni.... ibu aja... ayo sini ibu turuti maumu...."
Kedua keponakan gw juga jadi ikut-ikutan mewek manggil-manggil ibunya, "Ibu...ibu..."
Gw cuek aja, dah nafsu mau nyicipi mereka berdua. Tangan gw menyelinap masuk ke dalam rok mereka dan masuk lagi ke dalam CD mereka, Uuhh..gw bisa ngerasaain kemaluannya mereka yang mngil dan belm berbulu. PInggul mereka bergerak maju mundur saata tangan gw menekan dan menggosok daerah kewanitaan mereka.
"Ibu hu..huu...hu...," tangis keduanya.
Kakak gw tiba-tiba maju dengan cepat dan mendorong gw sampai gw terjatuh ke belakang. Sementara ibu mengambil keduanya dan memeluk mereka erat-erat.
"Kakak turutin semua mau lo, Wan, hm..kamu mau apa? mau oral?" tanya kakaku dengan mata berkaaca-kaca dan menggosok-gosok kemaluan gw dari luar celana.
Waktu aku mau bangkit berdiri kakak mendorongku lagi. Sementara itu ibu sudah menyuruh Nagita dan murni naik lagi ke atas. Belum sempat aku bicara, kakak dan ngeluarin penis gw dan mengulum dengan cepat. "Ahh! ahh...ahh!"
Terus ibu mendekati kami, dan menyuruh kakak untuk gantian. Kini wantia yang melahirkanku ini mengulum batangku dengan sangat cepat, dan lebih piawai dari kakak.
"Kamu mau apa lagi, Wan? Mau liat selangkangan kakak?"
Belum menjawab, kakak sudah mengangkangi gw dan mengangkat roknya. Sehingga bisa gw lihat CD mininya yang seolah cuma memnutupi belahan vaginanya saja.
Gw betot CDnya itu dan langsung copot. Gw masukin jari tengahku ke lubangnya. "Iwaaaan....."
Tiba-tiba saja gw berontak, gw dorong kakak ke samping sampai ia agak terjatuh.
"Ini bukan yang aku mau!"
Gw berdiri dan gw tarik ibu ke sofa, gw balikin badannya hingga membelakangiku. Terus langsung gw tusuk dari belakang kemaluannya dan gw entot dengan gaya Doggy style. dengan gemas kuremas kedua dadannya.
Ibu pun mengadah. Entah keenakan atau kesakitan. Soalnya gw gak pake pemanasan lagi.
"Kakak panggil Nagita dan Murni ke bawah. Kalau gak mau, ambil koper kalian dan keluar dari sini."
Kakak tampak duduk lunglai di lantai, usahanya tidak berhasil, ia terisak-isak.
"Cepetan!"
Kak Rani dengan langkah gontai naik ke lantai atas dan menjemput kedua anaknya turun.
"Jangan lupa pakaikan seragam sekolah mereka!" teriakku.
Beberapa lama kemudian Nagita dan Murni turun lagi sudah lengkap dengan seragam merah putih mereka dan dasi. Kedua keponakanku keheranan saat melihat nenek sudah telanjang dan lubangnya dimasukin penis
"nenek diapain, bu?" tanya nagita.
Kakak tak dapat menjawab keduanya. Ia berjongkok dan memeluk kedua anaknya.
Tahu-tahu ibu memekik, "Ibu keluaar! aaah...."
Kucabut penisku dari lubangnya dan ia jatuh terkulai lemas di sofa. Aku pun turut rebahan di sofa itu dengan penisku sebesar pisang raja mengacung ke atas masih menuntut untuk dipuaskan.
"Ternyata ibu menikmati juga yah...buktinya klimaks," godaku.
Ibu tidak berkata apa-apa matanya hanya menatap ke bawah.
"Nagita! Murni! Kemari sayang..."
Kakak tetap merangkul keduanya, menahan mereka, tidak mau melepaskan mereka. Aku bangkit dari sofa dan menarik mereka berdua dengan paksa.
"Iwan...Iwan...plis...jangan...jangan anak-anakku...."
"Lepas! lepasin tangan kakak!"
Dengan lemas dan berat hati kakak membiarkanku membawa keduanya ke duduk di sofa.Aku berada di tengah, keduanya di sampingku.
Kupeluk kedua tubuh keponakan yang terasa ringan dan kecil ini
"Gita...."
"Ya om?"
"Pegang penis om yah...."
Nagita memandang batangnku yang tegak menjulang, lalu meringkuk menggeleng.
Kuangkat dagunya dan kutatap matanya.
"Gak apa-apa. Nagita sekarang sudah gede, gak apa-apa kalau pegang penis om...."
Lalu ku kiss bibirnya yang mungil perlahan. Sambil tanganku mengusap-usap dadanya dari luar baju seragamnya dengan telapak tanganku.
Nafasnya perlahan mulai berat.
Kumasukkan tanganku ke dalam rok merahnya. Meraba pahanya perlahan naik ke atas, hingga jariku menyentuh kemaluannya dan kugosok-gosok tepat di belahan bibir vaginanya yang kecil dari luar CDnya.
Keponakan agak kaget dan mencoba menahan tanganku. Alisnya mengernyit.
Pertama ia mencoba menarik tanganku menjauh, tapi lama-kelamaan ia hanya mengikuti saja kemana tanganku bergerak.
"Ku jenjangi lehernya, perlahan naik hingga ke telinganya.
"Ngghhh....om...."
Mungkin dia sudah terangsang tanpa kusuruh lagi, Nagita menggenggam batangku. Tapi itu saja yang ia lakukan, karena ia belum mengerti.
"Gita, kocok batang om ya..."
"Gimana caranya om?" Tanyanya pelan.
"Gini..."
Lalu kubimbing tangannya naik turun mengurut penisku. Uuh enak sekali rasanya saat jemari yang kecil-kecil itu mengocok batangku. Aku jadi bergairah.
Aku mencoba membuka CD-nya Nagita. Tapi Nagita mencegahnya.
"Malu omm...," ucapnya sambil menggeleng.
"Gak apa-apa sayang..."
Nagita lalu mengangkat pantatnya agar aku bisa meloloskan CDnya, tapi hanya kuturunkan setengah paha.
Kemudian aku berlaih ke Murni.
"Murni juga buka ya...kolornya kayak kak Gita."
Murni masih polos, jadi ia mengangguk saja. Maka kutarik CD-nya tapi sama seperti Nagita hanya setengah turun. .
"Murni....masukin penis om ke mulut ya....," kataku sambil memberikan contoh dengan jariku.
Ia tampak ragu sebentar, lalu ia lakukan juga. Batangku yang besar, memaksanya harus membuka mulutnya lebar dan akhirnya terbenamlah ujung batangku di dalam mulut Murni yang mungil, walau hanya ujungnya. Sebab ada tangan Nagita yang sedang mengocokku.
"Ahhhh....," lenguhku.
"Ibu..." panggilku.
"Apa lagi, Wan?"
"Jilat vaginanya Nagita..."
Ibu mengernyit, "Iwaan...."
"Kakak juga, jilat itunya Murni...."
"Iwan...tega kamu...berbuat ini ke kakak..."
"Ayolah cepat....," pintaku yang sedang dilanda kenikmatan diservice oleh keponakanku.
Ibu dan kakak mengambil posisi berlutut di lantai dan mulailah mereka menjilati kemaluan Nagita dan Murni.
Gak berapa lama, bisa kulihat, mereka berdua merasakan kenikmatan di daerah bawah perut mereka. Kocokan Nagita menjadi agak cepat dan menyentak, sementara Murni, melenguh-lenguh tertahan.
Bisa kulihat dari posisiku, lidah ibu menyapu-nyapu dengan cepat klitnya Nagita, sementara kakak, lebih menenggelamkan daging tak bertulangnya di dalam kemaluan Murni dan bergerak-gerak disana.
Tidak berapa lama, mungkin karena Nagita masih baru, akhirnya ia mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang beberapa kali.
"Duh..apa yang terjadi om..."i
"Itu namanya orgasme, Git...enak kan..."
Ibu tampak merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan kepada cucunya.
"Kakak dan Murni, pelukan gih di sofa...," perintahku.
"Pelukan gimana?"
"Kakak nyandar di ujunga sofa, sambil pelukan dengan Murni..."
"Kamu memang mau apa..."
"Dah lakukan saja...jangan banyak tanya..."
Kakak menuruti peritnahku. Saat Murni berada di atas, kutarik lepas CDnya, kusibak rok merahnya ke atas pantat. Dapat kulihat pantat kecl dan gundukan yang merekah di bawahnya. Kuelus-elus daerah kemaluan Murni yang sudah terasa Jari tengahku, terasa tenggelam di belahan vaginanya. "Aahh...om...ahhh...."
Sebelum akhirnya kumasukkan jari itu ke lubangnya yang segera menjepitnya dengna kuat.
"Ngghh ahahh...ahhh..."
Kakakku hanya memperhatikan raut wajah anaknya yang meraskan nikmat dengan prihatin.
"Iwan...kamu gak akan..."
"Gak akan apa he?" tanyaku seraya mulai mengusap-usapkan ujung pensiku ke kemaluan Murni.
"Iwan...kamu punya terlalu gedee..."
Saat kumulai memasukkan batangku ke dalam, Murni menangis...Huu...hu...hu...
"Sakit om...."
"Tahan ya, Murni..."
"Cup..nak..cup..tahan dikit yah nak..ya...," hibur kakakku sambil mengelus rambut Murni yang panjang dan terhias jepitan pita putih kupu2.
Benar-benar sulit masuk ke lubangnya Murni padahal sudah becek, maklumlah.
Kukeluar masukkan sedikit demi sedikit menerobos masuk.
"Huu..hu...udah om...sakit...."
Kupegang pinggang murni, dan aku pun mulai memompanya di depan ibunya. Penisku tiak bisa masuk penuh.Paling hanya sepermpatnya saja.
"Sakit ibu...," tangis Murni....Kakak cuma bisa turut menangis bersama anaknya, "sabar yah nak...." Kakak memeluk Murni di dadanya.
"Oh..oh..oh yah...ahh ahh...," lenguhku keenakan.
Sekonyong-konyong Nagita berjalan mendekati adiknya dan berlutut, "Sakit yag dek? Kakak bantu yah."
Murni hanya menatap kakaknya. Lalu Nagita menjilat-jilat leher adiknya dan menicumi telinganya. Aku rada heran juga ia melakukan itu, mungkin itu yang tadi ia pelajari dariku barusan.
Dan mungkin ia sebenarnya hanya ingin menolong adiknya saja dan memang berhasil meski mata Murni masih berkaca-kaca, ia tidak lagi menangis.Tapi dia terus melirik ke arah selangkanganku yang keluar masuk di lubang adiknya.
"Om...," panggil Nagita.
"Apa sayang?"
Nagita menghampiriku lalu menarik lenganku.
"Kemari om..."
Ia tarik berulang kali, sampai akhirnya penisku lepas dari kemaluan Mruni. Ia bawa aku ke sofa lainnya. Kemudian dia duduk.
"Emang enak yah om diginiin?"
Nagita mengocok batangku dan memasukkan ujungnya ke mulutnya. Kedua bola matanya tampak memperhatikanku dengan seksama.
"Uuuhh...yah...enak..."
Rupanya dia mengombinasikan apa yang dilakukan adiknya dan dirinya tadi. Nagita memang terkenal sebagai anak yang pintar di sekolah. Ia memiliki kecepatan dalam menangkap pelajaran.
Terus ia coba percepat gerakan tangannya.
"Ah...ah...ah.ah..ahh..ah..."
Terus ia pelanin lagi.
Tiba-tiba ia kocok batangnya dengan sangat cepat dan sekuat tenaga.
"Aw..aw..awh..sakit, Gita...!"
"Maaf om, Gita gak tahu..."
"Ya.. gapapa.."
"Om...jilatin ininya Gita donk kayak nenek...enak om tadi...."
Ternyata Nagita ketagihan setelah merasakan kenimaktan seks pertamanya.
"Om kasih yang lebih enak lagi yah."
NAgita melirik ke arah adiknya.
"Yang kayak Murni yah?"
"Iya.."
"Keliatannya sakit om."
"Dikit, pertamanya aja...buktinya nenek suka tadi om gituin. Sampe klimaks kayak yang tadi Nagita rasain."
"Ya udah GIta mau om...
Kurebahkan keponakanku di atas sofa yang empuk. Kulebarkan dan kugantungkan kedua kakiny di pundakku. Penis pisang rajaku pun bersiap di ujung gua senggamanya. Kugosok-gosok dulu lubang Nagita yang belahannya masih kecil itu , sampai mulai basah, baru kutekan masuk dikit.
Nagita langsung menutup mulutnya. Matanya memejam saat kusodok perlahan, sedikit demi sedikit masuk ke dalam lubagnnya yang luar biasa sempitnya. Sebentar saja dapat kurasakan selaput daranya terkoyak oleh batangku.
Air mata tampak berlinang dari samping kelopak matanya.
Sebelum kemudian ia mulai mencengkram sofa, dan berkata, "Enak om...dah mulai enak..."
"Gita mau kalau om giniin tiap ari?"
"...mau om...."
Aku hanya tersyenyum dan membayangkan hari-hari indahku menjadi tulang punggung keluarga ini
Cerita Dewasa
,
Cerita Seks
,
Daun Muda
,
Sedarah
,
Umum
Thursday, September 18, 2014
Istri, Adik Ipar Dan Aku
Unknown
12:44 PM
Adegan dalam video ini sungguh sangat membuatku shock, mulutku terbuka melongo. Aku merasa seperti orang dungu yang ditendang tepat diselangkangan. Apa yang terpampang dalam layer TV adalah rekaman isteriku dengan suami adik iparku. Dan mereka tengah bersetubuh. Aku tak bias mempercayainya! Tidak hanya kenyataan bahwa isteriku yang menghianatiku, tapi juga dia melakukannya dengan Bob, suami dari adiknya sendiri!
Jenny, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yang tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yang lalu. Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Jenny menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.
Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar. Setidaknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Sherly terlihat menikmati apa yang didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Sherly akan hal ini.
Isteriku mempunyai bentuk tubuh yang atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membayangkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaan…
Jenny melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Jenny berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yang lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yang cantik dalam beberapa tahun belakangan.
Dia dan Bob menikah dua tahun yang lalu. Sherly dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke duapuluh.
“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir. Sherly menggelengkan kepala.
“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.
“Tidak, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Sherly berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.
“Kakak kandungku sendiri!” kata Jenny dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.
“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.
“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu kembali.
“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”
“Well, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan!” potong Jenny. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.
“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”
“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan, “Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”
“Aku rasa tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.
“Apa?”
“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.
“Kamu pasti bercanda,” tukas Jenny. Aku hanya mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak percaya kalau Sherly dan Bob sengaja melakukan ini.”
“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Jenny.
“Apa ada kelakuan Bob yang aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Sherly sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yang ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”
“Itu bukan alasan!”
“Aku tidak bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku. Jenny menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.
“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah, “Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tidak lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”
“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya. “Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”
“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya, Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.
“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku. “Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”
Jenny terlihat tidak puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tidak melakukan suatu tindakan yang bodoh sampai dia merasa tenang.
Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayanganku di dalam cermin. Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yang panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.
***
Jenny dating ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setidaknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.
“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Aku mengangkat bahu.
“Apa ini tidak membuat abang marah?” tanyanya gusar.
“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yang sudah terlanjur terjadi.” Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.
“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Sherly!” kata Jenny. Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.
“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Sherly dan aku punya tiga orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan, “Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Jenny menatapku tajam.
“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. Jenny menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.
“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.
“Jenny, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku. Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.
“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.
Gelas yang pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yang ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat jenny menuangk minuman pada gelas ketiganya. Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.
“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku. Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Jenny yang pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yang keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.
Jenny keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Pertama, Jenny terlihat sudah mengambil sebuah keputusan. Yang kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yang atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.
“Jenny, apa yang kamu lakukan?” tanyaku bingung.
“Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya. Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku. Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Sherly, aku juga sama terlukanya dengan Jenny. Meniduri Jenny, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.
Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Jenny bahkan lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Ukuran payudara Sherly breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yang mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.
Payudara Jenny yang jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup. Putingnya tidak sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yang terpana melihat dadanya.
“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Jenny sambil menyangga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda. Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Jenny bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.
“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya. Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.
Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Jenny mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menyangga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.
Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Jenny menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yang dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.
“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.
“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Sherly diwaktu yang sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan, “Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.” Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.
“Aku merasa sangat penuh!”
Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tidak mengijinkanku. Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.
“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya. Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.
“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yang segera akan aku lakukan. Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Jenny segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat. Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.
“Jenny, aku hamper keluar!” teriakku. Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.
“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.
“Tapi, kita tidak pakai pelindung!” kataku ragu. Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku.
Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yang masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.
“Aku merasa sangat ehmm…! Saat ini, aku tidak tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Sherly lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan,” katanya. Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.
“Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini,” Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya. Kami bawa serta gelas minuman yang kosong, mengisinya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar. Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.
Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku. Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.
Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya. Jenny merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.
“Sorry! Ini masuk begitu saja…” aku berusaha menjelaskan, tapi Jenny malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya. Aku mengerang keenakan.
“Jangan bilang kalau kak Sherly tidak pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?” tanyanya menggoda.
“Tidak, tidak pernah,” jawabku.
“Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!” katanya manantang dan bagai api yang disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.
Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yang terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yang montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.
“Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!” teriak Jenny dalam kenikmatan. Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yang satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.
“Yes!” teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam. Dapat kurasakan otot pantatnya yang mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri. Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya. Sentakanku yang terakhir membuat kaki Jenny benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Jenny bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.
Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yang kering di tempat tidur. We stumbled out of the shower and back to the bedroom. The room smelled like sex and we had problems finding a dry spot on the bed. I was barely settled before Jenny crawled between my legs and started blowing me.
“Kamu benar-benar liar!” kataku.
“Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yang kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yang penuh amarah, tapi… apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!
Jenny merapatkan kedua daging payudaranya yang kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Sherly berjalan masuk ke dalam kamar tidur…!!!
“Jenny! Teganya kamu?” teriak Sherly terdengar hamper menangis, tapi Jenny Cuma tersenyum sinis.
“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Sherly,” balas Jenny said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.
“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Jenny tak membiarkanku. Dia ingin agar Sherly melihat aksi kami berdua.
“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan ‘a night out alone’,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.
“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Jenny. Sherly menggelengkan kepala.
“Kakak keliru,” kata Jenny, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Nah, sekarang impas kan?” tangis Sherly benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Jenny menjauh dan pergi menyusul Sherly. Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya. “Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Jenny tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya. Aku hendak mulai menjawab, tapi Jenny sudah berada di ruangan ini.
“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Sherly terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Jenny dengan marah. Wajah Sherly berubah merah oleh rasa malu.
“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Sherly lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.
“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Jenny yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”
“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Jenny dengan tajam.
“Aku mau menolaknya!” jawab Sherly, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”
“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Jenny tak percaya. Sherly tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Sherly barusan.
“Jenny, Sherly dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”
“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Jenny asked. Kugelengkan kepala.
“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Sherly mulai merasa tak nyaman.
“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Sherly. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Sherly sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.
“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”
“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.
“Ya. Sherly, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”
“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.
“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Jenny tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.
“Aku tak masalah jika Sherly bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”
“Menakjubkan,” kata Jenny, tak tahu harus berkata apalagi.
“Jenny, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Sherly, masih memelukku. Jenny masih tetap menggelengkan kepala.
Kutarik kembali Sherly dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Sherly masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya. Dan dia membantu mempercepatnya.
“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Jenny. Sherly memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.
“Jenny, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob. Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Jenny, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.
Sherly dan aku tak menunggu jawaban Jenny lagi. Kupanggul Sherly menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.
“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Sherly tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.
“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Jenny. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.
“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Sherly dengan keras. Sherly teriak terkejut.
“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.
“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Sherly dan tidak ingin melihat dia disakiti.
“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Sherly, mengejutkanku, tapi kurasa Jenny sudah mengira akan hal ini.
“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Jenny dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar. Sherly berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Sherly malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.
Jenny menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Sherly pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.
“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Jenny komplain. Sherly tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Jenny dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Jenny kembali komplain.
“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Sherly barusan. Isteriku hanya tersenyum.
“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Sherly, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Jenny. Segera saja nafas Jenny mulai tersengal.
“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Jenny tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Sherly.
“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Sherly.
“Tapi aku kan adikmu!” jawab Jenny. Sherly tak menghiraukannya.
“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Sherly, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.
“Wow! Sherly, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar. Sherly hanay mengangkat bahu.
“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Jenny dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Jenny. Mengerang keras Jenny mulai orgasme.
Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Jenny juga. Jenny membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.
Sherly meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.
“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Jenny dengan wajah menyeringai. Sherly hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Jenny dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Jenny. Jenny meronta beberapa saat, tapi Sherly lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Jenny.
“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Jenny!” perintah Sherly. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona. Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Sherly yang tak pernah kusangka dimilikinya. Jenny mencoba memprotes, tapi Sherly sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Jenny menelusup ke dalam lubang vaginanya.
“Ya, begitu Jennyy! Tepat di situ!” ceracau Sherly. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Jenny mendorong tubuh Sherly dari atasnya.
“Hey!” protes Sherly, tapi Jenny cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Jenny langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Sherly ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Jenny.
Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme. Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Jenny melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Sherly. Sherly mengerang.
Jenny terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Sherly sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Jenny mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Sherly. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Sherly akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.
“Tunggu!” teriaknya, tapi Jenny tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Sherly kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.
“Hentikan, ini sakit!” erang Sherly. Jenny menampar pantat isteriku dengan keras.
“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Sherly hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.
“Ya!” Sherly semakin mengerang keras.
“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Jenny menampar pantat Sherly lagi. Jenny merangkak ke bawah tubuh Sherly dan mulai mempermainkan kelentitnya.
Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Sherly. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.
“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.
“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Sherly. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.
Kusodomi Sherly dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Jenny. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Sherly dan aku rebah kecapaian sedangkan Jenny meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.
Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Jenny. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya. Dan itu membuat Jenny merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.
Kuposisikan dia dalam dogy-style, Sherly memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Jenny dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Jenny lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya. Denyutan liar dinding vagina Jenny tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.
Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Sherly menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.
“Aku lapar,” Jenny said.
“Aku juga,” timpalku.
“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Sherly tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Sherly sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.
“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Sherly terkembang.
“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Sherly pada adiknya.
“Mmm, aku belum tahu,” jawab Jenny dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya, “Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?”
“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.
“Dia benar,” Sherly menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest.” Jenny tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Sherly dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.
“Jenny, beri Bob kesempatan,” kata Sherly dengan lebih serius. Jenny menarik nafas.
“Akan kupikirkan.”
“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”
“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Jenny dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.
“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Sherly, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Jenny semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.
“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”
Alis Sherly’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Jenny. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.
“Itu issue untuk besok saja,” jawab Sherly.
“Kalau memang jadi,” Jenny menambahkan.
“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Sherly melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”
“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Jenny menimpali ‘tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Sherly dan dengan tersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”
“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Sherly.
Jenny memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Sherly dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.
“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Sherly. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.
“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Sherly tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.
“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Sherly menambahkan.
“Setuju.”
“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Sherly. Aku menyeringai.
“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”
“Hukuman?” Tanya Sherly, matanya berbinar.
“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”
“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Sherly curiga. Aku hanya tersenyum lebar.
Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi. Untuk pertama kalinya Sherly dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.
Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.
Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Mantari terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.
Cerita Dewasa , Cerita Seks , Sedarah
Jenny, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yang tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yang lalu. Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Jenny menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.
Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar. Setidaknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Sherly terlihat menikmati apa yang didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Sherly akan hal ini.
Isteriku mempunyai bentuk tubuh yang atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membayangkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaan…
Jenny melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Jenny berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yang lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yang cantik dalam beberapa tahun belakangan.
Dia dan Bob menikah dua tahun yang lalu. Sherly dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke duapuluh.
“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir. Sherly menggelengkan kepala.
“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.
“Tidak, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Sherly berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.
“Kakak kandungku sendiri!” kata Jenny dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.
“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.
“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu kembali.
“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”
“Well, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan!” potong Jenny. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.
“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”
“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan, “Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”
“Aku rasa tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.
“Apa?”
“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.
“Kamu pasti bercanda,” tukas Jenny. Aku hanya mengangkat bahu.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak percaya kalau Sherly dan Bob sengaja melakukan ini.”
“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Jenny.
“Apa ada kelakuan Bob yang aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Sherly sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yang ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”
“Itu bukan alasan!”
“Aku tidak bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku. Jenny menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.
“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah, “Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tidak lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”
“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya. “Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”
“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya, Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.
“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku. “Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”
Jenny terlihat tidak puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tidak melakukan suatu tindakan yang bodoh sampai dia merasa tenang.
Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayanganku di dalam cermin. Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yang panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.
***
Jenny dating ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setidaknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.
“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Aku mengangkat bahu.
“Apa ini tidak membuat abang marah?” tanyanya gusar.
“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yang sudah terlanjur terjadi.” Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.
“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Sherly!” kata Jenny. Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.
“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Sherly dan aku punya tiga orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan, “Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Jenny menatapku tajam.
“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. Jenny menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.
“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.
“Jenny, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku. Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.
“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.
Gelas yang pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yang ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat jenny menuangk minuman pada gelas ketiganya. Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.
“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku. Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Jenny yang pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yang keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.
Jenny keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Pertama, Jenny terlihat sudah mengambil sebuah keputusan. Yang kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yang atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.
“Jenny, apa yang kamu lakukan?” tanyaku bingung.
“Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya. Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku. Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Sherly, aku juga sama terlukanya dengan Jenny. Meniduri Jenny, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.
Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Jenny bahkan lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Ukuran payudara Sherly breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yang mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.
Payudara Jenny yang jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup. Putingnya tidak sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yang terpana melihat dadanya.
“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Jenny sambil menyangga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda. Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Jenny bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.
“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya. Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.
Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Jenny mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menyangga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.
Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Jenny menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yang dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.
“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.
“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Sherly diwaktu yang sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan, “Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.” Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.
“Aku merasa sangat penuh!”
Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tidak mengijinkanku. Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.
“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya. Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.
“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yang segera akan aku lakukan. Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Jenny segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat. Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.
“Jenny, aku hamper keluar!” teriakku. Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.
“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.
“Tapi, kita tidak pakai pelindung!” kataku ragu. Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku.
Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yang masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.
“Aku merasa sangat ehmm…! Saat ini, aku tidak tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Sherly lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan,” katanya. Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.
“Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini,” Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya. Kami bawa serta gelas minuman yang kosong, mengisinya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar. Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.
Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku. Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.
Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya. Jenny merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.
“Sorry! Ini masuk begitu saja…” aku berusaha menjelaskan, tapi Jenny malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya. Aku mengerang keenakan.
“Jangan bilang kalau kak Sherly tidak pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?” tanyanya menggoda.
“Tidak, tidak pernah,” jawabku.
“Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!” katanya manantang dan bagai api yang disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.
Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yang terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yang montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.
“Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!” teriak Jenny dalam kenikmatan. Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yang satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.
“Yes!” teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam. Dapat kurasakan otot pantatnya yang mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri. Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya. Sentakanku yang terakhir membuat kaki Jenny benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Jenny bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.
Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yang kering di tempat tidur. We stumbled out of the shower and back to the bedroom. The room smelled like sex and we had problems finding a dry spot on the bed. I was barely settled before Jenny crawled between my legs and started blowing me.
“Kamu benar-benar liar!” kataku.
“Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yang kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yang penuh amarah, tapi… apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!
Jenny merapatkan kedua daging payudaranya yang kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Sherly berjalan masuk ke dalam kamar tidur…!!!
“Jenny! Teganya kamu?” teriak Sherly terdengar hamper menangis, tapi Jenny Cuma tersenyum sinis.
“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Sherly,” balas Jenny said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.
“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Jenny tak membiarkanku. Dia ingin agar Sherly melihat aksi kami berdua.
“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan ‘a night out alone’,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.
“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Jenny. Sherly menggelengkan kepala.
“Kakak keliru,” kata Jenny, lalu menambahkan dengan nada sinis, “Nah, sekarang impas kan?” tangis Sherly benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Jenny menjauh dan pergi menyusul Sherly. Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya. “Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Jenny tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya. Aku hendak mulai menjawab, tapi Jenny sudah berada di ruangan ini.
“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Sherly terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Jenny dengan marah. Wajah Sherly berubah merah oleh rasa malu.
“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Sherly lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.
“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Jenny yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”
“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Jenny dengan tajam.
“Aku mau menolaknya!” jawab Sherly, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”
“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Jenny tak percaya. Sherly tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Sherly barusan.
“Jenny, Sherly dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”
“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Jenny asked. Kugelengkan kepala.
“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Sherly mulai merasa tak nyaman.
“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Sherly. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Sherly sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.
“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”
“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.
“Ya. Sherly, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”
“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.
“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Jenny tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.
“Aku tak masalah jika Sherly bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”
“Menakjubkan,” kata Jenny, tak tahu harus berkata apalagi.
“Jenny, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Sherly, masih memelukku. Jenny masih tetap menggelengkan kepala.
Kutarik kembali Sherly dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Sherly masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya. Dan dia membantu mempercepatnya.
“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Jenny. Sherly memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.
“Jenny, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob. Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Jenny, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.
Sherly dan aku tak menunggu jawaban Jenny lagi. Kupanggul Sherly menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.
“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Sherly tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.
“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Jenny. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.
“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Sherly dengan keras. Sherly teriak terkejut.
“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.
“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Sherly dan tidak ingin melihat dia disakiti.
“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Sherly, mengejutkanku, tapi kurasa Jenny sudah mengira akan hal ini.
“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Jenny dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar. Sherly berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Sherly malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.
Jenny menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Sherly pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.
“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Jenny komplain. Sherly tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Jenny dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Jenny kembali komplain.
“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Sherly barusan. Isteriku hanya tersenyum.
“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Sherly, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Jenny. Segera saja nafas Jenny mulai tersengal.
“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Jenny tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Sherly.
“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Sherly.
“Tapi aku kan adikmu!” jawab Jenny. Sherly tak menghiraukannya.
“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Sherly, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.
“Wow! Sherly, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar. Sherly hanay mengangkat bahu.
“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Jenny dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Jenny. Mengerang keras Jenny mulai orgasme.
Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Jenny juga. Jenny membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.
Sherly meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.
“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Jenny dengan wajah menyeringai. Sherly hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Jenny dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Jenny. Jenny meronta beberapa saat, tapi Sherly lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Jenny.
“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Jenny!” perintah Sherly. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona. Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Sherly yang tak pernah kusangka dimilikinya. Jenny mencoba memprotes, tapi Sherly sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Jenny menelusup ke dalam lubang vaginanya.
“Ya, begitu Jennyy! Tepat di situ!” ceracau Sherly. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Jenny mendorong tubuh Sherly dari atasnya.
“Hey!” protes Sherly, tapi Jenny cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Jenny langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Sherly ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Jenny.
Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme. Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Jenny melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Sherly. Sherly mengerang.
Jenny terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Sherly sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Jenny mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Sherly. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Sherly akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.
“Tunggu!” teriaknya, tapi Jenny tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Sherly kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.
“Hentikan, ini sakit!” erang Sherly. Jenny menampar pantat isteriku dengan keras.
“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Sherly hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.
“Ya!” Sherly semakin mengerang keras.
“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Jenny menampar pantat Sherly lagi. Jenny merangkak ke bawah tubuh Sherly dan mulai mempermainkan kelentitnya.
Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Sherly. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.
“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.
“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Sherly. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.
Kusodomi Sherly dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Jenny. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Sherly dan aku rebah kecapaian sedangkan Jenny meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.
Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Jenny. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya. Dan itu membuat Jenny merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.
Kuposisikan dia dalam dogy-style, Sherly memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Jenny dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Jenny lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya. Denyutan liar dinding vagina Jenny tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.
Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Sherly menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.
“Aku lapar,” Jenny said.
“Aku juga,” timpalku.
“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Sherly tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Sherly sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.
“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Sherly terkembang.
“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Sherly pada adiknya.
“Mmm, aku belum tahu,” jawab Jenny dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya, “Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?”
“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.
“Dia benar,” Sherly menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest.” Jenny tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Sherly dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.
“Jenny, beri Bob kesempatan,” kata Sherly dengan lebih serius. Jenny menarik nafas.
“Akan kupikirkan.”
“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”
“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Jenny dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.
“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Sherly, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Jenny semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.
“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”
Alis Sherly’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Jenny. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.
“Itu issue untuk besok saja,” jawab Sherly.
“Kalau memang jadi,” Jenny menambahkan.
“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Sherly melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”
“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Jenny menimpali ‘tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Sherly dan dengan tersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”
“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Sherly.
Jenny memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Sherly dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.
“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Sherly. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.
“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Sherly tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.
“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Sherly menambahkan.
“Setuju.”
“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Sherly. Aku menyeringai.
“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”
“Hukuman?” Tanya Sherly, matanya berbinar.
“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”
“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Sherly curiga. Aku hanya tersenyum lebar.
Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi. Untuk pertama kalinya Sherly dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.
Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.
Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Mantari terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.
Cerita Dewasa , Cerita Seks , Sedarah
Rani Anak Ayah
Unknown
12:41 PM
Kupacu motorku dengan cepat agar tiba sampai di rumah. Aku sudah tak tahan untuk menyalurkan hasratku kepada putri bungsuku. Entah sejak tadi siang aku terbayang-bayang akan kemolekan tubuhnya, kedua gunung kembarnya yang besar; ugh dapat kurasakan kenyalnya payudaranya saat kuremas seperti sedang meremas adonan roti; jeritan-jeritan kecilnya; pipinya yang memerah saat kutempelkan batangku ke alat kelaminnya.
AKu ingin melakukannya lagi malam ini.
Saat sudah tiba di rumah, kubuka pintu depan, dan disitu aku langsung bertemu dengan putri bungsuku di ruang tamu, Rani namanya.
Ia langsung terkejut dan menutupi dadanya. Ia menundukkan kepalanya yang berjilbab.
"A..ayah sudah pulang?"
Kudekati telinganya dan berbisik, "Apa kabar...sa...yanghh..?" sambil tanganku meraih pinggangnya dan perlahan turun ke pantatnya seraya meremasnya. Bongkah pantatnya langsung menegang dan tubuhnya menjadi kaku, ia terlihat gelisah menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Kamu pake CD warna apa hari ini?"
Dia diam saja.
"Jangan-jangan gak pake yah..." ucapku dengan nada menggoda dan hendak menjamah derah kewanitaannya.
Sayangnya kudengar langkah orang datang mendekat.
"Ayah sudah pulang?"
Aku segera melepas pelukanku dari Rani dan bercipika cipiki dengan istriku yang menyambut kedatanganku. Rani buru-buru pergi dari situ, melewati diriku sambil meninggalkan aroma wangi shampoo yang menggairahkan.
Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku.
Pada jam 6 soe, istriku memanggil diriku dan Rani untuk keluar makan malam. Aku dan istriku telah duduk di meja makan, menanti kedatangan Rani.
"Ranii! cepet kemarin, nanti masakannya jadi dingin," panggilku.
Tak lama kemudian Rani datang dengan langkah enggan seolah ia tidak ingin hadir disana.
"Rani, ayo duduk disini di sebelah ayah...," panggilku lembut.
Putriku berjalan tertunduk, menarik kursi di sebelahku dan duduk mengambil posisi agak menjauh dariku. Sementara itu istriku berada disisi lain berseberangan dengan kami.
"Ayo kita makan....Rani bagikan nasinya untuk ayah dan ibu," pintaku.
Rani tak berkata apa-apa seraya berdiri mengambil bakul berisi nasi putih mengepul dan membagikannya untuk kemi bedua dan terakhir dirinya. Saat ia berdiri kuperhatikan kedua bongkah pantatnya yang tertutup jegging berpola floral hitam putih. "Luar biasa," pikirku. Kulihat garis tipis membentuk segitiga tercetak di celananya. "Aku akan bersenang-senang malam ini..."
Setelah setiap piring kami terisi nasi putih, aku mengambilkan sepotong ayam untuk istriku dan Rani serta diriku.
"Terima kasih sayang," ucap istriku. Aku menjawab dengna senyuman.
"Rani, kamu gak bilang terima kasih ke ayah?"
"Terima kasih, ayah," ucapnya pelan.
"Kamu sakit, Ni?" Tanya istriku.
"Gak apa-apa, bu. Ayo makan yuk," jawabnya sambil menyendok sayur asam dari mangkok putih besar untuk mengalihkan perhatian.
Pada saat kami mulai bersantap dan istriku bercerita tentang tetangga sebelah yang baru saja membeli mobil. Tangan kiriku bergerak merayapi paha putriku dan mengelusnya perlahan. Baru sebentar ia kujamah, Rani berdiri dan berjalan menjauh pura-pura mengambil botol air dingin yang ada di kulkas di belakang istriku.
Saat ia sedang tidak ditempat, kutarik bangkunya agar duduknya semakin dekat denganku. Ketika ia kembali ke bangkunya, ia berdiri diam sesaat melihat bangkunya sudah berada tepat di sebelahku. Mau tak mau ia pun terpaksa duduk tepat di sampingku.
Kami kembali melanjutkan menyantap makanan.
"Terus, katanya sepupumu masuk rumah sakit?" tanyaku kepada istriku agar ia lanjut berbicara. Sementara itu tanganku kembali beraksi. Kali ini yang kuselipkan diantara pangkal kedua paha putriku dan menyentuh daerah bawahnya, Kutekan dan kuelus perlahan.
Rani mengernyitkan dahinya sambil menoleh ke arahku. Kelihatanya sekali ia tak mengizinkan perbuatanku. Ia berusaha kembali melanjutkan makannya. Tapi jelas ia kesulitan berkonsentrasi.
Saat kupercepat gerkan jari tengaku di daerah kewanitaannya, kain jegginngnya terasa makin lembab, dan lama-lama terasa cairan licin menembus keluar.
"Istriku bisa tolong ambilin pisau di dapur, aku mau potong buah apel ini."
"Oh..biar aku saja yang potongin," balas istriku seraya mengambil dua buah apel dan membawanya ke dapur.
Saat istriku sudah tidak diruang makan, aku langsung mengangkat kain jilbab putriku yang menutupi dadanya dan meremas-remas payudaranya kiri dan kanan bergantian.
Raut wajah Rani menunjukkan kegelisahan, ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya memintaku untuk berhenti. Ia tampak menggairahkan sekali. Namun bukannya berhenti, aku malah melumat bibirnya yang mungil dan kumasukkan tanganku ke dalam CDnya dan langsung memasukkan jari tengahku ke lubangnya. Ternyata sudah basah dan licin.
Rani berusaha menarik tanganku keluar, tapi tak bisa. Kalah tenaga. Bahkan kupelorotkan jengging dan CD putihnya hingga lepas melewati mata kakinya. Aku jadi terangsnag melihat Rani setengah bugil.
Tiba-tiba kami mendengar suara langkah istriku yang kembali ke ruang makan. Buru-buru Rani memasukkan bagian bawah tubuhnya yang tdiak bercelana ke bawah meja makan, bersembunyi di balik telapak meja yang agak panjang.
Aku pun kembali kembali ke posisi menyantap sisa makanan di piring. Istriku meletakkan sebuah pring dengan apel yang sudah terpotong-potong di atas meja, dan kembali duduk.
"Rini kok makanan kamu masih banyak di piring, lagi gak nafsu, ya?"
Rani menggeleng menunduk. Terdengar suara ia menyedot cairan di hidungnya.
"Kamu pilek, Ni?" tanya ibu.
"Gak kok bu," jawabnya lirih seraya mengambil tisu di meja makan dan membersihkannya.
"Kamu gak apa-apa kan, Ni," Tanyaku berpura-pura memberikan perhatian, padahal cuma alasan agar bisa meletakkan tanganku di atas kulit pahanya di bawah meja.
Rani cuma menggeleng sedikit. Ia tak bisa melanjutkan makannya.
"Ngg..ya sudah kamu istirahat saja, istriku kamu beresin meja ya," ujarku.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa ngomong loh, Ni."
"Iya bu."
Istriku segera merapikan piring-piring di atas meja dan membawanya ke dapur. Saat ia sedang tidak di ruang makan. Aku ambil celana jeggingnya dari lantai dan kutarik anakku itu ke kamarnya segera.
Di dalam kamar kunyalakan lampu. Kupeluk tubuh anakku dari belakang dan kuremas dadanya dengan gemas.
"Dada kamu besar banget sih, hmm...," pujiku.
"Ayah, jangan..please..."
Penolakakannya justru membuatku bergairah. Kuciumi kepala dan lehernya dengan bernafsu.
"Jangan...jangan....Jang...aahh..ahh..ahhh"
Penolakannya berubah menjadi lenguhan saat kuselipkan jariku ke selangkangannya dan mengusap-usapnya. Ia menggeleng-geleng dan mencoba meronta.
"Penis ayah dah tegang nih, mau kayak kemarin...."
"Gak mau...jangan...Rani teriak nih, biar ibu tahu..."
Kudorong tubuh putriku dengan mudah ke atas kasur, hingga badannya terpental di tas kasur springbed. Di hadapannya kubuka celanaku dan kukeluarkan penisku yang langsung bangkit memangjang dan mengacung tegak sampai 30 cm.
"Yakin, kamu mau bilang ibumu?"
Putriku langsung menutup wajahnya dengna kedua tangannya. Kudekati dirinya dan kuraba-raba bagian bawah tubuhnya. Kukecupi kedua pahanya bergantin, dan kujilat hingga ke ujung pangkal paha, dan perlahan lidahku menggapai belahan vaginanya yang tidak berbulu.
Awalnya sedikit-sedikit kusentuh ujung lidahku ke kemaluannya. Perlahan kusapu dari ujung bawah belahannya hingga ke atas, hinnga akhirnya kutemplekan seluruh permukaan lidahku ke bibir labianya, dan kusapu keatas sambil menembus masuk ke dalam perbatasan vaginanya.
Rani langsung merengut kain tempat tidurnya dan melenguh, "Uggh...!"
Kudekatkan mulutku dan kunikmati kemaluan putriku dengan jilatan-jilatan di bagian klit-nya. Badan putriku bergerak-gerak merespon permainanku di bagian tubuh yang paling privat itu.
"Ayah..jangan..ayah...."
Saat ia memanggilku dengan sebutan ayah, kutindih badannya, hingga kami saling bertatapan. Kuperhatikan wajahnya yang sungguh manis nan cute. Matanya berkaca-kaca.
"Hentikan ayah please...Rani kan anak ayah....?"
Kubelai lembut kepalanya yang berjilbab itu.
"Tadi kamu bilang apa?"
"Rani kan anak ayah...?"
Ucapannya itu justru entah bagaimana malah menambah gairah di dalam diriku. Kuarahkan penisku ke lubang putriku. Perlahan kutekan masuk hingga menyentuh ujungnya. KUrasakan Rani mencoba meronta saat batangku menembus daerah kewanitaannya, tapi tubuhku yang berat tetap menahannya.
"Bilang apa sayang?"
"Rani kan anak ayah..." ulangnya sambil agak terisak. Saat dia berkata itu , aku mulai memompa tubuhnya. Badan Rani pun bergerak ke atas ke bawah terdorong-dorong oleh gerakan pinggulku.
"Sebut lagi, sayang..."
"Rani kan anak ayah...jangan diteursin..sudah ayah...sudah..."
Hmmm.... kamu sengaja ingin bakar gairah ayah ya...ujarku dalam hati seraya menarik tepi ujung kaosnya hingga ke atas dada. Tuh kan...dasar anak nakal...tidak pake BH....
"Dada kamu besar banget sih nak...ayah cicipi yah..."
"Gak...gak..."
Kuhisap putingnya meskipun ia tidak mengizinkannya, kujilat-jilat ujungnya dengan lidahku memberikan anak kandungku kenikmatan seks.
Clep...clep...cleppp... terdengar bagian bawahnya suara becek, tanda vaginanya basah karena menerima berbgai rangsangan.
"Tuh kan...kamu suka ayah giniin... buktinya bawahnya kamu basah...."
"Gak...Rani gak suka....ayah...."
Setiap kali ia menyebutku ayah, makin kupercepat gerakan pinggulku, hingga penisku menghujam-hujam dengna cepat kemaluan putriku.
"AAhha ahh ah ahh ah ahh" racau Rani.
Mungkin suaranya yang terlalu keras membuat istriku curiga dan membuka pintu kamar.
"ASSTAGGAAA AYAHH!!! RANNI!!!"
Istriku sampai lemas duduk di lantai.
Tiba-tiba saja sebuah pikiran melntas di benakku. Kuhampiri istriku dan kutenangkan dirinya.
"Hei, tenang...ini bukan apa-apa..."
"R..Rani...a..ayah...."
"Shhh....dah tenang-tenang dulu ambil nafas dalam-dalam..."
Istriku menghirup nafas banyak ke dalam paru-parunya lalu menghembuskannya lagi. Beberapak akli ia lkuakukan itu. Saat ia sudah menjadi tenang,, kutarik dirinya ke tempat tidur dan kuajak tiduran di samping putri kami.
"Sayang...kita bertiga akan senang-senang malam ini yah...."
Istriku menoleh ke arahku dengan pandangan tak percaya bercampur terkejut.
Kukecup bibirnya sambil kubelai dan kuremas bokongnya yang semok dari luar roknya yang terutup gamis. Lalu aku beralih ke bagian kemaluannya dan mengusap-usapanya.
Sementara Rani hanya memperhatikan kami kedua orang tuanya melakukan pemanasan.
"Kamu istri yang baik kan..."
"Tentu saja ayah, bukan aku sudah membuktikannya hingga saat ini, melyanimu dan menjadi orang tua yang baik untuk Rani...?"
Aku mengangguk, "yah kamu sudah lakukan itu..."
"Sekarang ayah mau ibu mastrubasiin Rani, pakai jari, yah...ayah mau lihat... " pintaku kepada istriku seraya meremas-remas dadanya.
"Tapi..."
"Ayo sayang..."
Kubantu istriku yang masih dalam keadan syok untuk meletakkan tangannya di kemaluan putri kami, dan menggerak-gerakkannya.
"Iya begitu..."
Rani tampak lebih menerima, kalau ibunya yang menyentuh dirinya, meski ia masih menggeleng-geleng, tapi ia tak menepis tangan istriku di daerah privatnya.
"Oh yes, kalian memang menggairahkan," ucapku seraya menganggka rok gamis istriku dan mulai mencari lubangnya untuk kuentot dari belakang.
"Ahhh..ahhh......aahhh..." saat batangku menancap dan keluar masuk di vaginanya. Dia pun mulai mau mengelus-elus vagina Rani dengna lebih intens.
"Mmhh...shhh.....ibu....ah..."
"Lebih merapat, sayang," pintaku ke istriku. Istriku menurut dan merapatkan tubuhnya dengan Rani hingga kedua dada mereka menempel satu sama lain.
"Oh...yes...gesek-gesek dadamu ke Rani, yang..."
Istriku memeluk Rani dan melakukan keinginanku. Rini memadang wajah ibunya dengan raut wajah canggung dan kikuk.
Kupompa tubuh istriku dengan cepat, "AAhh...ahh..." dibakar gariah, sungguh rasanya nikmat sekali bersenggama. Istriku menyelipkan pahanya di antar kedua paha Rani, sehingga saat tubuhnya terdorong oleh ku, kakinya menggesek kemaluan Rani.
"Aaahhh ahhh," Rani, istriku dan aku melenguh bersamaan menikmati seks bersama.
"IStriku, arahin tititku ke lubang Rani."
Dengan panjang 30 Cm, aku dapat menacapai kemaluan putriku melwati kemaluan istriku dan masuk ke dalamnya.
Istriku mencabut batangku yang masuk begitu dalam di lubangnya, dan mengarahkan ujunyg ke lubang kewanitaan putri kami.
"Ini batang ayahmu, nak..."
"Kalau ibu mengizinkan, Rani terima disetubuhi ayah..."
"Gak apa-apa nak, ibu izinkan," ucap istriku seraya memasukkan ujungnya. Rani menngagnkat kakinya dan seketika itu aku tekan dan melesak masuk.
"Ciumanlah kalian berdua." Dua kepala yang berjilbab itu pun mulai mendekat dan bibir mereka berpagutan.
"Shh...gitu donk..." seraya memompa tubuh anakku. Sementara istriku mendapakan gesekan batang luarku. Tanganku pun tak sabar untuk meremas-remas lagi dada putriku dan begarntian meramas payudara istriku.
"Akh aku keluar!" Istriku tahu-tahu menjerit, batangku terasa disemprot oleh cairan panas.
"Rini..juga...Rini...dikit lagi...ayah...."
Kupercepat gerakanku, tahu-tahu Rani mengejang dan batangku seperti disiram air hangat di dalam lubangnya.
Aku berganti posisi dan kembali menindihnya seperti di awal, aku ingin melihat wajahnya saat kusetubuhi dirinya.
"SEkarang kalau ayah mau gituin kamu, kamu gak akan nolak kan, Rani..?"
Rani tersenyum dengan tulus dan mengangguk.
"Ibu sudah merestui...Rani juga rela..."
Ia memeluk leherku dan membisikkan di telingaku, "Rani anak ayah..."
Entah kenapa aku langsung turn on, seperti tegangan listrik yang melonjak tiba-tiba. Baru beberapa sentakan, cairan laki-lakiku langsung serasa melompat dari buah zakar ke lubangnya Ran. Begitu banyaknya sampai-sampai keluar dari bibirny vaginya.
"Iyah...Rani anak ayah...," ucapku sambil memberikan ciuman yang mesra.
Cerita Dewasa , Cerita Seks , Daun Muda , Sedarah
AKu ingin melakukannya lagi malam ini.
Saat sudah tiba di rumah, kubuka pintu depan, dan disitu aku langsung bertemu dengan putri bungsuku di ruang tamu, Rani namanya.
Ia langsung terkejut dan menutupi dadanya. Ia menundukkan kepalanya yang berjilbab.
"A..ayah sudah pulang?"
Kudekati telinganya dan berbisik, "Apa kabar...sa...yanghh..?" sambil tanganku meraih pinggangnya dan perlahan turun ke pantatnya seraya meremasnya. Bongkah pantatnya langsung menegang dan tubuhnya menjadi kaku, ia terlihat gelisah menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Kamu pake CD warna apa hari ini?"
Dia diam saja.
"Jangan-jangan gak pake yah..." ucapku dengan nada menggoda dan hendak menjamah derah kewanitaannya.
Sayangnya kudengar langkah orang datang mendekat.
"Ayah sudah pulang?"
Aku segera melepas pelukanku dari Rani dan bercipika cipiki dengan istriku yang menyambut kedatanganku. Rani buru-buru pergi dari situ, melewati diriku sambil meninggalkan aroma wangi shampoo yang menggairahkan.
Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku.
Pada jam 6 soe, istriku memanggil diriku dan Rani untuk keluar makan malam. Aku dan istriku telah duduk di meja makan, menanti kedatangan Rani.
"Ranii! cepet kemarin, nanti masakannya jadi dingin," panggilku.
Tak lama kemudian Rani datang dengan langkah enggan seolah ia tidak ingin hadir disana.
"Rani, ayo duduk disini di sebelah ayah...," panggilku lembut.
Putriku berjalan tertunduk, menarik kursi di sebelahku dan duduk mengambil posisi agak menjauh dariku. Sementara itu istriku berada disisi lain berseberangan dengan kami.
"Ayo kita makan....Rani bagikan nasinya untuk ayah dan ibu," pintaku.
Rani tak berkata apa-apa seraya berdiri mengambil bakul berisi nasi putih mengepul dan membagikannya untuk kemi bedua dan terakhir dirinya. Saat ia berdiri kuperhatikan kedua bongkah pantatnya yang tertutup jegging berpola floral hitam putih. "Luar biasa," pikirku. Kulihat garis tipis membentuk segitiga tercetak di celananya. "Aku akan bersenang-senang malam ini..."
Setelah setiap piring kami terisi nasi putih, aku mengambilkan sepotong ayam untuk istriku dan Rani serta diriku.
"Terima kasih sayang," ucap istriku. Aku menjawab dengna senyuman.
"Rani, kamu gak bilang terima kasih ke ayah?"
"Terima kasih, ayah," ucapnya pelan.
"Kamu sakit, Ni?" Tanya istriku.
"Gak apa-apa, bu. Ayo makan yuk," jawabnya sambil menyendok sayur asam dari mangkok putih besar untuk mengalihkan perhatian.
Pada saat kami mulai bersantap dan istriku bercerita tentang tetangga sebelah yang baru saja membeli mobil. Tangan kiriku bergerak merayapi paha putriku dan mengelusnya perlahan. Baru sebentar ia kujamah, Rani berdiri dan berjalan menjauh pura-pura mengambil botol air dingin yang ada di kulkas di belakang istriku.
Saat ia sedang tidak ditempat, kutarik bangkunya agar duduknya semakin dekat denganku. Ketika ia kembali ke bangkunya, ia berdiri diam sesaat melihat bangkunya sudah berada tepat di sebelahku. Mau tak mau ia pun terpaksa duduk tepat di sampingku.
Kami kembali melanjutkan menyantap makanan.
"Terus, katanya sepupumu masuk rumah sakit?" tanyaku kepada istriku agar ia lanjut berbicara. Sementara itu tanganku kembali beraksi. Kali ini yang kuselipkan diantara pangkal kedua paha putriku dan menyentuh daerah bawahnya, Kutekan dan kuelus perlahan.
Rani mengernyitkan dahinya sambil menoleh ke arahku. Kelihatanya sekali ia tak mengizinkan perbuatanku. Ia berusaha kembali melanjutkan makannya. Tapi jelas ia kesulitan berkonsentrasi.
Saat kupercepat gerkan jari tengaku di daerah kewanitaannya, kain jegginngnya terasa makin lembab, dan lama-lama terasa cairan licin menembus keluar.
"Istriku bisa tolong ambilin pisau di dapur, aku mau potong buah apel ini."
"Oh..biar aku saja yang potongin," balas istriku seraya mengambil dua buah apel dan membawanya ke dapur.
Saat istriku sudah tidak diruang makan, aku langsung mengangkat kain jilbab putriku yang menutupi dadanya dan meremas-remas payudaranya kiri dan kanan bergantian.
Raut wajah Rani menunjukkan kegelisahan, ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya memintaku untuk berhenti. Ia tampak menggairahkan sekali. Namun bukannya berhenti, aku malah melumat bibirnya yang mungil dan kumasukkan tanganku ke dalam CDnya dan langsung memasukkan jari tengahku ke lubangnya. Ternyata sudah basah dan licin.
Rani berusaha menarik tanganku keluar, tapi tak bisa. Kalah tenaga. Bahkan kupelorotkan jengging dan CD putihnya hingga lepas melewati mata kakinya. Aku jadi terangsnag melihat Rani setengah bugil.
Tiba-tiba kami mendengar suara langkah istriku yang kembali ke ruang makan. Buru-buru Rani memasukkan bagian bawah tubuhnya yang tdiak bercelana ke bawah meja makan, bersembunyi di balik telapak meja yang agak panjang.
Aku pun kembali kembali ke posisi menyantap sisa makanan di piring. Istriku meletakkan sebuah pring dengan apel yang sudah terpotong-potong di atas meja, dan kembali duduk.
"Rini kok makanan kamu masih banyak di piring, lagi gak nafsu, ya?"
Rani menggeleng menunduk. Terdengar suara ia menyedot cairan di hidungnya.
"Kamu pilek, Ni?" tanya ibu.
"Gak kok bu," jawabnya lirih seraya mengambil tisu di meja makan dan membersihkannya.
"Kamu gak apa-apa kan, Ni," Tanyaku berpura-pura memberikan perhatian, padahal cuma alasan agar bisa meletakkan tanganku di atas kulit pahanya di bawah meja.
Rani cuma menggeleng sedikit. Ia tak bisa melanjutkan makannya.
"Ngg..ya sudah kamu istirahat saja, istriku kamu beresin meja ya," ujarku.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa ngomong loh, Ni."
"Iya bu."
Istriku segera merapikan piring-piring di atas meja dan membawanya ke dapur. Saat ia sedang tidak di ruang makan. Aku ambil celana jeggingnya dari lantai dan kutarik anakku itu ke kamarnya segera.
Di dalam kamar kunyalakan lampu. Kupeluk tubuh anakku dari belakang dan kuremas dadanya dengan gemas.
"Dada kamu besar banget sih, hmm...," pujiku.
"Ayah, jangan..please..."
Penolakakannya justru membuatku bergairah. Kuciumi kepala dan lehernya dengan bernafsu.
"Jangan...jangan....Jang...aahh..ahh..ahhh"
Penolakannya berubah menjadi lenguhan saat kuselipkan jariku ke selangkangannya dan mengusap-usapnya. Ia menggeleng-geleng dan mencoba meronta.
"Penis ayah dah tegang nih, mau kayak kemarin...."
"Gak mau...jangan...Rani teriak nih, biar ibu tahu..."
Kudorong tubuh putriku dengan mudah ke atas kasur, hingga badannya terpental di tas kasur springbed. Di hadapannya kubuka celanaku dan kukeluarkan penisku yang langsung bangkit memangjang dan mengacung tegak sampai 30 cm.
"Yakin, kamu mau bilang ibumu?"
Putriku langsung menutup wajahnya dengna kedua tangannya. Kudekati dirinya dan kuraba-raba bagian bawah tubuhnya. Kukecupi kedua pahanya bergantin, dan kujilat hingga ke ujung pangkal paha, dan perlahan lidahku menggapai belahan vaginanya yang tidak berbulu.
Awalnya sedikit-sedikit kusentuh ujung lidahku ke kemaluannya. Perlahan kusapu dari ujung bawah belahannya hingga ke atas, hinnga akhirnya kutemplekan seluruh permukaan lidahku ke bibir labianya, dan kusapu keatas sambil menembus masuk ke dalam perbatasan vaginanya.
Rani langsung merengut kain tempat tidurnya dan melenguh, "Uggh...!"
Kudekatkan mulutku dan kunikmati kemaluan putriku dengan jilatan-jilatan di bagian klit-nya. Badan putriku bergerak-gerak merespon permainanku di bagian tubuh yang paling privat itu.
"Ayah..jangan..ayah...."
Saat ia memanggilku dengan sebutan ayah, kutindih badannya, hingga kami saling bertatapan. Kuperhatikan wajahnya yang sungguh manis nan cute. Matanya berkaca-kaca.
"Hentikan ayah please...Rani kan anak ayah....?"
Kubelai lembut kepalanya yang berjilbab itu.
"Tadi kamu bilang apa?"
"Rani kan anak ayah...?"
Ucapannya itu justru entah bagaimana malah menambah gairah di dalam diriku. Kuarahkan penisku ke lubang putriku. Perlahan kutekan masuk hingga menyentuh ujungnya. KUrasakan Rani mencoba meronta saat batangku menembus daerah kewanitaannya, tapi tubuhku yang berat tetap menahannya.
"Bilang apa sayang?"
"Rani kan anak ayah..." ulangnya sambil agak terisak. Saat dia berkata itu , aku mulai memompa tubuhnya. Badan Rani pun bergerak ke atas ke bawah terdorong-dorong oleh gerakan pinggulku.
"Sebut lagi, sayang..."
"Rani kan anak ayah...jangan diteursin..sudah ayah...sudah..."
Hmmm.... kamu sengaja ingin bakar gairah ayah ya...ujarku dalam hati seraya menarik tepi ujung kaosnya hingga ke atas dada. Tuh kan...dasar anak nakal...tidak pake BH....
"Dada kamu besar banget sih nak...ayah cicipi yah..."
"Gak...gak..."
Kuhisap putingnya meskipun ia tidak mengizinkannya, kujilat-jilat ujungnya dengan lidahku memberikan anak kandungku kenikmatan seks.
Clep...clep...cleppp... terdengar bagian bawahnya suara becek, tanda vaginanya basah karena menerima berbgai rangsangan.
"Tuh kan...kamu suka ayah giniin... buktinya bawahnya kamu basah...."
"Gak...Rani gak suka....ayah...."
Setiap kali ia menyebutku ayah, makin kupercepat gerakan pinggulku, hingga penisku menghujam-hujam dengna cepat kemaluan putriku.
"AAhha ahh ah ahh ah ahh" racau Rani.
Mungkin suaranya yang terlalu keras membuat istriku curiga dan membuka pintu kamar.
"ASSTAGGAAA AYAHH!!! RANNI!!!"
Istriku sampai lemas duduk di lantai.
Tiba-tiba saja sebuah pikiran melntas di benakku. Kuhampiri istriku dan kutenangkan dirinya.
"Hei, tenang...ini bukan apa-apa..."
"R..Rani...a..ayah...."
"Shhh....dah tenang-tenang dulu ambil nafas dalam-dalam..."
Istriku menghirup nafas banyak ke dalam paru-parunya lalu menghembuskannya lagi. Beberapak akli ia lkuakukan itu. Saat ia sudah menjadi tenang,, kutarik dirinya ke tempat tidur dan kuajak tiduran di samping putri kami.
"Sayang...kita bertiga akan senang-senang malam ini yah...."
Istriku menoleh ke arahku dengan pandangan tak percaya bercampur terkejut.
Kukecup bibirnya sambil kubelai dan kuremas bokongnya yang semok dari luar roknya yang terutup gamis. Lalu aku beralih ke bagian kemaluannya dan mengusap-usapanya.
Sementara Rani hanya memperhatikan kami kedua orang tuanya melakukan pemanasan.
"Kamu istri yang baik kan..."
"Tentu saja ayah, bukan aku sudah membuktikannya hingga saat ini, melyanimu dan menjadi orang tua yang baik untuk Rani...?"
Aku mengangguk, "yah kamu sudah lakukan itu..."
"Sekarang ayah mau ibu mastrubasiin Rani, pakai jari, yah...ayah mau lihat... " pintaku kepada istriku seraya meremas-remas dadanya.
"Tapi..."
"Ayo sayang..."
Kubantu istriku yang masih dalam keadan syok untuk meletakkan tangannya di kemaluan putri kami, dan menggerak-gerakkannya.
"Iya begitu..."
Rani tampak lebih menerima, kalau ibunya yang menyentuh dirinya, meski ia masih menggeleng-geleng, tapi ia tak menepis tangan istriku di daerah privatnya.
"Oh yes, kalian memang menggairahkan," ucapku seraya menganggka rok gamis istriku dan mulai mencari lubangnya untuk kuentot dari belakang.
"Ahhh..ahhh......aahhh..." saat batangku menancap dan keluar masuk di vaginanya. Dia pun mulai mau mengelus-elus vagina Rani dengna lebih intens.
"Mmhh...shhh.....ibu....ah..."
"Lebih merapat, sayang," pintaku ke istriku. Istriku menurut dan merapatkan tubuhnya dengan Rani hingga kedua dada mereka menempel satu sama lain.
"Oh...yes...gesek-gesek dadamu ke Rani, yang..."
Istriku memeluk Rani dan melakukan keinginanku. Rini memadang wajah ibunya dengan raut wajah canggung dan kikuk.
Kupompa tubuh istriku dengan cepat, "AAhh...ahh..." dibakar gariah, sungguh rasanya nikmat sekali bersenggama. Istriku menyelipkan pahanya di antar kedua paha Rani, sehingga saat tubuhnya terdorong oleh ku, kakinya menggesek kemaluan Rani.
"Aaahhh ahhh," Rani, istriku dan aku melenguh bersamaan menikmati seks bersama.
"IStriku, arahin tititku ke lubang Rani."
Dengan panjang 30 Cm, aku dapat menacapai kemaluan putriku melwati kemaluan istriku dan masuk ke dalamnya.
Istriku mencabut batangku yang masuk begitu dalam di lubangnya, dan mengarahkan ujunyg ke lubang kewanitaan putri kami.
"Ini batang ayahmu, nak..."
"Kalau ibu mengizinkan, Rani terima disetubuhi ayah..."
"Gak apa-apa nak, ibu izinkan," ucap istriku seraya memasukkan ujungnya. Rani menngagnkat kakinya dan seketika itu aku tekan dan melesak masuk.
"Ciumanlah kalian berdua." Dua kepala yang berjilbab itu pun mulai mendekat dan bibir mereka berpagutan.
"Shh...gitu donk..." seraya memompa tubuh anakku. Sementara istriku mendapakan gesekan batang luarku. Tanganku pun tak sabar untuk meremas-remas lagi dada putriku dan begarntian meramas payudara istriku.
"Akh aku keluar!" Istriku tahu-tahu menjerit, batangku terasa disemprot oleh cairan panas.
"Rini..juga...Rini...dikit lagi...ayah...."
Kupercepat gerakanku, tahu-tahu Rani mengejang dan batangku seperti disiram air hangat di dalam lubangnya.
Aku berganti posisi dan kembali menindihnya seperti di awal, aku ingin melihat wajahnya saat kusetubuhi dirinya.
"SEkarang kalau ayah mau gituin kamu, kamu gak akan nolak kan, Rani..?"
Rani tersenyum dengan tulus dan mengangguk.
"Ibu sudah merestui...Rani juga rela..."
Ia memeluk leherku dan membisikkan di telingaku, "Rani anak ayah..."
Entah kenapa aku langsung turn on, seperti tegangan listrik yang melonjak tiba-tiba. Baru beberapa sentakan, cairan laki-lakiku langsung serasa melompat dari buah zakar ke lubangnya Ran. Begitu banyaknya sampai-sampai keluar dari bibirny vaginya.
"Iyah...Rani anak ayah...," ucapku sambil memberikan ciuman yang mesra.
Cerita Dewasa , Cerita Seks , Daun Muda , Sedarah
Gairah Keluarga Istriku
Unknown
12:39 PM
Satu lagi kisahku yang berkaitan dengan isteriku adalah ketika aku harus ke Menado untuk suatu urusan. Biasanya aku tak pernah mampir kerumah keluarga isteriku yang memangnya berasal dari sana, tetapi kali ini aku terpaksa harus mampir ke Amurang karena isteriku menitipkan beberapa barang untuk adik dan kakaknya disana. Setelah selesai urusanku dikota Manado, maka aku segera memanggil taksi untuk ke Amurang yang letaknya cukup jauh dari kota Manado.
Aku sebenarnya kepengen menginap di Manado saja karena disana ceweknya hebat hebat dan menyenangkan, tetapi karena aku harus ke Amurang, maka aku putuskan untuk menginap disana saja, tokh aku tahu kalau rumah keluargaku cukup besar disana dan aku bisa menempati paviliunnya yang sangat menyenang-kan.
Aku sampai di Amurang sekitar jam 4 sore, dirumah aku disambut oleh mertuaku, Elsa kakak isteriku serta Vera adik isteriku. Aku menatap wajah ketiga orang ini dengan pikiran yang melayang layang, karena sejujurnya saja baik itu ibu mertuaku, kakak iparku maupun adik iparku semuanya cantik dan mempunyai keseksiannya sendiri sendiri.
Mereka tanpa canggung memelukku serta menciumiku seperti biasanya orang yang kangen. Tetapi aku jadi cekot cekot sendiri. Bayangkan, meskipun mertuaku sudah hampir 55 tahun, tetapi badannya masih montok dengan buah dada yang benar benar hebat ditambah lagi wajah yang cantik, kalau Evie kakak iparku wajahnya kalem khas Manado, tetapi bentuk badannya benar benar ideal karena tinggi langsing dengan buah dada dan pinggul yang tak terlalu besar, kulitnya bersih dan bibirnya selalu tersenyum, berbeda sekali dengan adik iparku Vera yang wajahnya seksi dengan tubuh yang pendek dan padat ditambah buah dada yang montok hampir hampir tak sesuai dengan badannya yang kecil itu. Aku jadi bertanya tanya apakah Vera masih perawan, karena badannya begitu subur.
Kami masuk kerumah bersama sama, Ibu mertuaku merangkul aku dengan mesra sehingga dapat kurasakan buah dadanya menempel ketat dilenganku. Aku jadi nggak karu karuan, apalagi ketika kuperhatikan Vera, roknya yang tipis menyebabkan pantatnya yang memakai celana dalam kecil itu terbayang nyata dihadapanku. Benar benar membuat jakunku turun naik. Aku memang menyadari sejak dulu bahwa keluarga isteriku semuanya cantik, tetapi aku tak pernah menduga bahwa aku dihadapkan pada suasana seperti ini, aku sudah merasakan bahwa malam ini aku akan mendapat santapan yang lezat, entah yang mana tetapi aku pasti akan main dengan salah satu dari mereka atau bahkan dengan ketiganya, karena ibu mertuaku sendiri juga masih “layak dinikmati”
Dalam kamar aku berusaha untuk tidur sejenak karena memang tubuhku penat sekali, aku mencoba untuk tidur barang satu jam agar supaya nanti bisa keluar makan malam dengan keluargaku semuanya. Tetapi entah berapa lama aku tertidur karena ketika aku bangun kulihat diluar sudah gelap dan tak seorangpun yang berani membangunkan aku. Dengan tergesa gesa aku mengambil handukku dan pergi mandi. Tak kulihat seorangpun dirumah, entah kemana semua, tetapi ketika aku mendekati kamar mandi kudengan suara deburan air serta nyanyian wanita yang sayup sayup. Dari suaranya kukira itu suara ibu mertuaku. Benar saja ketika kuketuk pintunya ibu mertuakulah yang menjawab. Kutunggu dimuka pintu dan tak lama kemudian keluarlah mertuaku dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dilibatkan dibadannya.
Aku terpana menyaksikan sembulan buah dada mertuaku yang menonjol dari balik handuk yang dipakainya itu, apalagi ketika mertuaku mengambil pakaian yang ditaruhnya digantungan maka aku dapat melihat bulu ketiaknya yang lebat dan hitam itu. Secara otomatis aku melihat keantara selangkangannya sayang tertutup dengan handuk yang sedikit menutupi pangkal pahanya itu. Dengan nekad aku sengaja menjatuhkan handukku dan ketika mengambilnya aku melirik kepangkal paha mertuaku, benar saja, kulihat kerimbunan jembutnya yang masih basah dengan air. Entah mengerti atau tidak, tetapi mertuaku hanya tersenyum melihatku. Aku segera masuk kekamar mandi dan mulai mandi. Pikiranku yang ngeres menyebabkan kontolku jadi ngaceng nggak karu karuan. Kupercepat mandiku dengan harapan aku bisa nyamperin mertuaku yang kuharapkan masih belum berganti pakaian.
Kusambar handuk, kubiarkan bajuku tergantung dikamar mandi dan aku setengah berlari menuju kekamar mertuaku untuk menjalankan tipu muslihatku. Dengan hanya memakai handuk saja aku berhenti sejenak didepan kamar mertuaku, aku menarik nafas panjang dan tanpa mengetuk aku masuk kekamar itu. Benar saja kulihat mertuaku telanjang bulat didepan kaca sambil menyisir rambutnya yang panjang. Mataku terbeliak melihat buah dada serta jembut mertuaku yang amit amit tebalnya itu.
Mertuaku menjerit kaget, dan menoleh kearahku, wajahnya merah padam, tetapi tak sedikitpun ia berusaha untuk menutupi nonoknya ataupun susunya. Dengan wajah yang kubuat serius aku meminta tolong mertuaku untuk melihat kontolku yang kukatakan digigit semut, memang tadi sengaja aku mencari semut merah didepan kamar mandi dan kugigitkan kebatang kontolku sehingga kontolku jadi bintul kena sengat semut kecil itu. Ketika melihat aku menyodorkan kontolku yang seperti anak kucing besarnya itu mertuaku jadi terpana, dia tak bisa berkata apa apa namun kuperhatikan matanya terus melekat memandang kontolku itu. Mertuaku mengambil duster dan memakainya untuk kemudian mengambil obat gosok dan mendekati aku.
Dengan agak gemetar mertuaku mendekat dan dipegangnya kontolku untuk melihat bagian yang digigit semut itu. ” Aduh Roy, ngana ini kok ada ada saja sih, untung nih Evie dan Vera lagi keluar, kalau nggak kan Mamie jadi nggak enak ya, sini Mamie kasih minyak gosok biar nggak sakit” Aku merasakan sentuhan tangan mertuaku yang dingin sekali, kurasa kalau dia masih sungkan atau takut karena kenekadanku ini. Setelah membubuhkan minyak gosok, mertuaku mau berdiri, tetapi aku sengaja bilang ” Mamie masih sakit nih, tolong dong dipijit pijit biar nggak terasa sakitnya. Mertuaku tertawa geli dan menyuruh aku duduk dikursi panjang yang ada dikamar itu, setelah aku duduk mertuakupun duduk disampingku dan tangannya mulai memijit mijit bagian kontolku yang sakit itu.
Tapi dasar kontolku memang kurang ajar, begitu dipijit sedikit langsung saja dia ngaceng dan berdiri tegak lurus. Mertuaku dengan setengah berbisik berkata ” Roy ngana punya barang kok galak sekali ya ” Aku diam aja karena aku juga merasakan sentuhan buah dada mertuaku yang menyenggol lenganku. Tanpa ragu ragu aku membetulkan tangan mertuaku agar supaya memegang kontolku dengan lebih tepat.
Tiba tiba saja mertuaku melepaskan tangannya dan sambil tertawa menyuruh aku keluar dari kamarnya ” Ayo Roy, itu sudah sembuh sekarang ngana keluar ” Aku yang sudah bernafsu yakin bahwa mertuaku sebenarnya juga kepengen merasakan kontolku ini, tetapi mungkin dia kuatir sehingga dia menyuruh aku keluar. Karena itu tanpa bicara ba atau bu langsung saja kuterkam mertuaku dan kutarik dusternya sehingga kami sama sama telanjang bulat. Langsung aku menciumi bukit nonoknya yang penuh dengan jembut keriting itu sementara tanganku dengan terlatih memilin milin puting susu mertuaku. Mertuaku berusaha untuk memberontak dan mendorong kepalaku, meskipun aku tahu itu tidak dengan sungguh hati, dan justru karena gerakannya itu paha mertuaku jadi terkuak yang menyebabkan aku mudah untuk menyelipkan bibirku keliang nonoknya. Sekali lidahku menyentuh itilnya, mertuaku langsung ambruk dan terlentang diatas kursi panjang tanpa berdaya apa apa.
Matanya terpejam sambil menggigit bibir, menahan rasa geli yang aku berikan. Tanpa menunggu lama, aku langsung mengarahkan kontolku keliang nonok mertuaku dan sekali kedut kontolku langsung amblas, begitu aku menggerakkan kontolku, mertuaku langsung merangkul aku dan menggigit pundakku dengan keras sekali, kedua kakinya diangkat tinggi dan dijepitkan pada pinggangku. Kurasakan nonok mertuaku sudah longgar, tetapi untuk ukuran kontolku yang over size ini, maka nonok seperti ini cocok sekali rasanya, karena kalau terlalu sempit justru membuat aku cepat finish.
Benar saja justru beberapa saat kemudian mertuaku yang berkelojotan merasakan nikmatnya gesekan kontolku dan mencapai kepuasannya. Aku tak merasakan perihnya gigitan mertuaku pada pundakku karena aku sedang asyik memacu kontolku untuk mengejar ketinggalanku, ketika kurasakan air maniku sudah hampir menyemprot keluar, kurasakan nonok mertuaku sepertinya makin menjepit kontolku sehingga aku jadi melenguh panjang dan semprotan demi semprotan air maniku memancar keluar memenuhi liang nonok mertuaku. Baru saja aku menikmati empotan nonok mertuaku yang khas itu, tiba tiba saja mertuaku mendorong badanku sambil berkata ” Roy, ngana nekad sekali, bagaimana kalau kelihatan anak anak yang lain, Mamie bisa mati berdiri” Aku hanya menyeringai, kusambar handukku dan aku segera keluar menuju kamar mandi lagi. Kucuci kontolku yang penuh lendir dan segera keluar dari kamar mandi. Benar benar aku merasakan petualangan yang hebat, karena aku tak pernah menyangka bahwa aku dapat mencicipi tubuh mertuaku yang begitu padat dan seksi serta benar benar berpengalaman membuat pria merasakan kenikmatan yang sejati.
Aku tahu bahwa dari cara mertuaku menikmati persetubuhan tadi, dia sudah lama tak pernah merasakan kontol pria, tetapi aku yakin hal itu tak berarti dia tak pernah merasakannya semenjak mertua laki lakiku meninggal. Pasti ada satu atau dua pria yang mengisi kesepiannya dengan memberikan kehangatan seks. Aku sendiri sebenarnya masih belum puas dengan permainan tadi, karena dengan tubuh seperti mertuaku itu, rasanya aku masih mampu mendayung dua tiga kali lagi, tetapi apa mau dikata, mertuaku kuatir kalau diketahui orang. Ketika aku lewat kamar mertuaku, kulihat kamar itu tertutup rapat, sebenarnya aku ingin mengetuknya, tetapi saat itu kulihat Evie berjalan kearahku, sehingga aku mengurungkan niatku itu.
Evie tersenyum melihatku,”kenapa ngana kok baru mandi Roy ?” aku jawab kalau aku ketiduran karena terlalu lelah. Evie tersenyum manis yang membuat jantungku berdegup keras, senyuman itu benar benar merangsang dan penuh isyarat undangan yang dapat kutangkap. Sesampai dikamar, aku berbaring dulu ditempat tidur, disamping untuk relax, aku juga memikirkan Evie kakak iparku yang cakep itu. Kalau dilihat dari wajahnya sih memang cantik isteriku yang juga adiknya, tetapi kalau badannya, isteriku bukan apa apa dibandingkan Evie yang lebih mirip mamienya itu. Kubayangkan, apakah mungkin malam ini rejekiku bertumpuk tumpuk sehingga bisa menyantap ketiga wanita yang ada dirumah ini, memikirkan hal ini aku jadi tersenyum sendiri. Aku berpikiran bahwa ketiga perempuan dirumah ini memang kelihatannya nafsunya gede, aku bandingkan mertuaku dengan isteriku yang juga anaknya, tidak jauh berbeda nafsunya. Entah kalau si Evie atau Vera, tetapi aku berani bertaruh bahwa mereka itu juga hebat.
Sedang asyiknya aku melamun, kudengar ketukan pelan dipintu kamarku, aku melompat dari tempat tidurku membenahi handukku dan membuka pintu itu. Kulihat Evie dimuka pintu sambil tersenyum dia berkata ” Roy ayo ngana makan dulu, biar nggak letih itu badan” Aku menyahut “nggak dulu deh Ev, gimana kalau kita omong omong saja dulu disini, nanti kita makan sama sama ya” Evie tak menyahut, tetapi dia langsung masuk dan aku dengan acuh tak acuh menutup pintu itu. Jantungku berdegup keras,”ini dia dapat lagi satu santapan”. bagiku Evie bukan sekedar merangsangku karena tubuhnya, tetapi aku lebih tertarik karena dia adalah kakak isteriku seperti aku juga tertarik pada mertuaku sendiri yang ternyata juga mau main dengan menantunya itu.
Karena kursi dikamar itu hanya satu, maka agar supaya Evie duduk diatas tempat tidurku, maka aku cepat cepat duduk dikursi yang cuma satu itu. Benar saja, Evie setelah menoleh kiri kanan dan tak menemukan tempat duduk maka dia duduk diatas tempat tidurku. Dengan hanya memakai handuk aku mengajak Evie berbicara sementara mataku memperhatikan Evie yang memakai duster tanpa lengan itu. Kalau kuperhatikan, Evie tampaknya tak memakai beha, aku hanya ingin dia mengangkat tangannya agar aku bisa melihat ketiaknya, apakah lebat seperti isteriku dan juga mamanya ataukah bersih yang kurang kusukai itu.
Evie menanyaiku keadaan Jakarta, juga bagaimana keadaan Novie isteriku disana. Aku bercerita panjang lebar tentang keadaan keluarga di Jakarta, juga aku ceritakan tentang Vicky adik laki laki satu satunya yang juga membantu perusahaanku di Jakarta. Pembicaraan kami jadi makin serius ketika aku mulai menanyakan keberadaan bung Denny, suami Evie. Denny seorang dokter yang ganteng dan baik sekali, sayangnya sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak seorangpun, entah siapa yang salah. Ketika kutanyakan dimana bung Denny, Evie menjawab kalau Denny sedang dinas kedaerah untuk beberapa hari. Hal ini membuatku gembira karena berarti kesempatanku makin besar untuk menikmati Evie. “Evie kenapa sih kok belum punya anak juga, apa memang dicegah ?” Evie tersenyum simpul saja katanya “Bagaimana mau punya anak, kalau produksinya jarang jarang” Aku tersenyum dan dengan santai aku bercerita tentang hubunganku dengan Novie isteriku dalam hal seks. Kuceritakan betapa Novie hampir setiap malam mengajakku untuk main, belum lagi hobby Novie yang senang posisi macam macam.
Evie hanya menyeringai saja mendengar ceritaku yang seram itu, aku yakin kalau dia terangsang mendengarnya. “Roy, kenapa sih Novie kok demikian gede nafsunya, apa kamu kasih minum obat ya?” Aku jawab enteng, “enggak tuh, tapi biasanya, perempuan yang bulunya lebat, itu nafsunya juga gede” Evie terkikik mendengar jawabku itu, aku langsung bertanya lagi ” apakah Evie juga lebat bulunya, kasih lihat dong !” Evie dengan terus tertawa geli balas bertanya “bulu apa Roy ?” Kujawab “bagaimana dengan bulu ketiak Evie ?” Evie dengan malu malu mengangkat lengannya yang putih bersih itu sehingga aku bisa melihat ketiaknya yang penuh dengan rambut hitam keriting itu. Aku bergaya tenang saja, padahal hatiku dag dig dug melihat ketiak yang lebatnya melebihi ketiak isteriku bahkan lebih lebat dari ketiak mertuaku tadi.
Sambil mengatur suaraku agar tak kentara kalau aku nervous aku berkata lagi “waduh Evie, nafsumu pasti segede nafsu Novie, malah bisa bisa kamu lebih gede lagi, kalau bung Denny nggak punya modal yang hebat, pasti rontok deh sama kamu” “Apakah barangnya Denny gede dan mainnya kuat Ev ? Evie tak menjawab malahan bertanya “kalau Roy gimana ?” Inilah pertanyaan yang aku tunggu tunggu langsung saja kujawab “kalau aku sih minimal dua kali semalam ya masih OK, karena barangku cukup besar untuk membuat Novie puas dalam waktu yang relatif singkat”
Saat itu dengan sengaja kusingkap handukku hingga kontolku yang sudah setengah ngaceng itu dapat dilihat dengan nyata oleh Evie. Evie menjerit lirih melihat kontolku itu, katanya ” aduh Roy masukkan deh, aku ngeri habis gede sekali sih” Aku tertawa saja, tanpa berusaha untuk menutup handukku lagi, malah aku bertanya : “kalau punya Denny seberapa Ev ? Evie menjawab “pokoknya nggak segede punya kamu deh” “Ah nggak apa apa Ev, Noviepun aku rasa susunya tak semontok kepunyaanmu, pasti Denny senang karena punya isteri yang susunya gede” “Coba aku lihat Ev, sebentar saja” Evie tertawa tawa malu namun dibukanya kancing dusternya bagian atas sehingga terbukalah buah dadanya yang putih mulus tanpa beha itu. Benar benar besar dan padat sekali, pentilnya coklat muda dan dibeberapa tempat kulihat masih ada bekas gigitan yang berwarna merah.
Aku berdiri dan mendekati Evie, kataku “aduh Evie, susumu bagus sekali, aku kepengen memegangnya ya” tanpa menunggu aku sudah meremas buah dada yang montok itu, sementara karena tadi handukku terlepas, maka ketika aku berdiri aku sudah tak memakai apa apa lagi. Sengaja kupepetkan badanku ketubuh Evie sehingga sementara tanganku meremas susu Evie, kontolku yang panjang itu menggeser geser lengan Evie. Evie hanya diam saja merasakan remasan dan pelintiran jariku pada putingnya. Bahkan dia berkata “Roy aku boleh pegang barangmu ya!” Aku tak menjawab, hanya kontolku kusorongkan kearahnya, dengan gemas Evie balas meremas kontolku dan entah disengaja atau tidak Evie menarik kontolku sehingga aku terjerembab keatas tempat tidur menimpa tubuhnya.
Saat itu aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya yang tebal dan menantang itu. Evie membalas ciumanku dengan menggigit bibir bawahku pelan pelan seperti dimamah. Aku membalas ciuman Evie dengan menyelusupkan lidahku kedalam rongga mulutnya yang dibalas Evie dengan menghisap ujung lidahku itu. Benar benar jago berciuman, sementara bibir kami bertautan, tanganku mulai mengembara kepaha Evie, kurasakan celana dalamnya menutupi bukit nonoknya, karena itu pelan pelan kutarik celana dalam itu hingga terlepas, ketika kuraba bukit nonoknya aku merasakan kerimbunan yang sangat tebal. Ketika jariku berusaha mencari liang nonok Evie, aku berhasil menyentuh itil Evie yang sudah membengkak dan keras itu.
Nonok Evie sudah licin dengan cairan sehingga jariku dengan mudah menelusup kedalam liangnya yang hangat dan terus menerus mempermainkan itilnya itu. Saat itu Evie berbisik agar supaya aku mengunci pintu lebih dahulu. Dengan tergesa gesa aku menuju pintu serta menguncinya. Kembali ketempat tidur kulihat Evie sudah membuka dusternya sehingga tubuhnya yang montok dan putih mulus itu terpampang dihadapanku. Kaki Evie sudah direntangkannya sendiri membuat liang nonoknya yang berwarna merah tua itu merekah berkilat karena lendir yang membasahinya. Aku tak mau lagi menunggu terlalu lama, kuarahkan kontolku keliang nonoknya dan pelan pelan kutusukkan keantara bibir nonok Evie, aku sengaja tak memasukkannya sekaligus karena aku kepengen Evie yang bereaksi menekan kontolku agar masuk semuanya.
Evie yang sudah bernafsu itu menekan pantatku sehingga akhirnya kontolku amblas dalam liangnya. Begitu Evie merasakan ujung kontolku sudah menyentuh leher rahimnya, dia langsung memutar mutar pantatnya seperti ayakan agar supaya ujung kontolku itu makin kuat menggeser leher rahimnya. Kulihat mata Evie terpejam rapat, begitu juga bibirnya. Setiap kali dia merasakan kegelian pada nonoknya, Evie merintih, aku dapat mengetahui hal ini karena setiap kali merasa geli, nonok Evie selalu mengejang.
Ku biarkan saja Evie memuaskan dirinya, sementara aku asyik menciumi susunya yang montok itu, aku sama sekali tak berani menggigit susunya karena aku kuatir kalau bung Denny curiga. Merasa kurang puas dengan posisi dibawah, Evie mendorong tubuhku dan menyuruhku terlentang dengan posisi kontolku menjulang keatas, dengan gemetar ia mengangkangi kontolku dan ditepatkannya ujung kontolku keantara bibir nonoknya, sambil tetap menggenggam kontolku, Evie pelan pelan menurunkan badannya sehingga kontolku tertelan oleh jepitan nonoknya itu, tanpa sungkan sedikitpun Evie dengan penuh nafsu mulai menaik turunkan pantatnya, matanya terpejam rapat dan susunya terguncang guncang karena gerakan Evie yang cepat itu. Evie merintih ” Ssst…Roy, barangmu rasanya mekar ya, aduh geli sekali Roy, aku tak tahan lagi Roy………..! Gerakan Evie yang tadinya ritmis meskipun cepat itu mendadak jadi seperti tersendat sendat, Evie meremas sendiri susunya dan “…….aduh…… Roy, aku .kkkkkellluuuuuuaaarrrrr ! Kurasakan nonok Evie mengejang seakan memijat batang kontolku yang masih belum merasakan apa apa itu. Memang setelah sekali memuntahkan sperma setelah main dengan mamie mertuaku, aku sekarang jadi agak kebal terhadap geli, jadi meskipun kontolku ngaceng dan siap tempur, tetapi justru spermaku yang tak mau keluar sehingga membuat aku jadi berang juga. Setelah kulihat Evie berhenti bergerak dan menelungkup diatas dadaku, aku langsung menggulingkan tubuhku sehingga sekarang Evie yang ada dibawah lagi. Aku segera memompa lagi nonok Evie yang masih basah kuyup dengan lendir itu, aku tak perduli dengan suaranya yang berkecipakan itu.
Keringatku bertetesan sementara pantatku terus bergerak untuk memompa sperma keujung kontolku. Evie berkali kali merintih karena ia kembali mengalami orgasme, padahal aku belum apa apa sama sekali. Karena kurasakan nonok Evie licin sekali, maka aku mengeluarkan kontolku dan kubersihkan nonok Evie dengan handukku agar lebih kering dan tidak terlalu menimbulkan suara, Evie hanya diam saja, dia benar benar sudah keok, tangannya terentang dan pahanya mengangkang sementara dispreiku penuh dengan bercak bercak lendir dari dalam nonok Evie. Ketika sudah cukup kering, kembali aku mengarahkan kontolku keliang nonok Evie, Evie sendiri membantuku dengan merentangkan liang nonoknya agar aku mudah untuk menyelipkan kontolku diantaranya. Mendadak saja, kami sama sama terperanjat karena dipintu terdengar ketukan serta suara Vera yang memanggil namaku. Evie segera mendorong tubuhku dan mengambil dusternya, dengan tergopoh gopoh ia lari kejendela dan melompat keluar dari jendela yang tertutup kerimbunan pohon pohon itu, sebelumnya masih sempat ia mencium serta menggigit bibirku sambil berpesan agar nanti malam aku datang kekamarnya.
Aku hanya tersenyum, setelah kulihat Evie sudah lenyap, aku segera memakai handukku lagi dan membuka pintu untuk Vera. Vera terkejut melihat wajahku yang merah padam serta tubuhku yang penuh keringat itu. Ia bertanya dengan pelan ” kenapa ngana Roy ?” Kujawab kalau aku barusan berolahraga, tanpa kusuruh Vera masuk kedalam kamarku dan berkeliling memeriksa kamarku itu, aku diam saja melihat tingkah adik iparku itu, ketika ia melihat bercak bercak dispreiku ia menoleh kearahku dan tersenyum ” itu apa Roy ?” Aku agak gelagapan juga mendengar pertanyaan Vera itu, aku terdiam dan tak menjawab sedang Vera sendiri juga tak bertanya lagi, hanya matanya saja yang menatap tonjolan kontolku yang ada dibalik handuk itu. Ketika kupersilahkan untuk duduk, Vera langsung duduk dikursi sambil berkata, “Roy ayo kita makan, Mamie menunggu”. “Tunggu ya Roy mau ganti dulu ya !”. Meskipun tahu kalau aku mau ganti pakaian, Vera tetap saja duduk dikursi itu, aku jadi salah tingkah, apakah memang Vera ini juga doyan seperti yang lainnya ? Karena sudah dua kali mendapat green light, kali ini aku juga mau mencoba rejekiku, paling tidak aku bisa menunjukkan pada Vera kontolku yang seperti anak kucing itu, pasti dia tak akan pernah lupa sampai kapanpun.
Dengan pikiran seperti ini, aku langsung saja melepaskan handukku sehingga kontolku yang masih ngaceng itu, langsung menyembul keluar. Meskipun posisiku agak jauh dan menyamping disisi Vera, tetapi aku yakin Vera melihat keadaanku yang telanjang itu,.Sengaja aku minta tolong Vera untuk mengambilkan parfumku yang ada dimeja, dengan tenang Vera berjalan kearahku sambil tersenyum senyum katanya “Roy barang ngana mengerikan ya, kenapa dingin begini kok malahan berdiri ? Aku menjawab dengan cepat, ” Dia berdiri karena melihat kamu yang tak pakai beha itu ! Susu kamu membuat dia marah marah ! Vera tertawa menyeringai. Memang dari balik dusternya yang tipis jelas sekali kelihatan kalau Vera tidak memakai beha, susunya besar dan padat sekali, bahkan pentilnya kelihatan menonjol. “Susu kamu besar sekali Ver, punya Novie tak ada apa apanya dibanding punya kamu lho !
Vera hanya tertawa, malahan ia sengaja membusungkan dadanya sambil berkata ” Ia dong, ini kan Vera rawat baik baik, setiap hari Vera massage biar montok dan kencang ! Ketika Vera menyerahkan botol parfum itu, langsung saja kutangkap tangannya dan kutarik Vera sehingga susunya menempel didadaku yang telanjang itu, Vera hanya tersenyum sambil memandangku, langsung saja aku cium bibirnya yang merekah tipis itu. Vera dengan hangat membalas ciumanku, sementara tangannya langsung saja sudah meremas kontolku. Ketika kuremas susu Vera, Vera malahan menyuruh aku membuka dusternya itu, ketika sudah kubuka, Vera langsung berjongkok dan mengulum kontolku itu. Kuluman Vera benar benar ganas, dijilatinya ujung kontolku serta dikulumnya kontolku sampai habis dan digigitnya pelan pelan.
Aku yang sebenarnya sudah kebal selama permainan dengan Evie tadi sekarang benar benar jadi keenakan. Cepat cepat kutarik kontolku dan kudorong Vera ketempat tidur untuk langsung kusetubuhi, Vera mandah saja ketika kudorong ketempat tidur, ketika kuturunkan celana dalam Vera, aku terperangah karena tidak seperti mertuaku atau seperti kakaknya, Vera sama sekali tak berjembut, nonoknya licin, persis seperti bayi, ketika kubuka liang nonoknya, itilnya yang merah itu kelihatan sudah membatu.
Aku langsung naik keatas tempat tidur dan kutindih Vera sambil mengarahkan kontolku keliang nonoknya itu. tetapi Vera merangkulku sambil berbisik “Roy, ngana masih perawan, masukan saja dipantat ya ” ! Aku terkejut lagi mendengar pengakuan Vera ini, Vera langsung mengganjal pantatnya dengan bantal sambil mengangkat kedua pahanya tinggi tinggi. Kulihat nonok Vera memang masih rapat seperti garis, tetapi lubang pantatnya yang justru agak menganga menanti coblosan kontolku. Langsung saja aku mendekatkan kontolku keantara kedua selangkangannya dan dengan tenang Vera menuntun kontolku kearah liang pantatnya itu. Ketika sudah tepat arahnya, Vera menepuk pundakku sementara matanya terpejam erat.
Dengan pelan pelan kudorong kontolku memasuki liang pantat Vera, terasa peret sekali dan agak sulit untuk maju. Kulihat Vera agak menyeringai merasakan desakan kontolku yang besar itu diliangnya, tetapi dia malahan menekan pantatku agar kontolku bisa masuk makin dalam. Dengan lancar akhirnya kontolku bisa masuk semuanya, tanpa menunggu dua kali aku langsung menggoyang pantatku mendayung Vera. Vera dengan sigap menarik kepalaku dan menciumi bibirku, dengan bibir yan bertautan aku terus merasakan kenikmatan pantat Vera yang seret itu.
Tanganku asyik meremas susu Vera yang montok dan kenyal itu dengan penuh nafsu. Rasa nikmat yang kudapat benar benar lain daripada yang lain, belum lagi rasa kuatir ketahuan oleh orang, karena sebenarnya aku kan diajak makan, menyebabkan nafsuku makin memuncak sehingga mendadak spermaku sudah menyemprot nyemprot dalam liang pantat Vera. Vera sendiri menggigit bibirku, rupanya dia juga mencapai kenikmatannya dengan hanya berciuman dan diremas remas susunya. Ketika aku sudah merasa lega, langsung aku cabut kontolku dan Vera sendiri langsung memakai dusternya serta lari keluar kamarku tanpa berkata apa apa lagi. Aku tertawa geli, tak kusangka bahwa seisi rumah ini dapat kulahap dalam sekali jalan. Andaikan saja Novie ikut, berarti aku sekaligus akan menyantap empat orang…
Cerita Dewasa , Cerita Seks , Sedarah , setengah baya , Umum
Aku sebenarnya kepengen menginap di Manado saja karena disana ceweknya hebat hebat dan menyenangkan, tetapi karena aku harus ke Amurang, maka aku putuskan untuk menginap disana saja, tokh aku tahu kalau rumah keluargaku cukup besar disana dan aku bisa menempati paviliunnya yang sangat menyenang-kan.
Aku sampai di Amurang sekitar jam 4 sore, dirumah aku disambut oleh mertuaku, Elsa kakak isteriku serta Vera adik isteriku. Aku menatap wajah ketiga orang ini dengan pikiran yang melayang layang, karena sejujurnya saja baik itu ibu mertuaku, kakak iparku maupun adik iparku semuanya cantik dan mempunyai keseksiannya sendiri sendiri.
Mereka tanpa canggung memelukku serta menciumiku seperti biasanya orang yang kangen. Tetapi aku jadi cekot cekot sendiri. Bayangkan, meskipun mertuaku sudah hampir 55 tahun, tetapi badannya masih montok dengan buah dada yang benar benar hebat ditambah lagi wajah yang cantik, kalau Evie kakak iparku wajahnya kalem khas Manado, tetapi bentuk badannya benar benar ideal karena tinggi langsing dengan buah dada dan pinggul yang tak terlalu besar, kulitnya bersih dan bibirnya selalu tersenyum, berbeda sekali dengan adik iparku Vera yang wajahnya seksi dengan tubuh yang pendek dan padat ditambah buah dada yang montok hampir hampir tak sesuai dengan badannya yang kecil itu. Aku jadi bertanya tanya apakah Vera masih perawan, karena badannya begitu subur.
Kami masuk kerumah bersama sama, Ibu mertuaku merangkul aku dengan mesra sehingga dapat kurasakan buah dadanya menempel ketat dilenganku. Aku jadi nggak karu karuan, apalagi ketika kuperhatikan Vera, roknya yang tipis menyebabkan pantatnya yang memakai celana dalam kecil itu terbayang nyata dihadapanku. Benar benar membuat jakunku turun naik. Aku memang menyadari sejak dulu bahwa keluarga isteriku semuanya cantik, tetapi aku tak pernah menduga bahwa aku dihadapkan pada suasana seperti ini, aku sudah merasakan bahwa malam ini aku akan mendapat santapan yang lezat, entah yang mana tetapi aku pasti akan main dengan salah satu dari mereka atau bahkan dengan ketiganya, karena ibu mertuaku sendiri juga masih “layak dinikmati”
Dalam kamar aku berusaha untuk tidur sejenak karena memang tubuhku penat sekali, aku mencoba untuk tidur barang satu jam agar supaya nanti bisa keluar makan malam dengan keluargaku semuanya. Tetapi entah berapa lama aku tertidur karena ketika aku bangun kulihat diluar sudah gelap dan tak seorangpun yang berani membangunkan aku. Dengan tergesa gesa aku mengambil handukku dan pergi mandi. Tak kulihat seorangpun dirumah, entah kemana semua, tetapi ketika aku mendekati kamar mandi kudengan suara deburan air serta nyanyian wanita yang sayup sayup. Dari suaranya kukira itu suara ibu mertuaku. Benar saja ketika kuketuk pintunya ibu mertuakulah yang menjawab. Kutunggu dimuka pintu dan tak lama kemudian keluarlah mertuaku dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dilibatkan dibadannya.
Aku terpana menyaksikan sembulan buah dada mertuaku yang menonjol dari balik handuk yang dipakainya itu, apalagi ketika mertuaku mengambil pakaian yang ditaruhnya digantungan maka aku dapat melihat bulu ketiaknya yang lebat dan hitam itu. Secara otomatis aku melihat keantara selangkangannya sayang tertutup dengan handuk yang sedikit menutupi pangkal pahanya itu. Dengan nekad aku sengaja menjatuhkan handukku dan ketika mengambilnya aku melirik kepangkal paha mertuaku, benar saja, kulihat kerimbunan jembutnya yang masih basah dengan air. Entah mengerti atau tidak, tetapi mertuaku hanya tersenyum melihatku. Aku segera masuk kekamar mandi dan mulai mandi. Pikiranku yang ngeres menyebabkan kontolku jadi ngaceng nggak karu karuan. Kupercepat mandiku dengan harapan aku bisa nyamperin mertuaku yang kuharapkan masih belum berganti pakaian.
Kusambar handuk, kubiarkan bajuku tergantung dikamar mandi dan aku setengah berlari menuju kekamar mertuaku untuk menjalankan tipu muslihatku. Dengan hanya memakai handuk saja aku berhenti sejenak didepan kamar mertuaku, aku menarik nafas panjang dan tanpa mengetuk aku masuk kekamar itu. Benar saja kulihat mertuaku telanjang bulat didepan kaca sambil menyisir rambutnya yang panjang. Mataku terbeliak melihat buah dada serta jembut mertuaku yang amit amit tebalnya itu.
Mertuaku menjerit kaget, dan menoleh kearahku, wajahnya merah padam, tetapi tak sedikitpun ia berusaha untuk menutupi nonoknya ataupun susunya. Dengan wajah yang kubuat serius aku meminta tolong mertuaku untuk melihat kontolku yang kukatakan digigit semut, memang tadi sengaja aku mencari semut merah didepan kamar mandi dan kugigitkan kebatang kontolku sehingga kontolku jadi bintul kena sengat semut kecil itu. Ketika melihat aku menyodorkan kontolku yang seperti anak kucing besarnya itu mertuaku jadi terpana, dia tak bisa berkata apa apa namun kuperhatikan matanya terus melekat memandang kontolku itu. Mertuaku mengambil duster dan memakainya untuk kemudian mengambil obat gosok dan mendekati aku.
Dengan agak gemetar mertuaku mendekat dan dipegangnya kontolku untuk melihat bagian yang digigit semut itu. ” Aduh Roy, ngana ini kok ada ada saja sih, untung nih Evie dan Vera lagi keluar, kalau nggak kan Mamie jadi nggak enak ya, sini Mamie kasih minyak gosok biar nggak sakit” Aku merasakan sentuhan tangan mertuaku yang dingin sekali, kurasa kalau dia masih sungkan atau takut karena kenekadanku ini. Setelah membubuhkan minyak gosok, mertuaku mau berdiri, tetapi aku sengaja bilang ” Mamie masih sakit nih, tolong dong dipijit pijit biar nggak terasa sakitnya. Mertuaku tertawa geli dan menyuruh aku duduk dikursi panjang yang ada dikamar itu, setelah aku duduk mertuakupun duduk disampingku dan tangannya mulai memijit mijit bagian kontolku yang sakit itu.
Tapi dasar kontolku memang kurang ajar, begitu dipijit sedikit langsung saja dia ngaceng dan berdiri tegak lurus. Mertuaku dengan setengah berbisik berkata ” Roy ngana punya barang kok galak sekali ya ” Aku diam aja karena aku juga merasakan sentuhan buah dada mertuaku yang menyenggol lenganku. Tanpa ragu ragu aku membetulkan tangan mertuaku agar supaya memegang kontolku dengan lebih tepat.
Tiba tiba saja mertuaku melepaskan tangannya dan sambil tertawa menyuruh aku keluar dari kamarnya ” Ayo Roy, itu sudah sembuh sekarang ngana keluar ” Aku yang sudah bernafsu yakin bahwa mertuaku sebenarnya juga kepengen merasakan kontolku ini, tetapi mungkin dia kuatir sehingga dia menyuruh aku keluar. Karena itu tanpa bicara ba atau bu langsung saja kuterkam mertuaku dan kutarik dusternya sehingga kami sama sama telanjang bulat. Langsung aku menciumi bukit nonoknya yang penuh dengan jembut keriting itu sementara tanganku dengan terlatih memilin milin puting susu mertuaku. Mertuaku berusaha untuk memberontak dan mendorong kepalaku, meskipun aku tahu itu tidak dengan sungguh hati, dan justru karena gerakannya itu paha mertuaku jadi terkuak yang menyebabkan aku mudah untuk menyelipkan bibirku keliang nonoknya. Sekali lidahku menyentuh itilnya, mertuaku langsung ambruk dan terlentang diatas kursi panjang tanpa berdaya apa apa.
Matanya terpejam sambil menggigit bibir, menahan rasa geli yang aku berikan. Tanpa menunggu lama, aku langsung mengarahkan kontolku keliang nonok mertuaku dan sekali kedut kontolku langsung amblas, begitu aku menggerakkan kontolku, mertuaku langsung merangkul aku dan menggigit pundakku dengan keras sekali, kedua kakinya diangkat tinggi dan dijepitkan pada pinggangku. Kurasakan nonok mertuaku sudah longgar, tetapi untuk ukuran kontolku yang over size ini, maka nonok seperti ini cocok sekali rasanya, karena kalau terlalu sempit justru membuat aku cepat finish.
Benar saja justru beberapa saat kemudian mertuaku yang berkelojotan merasakan nikmatnya gesekan kontolku dan mencapai kepuasannya. Aku tak merasakan perihnya gigitan mertuaku pada pundakku karena aku sedang asyik memacu kontolku untuk mengejar ketinggalanku, ketika kurasakan air maniku sudah hampir menyemprot keluar, kurasakan nonok mertuaku sepertinya makin menjepit kontolku sehingga aku jadi melenguh panjang dan semprotan demi semprotan air maniku memancar keluar memenuhi liang nonok mertuaku. Baru saja aku menikmati empotan nonok mertuaku yang khas itu, tiba tiba saja mertuaku mendorong badanku sambil berkata ” Roy, ngana nekad sekali, bagaimana kalau kelihatan anak anak yang lain, Mamie bisa mati berdiri” Aku hanya menyeringai, kusambar handukku dan aku segera keluar menuju kamar mandi lagi. Kucuci kontolku yang penuh lendir dan segera keluar dari kamar mandi. Benar benar aku merasakan petualangan yang hebat, karena aku tak pernah menyangka bahwa aku dapat mencicipi tubuh mertuaku yang begitu padat dan seksi serta benar benar berpengalaman membuat pria merasakan kenikmatan yang sejati.
Aku tahu bahwa dari cara mertuaku menikmati persetubuhan tadi, dia sudah lama tak pernah merasakan kontol pria, tetapi aku yakin hal itu tak berarti dia tak pernah merasakannya semenjak mertua laki lakiku meninggal. Pasti ada satu atau dua pria yang mengisi kesepiannya dengan memberikan kehangatan seks. Aku sendiri sebenarnya masih belum puas dengan permainan tadi, karena dengan tubuh seperti mertuaku itu, rasanya aku masih mampu mendayung dua tiga kali lagi, tetapi apa mau dikata, mertuaku kuatir kalau diketahui orang. Ketika aku lewat kamar mertuaku, kulihat kamar itu tertutup rapat, sebenarnya aku ingin mengetuknya, tetapi saat itu kulihat Evie berjalan kearahku, sehingga aku mengurungkan niatku itu.
Evie tersenyum melihatku,”kenapa ngana kok baru mandi Roy ?” aku jawab kalau aku ketiduran karena terlalu lelah. Evie tersenyum manis yang membuat jantungku berdegup keras, senyuman itu benar benar merangsang dan penuh isyarat undangan yang dapat kutangkap. Sesampai dikamar, aku berbaring dulu ditempat tidur, disamping untuk relax, aku juga memikirkan Evie kakak iparku yang cakep itu. Kalau dilihat dari wajahnya sih memang cantik isteriku yang juga adiknya, tetapi kalau badannya, isteriku bukan apa apa dibandingkan Evie yang lebih mirip mamienya itu. Kubayangkan, apakah mungkin malam ini rejekiku bertumpuk tumpuk sehingga bisa menyantap ketiga wanita yang ada dirumah ini, memikirkan hal ini aku jadi tersenyum sendiri. Aku berpikiran bahwa ketiga perempuan dirumah ini memang kelihatannya nafsunya gede, aku bandingkan mertuaku dengan isteriku yang juga anaknya, tidak jauh berbeda nafsunya. Entah kalau si Evie atau Vera, tetapi aku berani bertaruh bahwa mereka itu juga hebat.
Sedang asyiknya aku melamun, kudengar ketukan pelan dipintu kamarku, aku melompat dari tempat tidurku membenahi handukku dan membuka pintu itu. Kulihat Evie dimuka pintu sambil tersenyum dia berkata ” Roy ayo ngana makan dulu, biar nggak letih itu badan” Aku menyahut “nggak dulu deh Ev, gimana kalau kita omong omong saja dulu disini, nanti kita makan sama sama ya” Evie tak menyahut, tetapi dia langsung masuk dan aku dengan acuh tak acuh menutup pintu itu. Jantungku berdegup keras,”ini dia dapat lagi satu santapan”. bagiku Evie bukan sekedar merangsangku karena tubuhnya, tetapi aku lebih tertarik karena dia adalah kakak isteriku seperti aku juga tertarik pada mertuaku sendiri yang ternyata juga mau main dengan menantunya itu.
Karena kursi dikamar itu hanya satu, maka agar supaya Evie duduk diatas tempat tidurku, maka aku cepat cepat duduk dikursi yang cuma satu itu. Benar saja, Evie setelah menoleh kiri kanan dan tak menemukan tempat duduk maka dia duduk diatas tempat tidurku. Dengan hanya memakai handuk aku mengajak Evie berbicara sementara mataku memperhatikan Evie yang memakai duster tanpa lengan itu. Kalau kuperhatikan, Evie tampaknya tak memakai beha, aku hanya ingin dia mengangkat tangannya agar aku bisa melihat ketiaknya, apakah lebat seperti isteriku dan juga mamanya ataukah bersih yang kurang kusukai itu.
Evie menanyaiku keadaan Jakarta, juga bagaimana keadaan Novie isteriku disana. Aku bercerita panjang lebar tentang keadaan keluarga di Jakarta, juga aku ceritakan tentang Vicky adik laki laki satu satunya yang juga membantu perusahaanku di Jakarta. Pembicaraan kami jadi makin serius ketika aku mulai menanyakan keberadaan bung Denny, suami Evie. Denny seorang dokter yang ganteng dan baik sekali, sayangnya sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak seorangpun, entah siapa yang salah. Ketika kutanyakan dimana bung Denny, Evie menjawab kalau Denny sedang dinas kedaerah untuk beberapa hari. Hal ini membuatku gembira karena berarti kesempatanku makin besar untuk menikmati Evie. “Evie kenapa sih kok belum punya anak juga, apa memang dicegah ?” Evie tersenyum simpul saja katanya “Bagaimana mau punya anak, kalau produksinya jarang jarang” Aku tersenyum dan dengan santai aku bercerita tentang hubunganku dengan Novie isteriku dalam hal seks. Kuceritakan betapa Novie hampir setiap malam mengajakku untuk main, belum lagi hobby Novie yang senang posisi macam macam.
Evie hanya menyeringai saja mendengar ceritaku yang seram itu, aku yakin kalau dia terangsang mendengarnya. “Roy, kenapa sih Novie kok demikian gede nafsunya, apa kamu kasih minum obat ya?” Aku jawab enteng, “enggak tuh, tapi biasanya, perempuan yang bulunya lebat, itu nafsunya juga gede” Evie terkikik mendengar jawabku itu, aku langsung bertanya lagi ” apakah Evie juga lebat bulunya, kasih lihat dong !” Evie dengan terus tertawa geli balas bertanya “bulu apa Roy ?” Kujawab “bagaimana dengan bulu ketiak Evie ?” Evie dengan malu malu mengangkat lengannya yang putih bersih itu sehingga aku bisa melihat ketiaknya yang penuh dengan rambut hitam keriting itu. Aku bergaya tenang saja, padahal hatiku dag dig dug melihat ketiak yang lebatnya melebihi ketiak isteriku bahkan lebih lebat dari ketiak mertuaku tadi.
Sambil mengatur suaraku agar tak kentara kalau aku nervous aku berkata lagi “waduh Evie, nafsumu pasti segede nafsu Novie, malah bisa bisa kamu lebih gede lagi, kalau bung Denny nggak punya modal yang hebat, pasti rontok deh sama kamu” “Apakah barangnya Denny gede dan mainnya kuat Ev ? Evie tak menjawab malahan bertanya “kalau Roy gimana ?” Inilah pertanyaan yang aku tunggu tunggu langsung saja kujawab “kalau aku sih minimal dua kali semalam ya masih OK, karena barangku cukup besar untuk membuat Novie puas dalam waktu yang relatif singkat”
Saat itu dengan sengaja kusingkap handukku hingga kontolku yang sudah setengah ngaceng itu dapat dilihat dengan nyata oleh Evie. Evie menjerit lirih melihat kontolku itu, katanya ” aduh Roy masukkan deh, aku ngeri habis gede sekali sih” Aku tertawa saja, tanpa berusaha untuk menutup handukku lagi, malah aku bertanya : “kalau punya Denny seberapa Ev ? Evie menjawab “pokoknya nggak segede punya kamu deh” “Ah nggak apa apa Ev, Noviepun aku rasa susunya tak semontok kepunyaanmu, pasti Denny senang karena punya isteri yang susunya gede” “Coba aku lihat Ev, sebentar saja” Evie tertawa tawa malu namun dibukanya kancing dusternya bagian atas sehingga terbukalah buah dadanya yang putih mulus tanpa beha itu. Benar benar besar dan padat sekali, pentilnya coklat muda dan dibeberapa tempat kulihat masih ada bekas gigitan yang berwarna merah.
Aku berdiri dan mendekati Evie, kataku “aduh Evie, susumu bagus sekali, aku kepengen memegangnya ya” tanpa menunggu aku sudah meremas buah dada yang montok itu, sementara karena tadi handukku terlepas, maka ketika aku berdiri aku sudah tak memakai apa apa lagi. Sengaja kupepetkan badanku ketubuh Evie sehingga sementara tanganku meremas susu Evie, kontolku yang panjang itu menggeser geser lengan Evie. Evie hanya diam saja merasakan remasan dan pelintiran jariku pada putingnya. Bahkan dia berkata “Roy aku boleh pegang barangmu ya!” Aku tak menjawab, hanya kontolku kusorongkan kearahnya, dengan gemas Evie balas meremas kontolku dan entah disengaja atau tidak Evie menarik kontolku sehingga aku terjerembab keatas tempat tidur menimpa tubuhnya.
Saat itu aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya yang tebal dan menantang itu. Evie membalas ciumanku dengan menggigit bibir bawahku pelan pelan seperti dimamah. Aku membalas ciuman Evie dengan menyelusupkan lidahku kedalam rongga mulutnya yang dibalas Evie dengan menghisap ujung lidahku itu. Benar benar jago berciuman, sementara bibir kami bertautan, tanganku mulai mengembara kepaha Evie, kurasakan celana dalamnya menutupi bukit nonoknya, karena itu pelan pelan kutarik celana dalam itu hingga terlepas, ketika kuraba bukit nonoknya aku merasakan kerimbunan yang sangat tebal. Ketika jariku berusaha mencari liang nonok Evie, aku berhasil menyentuh itil Evie yang sudah membengkak dan keras itu.
Nonok Evie sudah licin dengan cairan sehingga jariku dengan mudah menelusup kedalam liangnya yang hangat dan terus menerus mempermainkan itilnya itu. Saat itu Evie berbisik agar supaya aku mengunci pintu lebih dahulu. Dengan tergesa gesa aku menuju pintu serta menguncinya. Kembali ketempat tidur kulihat Evie sudah membuka dusternya sehingga tubuhnya yang montok dan putih mulus itu terpampang dihadapanku. Kaki Evie sudah direntangkannya sendiri membuat liang nonoknya yang berwarna merah tua itu merekah berkilat karena lendir yang membasahinya. Aku tak mau lagi menunggu terlalu lama, kuarahkan kontolku keliang nonoknya dan pelan pelan kutusukkan keantara bibir nonok Evie, aku sengaja tak memasukkannya sekaligus karena aku kepengen Evie yang bereaksi menekan kontolku agar masuk semuanya.
Evie yang sudah bernafsu itu menekan pantatku sehingga akhirnya kontolku amblas dalam liangnya. Begitu Evie merasakan ujung kontolku sudah menyentuh leher rahimnya, dia langsung memutar mutar pantatnya seperti ayakan agar supaya ujung kontolku itu makin kuat menggeser leher rahimnya. Kulihat mata Evie terpejam rapat, begitu juga bibirnya. Setiap kali dia merasakan kegelian pada nonoknya, Evie merintih, aku dapat mengetahui hal ini karena setiap kali merasa geli, nonok Evie selalu mengejang.
Ku biarkan saja Evie memuaskan dirinya, sementara aku asyik menciumi susunya yang montok itu, aku sama sekali tak berani menggigit susunya karena aku kuatir kalau bung Denny curiga. Merasa kurang puas dengan posisi dibawah, Evie mendorong tubuhku dan menyuruhku terlentang dengan posisi kontolku menjulang keatas, dengan gemetar ia mengangkangi kontolku dan ditepatkannya ujung kontolku keantara bibir nonoknya, sambil tetap menggenggam kontolku, Evie pelan pelan menurunkan badannya sehingga kontolku tertelan oleh jepitan nonoknya itu, tanpa sungkan sedikitpun Evie dengan penuh nafsu mulai menaik turunkan pantatnya, matanya terpejam rapat dan susunya terguncang guncang karena gerakan Evie yang cepat itu. Evie merintih ” Ssst…Roy, barangmu rasanya mekar ya, aduh geli sekali Roy, aku tak tahan lagi Roy………..! Gerakan Evie yang tadinya ritmis meskipun cepat itu mendadak jadi seperti tersendat sendat, Evie meremas sendiri susunya dan “…….aduh…… Roy, aku .kkkkkellluuuuuuaaarrrrr ! Kurasakan nonok Evie mengejang seakan memijat batang kontolku yang masih belum merasakan apa apa itu. Memang setelah sekali memuntahkan sperma setelah main dengan mamie mertuaku, aku sekarang jadi agak kebal terhadap geli, jadi meskipun kontolku ngaceng dan siap tempur, tetapi justru spermaku yang tak mau keluar sehingga membuat aku jadi berang juga. Setelah kulihat Evie berhenti bergerak dan menelungkup diatas dadaku, aku langsung menggulingkan tubuhku sehingga sekarang Evie yang ada dibawah lagi. Aku segera memompa lagi nonok Evie yang masih basah kuyup dengan lendir itu, aku tak perduli dengan suaranya yang berkecipakan itu.
Keringatku bertetesan sementara pantatku terus bergerak untuk memompa sperma keujung kontolku. Evie berkali kali merintih karena ia kembali mengalami orgasme, padahal aku belum apa apa sama sekali. Karena kurasakan nonok Evie licin sekali, maka aku mengeluarkan kontolku dan kubersihkan nonok Evie dengan handukku agar lebih kering dan tidak terlalu menimbulkan suara, Evie hanya diam saja, dia benar benar sudah keok, tangannya terentang dan pahanya mengangkang sementara dispreiku penuh dengan bercak bercak lendir dari dalam nonok Evie. Ketika sudah cukup kering, kembali aku mengarahkan kontolku keliang nonok Evie, Evie sendiri membantuku dengan merentangkan liang nonoknya agar aku mudah untuk menyelipkan kontolku diantaranya. Mendadak saja, kami sama sama terperanjat karena dipintu terdengar ketukan serta suara Vera yang memanggil namaku. Evie segera mendorong tubuhku dan mengambil dusternya, dengan tergopoh gopoh ia lari kejendela dan melompat keluar dari jendela yang tertutup kerimbunan pohon pohon itu, sebelumnya masih sempat ia mencium serta menggigit bibirku sambil berpesan agar nanti malam aku datang kekamarnya.
Aku hanya tersenyum, setelah kulihat Evie sudah lenyap, aku segera memakai handukku lagi dan membuka pintu untuk Vera. Vera terkejut melihat wajahku yang merah padam serta tubuhku yang penuh keringat itu. Ia bertanya dengan pelan ” kenapa ngana Roy ?” Kujawab kalau aku barusan berolahraga, tanpa kusuruh Vera masuk kedalam kamarku dan berkeliling memeriksa kamarku itu, aku diam saja melihat tingkah adik iparku itu, ketika ia melihat bercak bercak dispreiku ia menoleh kearahku dan tersenyum ” itu apa Roy ?” Aku agak gelagapan juga mendengar pertanyaan Vera itu, aku terdiam dan tak menjawab sedang Vera sendiri juga tak bertanya lagi, hanya matanya saja yang menatap tonjolan kontolku yang ada dibalik handuk itu. Ketika kupersilahkan untuk duduk, Vera langsung duduk dikursi sambil berkata, “Roy ayo kita makan, Mamie menunggu”. “Tunggu ya Roy mau ganti dulu ya !”. Meskipun tahu kalau aku mau ganti pakaian, Vera tetap saja duduk dikursi itu, aku jadi salah tingkah, apakah memang Vera ini juga doyan seperti yang lainnya ? Karena sudah dua kali mendapat green light, kali ini aku juga mau mencoba rejekiku, paling tidak aku bisa menunjukkan pada Vera kontolku yang seperti anak kucing itu, pasti dia tak akan pernah lupa sampai kapanpun.
Dengan pikiran seperti ini, aku langsung saja melepaskan handukku sehingga kontolku yang masih ngaceng itu, langsung menyembul keluar. Meskipun posisiku agak jauh dan menyamping disisi Vera, tetapi aku yakin Vera melihat keadaanku yang telanjang itu,.Sengaja aku minta tolong Vera untuk mengambilkan parfumku yang ada dimeja, dengan tenang Vera berjalan kearahku sambil tersenyum senyum katanya “Roy barang ngana mengerikan ya, kenapa dingin begini kok malahan berdiri ? Aku menjawab dengan cepat, ” Dia berdiri karena melihat kamu yang tak pakai beha itu ! Susu kamu membuat dia marah marah ! Vera tertawa menyeringai. Memang dari balik dusternya yang tipis jelas sekali kelihatan kalau Vera tidak memakai beha, susunya besar dan padat sekali, bahkan pentilnya kelihatan menonjol. “Susu kamu besar sekali Ver, punya Novie tak ada apa apanya dibanding punya kamu lho !
Vera hanya tertawa, malahan ia sengaja membusungkan dadanya sambil berkata ” Ia dong, ini kan Vera rawat baik baik, setiap hari Vera massage biar montok dan kencang ! Ketika Vera menyerahkan botol parfum itu, langsung saja kutangkap tangannya dan kutarik Vera sehingga susunya menempel didadaku yang telanjang itu, Vera hanya tersenyum sambil memandangku, langsung saja aku cium bibirnya yang merekah tipis itu. Vera dengan hangat membalas ciumanku, sementara tangannya langsung saja sudah meremas kontolku. Ketika kuremas susu Vera, Vera malahan menyuruh aku membuka dusternya itu, ketika sudah kubuka, Vera langsung berjongkok dan mengulum kontolku itu. Kuluman Vera benar benar ganas, dijilatinya ujung kontolku serta dikulumnya kontolku sampai habis dan digigitnya pelan pelan.
Aku yang sebenarnya sudah kebal selama permainan dengan Evie tadi sekarang benar benar jadi keenakan. Cepat cepat kutarik kontolku dan kudorong Vera ketempat tidur untuk langsung kusetubuhi, Vera mandah saja ketika kudorong ketempat tidur, ketika kuturunkan celana dalam Vera, aku terperangah karena tidak seperti mertuaku atau seperti kakaknya, Vera sama sekali tak berjembut, nonoknya licin, persis seperti bayi, ketika kubuka liang nonoknya, itilnya yang merah itu kelihatan sudah membatu.
Aku langsung naik keatas tempat tidur dan kutindih Vera sambil mengarahkan kontolku keliang nonoknya itu. tetapi Vera merangkulku sambil berbisik “Roy, ngana masih perawan, masukan saja dipantat ya ” ! Aku terkejut lagi mendengar pengakuan Vera ini, Vera langsung mengganjal pantatnya dengan bantal sambil mengangkat kedua pahanya tinggi tinggi. Kulihat nonok Vera memang masih rapat seperti garis, tetapi lubang pantatnya yang justru agak menganga menanti coblosan kontolku. Langsung saja aku mendekatkan kontolku keantara kedua selangkangannya dan dengan tenang Vera menuntun kontolku kearah liang pantatnya itu. Ketika sudah tepat arahnya, Vera menepuk pundakku sementara matanya terpejam erat.
Dengan pelan pelan kudorong kontolku memasuki liang pantat Vera, terasa peret sekali dan agak sulit untuk maju. Kulihat Vera agak menyeringai merasakan desakan kontolku yang besar itu diliangnya, tetapi dia malahan menekan pantatku agar kontolku bisa masuk makin dalam. Dengan lancar akhirnya kontolku bisa masuk semuanya, tanpa menunggu dua kali aku langsung menggoyang pantatku mendayung Vera. Vera dengan sigap menarik kepalaku dan menciumi bibirku, dengan bibir yan bertautan aku terus merasakan kenikmatan pantat Vera yang seret itu.
Tanganku asyik meremas susu Vera yang montok dan kenyal itu dengan penuh nafsu. Rasa nikmat yang kudapat benar benar lain daripada yang lain, belum lagi rasa kuatir ketahuan oleh orang, karena sebenarnya aku kan diajak makan, menyebabkan nafsuku makin memuncak sehingga mendadak spermaku sudah menyemprot nyemprot dalam liang pantat Vera. Vera sendiri menggigit bibirku, rupanya dia juga mencapai kenikmatannya dengan hanya berciuman dan diremas remas susunya. Ketika aku sudah merasa lega, langsung aku cabut kontolku dan Vera sendiri langsung memakai dusternya serta lari keluar kamarku tanpa berkata apa apa lagi. Aku tertawa geli, tak kusangka bahwa seisi rumah ini dapat kulahap dalam sekali jalan. Andaikan saja Novie ikut, berarti aku sekaligus akan menyantap empat orang…
Cerita Dewasa , Cerita Seks , Sedarah , setengah baya , Umum
Subscribe to:
Comments (Atom)


.jpg)
