Saturday, July 26, 2014

BabySister Nikmat

Aku adalah seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang mampu di mana papaku sibuk dengan urusan kantornya dan mamaku sibuk dengan arisan dan belanja-belanja. Sementara aku dibesarkan oleh seorang baby sitter yang bernama Marni. Aku panggil dengan Mbak Marni.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 saat aku lulus SMP Swasta di Jakarta. Pada waktu itu aku dan kawan-kawanku main ke rumahku, sementara papa dan mama tidak ada di rumah. Adi, Dadang, Abe dan Aponk main ke rumahku, kami berlima sepakat untuk menonton VCD porno yang dibawa oleh Aponk, yang memang kakak iparnya mempunyai usaha penyewaan VCD di rumahnya. Aponk membawa 4 film porno dan kami serius menontonnya. Tanpa diduga Mbak Marni mengintip kami berlima yang sedang menonton, waktu itu usia Mbak Marni 28 tahun dan belum menikah, karena Mbak Marni sejak berumur 20 tahun telah menjadi baby sitterku.

Tanpa disadari aku ingin sekali melihat dan melakukan hal-hal seperti di dalam VCD porno yang kutonton bersama dengan teman-teman. Mbak Marni mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan tidak ketahuan oleh keempat temanku.
"Maaf yah, gue mau ke belakang dulu..."
"Ya... ya.. tapi tolong ditutup pintunya yah", jawab keempat temanku.
"Ya, nanti kututup rapat", jawabku.
Aku keluar kamarku dan mendapati Mbak Marni di samping pintuku dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Hmm.. hmmm, Mas Ton", Mbak Marni menegurku seraya membetulkan posisi berdirinya.
"Ada apa Mbak ngintip-ngintip Tonny dan kawan-kawan?" tanyaku keheranan.
Hatiku berbicara bahwa ini kesempatan untuk dapat melakukan segala hal yang tadi kutonton di VCD porno.

Perlahan-lahan kukunci kamarku dari luar kamar dan aku berpura-pura marah terhadap Mbak Marni.
"Mbak, apa-apaan sih ngintip-ngintip segala."
"Hmm.. hmmm, Mbak mau kasih minum untuk teman-teman Mas Tonny", jawabnya.
"Nanti aku bilangin papa dan mama loh, kalo Mbak Marni ngintipin Tonny", ancamku, sembari aku pergi turun ke bawah dan untungnya kamarku berada di lantai atas.
Mbak Marni mengikutiku ke bawah, sesampainya di bawah, "Mbak Marni, kamu ngintipin saya dan teman-teman itu maksudnya apa?" tanyaku.
"Mbak, ingin kasih minum teman-teman Mas Tonny."
"Kok, Mbak nggak membawa minuman ke atas", tanyaku dan memang Mbak Marni ke atas tanpa membawa minuman.
"Hmmm.. Hmmm.." ucap Mbak Marni mencari alasan yang lain.

Dengan kebingungan Mbak Marni mencari alasan yang lain dan tidak disadari olehnya, aku melihat dan membayangkan bentuk tubuh dan payudara Mbak Marni yang ranum dan seksi sekali. Dan aku memberanikan diri untuk melakukan permainan yang telah kutonton tadi.

"Sini Mbak"
"Lebih dekat lagi"
"Lebih dekat lagi dong.."
Mbak Marni mengikuti perintahku dan dirinya sudah dekat sekali denganku, terasa payudaranya yang ranum telah menyentuh dadaku yang naik turun oleh deruan nafsu. Aku duduk di meja makan sehingga Mbak Marni berada di selangkanganku.

"Mas Tonny mau apa", tanyanya.
"Mas, mau diapain Mbak", tanyanya, ketika aku memegang bahunya untuk didekatkan ke selangkanganku.
"Udah, jangan banyak tanya", jawabku sembari aku melingkari kakiku ke pinggulnya yang seksi.
"Jangan Mas.. jangan Mas Tonny", pintanya untuk menghentikanku membuka kancing baju baby sitterku.
"Jangan Mas Ton, jangan.. jangan.." tolaknya tanpa menampik tanganku yang membuka satu persatu kancing bajunya.

Sudah empat kancing kubuka dan aku melihat bukit kembar di hadapanku, putih mulus dan mancung terbungkus oleh BH yang berenda. Tanpa kuberi kesempatan lagi untuk mengelak, kupegang payudara Mbak Marni dengan kedua tanganku dan kupermainkan puting susunya yang berwarna coklat muda dan kemerah-merahan.

"Jangan.. jangaaan Mas Tonny"
"Akh.. akh... jangaaan, jangan Mas"
"Akh.. akh.. akh"
"Jangan.. Mas Tonnn"

Aku mendengar Mbak Marni mendesah-desah, aku langsung mengulum puting susunya yang belum pernah dipegang dan di kulum oleh seorang pria pun. Aku memasukkan seluruh buah dadanya yang ranum ke dalam mulutku sehingga terasa sesak dan penuh mulutku. "Okh.. okh.. Mas.. Mas Ton.. tangan ber.." tanpa mendengarkan kelanjutan dari desahan itu kumainkan puting susunya dengan gigiku, kugigit pelan-pelan. "Ohk.. ohk.. ohk.." desahan nafas Mbak Marni seperti lari 12 kilo meter. Kupegang tangan Mbak Marni untuk membuka celana dalamku dan memegang kemaluanku. Tanpa diberi aba-aba, Mbak Marni memegang kemaluanku dan melakukan gerakan mengocok dari ujung kemaluanku sampai pangkal kemaluan.

"Okh.. okh.. Mbak.. Mbaaak"
"Terusss.. sss.. Mbak"
"Masss.. Masss.. Tonnny, saya tidak kuat lagi"
Mendengar itu lalu aku turun dari meja makan dan kubawa Mbak Marni tiduran di bawah meja makan. Mbak Marni telentang di lantai dengan payudara yang menantang, tanpa kusia-siakan lagi kuberanikan untuk meraba selangkangan Mbak Marni. Aku singkapkan pakaiannya ke atas dan kuraba-raba, aku merasakan bahwa celana dalamnya sudah basah. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam CD-nya dan aku merasakan adanya bulu-bulu halus yang basah oleh cairan liang kewanitaannya.

"Mbak, dibuka yah celananya." Mbak Marni hanya mengangguk dua kali. Sebelum kubuka, aku mencoba memasukkan telunjukku ke dalam liang kewanitaannya. Jari telunjukku telah masuk separuhnya dan kugerakkan telunjukku seperti aku memanggil ******ku.

"Shs.. shss.. sh"
"Cepat dibuka", pinta Mbak Marni.
Kubuka celananya dan kulempar ke atas kursi makan, aku melihat kemaluannya yang masih orisinil dan belum terjamah serta bulu-bulu yang teratur rapi. Aku mulai teringat akan film VCD porno yang kutonton dan kudekatkan mulutku ke liang kewanitaannya. Perlahan-lahan kumainkan lidahnku di sekitar liang surganya, ada rasa asem-asem gurih di lidahku dan kuberanikan lidahku untuk memainkan bagian dalam liang kewanitaannya. Kutemukan adanya daging tumbuh seperti kutil di dalam liang kenikmatannya, kumainkan daging itu dengan lidahku.

"Masssh.. Masss.."
"Mbak mau kellluaaar..."
Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan "keluar", tetapi aku semakin giat memainkan daging tumbuh tersebut, tanpa kusadari ada cairan yang keluar dari liang kewanitaannya yang kurasakan di lidahku, kulihat liang kewanitaan Mbak Marni telah basah dengan campuran air liurku dan cairan liang kewanitaannya. Lalu aku merubah posisiku dengan berlutut dan kuarahkan batang kemaluanku ke lubang senggamanya, karena sejak tadi kemaluanku tegang. "Slepp.. slepp" Aku merasakan kehangatan luar biasa di kepala kemaluanku.

"Mass.. Masss pellannn donggg.." Kutekan lagi kemaluanku ke dalam liang surganya. "Sleep.. sleep" dan, "Heck.. heck", suara Mbak Marni tertahan saat kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. "Mass.. Masss.. pelaaan.." Nafsu birahiku telah sampai ke ubun-ubun dan aku tidak mendengar ucapan Mbak Marni. Maka kupercepat gerakanku. "Heck.. heck.. heck.. tolong.. tolllong Mass pelan-pelan" tak lama kemudian, "Mas Tonnny, Mbaaak keluaaar laaagi" Bersamaan dengan itu kurasakan desakan yang hebat dalam kepala kemaluanku yang telah disemprot oleh cairan kewanitaan Mbak Marni. Maka kutekan sekuat-kuatnya kemaluanku untuk masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni. Kudekap erat tubuh Mbak Marni sehingga agak tersengal-sengal, tak lama kemudian, "Croot.. crooot" spermaku masuk ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni.

Setelah Mbak Marni tiga kali keluar dan aku sudah keluar, Mbak Marni lemas di sampingku. Dalam keadaan lemas aku naik ke dadanya dan aku minta untuk dibersihkan kemaluanku dengan mulutnya. Dengan sigap Mbak Marni menuruti permintaanku. Sisa spermaku disedot oleh Mbak Marni sampai habis ke dalam mulutnya. Kami melakukan kira-kira selama tiga jam, tanpa kusadari teman-temanku teriak-teriak karena kunci pintu kamarku sewaktu aku keluar tadi. "Tonnny.. tolong bukain dong, pintunya" Maka cepat-cepat kuminta Mbak Marni menuju ke kamarnya untuk berpura-pura tidur dan aku naik ke atas membukakan pintu kamarku. Bertepatan dengan aku ke atas mamaku pulang naik taksi. Dan kuminta teman-temanku untuk makan oleh-oleh mamaku lalu kusuruh pulang.

Setelah seluruh temanku pulang dan mamaku istirahat di kamar menunggu papa pulang. Aku ke kamar Mbak Marni untuk meminta maaf, atas perlakuanku yang telah merenggut keperawanannya.
"Mbak, maafin Tonny yah!"
"Nggak apa-apa Mas Tonny, Mbak juga rela kok"
"Keperawanan Mbak lebih baik diambil sama kamu dari pada sama supir tetangga", jawab Mbak Marni. Dengan kerelaannya tersebut maka, kelakuanku makin hari makin manja terhadap baby sitterku yang merawatku semenjak usiaku sembilan tahun. Sejak kejadian itu kuminta Mbak Marni main berdiri, main di taman, main di tangga dan mandi bersama, Mbak Marni bersedia melakukannya.

Hingga suatu saat terjadi, bahwa Mbak Marni mengandung akibat perbuatanku dan aku ingat waktu itu aku kelas dua SMA. Papa dan mamaku memarahiku, karena hubunganku dengan Mbak Marni yang cantik wajahnya dan putih kulitnya. Aku dipisahkan dengan Mbak Marni, Mbak Marni dicarikan suami untuk menjadi bapak dari anakku tersebut.

Sekarang aku merindukan kebersamaanku dengan Mbak Marni, karena aku belum mendapatkan wanita yang cocok untukku. Itulah kisahku para pembaca, sekarang aku sudah bekerja di perusahaan ayahku sebagai salah satu pimpinan dan aku sedang mencari tahu ke mana Mbak Marni, baby sitterku tersayang dan bagaimana kabarnya Tonny kecilku.


T A M A T , , ,

Kenikmatan Yang Terganggu

Suatu hari, saat aku sedang online YM, ada seorang laki-laki yang mengajak ku berkenalan. Hari berganti hari, kami akhirnya menjadi teman dekat, saking dekatnya kami sudah seperti pacar saja. Karna kami sudah kenal lumayan lama, akhirnya kamipun merencakan kopdae hanya berdua saja. Laki-laki itu, sebut saja Tomi, mengajakku refreshing berendam di kolam pemandian air hangat disalah satu hotel yang berada di Garut. Ya, aku setujui saja. Toh aku juga memang butuh bersenang-senang.

Dihari sabtu yang cerah, aku akhirnya bertemu Tomi. Fisiknya memang mirip seperti diftonya. Tinggi sekitar 160cm, bb mungkin 45-50kg, kulitnya putih bersih, dan berwajah tampan.

Tomi ternyata laki-laki yang memang menyenangkan, dia banyak bercerita padaku kalau dia mempunya banyak pacar yang menjadi TKW, dia bilang sih itu dia lakukan sengaja, biar bisa bebas selingkuh dengan siapapun di real karna gakan ketauan oleh pacar-pacarnya yang menjadi TKW, dan bonusnya, Tomi bilang, dia selalu diberi duit oleh pacar-pacarnya itu. Aku sih cuex aja dengan prilaku dia yang seperti itu, ku fikir itu adalah gaya hidup dia.

Akhirnya kami berdua berangkatlah menuju Garut, tepatnya mencari hotel yang menyediakan kolam pemandian sendiri dan juga kamar yang mempunyai bathtub nya.
Didalam mobil, Tomi cerita banyk hal. Hmmm, dia memang laki-laki yang cerewet, tapi sangat menyenangkan. Aku yang termasuk pendiam, hanya lebih suka mendengarkannya.
Kurang lebih, 1 Jam dari tempat kami berangkat akhirnya kami menemukan penginapan yang sesuai harapan kami, ada kolam renangnya juga ada taman-tamannya. Kami menuju reseptionis untuk menyewa kamar, petugas nya mengantar kami menuju kamar yang akan kami tempati. Ternyata kamarnya berada dilantai 2, kamar kamipun mempunyai balkon yang pemandangannya langsung mengarah pada kolam renang dan taman dibawah.

Menyenangkan juga, fikirku.

Aku dan Tomi masuk ke dalam kamar. Kulihat sekeliling kamar. Setelah masuk kamar, aku langsung dihadapkan oleh pintu kamar mandi yang saling berhadapan dengan pintu masuk kamar. Mungkin jarak nya ada sekitar 6-7meteran. Lumayan luas kalau menurutku. Disebelah kiri pintu kamar mandi terdapat kaca yang lumayan panjang terpajang didinding yang menghadap langsung pada sebuah tempat tidur besar. Pintu kamar mandi itu ada dipojok sbelah kiri, dan kaca itu menempel pada dinding sebelah kirinya.

Tetapi, bila aku masuk kedalam kamar mandi, lalu kita melihat ke arah kaca yang memang brada disebelah pintu kamar mandi, maka kaca itu akan brada di sebelah kanan pintu kamar mandi, hampir berhadapan dengan pintu kamar mandi. Jika aku dari dalam kamar mandi melihat pada kaca itu, maka aku bisa melihat tempat tidur dari kaca itu.

Didalam kamar mandi, dipojok kiri, ada toilet duduk, dan dipojok sebelah kanan, ada bathtub yang lumayan besar. Bathtub ini bersebelahan dengan tempat tidur, hanya saja dipisah oleh sebuah dinding.

Aku keluar dari kamar mandi, dan melihat Tomi yang sedang menonton televisi yang terletak disebelah tempat tidur.
Aku ikut duduk disebelahnya. Tomi melirik.

"Suka kamarnya?" Tanya nya.
"Suka." Jawabku. "Apa kita menginap?" Lanjutku balik bertanya.
"Ya, kalau kamu mau, kita bisa menginap." Jawabnya sambil tersenyum.
"Oke." Kataku singkat.

Entah dari mana mulainya, aku dan Tomi sudah saling berciuman, Tomi ternyata type pencium yang lembut, sedangkan aku agak kasar, tapi aku ikuti permainan dia yang lembut. Lidah kami saling bergulat didalam mulut kami. Kami bertukar air liur. Tomi melanjutkan ciumannya pada leherku, ooghhhh salah 1 kelemahanku itu memang terdapat dileherku. Aku mendesah, geli bercampur nikmat.

"Ohhhh Tomm...." Desahku.

Tomi makin menjadi, dia melepaskan pakaianku dengan terburu-buru, sampai aku bugil. Lalu dia ciumi payudaraku, dia remas payudara sebelah kanan, dan menjilat payudara sebelah kiri. Rasanya, aku dibuat melayang olehnya, lidah dan bibirnya sangat lihai memainkan payudaraku. Bibirnya bergantian menyusu di payudaraku, kanan, kiri, kanan, kiri. Yang kubisa lakukan cuma mendesah dan sedikit teriak saat giginya menggit kecil puting payudaraku. Oghh rasanya sudah sangat tegang puting payudaraku.

Bosan dengan menyusu, Tomi akhirnya turun menjilati perutku, tak lama kemudian, dia melebarkan pahaku dengan tangannya, dijilatnya memek ku perlahan, uhhhh.. geli rasanya. Jilatan lidahnya dimemekku makin dia percepat, membuat ku makin menggelinjang.

"ughhh.... Tom, enaaakkk, iya Tommm... Itilnyaaaaa yang itu Toomm.. Jilatnya lebih kesitu ya Toooomm.. Oohhh terusss Tooommm..." Desahku makin tak terkontrol.

Tomi makin semangat menjilat memekku.
Karna sudah ga kuat kegelian, aku tarik kepalanya sampai sejajar dengan kepalaku, kucium bibirnya dengan buas, Tomi mungkin merasa sesak karna ciumanku, tapi aku tak peduli, kubalikkan tubuhnya, agar dia berada dibawahku, sambil terus kucium. Aku pun ikuti permainannya tadi, kucium lehernya, kucium kupingnya, ku hembuskan nafas pelan pada lubang telinganya. Tomi menjerit tertahan merasakan rangsangan yang kubuat.

Aku buka pakainnya sampai telanjang sepertiku. Ku teruskan ciuman dan jilatanku didadanya. Kujilat putingnya yang kecil, Tomi mendesah, ternyata dia sangat suka dengan jilatan didada. Aku makin semangat mendengar desahan Tomi. Ciumanku turun menuju perutnya, ku jilat udel nya, dan aku terus menuju kontolnya.
Kontol Tomi ternyata setandar Indonesia, ga besar ga panjang. Aku lalu jilati lubang pipis kontol Tomi. Dia medesah.

Kulihat wajahnya sambil tetap menjilati kepala kontol Tomi. Ternyata tomi memejamkan matanya, kepalanya sedikit menengadah, bibirnya terbuka sedikit. Ohh tampan dan menggairahkan sekali wajahnya.
Aku makin bersemangat menjilat kontolnya, ku masukan kontolnya kemulutku, kukenyot kontolnya, Tomi menjerit kecil tapi tetap terpejam. Ku jilat kontol Tomi saat berada didalam mulutku.

"Ohhh beee, terusssssssss..." Katanya.

Kukocok kontolnya memakai mulutku, terus ku keluar masukan didalam mulutku.
Tomi mendesah-desah kenikmatan.

"Beee... udah bee... aku udah ga tahaaann... Beee, langsung beee, masukin memek aja beeee.." Katanya memohon.

Berhubung memekku juga sudah berdenyut-denyut gatal pertanda ingin dimasukin kontol, akhirnya aku mengangkangi Tomi, ku arahkan kontolnya tepat dilubang memekku.
Dan bleesssss,,, ooohhhh... masuk tanpa halangan...

"Beeee, kocoookkkk..." Kata Tomi memerintah.

Akupun mulai menaik turunkan pantatku, kukocok kontol Tomi didalam memekku. Uughhh rasanya nikmaatt, memekku yang gatal karna dijilatnya tadi akhirnya serasa digaruk juga.

"Aaahhhh Toooomm... Nikmat Toomm kontollmuuu Tooommm." Desahku sambil terus mempercepat gerakan naik turun.
"Ya beee ja..ngaaaann berhentii yaaaa." Kata Tomi.

Saat sedang asik naik turun dikontol Tomi, Tomi tiba-tiba menyuruhku berhenti. Dia menyuruhku mengambil HP nya yang berada dimeja dekat dengan tubuhku yang sedang duduk di atas kontolnya.
Ku ambil HP itu, lalu ku berikan padanya,

"Ayo teruskan." Katanya.

Aku heran, buat apa dia memegang HP nya, apa mau direkam? fikirku. Ternyata aku salah.
Saat ku mulai menggoyang kontolnya lagi, kali ini aku maju dan mundurkan pinggulku, sekali-kali aku putar pinggulku sehingga kontolnya serasa masuk lebih dalam didalam memekku.

"Halo sayang." Ternyata, Tomi menelepon pacarnya.

"Sayang, maaf tlp mu ga aku angkat-angkat, aku lg sange nih, jd td aku lagi ngocok tp ga ngecrot-bgecrot, kamu temenin aku ngocok ya." Kata Tomi yang ditujukan pada pacarnya yang brada disebrang telepon. Ternyata sedari tadi, pacar Tomi telepon, tapi dia silent, dia sadar ada tlp saat dia melihat HPnya menyala kelap kelip.

"Hihihi..." Aku ketawa kecil.

Tomi menempelkan telunjuk tangannya pada bibirnya. Artinya dia menyuruhku jangan bersuara tetapi terus bergoyang.
Aku akhirnya senyum-senyum saja sambil terus memaju mundurkan pinggulku.

Ughhhh ternyata enak juga ya berfantasy dengan cwo yang lagi pura-pura ngeloco dan Phone Sex dengan cwe nya. Dikira si cwe, pasti lagi menikmati desahannya, padahal cwo nya emang lagi ngentod bareng aku. Hhahahha..

Tomi menloudspeaker suara hape nya. Terdengar suara seorang wanita mendesah-desah tak karuan.
Aku jadi kurang konsentrasi, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak saja.

"Ya sayaaanggg deaah teruss donkk, enak memekmu... sayaangg oohhh yaa memekmu hangat... saayangg, goyang terus sayaanggg...." Kata Tomi berbicara ditlp dengan pacarnya, padahal ditujukan untukku.
Aku yang sudah tak bisa konsentrasi langsung terdiam dan menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Menahan tertawa.

Dengan bahas tubuh, Tomi menyuruhku untuk terus bergoyang. Terpaksa ku lanjutkan lagi goyanganku. Kali ini aku naik turunkan lagi pantatku agar kontol Tomi keluar masuk dimemekku, ku hentakkan keras-keras dan cepat.
Oohhhh rasanya kembali nikmattt...

"Oohhh enaakk sayaangg,, aaahhhh yaa saayaangg enaakk... terusss... terusss.. mu ngecrroootttt... oohhhh goyaangg.. kuat yang kuaaaaaaaaaatttt..." Kata Tomi sambil sedikit teriak-teriak. Masih tetap mengarahkan suaranya pada telepon, dan terdengar suara desahan wanita disebrang telepon makin keras dan bersemangat.

Dengan menahan teriakan dan desahan, akhirnya aku klimax juga gara-gara mendengar desahan Tomi berbarengan dengan desahan wanita ditelepon itu. Tapo aku terus bergoyang agar Tomi segera mencapai klimaxnya.

"Oooohhhh... Haangaaattt saaayaaangggg.... muuachh.. muaachh.. cupp muaacchh.. Akuu.. nge.. ngeeeecrrooottttt..." Teriak Tomi sedikit tertahan, takut terdengar pengunjung kamar sebelah.

Aku lalu terdiam, masih duduk diatas kontol Tomi. Senyum simpul.

"Sayang, udah dulu ya, aku mau mandi. Muaachh.. muuaaachh.." Kata Tomi pada pacarnya di telepon. Lalu dia menutup teleponnya.

"Ahhahahahahahaaahaha..." Meledaklah tawaku
akhirnya.

Tomi segera terduduk dan mencium mesra bibirku, menghentikan tawaku.
Kami berciuman sebentar.

"Be, maaf ya tadi. Kalo ga gitu, tar transferannya untuk aku berhenti." Kata Tomi sambil memandangku.
Aku hanya balas dengan senyuman.

"Mandi yuk?" Katanya.
"Yuk." Jawabku.

Kami berdua akhirnya menuju kamar mandi.

Tomi masuk bathtub duluan. Bathtub itu spertinya bisa menampung 4 orang sekaligus. Tomi duduk dipojok sebelah kanan dekat tembok. Aku duduk dipojok sbelah kiri dekat pintu masuk kamar mandi.

Tomi menyuruhku menghampirinya, lalu aku duduk diatas lahunan dia. Tomi mencium bibirku dengan lembut. Kubalas ciumannya dengan lembut juga. Spertinya Tomi bukan mengajakku untuk meneruskan rounde ke 2, tapi dia hanya ingin bermesraan denganku. Saat kami sudah berhenti ciuman, tiba-tiba pandangan Tomi mengarah ke belakang ku. Dia sedikit terbengong. Lalu menyuruhku menyingkir dari lahunannya.

"Be, udahan yuk mandinya." Katanya.
"Kan belum pake sabun." Jawabku.
"Udah, ayo jangan lama-lama." Kata Tomi sambil cepat keluar kamar mandi.
Ih tu anak kenapa? Tiba-tiba aneh. Gerutuku.

Aku keluar kamar mandi. Kulihat Tomi sedang tiduran dengan berselimut tebal.

Dengan selimbut tebal yang disediakan pihak penginapan.
Kudekati dia, tidur disampingnya, dan masuk kedalam selimbutnya.
Dia menggigil ternyata.

"Kamu kenapa? Sakit?" Tanyaku.
"Engga." Jawabnya sambil memelukku erat.
"Terus kenapa?" Tanya ku lagi.
Dia tidak menjawab, tapi langsung menciumku, menindihku, dan bergumul di atas tubuhku. Tapi tiba-tiba di bangkit dan terduduk sambil melihat ke kaca dekat pintu kamar mandi. Aku coba ikuti pandangannya. Yang kulihat disana hanya ada bayangan ku, bayangan Tomi, dan sedikit bayangan dari dalam kamar mandi. Ku kernyitkan kening dan menatap Tomi. Tanda penasaran.
Tomi dengan tergesa-gesa memakai pakaiannya. Dia juga menyuruhku cepat-cepat memakai pakaianku.

"Kenapa?" Tanyaku. "Bukannya kita mau menginap?" Lanjutku.
"Sudah jangan banyak bertanya. Lakukan saja perintahku." Jawabnya sambil terus beres-beres.

Akhirnya aku dandia sudah kembali berpakaian lengkap. Aku masih terheran-heran dibuatnya.

"Udah beres? Yuk." Tomi berkata, mengajakku keluar kamar.
"Tom, ga ada yang ketinggalan kan?" tanyaku.
Tomi menggelengkan kepala.

Kami akhirnya keluar kamar. Melewati kamar sebelah yang pintunya sedang terbuka. Kulihat ada laki-laki yang sedang tiduran diranjang sambil menonton tv. Dia menatapku dan tersenyum menggoda.
Sebelum turun tangga, kulihat ada saklar ditembok kamar laki-laki itu. Dengan tampang tak berdosa aku memencetnya dengan tujuan ingin tahu apa fungsinya. Ceklek. Tiba-tiba terdengar teriakan didalam kamar tersebut.

"Wooyyyy listriknya jangan dimatiiinnn."

Aku buru-buru turun sambil menahan tawa. Dibawah, Tomi sudah menungguku masih dengan wajah yang tegang.

"Kenapa sih?" Tanyaku makin penasaran.
"Nanti aja ngobrolnya." Jawabnya.

Kami berjalan ke arah reseptionis dan mengobrol sebentar.
Lalu kami langsung menuju parkiran.

Didalam mobil yang melaju pulang, aku kembali menanyakan perihal keanehan kelakuan Tomi sewaktu tadi di kamar hotel. Tomi pun menjawabnya. Jawabannya membuatku kaget.

"Tadi, sewaktu kita sedang dibathtub, tiba-tiba aku melihat ada sesosok wanita dibelakangmu, dia berpakaian serba putih, dan matanya melotok ke arah kita. Matanya merah seperti digenangi darah. Lalu setelah kita tiduran dikasur, ku kira tu wanita bakal menghilang, ternyata dia masih ada saat tak sengaja aku melihat ke arah cermin, dan cermin itu memantulkan sosok cwe itu yang sedang melotot ke arah kita. Ku kira dia tak suka kita berada disana. Makanya aku mengajakmu cepat pulang." Kata Tomi panjang lebar.

" Hmmm, pantas saja tadi diluar dijendela, ada yang jalan ke arah pojokan, dan ga kembali lagi, padahal kamar kita kan paling ujung." Kataku. Memang, sempat aku melihat ada yang berjalan dibalkon depan kamar kami ke arah ujung tanpa balik lagi. Tapi aku tak memerdulikannya. Baru setelah Tomi cerita, aku teringat kalau kamar kami kan paling ujung. Jadi tu orang kalau ga balik lagi, berarti menghilang."

"Iya makanya itu. Kukira, pindah kamarpun gakan ada ngaruhnya. Mungkin mreka memang ga mau ada kita disana." Tomi berkata sambil bergidik.

Aku terdiam. Tomi pun ikut terdiam. Disepanjang jalan pulang, kami membisu.

@@@

Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca ceritaku.

Salam lendir.

, , ,

Friday, July 25, 2014

Mengintip Orangtuaku Bercinta

Perkenalkan dulu, namaku Tuti. Kisah ini aku tulis untuk blog ini. Maaf barangkali kisah ini tidak tersampaikan dalam bahasa yang bagus, karena aku tidak mempunyai pengalaman sedikitpun dalam hal tulis-menulis dan olah kata. Hee..heee.

Pada usiaku yang ke dua belas aku sama sekali belum mempunyai pengetahuan yang cukup ataupun pengalaman mengenai seks. Aku mempunyai pengalaman yang sebenarnya biasa saja, tetapi agak lucu, yaitu waktu aku pertama kali melihat bulu kemaluan seorang wanita.
Hal itu justru membuktikan betapa rendahnya pengetahuanku mengenai seks. Hal itu terjadi waktu istri kakakku sedang sakit dan harus mondok di rumah sakit, dan aku mendapat giliran untuk menjaganya. Waktu itu aku masih duduk di kelas satu SMA.

Pada saat mandi pagi, aku harus memandikan kakak iparku itu. Waktu selimut aku buka, aku sungguh terkejut melihat kemaluan kakak iparku bulunya tebal sekali, hitam dan keriting, sehingga kelihatan nyempluk sekali. Waktu itu kemaluanku belum ditumbuhi bulu, paling-paling satu dua dan masih tipis sekali. Waktu itu aku tidak membayangkan bahwa jembut bisa setebal itu. Kalau sekarang sih jembutku lebih tebal dari pada punya kakak iparku itu. Suamiku suka sekali ngelus-elus dan ngusek-usek jembutku dengan gemas.

Pada waktu aku duduk di bangku SMP aku mendapat pengalaman yang sangat membekas dalam hidupku. Walaupun aku sudah di bangku SMP tetapi aku masih sering tidur bersama ayah ibuku. Aku adalah anak kesayangan ayahku.

Aku biasa tidur-tiduran di tempat tidur ayah ibuku, dan suka lupa ketiduran sampai pagi. Biasanya aku tidak dibangunkan, tetapi ibu selalu tidur di sampingku. Ayahku menggelar tidur dengan kasur tipis di lantai kamar. Pada suatu malam aku ketiduran dan kamar orang tuaku. Pada tengah malam aku terbangun. Sebelum sadar betul, aku mendengar suara yang aneh. terdengar suara dengusan dan lenguhan seperti orang menahan atau tertindih sesuatu, serta bunyi cleep, cleep..
berulang-ulang.

Aku memperhatikan suara itu dengan memasang telingaku baik-baik. Suara itu datang dari bawah tempat tidur. Mendadak mataku jadi melek dan hilang kantukku. Aku tahu bahwa suara itu suara ibuku dan ayahku. Orang tuaku sedang bersetubuh. Aku jadi tidak berani bergerak, badanku panas-dingin, napasku tertahan-tahan. Selain suara lenguhan ibuku, juga terdengar suara ayahku mendesis-desis seperti orang kepedasan. sementara bunyi cleep, cleep nya makin cepat serta suara dengusan napas makin cepat pula. Terdengar suara lenguhan ibuku yang panjang dan bunyi cleep nya berhenti.

Bunyi napas juga berhenti. sepi. Nampaknya persetubuhan orang tuaku telah selesai. Kemudian terdengar suara gemerisik, mungkin sedang membetulkan pakaian atau selimut. Karena aku tidur miring membelakangi, jadi aku tidak melihat apa-apa kecuali suara yang mendebarkan itu. Kemudian terdengar pintu kamar dibuka. Siapa yang keluar aku tidak tahu. Tidak berapa lama terdengar suara orang masuk kamar dan kemudian seseorang membaringkan diri di belakangku. Ternyata ibuku. Keadaan sudah sepi.

Orang tuaku pasti mengira aku tidur nyenyak. Padahal aku sudah capek sekali karena tidak berani bergerak mengubah posisi tidurku. Setelah agak lama, aku aku berani membalikkan badanku. Setelah ibuku tertidur, aku bangun. Ayahku sudah tertidur di kasur di lantai kamar. Aku ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi aku tidak kembali ke kamar orang tuaku, tetapi langsung tidur di kamarku sendiri. Di kamarku aku tidak dapat tidur lagi. Terngiang-ngiang di telingaku, dengusan dan lenguhan ayah ibuku yang bersetubuh. Aku mengelus-elus kemaluanku yang berdenyut-denyut dan basah.

Sejak saat itu, aku kapok tidur di kamar orang tuaku. Tetapi keinginan untuk kembali mendengar atau bahkan ingin melihat lagi sangat sering mnggangguku. Kadang-kadang aku mengamati ibuku pada pagi hari mandi keramas atau tidak. Kalau mandi keramas aku menduga-duga pasti semalam habis bersetubuh. Kadang-kadang aku kepengin sekali untuk mengulangi pengalaman di kamar tidur ayah-ibuku malam itu. Aku mulai mencari akal untuk dapat mengintipnya. Kusen pintu di kamar tidur orang tuaku ada kisi-kisi untuk angin-angin. Pada waktu aku ada di rumah sendirian, aku mencoba membawa bangku bulat untuk berdiri di depan pintu dan mengintip ke dalam kamar. Dengan jelas aku dapat melihat langsung ke atas tempat tidur ayah-ibuku.

Dengan percobaan itu aku tinggal mencari waktu yang tepat untuk mengintip. Aku merasa ini pikiran sangat tidak waras alias gila banget. Masa aku pengin melihat orang tuaku sendiri bersetubuh. Apalagi aku seorang perempuan. Kalau ketahuan alangkah malunya dan mau ditaruh di mana mukaku ini. Akhirnya ide itu aku lupakan. Sampai suatu malam ketika kami hanya bertiga, ayah-ibuku dan aku yang berada di rumah. Dua orang kakakku sedang ada acara camping. Aku dan ayahku menonton TV sampai acara Dunia Dalam Berita pukul 21.00. Ibuku sudah masuk kamar sejak sore mungkin sedang capek. Mulai berita, ayahku berdiri dan masuk kamar tidur. Karena sendirian, aku jadi ngantuk juga, dan TV aku matikan. Di kamarku, aku tidak segera tertidur, malah pikiranku melayang-layang ingat persetubuhan orang tuaku. Ngantukku jadi hilang. Aku menduga-duga, jangan-jangan ayah-ibuku sekarang sedang bersetubuh.

Aku jadi pengin mencoba mengintipnya. Aku bangun dan ragu-ragu. Pelan-pelan aku keluar kamar. dengan hati-hati aku mengambil bangku dan menuju ke depan pintu kamar orang tuaku. Aku mendekat. Sepi. Mendadak terdengar tempat tidur berderit. Sepi lagi. Kemudian terdengar ketawa lirih ibuku. "Jangan. gelii.." Darahku tersirap. Berdebar-debar. Napasku sesak, tersengal-sengal. Ayah-ibuku sedang bercumbu. Kemudian terdengar suara gemerisik dan derit tempat tidur, sepertinya banyak gerakan di tempat tidur. Pasti ayah ibuku sudah mulai bersetubuh. Aku bimbang, mau ngintip apa tidak?. Terdengar lenguhan ibuku. Aku semakin ingin mengintip.

Dengan agak gemetaran aku naik ke bangku bulat. Walau dengan lampu kamar yang kecil, namun jelas terlihat aktivitas di atas tempat tidur. Aku lihat ayahku di atas ibuku. Pantatnya turun naik. Tangannya menyangga badannya dan kakinya di kanan-kiri paha ibuku. Tangan ibu di atas pantat ayahku yang turun naik dengan teratur. Kadang-kadang pantat ayahku ditekankan dalam-dalam ke pangkal paha ibuku. Pasti penis ayahku ditekannya dalam-dalam ke kemaluan ibuku sampai badan ayahku tegak bertahan pada telapak tangannya di kanan kiri dada ibuku. Tiba-tiba ayahku menekuk tangannya dan menciumi ibuku, sementara pantatnya tetap bergerak turun-naik. Tangan ibuku memeluk ayahku dan memegang kepala ayahku, meremas rambutnya. Buah dada ibuku kelihatan menyembul tergencet dada ayahku. Nampak ibuku kelihatan putih di tindih ayahku yang kulitnya agak gelap. Aduh kelihatan mesra sekali.

Tiba-tiba ayahku mengangkat badannya. Penisnya tercabut dari ibuku dan kelihatan panjang dan tegak mencuat. Ibu menelungkupkan badannya. Ayahku memasukkan kemaluannya dari belakang dan mulai maju-mundur meenggerakkan pantatnya. Ayah menciumi ibuku di lehernya dan telinganya dari belakang. Ibuku menoleh, dan bibir mereka berciuman, sementara penis ayahku teratur mengocok dari belakang. Aku tidak tahu itu berlangsung berapa lama, sampai ayahku mencabut penisnya yang tetap tegak berdiri dari pantat ibuku. Ibuku berbalik menelentang lagi. Ibuku kelihatan putih mulus dan buah dadanya menggunung indah sekali. Kaki ibuku di kangkangnya lebar-lebar.

Ayahku memasukkan lagi penisnya ke kemaluan ibuku. Kaki kiri ayahku berada di antara kedua kaki ibuku yag terbuka lebar, dan kaki kanan ayahku berada di luar kaki kiri ibuku. Ayahku tidak berada di atas ibuku tetapi berada di samping badan ibuku. sehingga yang menindih hanya pangkal penis ayahku. Ayahku menekan penisnya dalam-dalam dengan penuh semangat, dan kedua tangan ibu memegang dan menekan pantat ayahku. Ibu mengeliat-geliat, kepalanya menengadah dan terdengar desis dan rintihannya. Kaki kanannya ditekuk ke atas dan mengangkat pantatnya menyambut coblosan ayahku. Mendadak ayahku menggeser badannya dan menindih ibuku.

Kaki ibu dirapatkan dan kaki ayahku menjepit kedua paha ibuku. Ayah ibu saling merangkul. Ayahku semakin cepat mencoblos ibuku dan rintihan ibuku makin jelas terdengar. Tiba-tiba coblosan ayah berhenti dan kelihatan otot pantatnya mengempis karena menekan penisnya dalam-dalam ke ibuku. Ayah ibu saling merangkul kuat-kuat. Tidak berapa lama ayah mencabut penisnya dan berbaring di samping ibuku. Penisnya masih keihatan berdiri. Persetubuhan itu telah selesai.

Cepat-cepat aku turun dari bangku, mengembalikan bangku di tempatnya, dan kembali ke kamarku. Napasku sudah teratur lagi. Sambil berbaring aku berpikir, aku benar-benar anak durhaka dan berdosa. Masa mengintip ayah ibunya sendiri bersetubuh. Saat itu aku benar-benar merasa malu pada diriku sendiri. Pengalaman malam itu sungguh luar biasa. Saat itu aku berjanji pada diriku untuk tidak mengulangi lagi. Tetapi kenyataannya aku pernah mengintipnya lagi. Walaupun sudah 50 tahunan ayah ibuku masih tetap hebat dalam bercinta. Memang ibuku masih cantik dan badannya mulus sekali, dan juga penuh semangat. Ayahku sih jangan tanya. Ngganteng deh. Aku bangga sekali kalau jalan-jalan sama ayahku. Teman-temanku sering meledek bahwa ayahku pantas jadi pacarku. Aku bangga sekali. Dengan pengalaman itu pula aku berjanji apabila aku sudah punya suami dan anaknya sudah besar, tidak akan kulakukan persetubuhan dengan sembrono.

Kamar harus benar-benar aman. Sangat berbahaya. Aku sendiri setelah bersuami juga merasakan sendiri, kalau sudah keenakan bersetubuh jadi lupa dan tidak peduli apapun kecuali menikmati persetubuhan kami. Tidak terasa aku melenguh, merintih yang kadang-kadang cukup keras. Tanpa sadar aku memanggil dan membisikkan nama suamiku atau suamiku menyebut namaku, biasanya pada waktu mau ejakulasi. Pengalaman mengintip ayah-ibuku itu tidak pernah aku katakan kepada suamiku dan menjadi rahasiaku sendiri. (Tapi malah aku katakan kepada anda hee hee...).

TAMAT
, , ,

Percintaan Dengan ABG Amoy

Namaku Yudi, umurku 29 tahun. Aku dari lahir sampai sekarang tinggal di Bandung. Dulu aku kuliah di universitas swasta terkenal di Bandung Utara. Sekarang aku kerja di salah satu pabrik garment di daerah Bandung Barat. Posisiku sebagai Manager Produksi, jadi ya mengurusi produksi melulu. Sebagai level manager, aku bersyukur aku diberi fasilitas yang kupikir lebih dari cukup (soalnya dari dulu aku biasa diajarkan hidup sederhana, walaupun bapakku tidak begitu miskin).

Bos memberiku mobil Lancer Evo IV, rumah beserta isinya, HP dan sebagainya. Makanya aku betah-betahin kerja di pabrik itu. Aku kerja di pabrik itu kira-kira hampir 2 tahun sampai sekarang. Produksi garment ini lumayan terkenal di Indonesia, kebetulan juga produknya di ekspor ke mancanegara.
Sebagai seorang laki-laki, kadang-kadang aku berpikir bahwa suatu saat nanti aku perlu pendamping. Tapi kadang-kadang juga aku malas berhubungan dengan cewek. Soalnya sudah 2 kali aku putus dengan cewekku. Dua-duanya Chinese. Alasannya klasik, nggak ada perhatian lagi. Ya sudah aku terima saja, mungkin ini takdirku mesti begini.

Suatu ketika salah satu mesin pabrik rusak. Padahal jika mesin mati satu, target produksi pasti bakal tidak terpenuhi. Biasanya sih ada di bagian divisi pembelian CQ bagian gudang, cuma tidak tahu kenapa stock spare part mesin itu tidak ada di gudang spare part. Aneh kupikir. Akhirnya aku minta staf divisi pembelian untuk order spare mesin ke supplier langganan pabrikku. Pokoknya kubilang, besok siang spare part itu harus sudah ada.

Walaupun pihak supplier belum bisa mengatakan sanggup, soalnya barang itu mesti pesan dulu ke Jepang. Biasanya paling cepat satu minggu. Karena aku tidak sabar, akhirnya kutelepon ke suppliernya. Padahal ini bukan wewenangku secara langsung, tapi kupikir ini inisiatifku sendiri. Di telepon aku minta, itu barang harus bisa datang paling lambat 2 hari (nggak masuk akal kupikir!). Waktu itu yang menerima cewek (wah suaranya oke punya!), tapi waktu itu aku tidak peduli mau cewek, mau cowok pokoknya yang ada dalam pikiranku barang itu harus ada secepatnya. Maklum ini untuk order ekspor. Besoknya kutelepon lagi, yang mengangkat cewek (yang kemarin kali ya?). Terus kubilang kapan kepastiannya, dia bilang lusa barang dijamin ada. Oke kupikir.

Lusanya memang barangnya sudah sampai di pabrikku. Waktu itu barang diantarnya pagi sekitar jam 10.30. Mesin yang rusak disetting ulang oleh bagian Maintenance/Montir. Jam 12.30 aku istirahat dulu sambil makan siang bersama dengan manager lainnya. Setelah makan siang, aku iseng-iseng telepon ke tempat supplier, siapa tahu yang mengangkat cewek itu. Biasa, namanya juga laki-laki. Ternyata cita-citaku tercapai, yang mengangkat ternyata dia. Singkatnya akhirnya aku tahu nama cewek itu.

Namanya Vera. Feelingku mengatakan, pasti Vera orangnya cantik. Akhirnya lama-lama aku jadi sering menelepon Vera. Biasanya sih saat waktu istirahat. Bla.. bla… bla…. ternyata Vera satu almamater denganku cuma beda fakultas, dan wisudanya juga bersamaan denganku. Tapi kan dulu, aku tidak tahu. Oh iya, ternyata juga dia memberi tahu kepadaku bahwa dia itu Chinese, dan aku juga kasih tahu dengan dia bahwa aku orang pribumi.

Hampir sebulan aku hanya saling menelepon dengan dia, seringnya sih di kantor. Selama ada fasilitas kantor kumanfaatkan saja. Akhirnya aku punya inisiatif buat mengajak dia ketemu denganku. Daripada ngobrol ngalor ngidul tidak karuan. Tadinya sih dia tidak mau, takut mengecewakan kali ya? Ah, kalau aku sih PD saja lagi. Aku juga nggak jelek-jelek amat sih. Setelah aku melobi dia, kutetapkan hari dan tanggalnya, kalau tidak salah tanggal 18 September 1999. Di hari H-nya kujemput dia jam 5 sore, soalnya dia pulang kerja jam 5 sore.

Waktu itu aku ijin pulang jam 4 sore ke Factory Managerku, alasannya keperluan keluarga. Sebelumnya kutelepon dulu ke kantor Vera, kujemput dia pakai mobil Lancer Evo IV D 234 XX silver smoke. Biar dia tidak kebingungan mencariku. Aku juga diberi tahu juga alamat kantornya. Akhirnya aku masuk ke pelataran parkir kantor Vera di daerah Kopo. Kulihat satu persatu karyawan yang bubaran, maklum kompleks Ruko. Kuparkir mobilku tepat di mulut pintu PT X, tapi jaraknya dari pintu sekitar 15 meter. Akhirnya aku melihat tinggal cewek sendirian lumayan cantik melihat mobil yang warnanya silver smoke. Kupikir itu pasti Vera. Aku juga bingung mau ngapain, turun atau diam di mobil saja. Norak sekali aku nih! Bodohnya keluar. Habis aku belum pernah kenalan dengan cara begini. Ah… lebih baik aku samperin saja.

Astaga, cantik sekali si Vera. Asli cantik sekali! aku nggak bohong. Kulitnya putih (khas Chinese), tingginya kira-kira 165 cm, cukup tinggi untuk ukuran cewek, rambutnya pendek di atas bahu, warna rambutnya hitam kecoklat-coklatan, matanya juga coklat, wah… seksi sekali, dia memaakai stelan blazer merah, dan bawahannya dia pakai celana panjang, dengan juga warnanya (satu stel deh pokoknya). Kontras dengan warna kulitnya yang putih. Umurnya beda setahun di bawahku. Ukuran yang lainnya seperti BH ukurannya 38B. Lumayan besar. Terus bagian pantatnya lumayan sekal dan besar kenyal.

“Hai…” kataku.
“Yudi ya?” katanya sambil salaman denganku.
“Iya…” kataku lagi.
“Ke mobil aja yuk… ” kataku lagi.
Akhirnya kami berdua masuk ke mobil. Kutanya dia sekarang mau ke mana? waktu itu sekitar jam 17.15-an. Ternyata kalau sudah ketemu pada diam-diaman, padahal kalau kami ngobrol via telepon seperti yang sudah kenal belasan tahun.

Selama perjalanan aku nggak mengerti mau ngapain, wangi parfumnya membuat aku mabok. Yang akhirnya kutahu dia pakai parfum produk Lancome. Sepertinya ini anak high class kalau tidak mau dibilang jet set. Dari awalnya kenalan aku tidak pernah untuk ngeseks dengan Vera. Ah.. sayang sekali kalau belum-belum aku sudah nakal, bisa-bisa dia mabur duluan. Akhirnya kuarahkan mobilku ke arah Jl. Setiabudi terus belok kiri, sampailah aku di cafe “The Peak”.

Cafe mewah kawasan elite Bandung Utara. Lumayan mahal untuk ukuranku. Tapi aku belagu saja, seperti yang sudah sering ke situ. Pokoknya aku ngobrol dengan dia sambil berhadap-hadapan, sesekali aku melihat pemandangan kota Bandung yang sudah mulai dihiasi lampu-lampu. Asyik sekali, ini mungkin yang bikin cafe ini mahal. Kata teman-temanku cafe ini mahal karena “beli suasana”. Di situ aku ngobrol-ngobrol sampai jam 20.30. Senyumnya itu lho, bikin dia semakin cantik saja.

Akhirnya kuantarkan Vera pulang, rumahnya di kompleks perumahan elit di jalan Sukarno-Hatta (By Pass), biasanya yang menempati orang-orang Chinese kaya raya. Kaget juga sih aku, ternyata Vera anak orang kaya. Sampai juga aku di depan rumahnya. Astaga, rumahnya besar sekali. Kulihat mobil yang parkir di halaman rumahnya, BMW 528i. Katanya sih punya kakaknya. Pasti di garasinya ada lagi mobil bapaknya, dan benar yang di dalam garasi mobil bapaknya. Mercedes SL 500 (?), tipe yang dipakai Lady Di waktu kecelakaan dulu, kalau kupikir sih mobil yang seperti itu masih sedikit yang berkeliaran di Bandung.

Sesudah mengantar Vera, aku akhirnya pulang ke rumah inventarisku di bilangan Setra Duta. Sambil pulang aku berpikir, aku punya resiko besar buat pacaran dengan Vera. Resiko yang paling tinggi adalah ras. Kalau orangtuanya tahu, si Vera bergaul denganku yang notabene pribumi asli. Wah bisa celaka aku. Ah… cuek saja. Gimana nanti. Pokoknya the show must go on!

Besoknya, pagi-pagi dari kantor kutelepon ke kantor dia, yah.. buat say hello. Ternyata responnya positif. Tadinya sih takut dia kecewa setelah melihatku, atau dia yang berpikir begitu. Nggak tahu sih aku juga. Akhirnya aku jadi sering jalan dengan Vera. Jalan-jalan. Biasanya sih hari minggu, habisnya kalau hari biasa aku dan dia juga tidak selalu bisa. Oh iya, hari Sabtu aku dan dia nggak libur. Apalagi aku harus sering lembur.

Semakin aku sering ketemu dengan dia, aku jadi sayang dengan Vera, dan Vera juga begitu. Aku tahu Vera sayang denganku, soalnya dia juga bilang kok ke aku. Aku bertekad untuk menjadi pacarnya. Tapi ini semua hanya impianku. Suatu hari Vera bilang kepadaku, bahwa dia sudah cerita tentangku ke bapaknya dan ibunya. Dan sudah bisa kuduga sebelumnya, aku tidak diperkenankan berhubungan dengan dia lagi. Benar, kejadian deh. Waktu itu aku protes dengan Vera, cuma akhirnya aku juga mesti mengerti sama dia dan keluarganya juga.

Tapi aku salut dengan keberanian Vera untuk tetap berhubungan denganku. Dia tidak mau mengecewakanku. Dan itu memang terjadi selama kurang lebih 7-8 bulanan, istilahnya sih backstreet. Hari minggu kuajak jalan Vera, dan ternyata dia tidak menolak. Aku jemput dia di rumahnya, kebetulan orangtuanya sedang ke Jakarta, yang ada cuma kakaknya dengan pembantunya. Aku pergi makan siang di Miyazaki Dago. Pokoknya di situ kami ngobrol lagi. Aku tidak ingat apa yang kita bicarakan saat itu. Setelah bayar, kami langsung pergi. Aku bingung, mau dibawa ke mana ini anak. Akhirnya kutawarkan ke Vera main ke rumah inventarisku. Sesudah sampai kami langsung duduk di sofa, di ruang tengah, nonton film di RCTI, habis kalau VCD terus bosan. Kami duduk dekat banget. Aku duduk di sebelah kanan Vera. Kupegang tangannya dan kuelus sampai pangkal lengannya, sambil aku pura-pura nonton film. Ternyata dia diam saja.

Akhirnya kuberanikan diri untuk mencium pipi kanannya. Kupikir kalau dia keberatan paling-paling menamparku. Itu resikoku. Tapi sekali lagi dia hanya diam dan dengan matanya yang coklat menatapku penuh arti, yang artinya aku juga nggak tahu. Ingin dicium lagi kali, he he he. Kucium pipi kirinya, dan dia juga menciumku. Terus kucium dahinya, matanya, hidungnya dan terus ke bibirnya. Aku senang juga soalnya dia bilang bibirnya masih perawan, belum pernah dicium oleh laki-laki lain selain olehku barusan (aku percaya saja).

Lama-lama kulumat juga bibirnya, lidahku kumasukkan ke mulutnya dengan setengah memaksa. Mungkin benar kalau dia belum berpengalaman. Lidahku dengan lidah Vera mulai bersentuhan, kuhisap lidahnya dan dia juga gantian menghisap. Habis itu bibir bagian bawahnya kukulum habis-habisan dan di saat yang bersamaan Vera juga mulai mengulum bibirku di bagian atas. Kami melakukan kegiatan itu kira-kira 1/2 jam. Lama juga. Sesudah itu aku mulai mencium sambil menjilat lehernya yang putih bersih dan merangsang tentunya. Pokoknya aku melakukannya dengan sangat pelan, biar dia juga lebih menikmati. Dan kebetulan dia memakai kemeja. Sampai akhirnya kucium di bagian bawah lehernya, ingin lebih bawah lagi sih. Cuma mentok di kancing bajunya. Terus kubuka kancing yang mengganggu itu, dia tidak menolak. Kuciumi lagi, sejak tadi tanganku belum bergerilya, paling memegang tangannya. Aku tipe laki-laki sopan sih, nggak langsung tancap gas.

Dia hanya merem saja menikmati ciumanku sambil kadang-kadang mendesah, keenakan barangkali. Akhirnya semua kancing bajunya sudah kulepas, dia memakai BH warna cream (warna standard). Kulit perutnya putih sekali, bikin aku panas saja. Waktu itu BH-nya belum kubuka, seksi sekali dia dalam keadaan begini. Susunya tidak terlalu besar, menurutku sih cukup proporsional. Pas deh. Ukurannya aku tidak tahu, peduli amat. Yang penting masih bisa diremas.

“Ver…, kulepas ya…” kataku pelan-pelan, persis di samping telinganya. Dia tidak menjawab, cuma mengangguk. Matanya yang sayu menatapku. Akhirnya begitu sudah kulepas BH-nya, kuciumi puting susunya yang berwarna merah kecoklatan. Aku ciumi puting yang sebelah kiri, sambil tangan kananku meremas dengan lembut susunya yang sebelah kanan, tidak lupa kupilin-milin puting susunya. Kulakukan ini bergantian, susu yang kiri dan yang kanan. Kadang sesekali kulumat bibirnya. Ternyata, dia membalas dengan dahsyat. Padahal baru pertama kali. Desahannya semakin menjadi-jadi, merangsang sekali! Kembali lagi kuciumi susunya sambil terus ke bawah, ke perutnya, di situ kucupang habis-habisan. Banyak sekali stempel warna merah yang kubuat, kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih bersih. Karena tempat di sofa kurang lebar, akhirnya kuminta dia pindah ke karpet/permadani di bawah. Lebih lega dan lebih nyaman. Terus kuciumi lagi bibirnya, dia juga balas lebih gila lagi. Wah, muridku sudah pintar nih he.. he.. he.

Waktu itu aku masih memakai pakaian lengkap, aku memakai Polo Shirt. Sedangkan Vera sudah telanjang dada. Jadi ya biar adil akupun telanjang dada. Aku juga tidak malu karena tubuhku lumayan atletis, hasil fitnes selama setahun. Habis itu kuciumi lagi bibirnya, aku menelusuri ke leher, ke pundaknya, pokoknya tidak semili pun yang lolos dari jilatan dan ciumanku. Terus kuciumi lagi puting susunya, sambil kuremas-remas. Semakin diciumi, nafasnya semakin tidak beraturan, sambil aku sekali-sekali melihat ke arah dia, mukanya jadi merah sekali (seperti orang Jepang di musim salju) bibirnya juga yang agak membuka, seksi sekali. Benar lho, aku tidak mengarang!

Puas menciumi susunya, terus aku turun ke perutnya. Yah, mentok di celana jeans-nya. Kubuka saja, pasti dia tidak akan menolak kok. PD pokoknya. Akhirnya kancingnya kubuka, terus ritsluitingnya kubuka sampai habis. CD-nya sudah kelihatan sebagian, tipis, warnanya cream juga. Kuciumi pinggangnya, sambil jeans-nya kutarik pelan-pelan ke bawah. Mengerti juga dia, sambil mengangkat pantatnya, akhirnya kulucuti celananya. Pahanya itu, membuat laki-laki terangsang melihatnya. Apalagi sekarang si Vera cuma pakai CD saja.

Busyet deh! Bulu kemaluannya tidak terlalu lebat, tipis-tipis saja tuh, pokoknya nikmat dilihat. Kuciumi di atas CD-nya, terus akhirnya semakin ke bawah. CD-nya sudah basah sekali. Kuciumi vaginanya, dia masih memakai CD. Sengaja aku tidak langsung melepasnya, sensasinya lain. Pokoknya slowly saja. Akhirnya kulepas juga CD-nya, si Vera sendiri sejak tadi cuma mendesah-desah tidak karuan, tapi nggak dibuat-buat lho. Begitu dilepas, langsung saja kuciumi dan jilati vaginanya, baunya khas dan rasanya gitu-gitu juga. Penisku sudah tegang sekali, terus kubuka saja jeans-ku. Aku ragu juga sih, apa dia mau kusetubuhi. Tapi akhirnya aku minta persetujuannya dulu. Walaupun ini semua tanpa proses oral. Bagiku tidak jadi masalah, lebih nikmat main saja langsung.

“Ver… masukin?” kataku deg-degan. Kalau ditolakkan malu juga. Ternyata dia mau juga. Wah asyik juga nih. Aku akhirnya bisa main dengan si Vera yang cantik. Padahal tadinya sih saya tidak bernah berpikr ke arah situ. Paling maksimal petting, seperti mantan-mantanku yang dulu. Akhirnya pelan-pelan pahanya kukangkangin, dan penisku yang sejak tadi sudah tegang sekali mulai memasuki vaginanya. Susah sekali, masih perawan kupikir. Pelan-pelan dan sedikit-sedikit kutekan kepala penisku, terus dan terus…. “Ahh…. sakit Yud….” kata Vera antara setengah sadar dan tidak kepadaku.

Akhirnya masuk juga seluruh batang penisku yang panjangnya sekitar 17 cm (lumayan lah untuk ukuran standard orang Indonesia). Terus kukocok penis ke dalam vagina si Vera, nikmat sekali vagina si Vera. Sambil kukocok terus, kuciumi bibirnya, of course dia juga membalas menciumku dengan sangat ganas. Sepertinya kulihat Vera sudah mau orgasme, sambil terus menyebut namaku.

“Tahan ya Ver, aku juga udah mau keluar”, kataku. Kira-kira setelah menyetubuhinya sekitar 15 menit. Lama-lama si Vera sudah tidak tahan, aku juga sudah tidak tahan. Spermaku sudah siap menembak. Kuambil keputusan yang singkat waktu itu, kubuang saja ke dalam vaginanya. Paling-paling juga hamil. Yang ternyata tidak! Akhirnya aku dan Vera sama-sama sampai klimaksnya, barengan lho. Sensasinya benar-benar tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Aku langsung dekap tubuhnya, kucium bibirnya, mesra sekali. Penisku sengaja belum kucabut, kubiarkan saja mengecil sendiri di dalam vaginanya.

Aku bisikan di telinga Vera, “Wo ai ni, Ver…” kataku sok Mandarin. Vera hanya tersenyum sambil mencium bibirku. Aduh mesra sekali. Sambil menulis ini aku jadi ingat kejadian itu. Sesudah itu aku dan Vera beres-beres. Kulihat acara di RCTI acaranya waktu itu Clear Top 10, wah lama juga aku bercinta dengan dia.

Kejadian ini berlangsung terus sampai kira-kira 5 kali di tempat yang sama. Orang tua Vera tidak tahu terhadap perbuatan anaknya. Maklum, Vera membohongi terus, demi kepingin ketemu aku atau mungkin juga ingin ML denganku. Walaupun aku telah merawaninya hari Minggu itu, tapi hubungan kami belum bisa dianggap sebagai pacaran. Kalau aku sih menganggap dia pacarku, tapi dia masih belum menganggapku pacarnya, takut sama orangtuanya. Kupikir Vera itu HTI (Hanya Teman Intim / Hubungan Tanpa Ikatan).

Pembaca, akhirnya suatu waktu di akhir bulan April 2000, Vera bicara kepadaku, bahwa dia capai dengan keadaan ini. Mesti membohongi orangtuanya, kalau pergi denganku juga tidak tentram, takut ketahuan saudaranya kalau sedang jalan-jalan denganku. Waktu itu aku belum bisa menerima, dan aku protes. Dia bilang, sebenarnya dia sayang sekali padaku, tidak mau kehilangan aku, tidak mau meninggalkan aku, aku yang pertama buat dia… tapi dia tidak sanggup menghadapi semua ini. Yang jelas lingkungan dia dan lingkungan pergaulanku lain. Ternyata semua tinggal kenangan. Aku tidak pernah menyinggung soal keperawanan dia, nggak etis.

Sampai sekarang aku masih sayang pada Vera, aku tidak akan pernah melupakan dia dan Vera juga bilang padaku, dia tidak akan pernah melupakanku dan dia tidak ingin dilupakan olehku. Terakhir, dia memberiku Compact Disc album Shania Twain, Vera bilang dengerin “You’re Still The One” dan jam tangan merek Omega Sport (aku tahu ini jam mahal). Iklannya kalau tidak salah Mika Hakkinen atau Michael Schumacher ya, aku lupa, cuma aku pernah lihat. “Yud, pakai ya! ke manapun kamu pergi, biar ingat dengan Vera”, kata dia sambil mencium bibirku, untuk yang terakhir kalinya. Matanya basah, aku yakin dia sayang sekali padaku.

Dia baik sekali denganku, perhatian sama aku, kalau mau aku bandingkan dengan 2 cewekku terdahulu. Cuma sayang kami berdua dipisahkan oleh ras yang berbeda. Dia meninggalkanku karena kondisi yang memaksa. Sampai sekarang kalau aku kerja, aku selalu memakai jam itu, kadang-kadang aku ingin telepon dia, yah cuma ingin tanya kabarnya. Cuma aku takut ini mengganggu dia. Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya di kantornya di bilangan Ruko Kopo. , , ,

Hukuman Bagi Guru Muda

Perkenalkan namaku Tommy, aku sekarang sedang sekolah ternama di Ibukota negara ini. Orang tuaku adalah orang terkaya di negeri ini. Bahkan sekolah tempat aku belajar dimiliki oleh orang tuaku, yang kemudian diberikan pada aku. Sehingga aku adalah pemilik sekolah ini.

Sekolah ini mempunyai banyak sekali murid-murid, terutama dari orang-orang kaya. Orang tua mereka sangat senang mengingingkan anak mereka untuk sekolah di sini. Mereka ingin agar anak mereka kenal dengan aku, dengan harapan posisi mereka atau usaha mereka dapat terus berkembang, dengan bantuan aku.

Banyak sekali teman-teman aku, yang sangat baik dengan aku, mereka ingin agar jabatan orang tua mereka dapat naik pangkat, atau usaha orang tua mereka dapat
berkembang terus. Banyak sekali siswi-siswi yang sengaja yang mendekatiku agar keluarga mereka dapat ditingkatkan perekonomiannya. Banyak siswi yang sengaja mengajakku tidur, tentu saja aku hanya memilih yang cantik-cantik saja. Dan setiap kali mereka tidur dengan aku, keesokkan harinya orang tuanya naik jabatan.

Tahun Ajaran Baru
Hari ini adalah adalah hari pertama sekolah, kini aku sudah kelas 3 IPA. Banyak sekali siswi-siswi baru, yang baru masuk kelas 1. Aku mengincar mereka siapa tahu ada yang cantik dan seksi.

Aku melihat ada siswi cantik yang bernama Heni, langsung saja aku coba mendekatinya.

"Heni.. dipanggil oleh Tommy", temanku Ken berkata pada Heni.

"Oh Tommy pemilik sekolah ini yah", Heni menjawab dengan senang.
Tentu saja ia senang karena itulah tujuan dia sekolah disini.

Pada jam istirahat, aku memanggil Heni ke sebuah ruangan kosong. Disana aku merayu Heni, dan mencoba berkenalan dengan dia. Dan akhirnya aku mencoba mencium dia.

"Tommy..", balas Heni sambil menciumku juga.

Aku mencoba memasukkan tanganku kedalam baju dia. Astaga susunya kenyal sekali, rasanya tanganku seperti memegang karet saja, kenyal sekali. Aku meremas - remas susunya.

"Ahh..", desah Heni.

Tiba-tiba pintu terbuka, aku menengok dan melihat guru baru.
"Hei apa yang kalian lakukan, cepat kembali ke kelas", teriak guru tersebut.
Astaga baru kali ini ada yang memarahi aku, guru tersebut tidak mengetahui posisiku di sekolah ini, bahwa aku sebagai raja di sekolah ini. Dengan rasa dongkol aku kembali ke kelas.

Aku memberitahu Ken temanku agar menghukum guru tersebut. Kemudian Ken menghubungi Kepala Sekolah agar mereka bertemu. Kemudian Kepala Sekolah, Ken dan guru tersebut yang bernama Cindy bertemu. Kepala Sekolah menyampaikan bahwa tidak ada yang boleh mengganggu Tommy di sekolah, dan guru tersebut harus dihukum. Jika tidak mau dihukum, maka keluarga Cindy akan dihancurkan perekonomiannya, mereka akan menjadi gelandangan. Cindy yang baru berumur 18 tahun dan sedang kuliah Kedokteran dan menjadi guru honorer di sekolah ini dengan terpaksa menyetujuinya.

Hukuman Hari PertamaHari ini adalah hukuman untuk guru cantik bernama Cindy. Pada jam pertama ini, aku belajar biologi diajar oleh Cindy. Ketika ia masuk, Ken memberitahu bahwa ia harus mengajar tanpa pakaian. Tadinya ia tidak mau dan ingin keluar dari sekolah ini, tapi karena diancam keluarganya akan menjadi gelandangan ini mau menuruti. Dengan berurai air mata, ia melepas blazer dan roknya. Terlihat bahwa tubuhnya dengan tinggi 166 cm dan berat 47 kg, mempunyai kulit yang putih sekali.

"Bu Cindy, lepas BH dan Celana dalamnya", teriak Ken.

Dengan ragu-ragu ia melepas BH yang berukuran 34B dan celananya, terlihat ia memiliki susu yang tidak terlalu besar tetapi putih sekali dan rambut kemaluan yang hitam tapi tidak terlalu lebat.

Dengan malu-malu ia mengajar kami selama 2 jam pelajaran dengan bugil. Tentu saja perhatian anak-anak cowok tidak pada pelajarannya, tetapi mengaggumi tubuh bugilnya. Cindy mengajar dengan kacau balau, sambil menerangkan ia mencoba menutupi tubuhnya, tentu saja tidak bisa, karena ia harus mencatat di papan tulis dan harus menerangkan. Beberapa anak laki-laki mencubit tubuhnya, ketika melewati mereka. Cindy hanya bisa menerangkan sambil terisak-isak.

Rasanya dua jam pelajaran berlangsung cepat sekali, berikutnya pelajaran matematika yang membosankan oleh Pak Ginanjar. Aku membisikan Ken, hukuman selanjutnya.

"Bu Cindy, dua jam pelajaran ini, harus mengulum punya Tommy", kata Tommy kepada Cindy.

Ketika Pak Ginajar mulai menerangkan, dengan ragu-ragu Cindy jongkok dihadapanku. Kemudian ia membuka reseleting celanaku, dan mulai mengeluarkan penisku. Ia kemudian memegang kemaluanku, rasanya hangat sekali tangan Cindy. Ia mulai mengulum penisku yang panjangnya 17 cm. Ia memaju mundurkan mulutnya, rasanya enak sekali, sambil mendengarkan pelajaran matematika, sambil diurut penisku oleh mulut guru muda yang cantik ini. Sampai suatu kali rasanya ingin mengeluarkan sesuatu. Aku menarik rambut Cindy, agar kepalanya bergerak lebih cepat.

"Ah..", desahku sambil mengeluarkan air mani kedalam mulutnya sebanyak mungkin.

"Oupch..", terdengar suara Cindy yang kehabisan nafas, harus menelan air maniku sambil menangis.

Hukuman Hari Kedua
Hari ini aku memberi tahu Ken hukuman Cindy.
"Bu Cindy, hari ini harus masuk lagi ke kelas 3, sambil menerangkan tentang hubungan seks, sambil diperagakan dengan Tommy", kata Ken kepada Cindy.

"Apa..", teriak Cindy.
"Bu, ingat keluarga Ibu", ancam Ken.

Akhirnya Cindy menyetujuinya. Pada jam pelajaran kelima, Cindy masuk ke kelas 3.
Anak laki-laki berteriak, "Buka.. buka.. buka..".
Dengan gemetar Cindy kembali membuka seluruh pakaiannya.

"Anak-anak, Ibu sekarang mau menerangkan tentang hubungan seks" kata Cindy sambil gemetar.
"Tommy tolong kesini" kata Cindy.
Aku lalu maju kedepan, lalu Cindy membuka celanaku.
"Pertama-tama dilakukan pemanasan dulu", kata Cindi sambil meletakan tanganku pada susunya. Langsung aku meremas-remas dengan keras, enak sekali pikirku. Tampak Cindy kegelian. Lalu Cindy meremas penisku.

Setelah beberapa lama, aku mulai tak sabar, lalu dengan cepat aku mencoba memasukkan penisku ke vagina Cindy. Cindy berusaha menghindar sambil menangis. Aku menyuruh anak-anak cewek agar memegangi tubuh Cindy, sambil dipegang oleh 4 orang anak cewek, aku memamasukkan penisku kedalam vaginanya. Astaga rasanya sempit sekali, aku merasa ia masih perawan. Lalu dengan cepat aku mengocok penisku didalam vaginanya.

"Bu ayo.. teruskan menerangkannya", kataku pada Cindy.
"Beginilah caranya bersenggama anak-anak", Cindy menerangkan sambil menangis.
Aku terus mengocok penisku di dalam vagina cindy. Dari posisi berdiri kami melakukannya, tidak puas dengan posisi ini aku mencabut penisku dari vaginanya, lalu mencoba posisi doggi style. Aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya, sementara itu tanganku meremas-remas susunya dari belakang. Rasanya empuk sekali, sementara itu penisku digoyangkan terus.

Tiba-tiba Cindy mengejang, dengan meremas penisku dengan kuat, ternyata ia mengalami orgasme. Teman-temanku pada tertawa melihatnya. Tak lama kemudian aku juga mengeluarkan air maniku di dalam vaginanya dengan kuat. Terlihat wajah Cindy yang kaget dan ketakutan menerima sperma di dalam vaginanya. Semua teman-teman bersorak melihatnya.

Hukuman Hari Ketiga
"Bu Cindy hari ini harus mengumpulkan dua liter sperma dari seluruh laki-laki di sekolah ini", kata Ken kepada Cindy sambil memberikan botol berukuran dua liter.

Dengan bugil, Cindy masuk ke kelasku. Sementara guru yang lain mengajar, Cindy mengocok penisku dengan cepat agar cepat mengeluarkan air maniku. Tidak tahan akan kocokan Cindy yang cepat, aku mengeluarkan sperma ke dalam botol tersebut. Cindy berpindah ke setiap anak laki-laki yang ada di kelasku dan mengocok penis mereka agar cepat mengeluarkan sperma. Dua jam sudah berlalu, seluruh laki-laki sudah mengeluarkan spermanya, dan ternyata hanya ada seperempat liter.

"Bu Cindy, cepat kocok penis anak laki-laki di kelas lain juga" kata Ken.

Akhirnya Cindy berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya, untuk mengumpulkan sperma. Setiap kelas kelas yang dimasuki Cindy, terdengar suara riuh. Banyak anak laki-laki yang dikocok penisnya, juga menggerayangi tubuhnya.

Akhirya jam sekolah selesai, dengan tangan yang lelah dengan muka yang penuh sperma, karena ada beberapa orang yang sengaja menyemprotkan spermanya ke mukanya. Cindy datang kepada aku dan Ken sambil memberikan dua liter sperma.
"Bu Cindy, tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang" kata Ken.
"Tidak tahu" kata Cindy.
"Minum sperma tersebut", kata Ken.
"..", Cindy tampak lemas sekali dan tertunduk.
Tiba-tiba kelasku dipenuhi banyak siswa dari kelas lain.
"Minum.. minum.. minum.." teriak mereka.
Akhirnya Cindy sedikit demi sedikit meminum sperma tersebut, beberapa kali muntah, tapi kami minta agar sperma tersebut dijilati. Setelah lima belas menit habislah sperma tersebut.

Hukuman Hari KeempatHari ini ada upacara bendera, Bu Cindy sudah disuruh oleh Ken agar menjadi pemimpin upacara. Tentu saja dengan tidak mengenakan pakaian apapun juga. Semua anak di sekolahku sudah berkumpul di lapangan upacara. Ketika pemimpin upacara memasuki lapangan upacara, tampak Cindy berjalan dengan tanpa pakaian apapun ke tengah-tengah lapangan. Tampak susunya bergoyang-goyang sesuai dengan langkahnya. Seluruh anak-anak berteriak membahana melihatnya.

"Upacara siap dimulai", teriak cindy ditengah lapangan dengan mengacungkan tongkat upacara. Tampak Cindy berlinang air mata, karena ditatap oleh ratusan murid.

Ketika upacara dimulai, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Ken, ia mulai memasukkan tongkat upacara kedalam vaginanya. Murid-murid kaget dan tertawa melihatnya. Cindy terus memasukkan dan mengeluarkan tongkat tersebut sambil ditatap oleh seluruh murid di sekolah ini.
"Hayo Bu terus", teriak beberapa anak.
Cindy tampak pucat sekali dan lemas sekali, beberapa saat kemudian dia mulai merasa akan orgasme, Cindy berusaha bertahan tidak mau terlihat orgasme sambil ditatap oleh ratusan murid.
Tapi lama kelamaan dia tidak tahan, dan mulai mendesah "Ahh", tentu saja semua anak menyorakinya.

Kemudian Kepala Sekolah mengumumkan beberapa siswa berprestasi maju ke depan. Dipanggil oleh Kepala Sekolah Anton, Herman dan Rinny maju ke depan.
"Bu Cindy silakan memberikan hadiah kepada siswa siswi yang berprestasi ini", kata Kepala Sekolah.

Dengan gemetar Cindy mendekati Anton, lalu membuka celana Anton. Lalu ia mengocok penis Anton. Setelah penis Anton mengeras, lalu ia merebahkan Anton, lalu Cindy duduk di atas Anton, lalu ia mulai memasukkan penis Anton ke dalam vaginanya. Ratusan anak menahan nafas melihat adegan tersebut. Melihat tatapan banyak anak, Cindy mencoba mengeluarkan vaginnya, tetapi Anton cepat-cepat menarik rambut Cindy, sehingga dengan sekali tarik, amblaslah semua penis Anton ke dalam vagina Cindy.
"Aww", teriak Cindy.
Sambil mengoyang-goyangkan penisnya, Anton meremas-remas susu Cindy dengan keras.
"Aww", terdengar teriakan Cindy, setiap kali Anton menjepit puting Cindy.

Ketika Cindy berusaha mengurangi rasa sakit di vagina dan susunya, tiba-tiba ia merasa ada yang membuka anusnya. Ketika ia menengok ke belakang tampak Herman sedang berusaha memasukkan penisnya kedalam anus Cindy. Dengan sekali tancap, masuklah seluruh penis Herman ke dalam anusnya.
"Ahh", Cindy melolong kesakitan, tapi Herman tidak peduli, terus memaju-mundurkan penisnya di dalam anus Cindy.

Setelah beberapa lama Anton mengeluarkan penisnya dari vagina Cindy, lalu memasukkan penisnya kedalam mulut Cindy. Tampak Cindy sambil bergaya anjing, dimasuki dari anus dan mulut oleh Herman dan Anton.
Tiba-tiba Rinny menghampiri sambil membawa pisang yang berukuran besar sekali. Lalu pisang tersebut dimasukkan ke dalam vagina Cindy.
"Jangan..", teriak cindy.
Tapi Rinny tidak peduli, lalu terus memasukkan ke dalam vagina Cindy, tampak vagina mulai sedikit robek dan berdarah akibat pisang yang sangat besar.
"Ah..", teriak Cindy setiap kali pisang tersebut dikeluar-masukkan oleh Rinny.
Akhirnya Anton dan Herman sudah tidak tahan dan mengeluarkan sperma bersamaan di mulut dan anus Cindy.

Sementara Cindy tergeletak di tengah lapangan, Kepala Sekolah berteriak
"Upacara selesai".
Sehingga para murid kembali ke kelas sambil tertawa.

Demikianlah hukuman untuk Ibu Guru Cindy yang masih muda dan cantik dari Tommy. , , ,

Thursday, July 24, 2014

Menyunat Gadis 19 Tahun

Nyai Suhaeti sekeluarga tengah bersuka cita kedatangan sebuah rombongan yang hendak menyunting anaknya, Surahmi. Anak gadisnya yang berumur 19 tahun memang sudah waktunya dinikahkan. Di kampungnya, yang berada di pedalaman, usia 19 dianggap sudah sangat matang untuk berumah tangga. Bagi masyarakat setempat, gadis usia 15 tahun biasanya sudah dinikahkan. Maka Surahmi yang dipanggil Ami dianggap perawan tua di kampungnya.

Sore harinya, Nyai Suhaeti dan sang suami mengunjungi rumah Abah Imam Abdul, Imam kampung untuk meminta petuah beliau. Sebagai seorang pemimpin agama, memang Imam selalu dimintai petuahnya oleh warga kampung. Imam Abdul mengajar di sebuah surau dan memiliki banyak pengikut warga kampung, pengikutnya sangat patuh pada seruan Imam tanpa membantahnya karena warga kampung sangat percaya pada beliau.
Imam Abdul memang dekat dan mengenal sejarah setiap warga kampung terutama yang lebih muda darinya, kapan lahirnya, kapan cukur pertamanya (saat bayi), kapan berkhitan, tamat baca Quran atau tidak, status nikahnya, dan sebagainya karena soal tersebut sebelumnya selalu dirujuk pada Abah Imam.

"Saya ingin menanyakan sesuatu pada Abah Imam, masalah ini sangat pelik untuk dipecahkan," kata Nyai Suhaeti tergagap2.
"katakan saja, kalau bisa menjawab akan saya jawab" jawab Imam berwibawa.
"Berat mengatakannya, Abah Imam" nyai Eti masih menahan pertanyaannya.
"Katakan saja, semua masalah ada jalan keluarnya," Imam masih menunjukan wibawa sebagai ahli konsultasi.
"Ini soal anak saya si Ami, Abah" nyai Eti masih sepenggal-sepenggal bercerita.
"Tak apa, lanjutkan" Imam mulai hilang kesabaran.
"Anak saya waktu kecil dulu sakit-sakitan, makanya dia tidak disunat" Nyai Eti akhirnya mengutarakan masalahnya.
"Oooh! Begitu, tapi disunat itu wajib menurut agama walaupun dia perempuan" jawab Imam agak terperanjat (salah suhu dalilnya)
"Tapi dia sudah besar, apa masih harus disunat juga, Abah Imam?" tanya nyai Eti.
"Wajib! Jika tidak nanti persetubuhan mereka jadi haram karena berzina. Anaknya Ami nanti menjadi anak haram diluar nikah. Suaminya tidak layak jadi wali pada anaknya nanti" jawab Imam penuh wibawa.

Keluarga Nyai Eti tidak mempertanyakan lagi, mereka percaya seutuhnya dalil yang keluar dari Abah Imam tanpa rujukan lain yang lebih bisa dipercaya di kampung itu, mereka sekampung mayoritas buta literatur dan masih tak tersentuh teknologi elektronik apapun. Sedangkan Imam pernah merantau dan belajar agama pada guru yang diceritakan hebat-hebat.

Nyai Eti meminta nasihat Imam bagaimana menyunatkan anak gadisnya, Ami yang berumur 19. Keluarga Nyai Eti ingin proses sunat tidak diketahui warga sekampung karena malu. Mereka menganggap masalah ini rahasia dan meminta Abah Imam sendiri yang menyunatkan Ami nantinya.

Imam meminta keluarga Nyai Eti menyiapkan beberapa jenis kain serta bumbu dapur mereka berdiskusi tentang prosesi selanjutnya menyunat Ami di malam Jumat selanjutnya.

Seperti dijanjikan Nyai Eti dan Ami datang berdua ke kediaman Imam, supaya tidak diganggu, Nyai Eti diminta pulang duluan. Ami menyusul nanti setelah diperiksa karena rumahnya juga tidak terlalu jauh.

"Abah harus melihat kemaluan Ami untuk membuat persiapan menyunat" Imam mulai membuka prosesinya.
Dengan patuh, Ami masuk dalam kamar periksa / ruang kerja di rumah Imam, tanpa curiga. Dia tidak mau anaknya nanti bergelar anak haram seperti yang diancamkan Imam pada ibunya.

"Nah, Ami. Tiduran di kasur itu, buka semua pakaianmu, tutupi dengan sarung. Abah mau periksa badan Ami buat kasih obat yang sesuai, Ami tiduran dulu. Abah mau siap-siap."

Ami patuh melepas semua bajunya lalu menutupi dada hingga pahanya dengan sarung. Dia berasa tidak nyaman dan malu dengan kondisinya saat itu. Dia juga takut karena ibunya pulang duluan meninggalkannya hanya berdua dengan Abah Imam Abdul untuk berobat sebelum disunat.

Ami bertanya-tanya pemeriksaan Abah Imam akan seperti apa nantinya. Setelah beberapa menit, Imam masuk ke kamar periksa. Dengan penuh keyakinan dan wibawa, Imam menghampiri Ami.

"Udah dilepas semua bajunya?" Abah Imam bertanya.

Ami hanya mengangguk, Abah Imam tidak banyak berbicara duduk di sebelah Ami. Dia menyusul peralatannya di pinggir kasur, ada mangkuk, baskom berisi air, gayung kecil, botol minyak dan peralatan lain. Abah Imam membaca beberapa potongan ayat sambil tangannya menyingkap bagian atas sarung di badan Ami memperlihatkan bagian atas buah dada Ami tapi tidak menampilkan putingnya. Ami berdoa saja agar Abah Imam tidak terlalu menurunkan sarungnya hingga melihat putingnya.

Abah Imam menggosokkan sedikit air dari baskom pada pangkal buah dada Ami sambil terus membaca ayat. Badan Ami langsung mersepon sentuhan tangan Abah Imam. Imam lalu menarik kain sarung sampai ke pinggang Ami. Dia mengambil sedikit minyak dari botol kecil dan meneteskannya pada kedua puting Ami yang berwarna merah bergantian.

Jemari Abah Imam mengoleskan minyak pada puting Ami sambil mengurut kedua puting Ami hingga Ami mendesah dilanda sensasi birahi. Sebelumnya Ami belum pernah merasakan sensasi seperti itu.

Kemudian Abah Imam kembali menutupkan kain sarung ke atas dada Ami lalu beralih ke bagian bawah tubuh Ami. Dia menarik kainsarung ke atas hingga sepinggang, menampilkan kemaluan Ami yang berjembut sangat rimbun.

"hey, Ami gak pernah bercukur jembut ya?"

Ami sangat malu dan hanya menggelengkan kepalanya. Memang jembutnya tidak pernah dicukur semenjak pertama kali tumbuh. Ami tidak pernah memikirkan untuk memangkasnya.

"Kalau rimbun begini nanti pas disunat harus upacara potong rambut dulu kaya bayi yang baru lahir." Abah Imam menerangkan.
"Tapi kalau cukur pertama bayi kan banyak yang datang, Abah?" Ami bersuara ragu-ragu.
"Iya" Abah Imam menjawab sepotong.
"Abah Imam aja sendiri yang cukurkan, bisa kan?" Ami bertanya dengan cemas.
"Kerja abah jadi dobel nih, selain nyunat Ami juga cukur jembut. Mesti satu-satu dikerjakan." Abah Imam menjelaskan lagi.
"Coba buka selangkanganmu, Abah mau periksakan kelentit Ami. Ini yang terpenting karena bagian ini yang Abah sunat."

Ami hanya menurut arahan Abah Imam. Abah Imam mengarahkan wajahnya pada kemaluan Ami yang berjembut rimbun sambil kembali membaca ayat. Dia mengambil minyak dan mengoleskan pada kelentit Ami. Dicubitinya kelentit Ami hingga memerah dan mengembang.

Cairan bening mulai keluar dari kemaluan Ami yang sudah terbuka lebar. Ami merasakan sangat terangsang walaupun dirinya malu. Dia menahan sensasi nikmat dari kelentit dan kedua putingnya. Kembali dia merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya.

Abah Imam sebagai lelaki normal naik syahwatnya melihat kemaluan anak gadis di depannya. Memek sang gadis yang membukit, rambut-rambut hitam halus yang rimbun menghiasinya, kelentit yang sudah menegang, jengger-jengger memek yang menganga (labia), desahan nafsu yang keluar dari mulut berbibir tipis si gadis dan bau khas memek yang menerpa lubang hidungnya membuat Abah Imam tak dapat menahan gejolak nafsunya.

Bau memek anak perawan sungguh membangkitkan syahwatnya, tangannya gemetar saat mengusap dan memainkan kelentit Ami. Basah dan licin jemarinya oleh cairan bening yang meleleh keluar dari rongga kemaluan Ami.

Abah Imam meneruskan mengurut kelentit si gadis yang makin membengkak. Rasa nikmat semakin menjadi dirasakan Ami hingga terasa lendir hangat makin banyak keluar dari rongga kemaluannya. Jengger kemaluannya juga semakin gatal dan perlahan membengkak. Lubang kelaminnya terasa berdenyut-denyut dan kembang kempis seperti ingin menghisap sesuatu.

Dengan mata yang sayu, Ami melihat kain sarung yang dipakai Abah Imam sedikit basah dan ada semacam kayu tercetak dibalik kain sarung itu.

Tindakan Abah Imam selanjutnya membuat Ami semakin terperanjat, Abah Imam menyibakkan kainsaring yang ditutupi bagian bawah badannya hingga tampak oleh pandangan mata Ami batang kemaluan Abah Imam Abdul yang sudah keras berdiri menegang. Sebelumnya Ami belum pernah melihat batang kelamin pria dewasa, kini kelentitnya semakin gatal dan terasa nikmat.

Abah Imam mengambil sebuah wadah dan meletakkan di bawah kemaluannya lalu mengambil gayung dan membasahi kepala batang kemaluannya dengan menyiram air baskom yang berisikan beberapa bunga. Bibir Abah Imam masih komat-kamit seperti membaca doa dan mantra.

Nafsu birahi Ami semakin membumbung melihat batang kelamin Abah Imam yang sudah menegang keras. Tiba-tiba kemaluannya semakin gatal.

"Mau ngapain sekarang Abah Imam?" tanya Ami dengan suara tertahan.
"Abah sedang mengasah supaya lebih tajam, kelentit Ami itu sudah alot, liat karena sudah dewasa."

Ami hanya mengangguk saja. Mungkin benar perkataan Abah Imam. Dia biasa makan masakan sayur rebung yang empuk saat muda namun akan mengeras saat rebung itu berubah menjadi batang pohon bambu saat menua. Kelentitnya pun serupa, kini di usia 19 pasti sama alotnya seperti bambu yang asalnya rebung empuk.

"Kalau anak kecil perempuan, kelentitnya disunat pakai pisau. Tapi karena Ami sudah dewasa maka Ami harus disunat dengan memakai ini." jelas Abah Imam pada Ami sambil menunjukan kelaminnya.

"Ami paham maksud Abah?''
"Paham, paham Abah Imam."

Abah Imam kemudian mendekatkan dirinya pada Ami yang mengangkang, dibukanya lubang kemaluan Ami semakin lebar. Diarahkannya batang kemaluan miliknya yang sudah mengeras ke arah lubang kelamin Ami yang terbuka.
Setalah merasa tepat, pelan-pelan Imam mendorong kepala kontolnya yang mengembang ke garis memek Ami yang terbuka. Abah Imam menyundul-nuyndulkan kepala pusakanya disana pada kelentit Ami membuat pantat Ami terangkat-angkat kegelian.

"Ami tahan saja ya. Abah Imam mau memulai menyunatkan kelentit Ami ini. Pertamanya akan terasa sakit, tapi bertahanlah."

Ami hanya mengangguk, sundulan-sundulan kepala kontol Abah Imam di kelentitnya memberikan kenikmatan baginya yang baru dirasakannya. Ami memejamkan matanya menunggu tindakan Abah Imam selanjutnya.

Abah Imam sudah tidak tahan lagi, saat lendir dari memek Ami semakin banyak keluar membasahi kontolnya, Abah Imam mulai mendorong semakin kuat. Mulanya, kepala kemaluannya meleset ke arah lubang pantat Ami. Ami melonjak karena kaget.

Percobaan kedua kepala dzakar berwarna hitam kemerahan itu tergelincir ke arah kelentit Ami. Ami merasakan geli dan nikmat.
Kali ketiga, Imam memegangi batang kontolnya. Kepala kontol yang mengembang di arahkan tepat pada liang memek Ami yang meremas dengan erat.

Keringat membasahi kening Abah Imam. Dia tidak boleh kalah dari anak gadis di depannya. Hidangan di depan mata harus dinikmati hangat-hangat. Imam membasahi kepala pusakanya dengan lendir kemaluan Ami. Imam tahu bahwa Surahmi tengah dilanda nafsu syahwat sama sepertinya. Lendir birahi milik Ami semakin banyak mengalir dari liang kelaminnya.

Imam menekan semakin kuat pada lubang kemaluan Ami yang berdenyut-denyut. Kepala kemaluan Imam terbenam juga hingga menyisakan sebagian batangnya saja. Ditekan lagi hingga kini separuh batang kemaluan Abah Imam sudah masuk lubang sempit kemaluan Ami dengan susah payah.

"Auuw... akhh... auuwww...!" Ami memekik karena merasa sakit.
"Ami tahan sebentar saja. Ini sedang disunat sama Abah Imam kelentit Ami. Sakitnya cuma sebentar."

Keringat membasahi badan kedua makhluk itu. Kegadisan Ami sudah ditembus kejantanan Abah Imam. Imam yang berperngalaman enggan serangannya gagal. Tangannya menahan pinggul si gadis, paha Ami dibuka lebar-lebar. Dengan cepat kemudian ditekan batang kemaluannya hingga seluruh batang menyelam dalam lubang sempit.

Beberapa saat, Imam membiarkan batang kelaminnya terbenam dalam jepitan kewanitaan si gadis. Abah Imam menarik nafas, bangga karena batang kemaluannya yang sudah tua masih mampu menerobos lubang sempit. Kelamin anak gadis yang baru dikenalkan pada batang kelamin pria.

Imam mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur pelan-pelan. Ami merasakan kemaluan Abah Imam terlalu besar menusuk memeknya yang masih sempit. Setiap gerakan batang kemaluan Abah Imam menimbulkan nyeri bagi Ami. Tapi bagi Imam, rasa nikmat luar biasa saat pusakanya terjepit rongga memek yang baru pertama kali dimasuki kejantanan lelaki. Inilah nikmatnya gadis perawan yang selama ini diidamkan olehnya.

Imam semakin ganas, semakin lama batang kemaluannya semakin lancar keluar masuk lubang memeknya Ami. Lendir pelumas keluar secara alamiah dari rongga kelamin mengurangi rasa sakit yang menyerang Ami, digantikan dengan kenikmatan yang mulai dirasakannya.

"Ooooh... aaahhh.." lenguhan mulai keluar dari mulut Ami.

Tak disadarinya ringisan sakit berganti menjadi lenguhan nikmat. Akhirnya Ami membiarkan dirinya terbuai mengikuti kayuhan birahi Abah Imam. Ami memejamkan mata mencoba menikmati sensasi nikmat yang pertama dirasakannya.

Batang kemaluan Imam meluncur tanpa halangan menyentuh pangkal rahim si gadis muda. Ami mengerang setiap kali si Abah menusukkan pusakanya di bawah sana. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuai Ami semakian menikmati sunatan yang tengah berlangsung.

Lenguhan panjang mengalun dari mulut Ami disaat dirinya mencapai klimaks. Sekujur badannya mengejang beberapa detik sebelum kembali lunglai. Keringat bercucuran membasahi tubuh telanjangnya hingga kulitnya yang putih bersih berkilat terkena cahaya.

Syahwat Abah Imam semakin menggila melihat tubuh anak gadis yang sangat cantik dan montok terkulai pasrah tak berdaya di depannya dengan kedua paha yang mulus mengangkang dan bibir kewanitaan yang mungil menjepit erat batang kemaluan Imam yang cukup besar.

"Sekarang kamu nungging, merangkak. Abah Imam harus sunat Ami dari belakang."

Ami hanya menurut. Imam membantu Ami membalikkan badannya hingga posisi gadis itu kini menungging lalu batang kelaminnya di arahkan kembali di antara pangkal kedua paha Ami dari belakang.Dengan sekali sontak, Imam menarik pinggul Ami ke arahnya, hingga kepala batang kemaluannya membelah dan dijepit dengan erat oleh bibir-bibir kewanitaan perempuan muda.

Untuk kesekian kalinya, pusaka laki-laki itu menerobos masuk dalam liang kemaluan Ami dan Abah Imam menekan pantatnya sampai-sampai perutnya menempel pada pantat Ami yang duburnya dipenuhi jembut rimbun.

Dengan liar, Abah Imam menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan kontolnya terjepit dan tergesek-gesek dalam liang memek yang masih sempit.

Ami kembali merasakan pangkal rahimnya serasa ditekan-tekan. Hanya kenikmatan saja yang dirasakan olehnya saat itu. Batang kemaluan Abah Imam terasa semakin mengeras tegang. Ami merasakan batang kemaluan Abah Imam bergetar dalam lubang kelaminnya. Sambil mengerang panjang akhirnya Abah Imam menumpahkan isi dari kantong zakarnya air mani ke dalam rahim Ami dengan deras. Benih Abah Imam terasa hangat menerpa mulut rahim Ami.

Bersamaan dengan itu Ami mengalami orgasme yag keduanya. Ami mengerang menyusul Imam dengan keras. Hingga sesaat kemudian suasana menjadi sunyi, hanya suara nafas Imam terdengar naik turun di atas tubuh menungging Ami yang masih menyatu dengan tubuhnya. Ami sudah sangat keletihan, tidak mampu bergerak lagi. begitu juga dengan Abah Imam kehabisan tenaga.

"Ami sekarang boleh pulang. Tadi Ami sudah Abah sunatkan. Jangan lupa datang empat hari lagi, malam Selasa datang lagi kemari biar jembut-jembut Ami Abah cukurkan, sekaligus bisa Abah periksa sunatan Ami udah sembuh atau belum."

Abah Imam memberitahu Ami setelah keduanya sudah kembali berpakaian. Ami hanya mengangguk.

Dalam hati Surahmi berpikir dia sanggup disunat setiap hari kalau begini caranya. Bukannya sakit tapi justru nikmat. Ami tersenyum sambil melangkah keluar rumah Abah Imam Abdul.
, ,

Selingkuh Dengan Ibu Bidan

Kisah berikut ini merupakan cerita nyata yang dialami seoarang temen saya diceritakan secara mendeail perselingkuhan yang terjadi untuk lebih jelasnya langsung aja baca kisah nyata

Bidan ini bernama widiastuti, aku memanggilnya bu widi atau bu bidan karena dia adalah bidan desa tempatku sekarang tinggal, umur 35 th dan sudah 8 th menikah tapi belum dikaruniani anak. awalnya kenal dengannya kurang lebih 4 th yang lalu yang sebelumnya lebih dulu kenal dengan suaminya yang bernama yanto yang sama sama berprofesi pemasok onderdil mobil.

singkat cerita pada tahun pertama pernikahanku, istriku melahirkan seorang bayi laki laki dan persalinannya dibantu bu bidan widi.semua berjalan biasa saja sampai ketika itu jam 11 malem 2 jam setelah proses persalinan normal istriku aku disuruh mengambil obat obatan buat anak dan istriku dirumah bu widi.tanpa banyak pikir akupun bergegas kerumah bu widi yang berjarak 50m.lampu ruang tamu n tempat prakteknya masih menyala, agak ragu ragu karena takut mengganggu,lalu....

Ting toooongggg
Pintu tempat praktek bu widi tak lama terbuka
"eh mas fahmi,masuk mas"sambut bu widi
"iya bu"balesku
"duduk dulu mas,tak ngracik obat dulu"sambung bu widi
"ya bu"aku cuma ber-iya iya aja
"enak ya mas udah punya istri cantik sekarang sudah ada dede juga,cowok lagi"bu widi mulai buka obrolan sambil ngracik obat
"alhamdulillah bu,dikasih amanah sama sang kholiq"jawabku
"aku juga pengin banget sebenernya"katanya
"ya tinggal bilang aja sama mas yanto donk bu"lanjutku
"emang mas yanto kemana bu koq gak keliatan"aku coba ganti topik obrolan
"tadi sih telpon katanya mo ngecek barang yang baru datang,jadi pulangnya telat"jawab bu widi

"lo bukannya mas juga ngeceknya sama kaya mas yanto?"sambungnya
"iya sih kemarin udah sepakat mo bareng ke tokonya tapi aku tadi pagi dah nyuruh toni buat ngecek coz aku bakal ndampingi istri mo melahirkan"jawabku
"duh bertanggung jawab banget kayaknya mas fahmi ini"lanjutnya sambil tersenyum kepadaku
"hehe...gitu deh bu"

Tak lama obat pun selesai diracik
"ini mas obatnya,aturan pakainya ada di bungkusnya ya mas"kata bu widi
"iya bu makasih,permisi sekalian bu"kataku
"iya mas.........mas yanto kayaknya gak bisa ngasih anak deh"deg jatungku serasa berhenti
Kenapa bu widi bilang begitu ya?pikirku
"ah jangan bilang gitu bu,belum diamanahi mungkin"
"emang iya koq mas,ya nasibku mungkin,andai saja mas yanto kaya mas fahmi pasti enak deh"senyumnya genit
"ya usaha n tawakal aja bu....eh enak apa maksudnya neh bu"tanyaku
"ya enak...enak jadi istrinya pasti dikelonin terus"
"sama istri sendiri ini kan gak apa apa toh bu"
"iya sih tapi aku jadi ngiri deh"sahut bu widi
Sejenak aku mikir nakal
"ngiri minta dikelonin juga?"candaku setengah mancing
"boleh kalo mas fahmi ada waktu"jawabnya seraya tersenyum
"ah udah ah malah ngelantur,aku permisi bu udah malem"
"ok mas,ati ati"jawabnya

akupun segera beranjak takut ada setan lewat....hehe
Setelah kejadian itu entah kenapa bu widi selalu datang kerumah dengan berbagai macem alesan medis dan bahkan sering ngasih sesuatu ke anakku yang masih bayi dan selama itu sikapnya ke aku terbilang biasa aja sampai waktu itu hari senin jam 09.00 pagi hari,aku yang kebetulan malamnya habis cek dropan barang sengaja gak ke toko karena kebetulan babysitterku lagi ada hajatan dirumahnya dan anakku sudah berusia 4bulan, jadi sudah agak mudah dimomong

"lagi apa mas"sms masuk dihapeku
"ini siapa ya?"balesku
"widi mas...gimana kabar?"
"eh bu widi...baik bu,ini lagi momong anak"balesku
"loh ibunya kemana?"balesnya
"kerja bu,udah aktif lagi.eh tau nomorku dari mana?"
"dari hape mas yanto"
Aku tidak membales sms terakhirnya karena harus nimang anak di ayunan coz udah terlelap.
Sudah 4bulan lamanya sejak obrolan dimalam itu
"saya mau ngecek kesehatan nabil mas,boleh?"smsnya lagi
"boleh,bukannya kemarin udah ya bu?"
"ada yang kelupaan mas"
kemudian
tok tok took
Assalamu'alaikum.....
Wa'alaikum salam.....

Aku bergegas ke arah pintu dan membukanya
"eh bu widi,mari masuk"kataku
Tak lama anakku pun di perikasanya
"susunya pake ASI apa formula mas?"tanyanya
"sekarang formula bu,
ASI cuma bertahan 2 bulan habis itu gak mau lagi"jawabku
"gak mau apa gak boleh sama bapaknya?"candanya
"hehe bisa aja bu widi ini emang anakknya gak mau bu mungkin ASInya gak lancar"
"owh...gitu ya"
"gimana yang katanya mau ngelonin aku"ucap bu widi tiba tiba
"eh eeeeehh...mmmmmm waktu itu cuma becanda bu,dari pada bingung mau ngobrol apa"sahutku sambil cengar cengir
"loh padahal aku ngarepnya beneran loh"kali ini tatapannya serius
Aku pun terdiam bingung mau mgomong apa
"tapi mana mungkin juga mas fahmi ini mau sama aku yang udah tua"
"kalo dikasih sih ya mau mau aja toh bu"aku menimpalinya dan pikirku selisih umurku hanya 6tahun dibawahnya.

Bu widi menoleh ke aku yang sedang duduk di sofa kasur diruang keluarga, kemudian meletakkan anakku yang tadi digendongnya di ayunan, dia menghampiriku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, dia melumat bibirku dan memainkan lidahnya dirongga mulutku, Aku tersentak kaget dan tak berapa lama akupun balas pagutannya dengan gigitan kecil mesra, bu widi melepaskan ciumannya dan berkata

"aku pengin ngrasain spermamu mas"
Aku lanjutkan mencium bibirnya dan begitu lama kami berciuman, tangankupun mulai aktip bergerilya di sekitar dadanya dan memainkan gundukan gunung kembarnya yang masih tertutup blazer n dalemannya...

Wah gede banget, pikirku. kuhentikan ciumanku ku buka blazer n kusingkap tanktopnya, ternyata gak pake BH, langsung ku remes gunung kembar itu dan kupilin puting susunya sementara bibirku dan bibir bu widi masih saling berpagutan

"aaaaahhhhh...massssssshhh" Bu widi mendesah saat aku mulai menjilati dan mengenyot susunya yang kiri sedang susu kanannya kuremas dan kupilin puting pinknya. bu widipun tak tinggal diam, tangannya menggrayangi celana pendekku, mengusap ngusap kontolku yang sudah berontak tegang di celana pendekku yang tak berCD, sambil mendesah coz teteknya ku mainin, bu widi menyusupkan tangannya kedalam celana pendekku yang berkolor mencari pusaka tersembunyi. bu widi mendorong ku agar tiduran sementara mulut dan tanganku masih asik maenan susu gede bu widi.

Bu widi memutar badannya hingga posisinya diatasku dan susunya dibiarkan menggelantung dikenyot aku. bu widi memlorotin kolorku dan terpampanglah pusakaku, aku hanya memakai singlet aja setelahnya. Bu widi mencabut susunya dari seponganku dan merangkak menuju kontolku, mengelusnya dan mengocoknya sebentar lalu dikulumnya kontolku hingga membuatku merinding, sementara aku pun menyibak roknya dan terkaget bu widi gak pake CD, Langsung saja ku jilat memeknya yang udah basah, ku jilat memeknya dan ku gigit ringan itilnya namun jeritannya tak terdengar keras coz mulutnya dipenuhi batang kontolku dan kami pun ber69 cukup lama hingga "aaaaaaaaahhhhhhhhh
sssssshhhhhh..massssssshhh"

memeknya ditekankan ke wajahku sambil badannya bergetar hebat dan keluarlah cairan khas wanita orgasme. bu widi bangkit melucuti pakaian dan roknya yang masih menempel dibadannya sedang aku masih terlentang di sofa dengan kontol yang berdiri tegak, bu widi menaikiku dan posisi kami behadapan, dipegangnya kontolku diarahkan ke memeknya dan bleeeessssss...ambles semua kontolku ke dalam memeknya yang basah, didiamkanya sebentar dan bu widipun mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur perlahan lahan memompa kontolku didalam memeknya dan lama kelamaan goyangan maju mundurnya mulai dipercepat dan semakin cepat dan akupun mengimbanginya ikut bergoyang mengikuti irama goyangan pantat bu widi, kedua tangannya mengamit tanganku dan meremaskan di teteknya, bu widipun mengeluh menengadahkan kepalanya dan mencengkeram kuat tanganku yang sedang meremas kedua teteknya
"uuuuuuuuhhhhhhgggggg masssshhh........."

bu widi ambruk didadaku, dia tersenyum dan, mencium lembut bibir sementara aku menggoyang goyangkan kontolku yang masih terbenam di memeknya yang sudah orgasme dua kali, bu widi bangkit lagi jongkok diatasku dengan memeknya masih tertusuk kontolku yang masih tegar, dia naik turun diatasku sambil merem melek menikmati surga dunia, sementara teteknya juga ikut naik turun akibat gerak naik turun memompa kontolku, kali ini aku diam saja menikmati pemandangan itu. Sekali kali dimentokin kontolku hingga menyentuh rahimnya sambil dia goyangin pantatnya ke kanan kekiri dan tak lama
"ouuuuchhhh masssssshhh..."

Kontolku basah oleh cairan memeknya yang orgasme yang ketiga kalinya. Bu widi ambruk di dadaku lagi dengan kontolku masih menancap tegang di memeknya
"mas ayo digoyang lagi"

Aku tak menyahutnya coz Aku langsung menaik turunkan pantatku, kontolkupun naik turun di memeknya, tiba tiba bu widi bangkit dan nungging sambil berpegangan sandaran sofa kasur, Akupun paham langsung mengarahkan kontolku ke memeknya dari belakang, aku genjot kencang tak pedulikan erangan dan racauan bu widi, ku remas kupukul pukul pantatnya
Dan tak lama...

"bu..aku mau keluaaaaaaarhhhhhhh"
"didalam ajaaaahhhh...akk...uuuhhh jugaaaaaah mau keluaaaar ohhhhhh"
Crot crot croooooooooottttt
spermaku muncrat didalam memek bu widi, Kontolku ku biarkan dimemeknya,ku peluk bu widi dari belakang, kucium tengkuknya sambil kuremas gemas kedua teteknya
"emang gak apa apa bu?"

"gak apa apa mas,tenang aja,aku numpang ke kamar mandi dulu ya mas"
Ku cabut kontolku, kupandangi goyangan pantatnya saat telanjang menuju kamar mandi buat bersih bersih, tak lama bu widi kembali dari bersih bersihnya, kupandangi teteknya yang menggelayut besar didadanya dan kubiarkan Bu widi merapihkan penampilannya lagi, sementara aku cuma pake tisu basah anakku untuk bersihin kontolku dan kupakai lagi kolorku
"makasih ya mas, aku pulang dulu ya"
Bilangnya sambil mengecup
Bibirku dan lalu berlalu dari hadapanku.

Hampir seminggu ga ada kabar,pada hari minggu istriku ditelpon bu widi katanya hari ini jadwalnya imunisasi tahap 5. istriku tak seperti biasa, hari itu mengajakku untuk mengimunisasi anakku dirumah bu widi dan aku pun menggendong anakku, setelah diimunisasi pas mau pulang istriku kebelet pipis dan memohon ijin buat pipis di wc tempat praktek bu widi. Kesempatan itu bu widi bilang ke aku kalo dia udah telat mens, aku kaget tapi bu widi malah tersenyum gembira.

sesampainya dirumah aku berusaha menghilangkan pikiran bu widi yang telat mens setelah berhubungan denganku, hampir tak bisa menghilangkan pikiran andai istriku tidak mengajak bersetubuh.

hari itu hari senin jam 4 sore aku pulang ke rumah dan seperti biasa aku melewati jalan pintas beraspal yang melintas melingkari rumah bu widi dari belakang sampai kedepan halaman rumahnya coz rumah bu widi terletak di pojok jalan komplek tempatku tinggal. ku lihat bu widi sedang membuang sampah dibelakang rumah dan melihatku melintas, dipanggilnya aku
"udah pulang mas???koq pake motor???"sapanya
"iya bu, lagi pengin motor aja biar irit"jawabku sambil tersenyum.
"mampir sini mas, mas yanto lembur lagi cek dropan barang"
"ga enak bu takut dilihat orang nanti bisa celaka"
"masukin aja motornya lewat dapurku mas, ayolah mas, mau ya????"pintanya sambil tersenyum genit

"oke deh bu"sahutku segera memasukkan motorku lewat dapur bu widi yang tembus ke garasi mobilnya. bu widi membuatkan es sirup kesukaanku dan ketika menyuguhkan es sirup, teteknya terpampang jelas di wajahku coz dia memakai kaos berkerah rendah, langsung ku tarik tangannya hingga bu widi tersungkur ke arahku, kucium bibirnya dengan ganas, kukulum lidahnya dan kumainkan lidahku di rongga mulutnya, bu widi membalas pagutanku. begitu lama kami berciuman, bu widi melepaskan ciumannya
"diminum dulu mas kan cape n haus"

akupun meminum es sirup dan kulihat bu widi membuka kaosnya dan terlihat jelas teteknya yang gede tanpa tersanggah BH, es sirup rasa susu cap nona neh batinku. kuletakkan gelas es sirup yang telah habis ku minum langsung ku soso tetek gede yang ngganggur dihadapanku, ku kenyot kencang sampai bu widi melenguh, kuremas dan kupilin putingnya yang sudah mengeras sementara itu bu widi juga sibuk melepas leggingnya dan...shiiiiiiit, dia gak pake cd...anjriiiiit. ku hentikan kenyotanku, kududukkan bu widi dan reflek kakinya langsung mengkangkang, kujilat memek n itilnya, tersebak bau khas organ memeknya, kumasukkan lidahku ke dalam memeknya sambil tanganku meremas kedua teteknya tanpa sadar bu widi mendesah menikmati lubang memeknya ku jilati, bu widi menekan kepalaku ke memeknya hingga membuatku susah bernafas tapi kutahan coz aku terus menjilati memeknya dan kuremas serta kupilin puting teteknya agar bu widi semakin dekat dengan kenikmatan orgasmenya
"aaaaaaaaaccchhhhhhhh..."

tubuhnya menggelinjang kuat ketika cairan wanitanya keluar membasahi memeknya, aku segera bangkit dan melepas celana jeansku beserta cd dan jaket yang kupakai, kubiarkan kaos tetap menempel ditubuhku,ku arahkan kontolku ke memek bu widi yang masih terlentang di sofa ruang keluarganya, kali ini dengan hati hati coz bu widi mungkin sedang mengandung janin hasil hubunganku dengannya. perlahan namun pasti kontolku masuk keliang memeknya, aku mulai memaju mundurkan pantatku dan lama lama mulai kupercepat dan terdengan bunyi keciprak gerakan kontolku yang menusuk nusuk memek yang sudah sangat basah, nampak bu widi juga ikut menggerak gerakan pantatnya mengimbangi gerakanku. ku remas kedua teteknya yang terombang ambing akibat gerakan pompa kontolku dimemeknya, tangan bu widi mencengkeram pantatku seraya membatuku memaju mundurkan kontolku. bu widi mengejang, pahanya mengapit pingganggku kencang, dia melenguh kencang dan kontolkupun terasa tersembur cairan hangat memek bu widi orgasme.

bu widi lunglai tapi aku melanjutkan mengobel memeknya dengan kontolku, kupercepat gerakanku dan tak lama kontolku hendak mengeluarkan lahar panas, ditekannya pantatku dalam dalam dan kurasakan kontolku mentok dirahimnya dan crooot croooot crooottt..spermaku meluncur deras di dalam memeknya. masih kubiarkan kontolku didalam memek bu widi, kucium bibir bu widi, kubelai mesra rambutnya. disingkapnya kaosku, dicupangnya bekas cupangan istriku di dadaku.
"buat oleh oleh mas"candanya genit

aku tersenyum sambil mencubit puting teteknya, ku cabut kontolku, tiba tiba dipegangnya kontolku, dijilatnya dan dikulumnya kontolku hingga bersih, ngilu rasanya
"biar gak usah ke kamar mandi mas"timpal bu widi
"gak jijik sih bu?"tanyaku tersenyum
"enggaklah mas"jawabnya sambil makein cd ku, sebelum kontolku dimasukkan ke cd, diciumnya kontolku

"makasih ya sayaaang"ucapnya sambil mengusap lembut kontolku lalu dimasukkannya ke cd. kupake jeans n jaketku sedang bu widi ke kamar mandi lalu mengambil bh n cd, memakainya lalu kaos n legging baru dipakai. aku pamit pulang, mengambil motor dan keluar lewat garasi mobil.

hari hari selanjutnya tiap suaminya gak ada dirumah n tiap ada kesempatan selalu melakukan hubungan sex. hal ini tanpa dicurigai suaminya karena bu widi juga selalu melayani suaminya meski katanya kurang puas, pun istriku karena aku selalu rutin tanpa mengurangi rasa dalam hubungan sexku de ngan istri. sedang pembantu bu widi datang kerumah bu widi hanya buat masak pagi siang malam n bersih bersih dipagi hari, selebihnya pulang kerumah yang masih dalam kompleks
, ,