Thursday, June 26, 2014

Lima Pria Dan Istriku

Beberapa minggu yang lalu, istriku akhirnya mewujudkan fantasinya bercumbu dengan 2 laki laki sekaligus. Sejak saat itu dia berupaya untuk memenuhi keinginan nafsunya yang lebih besar. Dan akulah yg mewujudkan impiannya itu, tapi dalam jauh dalam pikiran ku, itu membuatku terangsang mengetahui sisi banal istriku

Semalam, kami mengundang beberapa pria menonton beberapa pertandingan tinju di tv kabel milik kami, ini sungguh menjengkelkan istri tanpa akhir, dia membenci pertandingan tinju dan lebih lebih bila pria berkumpul didepan tv.

Berlima kami nonton pertandingan tinju, minum bir dan menyantap pizza ketika janice pulang kerumah, dia mengerutu,
terlihat kurang senang pada kami yg duduk sambil melihat pertandingan tinju. Dia berkata bahwa dia akan mandi dan mengucapkan selamat malam dan kubalas “malam sayang...”

Beberapa menit kemudian, aku mendengar “alamak…” yg datang dari lorong pintu. Terlihat istriku yg cantik berdiri disana memakai jubah satin hitamnya dengan kaki jenjangnya terkaangkang memperlihatkan stocking yg berbentuk jarring ikan sekaligus sepatu hak tinggi miliknya.

“Maukah kalian “bermain” dengan ku ketimbang nonton tv?” tanya istriku dengan suara anak kecil yang manja

“Yo’a…” “pastilah...” “kami akan kesana sayang…” beberapa teriakan teman temanku pada saat aku terduduk kaget

“ Ikuti aku anak anak…” katanya mengundang

Aku mengikuti teman temanku yg bernafsu ke tempat tidurku sambil berpikir apa yg ada dalam pikiran istri malam ini.

Istriku menyuruh kami duduk ditempat tidur saat dia mengelilingi ruangan, perlahan istriku mulai menanggalkan jubah sesuai dengan irama musik yg sedang diputar di meja. Istri memperlihatkan bra hitam dan celana dalamnya yg serasi ditambah dengan stocking dan sepatu hak tingginya. Janice berdiri 5.10 kaki memeliki rambut merah yg ikal dan kulit putih yang sesuai dengan yg dipakenya sekarang. Did memegang dadanya yg berukuran 36b sambil memberikan tarian telanjang pada teman-temanku

Bill, temanku yg ikut serta dalam pesta threesome kami yg pertama menyeringai mengetahui pasti apa yg akan terjadi. Temanku yang lainnya tertarik tapi bingung apa yg sebenarnya terjadi.

Istriku mulai jongkok didepanku dan perlahan mulai menelanjangiku, menanggalkan celanaku, senjataku langsung berdiri siap beraksi dan terpampang didepannya matanya! Istriku lalu mengenggamnya dan mulai menjilatinya perlahan. Jan(istriku) memainkan lidahnya dibatang senjataku lalu menoleh kan kepalanya melihat teman temanku dgn
matanya untuk memberitahu mereka apa yang ada dalam pikirannya untuk tiap mereka tanpa sedikit pun melepaskan jilatannya dari senjataku

Ketika istriku memberikan karaoke terbaiknya, teman-temanku berlomba menanggalkan pakaian mereka. Begitu tidak sabarnya mereka menunggu istriku untuk mendapat gilirannya. Bill berinisiatif mengambil aksi sendiri melangkah kebelakang punggung istriku dan mulai memukul pantat istriku pada saat istriku terus menghisap senjataku.

“OH” teriak istriku. Istriku lalu memegang pantatnya, lalau mengkaitkan celana dalamnya dan memperlihatkan kemaluannya dan meraba bibir bawahnya yg basah

Bill, dengan tidak sabar seperti biasanya, mengocok senjatanya sebentar, sebelum menusukkannya kedalam kemaluan istrik dari belakang (doggie style booo^^)

“Gawd!!!” teriaknya lalu kembali menghisap senjataku

Bill terus memompa senjatanya kedalam kemaluan istriku sambil istriku menghisap senjataku. Tiga temanku yang lainnya ; John,Chris,dan ben perlahan mendekat kearah kami. Sekarang istriku mengerang dan mencoba mengatur posisinya ditempat tidur. Istriku melepaskan senjataku dari mulut hangatnya dan melepaskan dirinya dari bill. Menarik john dan chris dengan senjata mereka, istriku lalu berbaring berlawanan dengan arah kepala tempat tidur dan mulai menghisap senjata mereka bergantian. Ben menanggalkan celana dalam istriku yg sudah melar dan mulai menjilat kelentitnya. Bill dan aku melihat dengan takjub dengan pertunjukan porno yg terjadi didepan kami. Jan (istriku) menoleh kiri lalu kanan dan menghisap setiap senjata itu sambilmengeluarkan erangan lirih

Aku lalu mengambil KY Jelly di meja rias dan menarik istriku dari tiga laki laki tersebut. Aku lalu melumuri jell(agar-agar?) kedalam lubang pantatnya yang sempit dan memasukkan jari tengahku kedalam pantatnya.dia menggelinjang ketika aku menarik jariku keluar dan perlahan aku memasukkan 8 inci senjataku kedalam lubang pantat istriku yang telah menanti. Aku perlahan berbaring dengan punggungku sementara istriku berada diatasku dan teman temanku berdiri disekeliling tempat tidur menunggu.

John lalau menaiki tempat tidurku dan memasukkan senjata 7 incinya kekemaluan basah istriku. Aku mulai memompa senjataku ketika john mulai mengasah senjatanya didalam kemaluan istriku, setelah beberapa pompaan, kami berdua menemukan irama menyetubuhi istriku. Lelaki lainnya memposisikan diri mereka di kepala tempat tidur tanpa tahu harus melakukan apa.

Jan (istriku) mulai menjerit disetiap hentakan dan memegang senjata yang bebas dan mencoba mengisapnya. Aku bisa merasakan dia gemetaran dan mengerang seakan memberi perintah pada laki laki disekitar kami.

John menggeram lalu berbisik “ aku keluar…” sambil mengeluarkan spermanya di kelamin merah istriku. Chris menggantikan posisi john… di kemaluan istriku. Aku bisa merasakan snejatanya yg menggantikan milik john melalui lapisan kulit antara senjataku dan senjatanya. Aku dalam posisi yg ngga bisa bergerak jadi aku melanjutkan kenikmatan menyetubuhi pantat istriku sementara temanku menyetubuhi kemaluannya

“Keluar... aku keluar!” dia mengerang. Butir butir keringat membasahi istriku dan aku. Aku bisa merasakan getaran menguat saat dia mencapai puncaknya untuk pertama kali
Chris kelihatan mulai keluar, dia menggenjot lebih keras. Dia bergetar sekali dan mengeluarkan spermanya didalam istriku. Sekarang, aku bisa merasakan sperma mengalir kepadaku. Saat chris berdiri dari atas tubuh istriku, jan berputar disisinya dan senjataku perlahan keluar daru lubangp pantatnya.

Basah oleh keringatnya, berdiri dengan kaki dan tangannya ditempat tidur ( nb : maksud berdiri anjing) dan menghisap senjata bill dan ben menggoyang pantatnya dimukaku. Mengerti maksudnya. Aku memukul pantat istriku beberapa kali sehingga terlihat kemerahan. Mengocok senjata beberapa kali dan lalu aku memasukkan kembali kelubang pantatnya y menunggu. Saat aku mengocokkan senjataku keluar masuk pantatnya, aku meraba kemaluan istriku dan memasukkan 2 jariku, ini menbuat dia terangsang!
“Masukkan yeah “ “pompa aku dengan kuat” “aku pelacurmu”teriak istriku dengan suaranya yg mulai parau

Istriku mengisap dengan keras dan keras 2 teman kami yang tersisa saat aku memainkan tanganku di kelaminnya dan menghentakkan pantatnya.

Saya berjongkok turun mencium kening istriku yang kelelahan dan istriku berbisik ditelingaku “lagi…”

Istriku kecapekan ditempat tidur; basah dengan keringat dan mani, riasannya luntur diwajahnya dan lipstiknya berantakan dimulutnya. Teman temanku mandi dulu sebelum kembali keistri mereka masing masing.

Lalu kedengar bill mengerang saat dia memuntahkan maninya dimuka istriku dan disusul oleh ben. Sekarangm aku bisa merasakan istriku telah mencapai puncaknya beberapa kali dan telihat mulai kelelahan. Dia berbisik “aku keluar lage…” dan itu tanda buatku. I menarik keluar senjataku dari lubang pantatnya dan menembak kan keluar maniku dikulit pantat merahnya

Istriku kecapekan ditempat tidur; basah dengan keringat dan mani, riasannya luntur diwajahnya dan lipstiknya berantakan dimulutnya. Teman temanku mandi dulu sebelum kembali keistri mereka masing masing.

Saya berjongkok turun mencium kening istriku yang kelelahan dan istriku berbisik ditelingaku “lagi…”

- Tamat - , , ,

Pejantan Lugu

USAHA BIZNIZ

Beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengan calon suamiku, seorang dokter muda yang baru mulai praktek. Ketika ia mulai mengunjungi rumahku, dan mulai menunjukkan minatnya terhadapku, kedua orang tuaku menunjukkan rasa senangnya. Maklumlah siapa yang tidak mau punya menantu seorang dokter. Apalagi mas Heru adalah dokter yang sedang mulai ‘naik daun’ di kota kediamanku. Tapi untukku dia orangnya terlalu serius, dan selalu berbicara tentang pekerjaannya. Seolah-olah tidak ada hal Ketika mas Heru datang di dampingi kedua orang tuanya, lalu ayahku menanyakan kesediaanku untuk dilamar mas Heru, pada waktu itu rasanya tidak ada jalan lain kecuali
menerimanya. Pesta pernikahanku memang cukup meriah, terutama untuk ukuran kota kecilku. Tidak lama setelah itu mas Heru, yang telah dipindah-tugaskan ke kota Bandung, memboyongku ke tempat kediamanku yang baru.

Benar saja ternyata tepat apa seperti apa yang telah kuperkirakan. Di kota Bandung aku kesepian dan segera merasa jenuh. Teman-temanku belum banyak, sedangkan mas Heru terlalu larut dalam tugas-tugasnya. Nikmatnya kehidupan perkawinan, seperti yang pernah digambarkan kakak-kakakku, ternyata tidak kualami. Bukan hanya secara sosial lingkungan mas Heru terasa begitu membosankan, kehidupan seksualku dengannya juga terasa hambar.

PENJAGA KANTOR

Dalam keadaan hampir tidak tahan lagi seorang wakil perusahaan farmasi, yang kebetulan menjadi relasi suamiku, datang mengunjungiku. Dimintanya kesediaanku untuk menjadi agen penyalur obat-obatan produksi perusahaannya. Katanya menurut pengamatannya aku orangnya supel, lincah dan cantik, bahkan kelihatannya mempunyai bakat untuk meyakinkan orang lain dengan mudah. Dengan ‘training’ dan dukungan teknis perusahaannya aku akan mampu mengembangkan usaha sebagai penyalur obat-obatan. Karena tertarik kuminta ijin suamiku. Pada mulanya ia nampak keberatan, tapi setelah kurayu terus-menerus akhirnya mas Heru setuju juga. Katanya aku boleh mencoba usaha baru ini, dengan syarat tidak memasarkan obat-obatan yang kuageni di kota Bandung. Berarti dengan demikian aku harus mau melakukan kegiatan-kegiatan ‘marketing’ku di kota-kota lainnya, walaupun masih di sekitar Bandung juga.

Setelah membuat kalkulasi yang cukup mendalam, aku putuskan untuk mulai melangkah. Kusewa sebuah ruko agak besar di Jalan Soekarno-Hatta, supaya dapat dijadikan kantor sekaligus gudang. Aku sendiri yang melakukan perjalanan-perjalan untuk pemasaran, malah kadang-kadang sampai berhari-hari. Tanpa diduga hanya dalam tempo enam bulan kegiatanku sudah menampakkan tanda-tanda keberhasilannya. Dengan keadaan yang semakin berkembang bertambah pula karyawanku, termasuk untuk bidang pemasarannya. Tapi beberapa pelanggan yang telah kubina sejak awal, termasuk di antaranya beberapa rumah sakit dan apotik ternama, tetap kutangani sendiri. Karena itulah walaupun usahaku kelak semakin maju aku sendiri tetap melakukan perjalanan-perjalanan yang cukup melelahkan, dalam rangka memelihara hubungan dengan pelanggan-pelanggan lamaku.

Di kantorku pegawai yang paling tua bernama pak Solichin, dan sebagai penghargaan sering kupanggil mang Ihin. Barangkali karena dia sendiri merasa akrab denganku dipanggilnya aku Neng Yasmin, atau kadang-kadang Neng Mimien. Tanpa kuduga ternyata sebutan untukku ini akhirnya menjadi populer di antara karyawan-karyawanku. Mereka resminya tetap menyebutku Bu Yasmin atau Bu Heru, tapi tidak jarang juga Neng Mien atau Neng Mimien. Karena aku masih muda, dengan usia yang tidak terlalu jauh berbeda dari pegawai-pegawaiku, kubiarkan saja mereka menggunakan sebutan akrab ini. Di antara karyawanku ada seorang pemuda bernama Adli. Ia masih muda, tetapi sudah berkeluarga dengan satu orang anak. Orangnya hitam manis, gagah dan tampan, tetapi lugu sekali. Kelihatannya pendidikannya tidak terlalu tinggi. Barangkali malah tidak sampai tamat SMP atau SMA.

Walaupun demikian kesetiaannya sangat bisa diandalkan, bahkan caranya membela apa yang dianggapnya sebagai kepentinganku sangat fanatik. Dia mulai bekerja di tempatku sebagai penjaga malam, alias satpam, dan ternyata sangat baik menjalankan tugasnya. Karena dia juga pandai ilmu-ilmu bela diri, seperti silat dan sebagainya, beberapa stafku mengusulkan supaya dia menjadi pengawalku. Khususnya dalam perjalanan-perjalananku ke keluar kota. Apalagi akhir-akhir ini keadaan di wilayah sekitar Bandung dirasa kurang aman. Jadi mulailah Adli ikut mendampingiku keluar kota. Ternyata pengaturan ini sangat memuaskanku, karena orangnya lucu dan jenaka. Sering-kali aku merasa terhibur dengan lelucon-lelucon ataupun gayanya yang kocak. Di samping itu ada lagi kelebihannya, sebagai seorang jago silat Adli juga pandai mengurut dan memijat. Maka bukan sekali dua-kali aku sempat memanfaatkan kebolehannya ini.

Pada suatu hari aku harus melakukan kunjungan ke kota-kota Sumedang, Kuningan dan Cirebon. Endah, seorang tenaga pemasaran yang biasa mendampingiku, kali ini tidak bisa ikut bersamaku. Kebetulan orang-tuanya jatuh sakit. Karena mas Heru tidak keberatan pergilah aku dengan supirku, tentunya di kawal juga oleh Adli. Aku meninggalkan kota Bandung dengan perasaan enteng saja. Tidak terbayang bahwa nantinya akan terjadi sesuatu yang akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupanku.

TIDUR BERSAMA

Semua urusanku di Sumedang berjalan lancar, bahkan mungkin lebih banyak waktu yang kugunakan ngobrol dengan langganan-langgananku daripada betul-betul menangani masalah bisnisnya. Sesuai rencana untuk malam pertama ini kami menginap di Sumedang. Kupilih kamar yang baik dan bersih untukku, lalu aku mandi menyegarkan diriku. Ketika mencoba untuk tidur ternyata aku tidak merasa mengantuk sama-sekali. Sulit sekali bagiku untuk memicingkan mataku. Akhirnya daripada kesal sendirian kusuruh Adli datang ke kamarku. Akan kuminta dia memijatku, sambil aku nanti mendengarkan cerita-ceritanya yang jenaka. “Ada apa neng?” … tanya Adli sambil memasuki kamarku

Kuminta Adli memijat punggungku. Sebagai karyawan yang setia ia mau saja. Setelah beberapa saat kuminta ia menduduki pantatku, maksudnya supaya tekanan pijatannya lebih terasa. Santai saja kubiarkan ia mengurut dan memijati punggungku yang agak terbuka, karena jenis daster yang kukenakan memang seperti itu. “Neng, panas yah! Saya sampai keringetan!” Dengan lugunya Adli mengeluh kepadaku. Santai saja kutanggapi kata-katanya, … “Ya buka aja kaosnya!” Setengah geli dan juga kesal aku melihat dia langsung membuka kaosnya dengan tanpa ragu sedikitpun. Lalu kembali dia memijati punggungku. Tidak berapa lama kemudian terdengar Adli berbicara lagi, … “Neng … Neng Mimien, maaf ya Neng kalau ada yang mengganggu.” Polos betul anak muda ini. Begitu sopan dan lugu, tapi juga gagah pembawaannya. Memang aku sendiri merasakan ‘ada sesuatu’ sesuatu yang mengganjal di atas pantatku. “Kenapa sih memangnya?” Tanyaku dengan maksud mau mengganggunya. Jawabannya yang polos membuatku geli, tapi juga terangsang. Dengan sangat lugu dia menerangkan, … “Iya Neng, udah seminggu belom kesampean … eh … gituan.” Kutanya lagi, … “Kok bisa?” … “Iya abis kan udah tiga hari ini sibuk di kantor, abis itu diminta nganterin Neng keliling.” Lalu sambungnya lagi, … “Padahal sebelom berangkat istri saya lagi … itu tuh Neng … datang bulan.” Karena kepingin tahu kutanya terus, … “Jadi gimana dong?” Keluguan dan kepolosannya semakin terlihat sewaktu dia menjawab. “Yah pusing aja … Apalagi ngeliat punggung Neng Mimien kenceng begini, kayak istri saya aja …, bedanya neng lebih putih aja.” Agak menahan tawa kuanjurkan padanya, … “Yah kalau pusing dilepas aja pakai tangan di kamar mandi sana.” Usulanku ini ternyata ditanggapi dengan serius oleh Adli. “Iya yah Neng, bener juga, kalau gitu ditinggal sebentar ya Neng.” Adli berdiri lalu melangkah kearah kamar mandi. Seakan-akan tanpa beban apapun ditinggalnya aku sendiri begitu saja. Masih terlihat olehku tubuhnya yang ramping, kekar dan berotot itu. Tanpa sadar kutelan ludah. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di kerongkonganku.

Karena bosan dan juga ingin tahu, kalaupun belum karena dorongan gairah, kususul Adli ke kamar mandi. Ternyata pintunya tidak terkunci. Pelan-pelan kubuka pintunya dan akupun masuk dengan rasa penasaran. Adli tidak menyadari kehadiranku di dekatnya. Terlihat dia sedang berdiri menyandar pada bak mandi. Tubuhnya dalam keadaan telanjang, karena tadi baju kaosnya sudah kusuruh lepas waktu sedang memijatiku. Walaupun kulitnya agak gelap, secara keseluruhan dia terlihat gagah. Celana pendeknya masih menggantung di pahanya, karena rupanya hanya dilorot sebagian. Terlihat matanya terpejam menikmati apa yang sedang dilakukannya. Dari gerakan pada lengannya kutahu dia sedang mengocok ‘barang kepunyaan’nya. Segera kutujukan mataku ke arah selangkangannya. Apa yang kulihat saat itu membuatku kagum, bahkan membuat nafasku sesak tersengal-sengal. Tangan Adli sedang menggenggam ‘alat kejantanan’nya, yang kelihatan besar dan panjang sekali. Sangat berbeda dengan kepunyaan mas Heru yang ukurannya sedang-sedang saja. Ujung kepala ‘kemaluan’nya bulat, keras dan mengkilat. Seperti orangnya warnanya juga cokelat tua agak kehitam-hitaman. Adli masih terus mengocok-ngocok ‘barang kepunyaan’nya yang mengagumkan itu. Karena matanya terpejam dia tidak menyadari bahwa aku telah semakin dekat dengannya. Aku juga terbawa untuk memejamkan mataku. Terbayangkan olehku hal yang tidak-tidak yang juga membuatku terangsang.

Kurasa sesuatu yang menggelegak dalam diriku. Sekali lagi aku sampai menelan ludah. Lalu kuberanikan diriku untuk menyapanya, … “Adli! Besar amat sih ITU-nya?” Adli terlihat sangat terkejut. Tersipu-sipu ia berkata, … “Aduh Neng, kok ada di sini … Aduh maaf Neng!” Segera kutenangkan dia, … “Nggak apa-apa, nggak apa-apa kok.” Lalu sambil mengulurkan tanganku ke arah ‘tonggak kejantanan’ Adli aku berkata, … “Coba lihat dong! Ukurannya kok sampai sebesar ini sih?” Malu-malu dia berusaha menghindar, tapi terpegang juga olehku ‘barang kepunyaan’nya. Lucunya setelah terpegang dia tidak terus berontak, malah dibiarkannya aku mengusap-usap ‘alat kejantanan’nya itu. Setelah aku usap-usap Adli terlihat sudah mulai mampu menguasai diri lagi. Malah rupanya keberaniannya timbul kembali. Dengan gaya lugunya dia bertanya, … “Emangnya besar ya Neng punya Adli?” Aku mengangguk mengiyakan. Hampir tertawa aku ketika Adli menanyakan, … “Tapi istri saya kok nggak pernah bilang apa-apa yah?” Kujawab saja sekenanya, … “Wah dia nggak ngerti suaminya punya barang hebat” … “Eh ngomong-ngomong mau diterusin nggak?” Dengan manis dan lugu Adli mengangguk, … “Kalau nggak diterusin entar pusing Neng.” Tidak mampu menahan diri lagi langsung kutawarkan padanya, … “Mau saya bantuin nggak?” Terlongo Adli memandangku dan bertanya, … “Emangnya Eneng mau?” Sambil tersenyum genit aku berkata kepadanya, … “Kalau untuk kamu mau dong, … tapi jangan di sini ya, di kamar aja yuk!”

Kutarik tangan Adli dan menuntunnya kembali ke kamar tidur. Kuarahkan supaya ia duduk membujur di atas ranjang, lalu aku menelungkup di hadapannya. Kedua tanganku mulai mengusap-usap ‘batang kejantanan’ Adli. Ukurannya memang luar biasa. Tadi dalam keadaan Adli berdiri, kalau ‘batang keras’nya ditegakkan sepertinya panjangnya sampai ke pusarnya. Sekarang dalam keadaan dia duduk panjangnya jelas meliwati pusarnya itu. “Aduh Neng, geli banget!” Erang Adli. Kedua lengannya mengencang menyangga tubuhnya, sampai terlihat otot-ototnya menonjol gagah. “Adli! Adli! Besar amat ya kepunyaan kamu ini, katanya orang Arab yang itunya gede-gede begini,” … demikian aku membuatnya bertambah semangat. Ternyata Adli mengiyakan sinyalemen ini dengan menerangkan, … “Iya Neng, kakek Adli dari emak memang keturunan Arab.” Pantaslah kalau begitu. Beberapa saat hening tanpa ada suara, sementara aku terus mengocok-ngocok lembut ‘barang kepunyaan’ Adli. Sampai akhirnya terdengar lagi Adli bertanya, … “Neng, katanya kalau orang bule seneng ngemutin pake mulut yah Neng?” Pertanyaan ini kurasa semakin menjurus dan membuatku terusik oleh keinginan terpendam yang ada di hatiku. Dengan singkat kujelaskan padanya, … “Ah bukan orang bule aja, orang Indonesia juga ada.”

Setelah terdiam sejenak pertanyaan berikutnya membuat gairahku semakin tergugah. “Kalau Neng Mimien gimana?” Walau dengan nada ragu-ragu berani juga dia menanyakannya. Akupun mengaku terus terang, … “Yah saya sih dari dulu juga suka.” Sejenak lagi Adli terdiam lalu terang-terangan bertanya, … “Sama punya Adli mau nggak Neng?” Aku melepas nafas lega, rupanya akan terjadi juga hal tidak-tidak yang dari tadi terbayang olehku. Tapi aku tidak mau terburu-buru, aku masih ingin mempermainkannya dulu. Dengan mimik serius kujelaskan padanya, … “Wah kalau itu sih harus dilamar dulu!” Rupanya tertarik Adli bertanya mengejar, … “Maksudnya dilamar gimana Neng?” Masih tetap serius kupertegas lebih jauh lagi, … “Ya ngelamar anak orang kan biasanya ada syaratnya.” Wajah Adli terlihat agak kecewa, … “Yah kalau pake mas kawin mah Adli nggak punya.” Tidak ingin terlalu lama berjual mahal langsung kujelaskan padanya, … “Maksudnya bukan begitu, syarat sebagai laki-laki ya ITU-nya bisa bangun, besar, panjang, keras sama kuat.” Kembali Adli nampak bersemangat, … “Oh kalau itu sih Adli mampu … Bersedia nggak Neng dilamar Adli?” Aku membisikkan kesediaanku. Lalu Adli berkata dengan penuh keseriusan, … “Neng, bersama ini Adli nyatakan bahwa Adli ngelamar Neng Mimien alias Neng Yasmin dan mampu memenuhi syarat yang diminta tadi …” Kujawab kata-katanya itu, … “Dengan ikhlas saya bersedia menerima lamarannya Adli dan berjanji untuk memuaskan kemauannya.” Walaupun aku sebetulnya bercanda, tetapi semua kulakukan dengan penuh keseriusan. Begitu pula Adli menanggapinya dengan cara yang serius juga.

Sambil tersenyum lega Adli bertanya, … “Terus gimana Neng?” Aku juga tersenyum dan menjawab, … “Terus saya cium.” Dengan bersemangat Adli memyambutnya, … “Aduh mau Neng, ayo dong!” Pada saat bibirku mendarat di atas ‘kepala kemaluan’nya dan mengecupnya Adli mendesah, … “Aduh geli Neng, enak.” Apalagi waktu mulai kujilat-jilat dengan lidahku, ia betul-betul merasakan nikmatnya. Tubuhnya mengejang keras, … “Aduh Neng geli sekali.” Begitu kumasukkan ‘ujung kemaluan’nya yang seperti ‘topi baja’ itu ke mulutku, lalu mulai aku kulum, Adli mengerang panjang. Karena keenakan dia sampai menekan kepalaku ke bawah. Dipenuhi oleh ‘ukuran kejantanan’ lelaki yang sebesar itu aku sampai sulit bernafas. Untung aku sudah cukup berpengalaman dalam hal ’seks oral,’ sehingga dengan mudah aku bisa menyesuaikan gerakan bibir, lidah dan mulutku.

Ketika ujung ‘tongkat kejantanan’nya menyentuh langit-langit mulutku, aku merasakan lonjakan gairah yang membawa nikmat. Sayang sementara sedang menikmati itu semua masih kudengar juga Adli bertanya lagi. Katanya, … “Neng hanya ini aja apa boleh lebih Neng?” Terpaksa aku menjawab dulu, supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan. Kuusahakan supaya Adli bisa menerima keteranganku dengan baik. “Sebatas ini aja ya, soalnya baik Adli maupun saya kan udah berkeluarga … Lagi pula kalau meliwati batas ini kita kan jadinya melanggar perintah agama, … Iya kan Adli?” Tersenyum puas Adli memandangku, … “Iya juga ya Neng, sampai sekarang Adli belom pernah melanggar perintah agama … Terima kasih ya Neng, begini aja Adli udah puas sekali kok.” Manis sekali anak ini, akupun jadi semakin menyukainya. Langsung kuperhebat emutanku, sampai aku sendiri semakin terangsang. Sewaktu aku sudah mulai hanyut, ternyata masih juga kudengar permintaan Adli. “Neng,” … panggilnya, … “Neng Mimien.” Agak kesal aku menjawabnya, … “Iya kenapa? Ada apa?” Rupanya Adli tidak tahu bahwa aku merasa kesal. Terbukti dia masih memintaku, … “Neng, sambil diemutin dijilatin juga Neng, enak kan kalau sembari dijilatin …” Kupenuhi permintaannya, walaupun aku merasa agak jengkel. Berani betul anak muda ini menyuruh-nyuruh aku. Untung suasana batinku tidak sampai terganggu, sehingga aku dapat mencapai orgasmeku.

Karena sudah terangsang dari tadi, terutama setelah mulai mengemut ‘alat kejantanan’ Adli, beberapa usapan saja sudah cukup untuk membawaku ke puncak rasa jasmaniku. Aku mengaduh, merintih dan mengerang sambil terus menjilati ‘barang kepunyaan’ Adli. Laki-laki itu sampai melihati aku dengan pandangan agak heran. Tapi tidak kuperdulikan lagi dirinya. Terus aku emuti ‘daging keras’ Adli di mulutku, sampai gelora rasaku mereda. Setelah itu yang aku sadar adalah betapa pegalnya rahang mulutku, karena dari tadi mengemuti kepunyaan Adli dengan tanpa henti.

Sedikit-sedikit mulai ada rasa jengkel juga karena daya tahan kejantanan lelaki itu kuat sekali. Hampir aku sentak dia ketika sekali lagi kudengar suaranya berbicara kepadaku. “Neng,” … katanya, …”Neng.” “Aduh Adli, ada apa lagi sih?” Tapi untung dia tidak menangkap kekesalanku, karena kudengar dia berkata, … “Saya hampir keluar Neng.” Rasa gairah semakin merangsang diriku, semakin keras juga aku mengemut dan mengisap ‘alat kemaluan’ Adli. Hingga akhirnya seluruh tubuh Adli mengejang keras, begitu juga batang kejantanannya di mulutku. “Ah … ah … Neng … Neng Mimien … ah … Aduh Neng … aaah …,” … Adli mengerang keras dan panjang. Rupanya dia sedang mengalami puncak kenikmatannya di mulutku. Semburan demi semburan air mani Adli memasuki rongga mulutku.

Banyak sekali, kental, dan asin rasanya. Supaya tidak terselak kutelan sebisa-bisanya. Tapi setelah aku tidak tahan lagi kubiarkan sebagian tertumpah dari mulutku dan terjatuh ke perut Adli. Beberapa saat kemudian keadaan mulai mereda. Kudengar suara nafas Adli lembut. Alat kejantanan’nya yang masih berada dalam genggamanku ternyata masih keras juga. “Adli,” … kupanggil dia. Sambil mengusap-usap bahuku ia menjawab, … “Neng?” Kujelaskan padanya, “Punya lelaki yang seperti begini yang jadi idaman wanita.” Seperti biasa dalam kepolosannya dia tidak langsung mengerti, … “Kenapa Neng?” Karena sudah puas aku tidak kesal lagi dengan keluguannya, … “Soalnya biarpun udah lepas muatannya masih tetap keras.”

Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh lagi kuminta ia membujurkan dirinya di ranjang. Lalu kuambil handuk yang sudah kubasahi dengan air panas dan kubersihkan seluruh tubuhnya. Sebelum tertidur Adli sempat memandangku mesra. Katanya lirih, … “Neng Mimien, Terima kasih ya Neng!” Akupun tidur di ranjang satunya. Pemandangan tubuh telanjang Adli, yang sebagiannya telah terbungkus selimut, mengantarku ke dunia mimpi.

RANJANG ASMARA

Perjalanan di hari berikutnya berlangsung cukup lama. Bukan karena jarak yang ditempuh jauh sekali, tapi lebih disebabkan oleh kemacetan yang luar biasa. Sebuah truk trailer rupanya mengalami selip dan terbuang melintang menutupi sebagian jalan antar kota yang kami liwati. Setibanya di kota tujuan berikutnya, yaitu Kuningan, langsung kuperintahkan mencari restoran untuk makan malam. Sayangnya setelah itu tidak langsung dapat menemukan hotel ataupun losmen dengan kamar yang masih kosong. Akhirnya terpaksa mencari kamar agak keluar kota, yaitu di kawasan pariwisata yang berada di daerah pegunungan. Baru menjelang tengah malam kami menemukan sebuah losmen kecil di mana masih tersedia kamar yang kosong. Untungnya pada setiap kamar di losmen ini dilengkapi pula dengan kamar mandi. Ketika aku memesan kamar kulihat wajah Adli menatap dengan pandangan penuh harap. Begitu ganteng, tetapi polos dan lugu sekali. Kupesan satu kamar untuk dia dan pak Soleh, supir kantorku. Aku sendiri minta kamar dengan tempat ranjang “double-bed.’ Berbeda dengan semalam sebelumnya, kali ini aku tidak begitu tergerak untuk mengajak Adli ke kamarku. Barangkali karena hasratku sudah terpuaskan tadi malam, lagi pula perjalanan hari ini benar-benar membuatku sangat letih. Segera aku mandi dan membaringkan diriku di ranjang empuk yang tersedia. Lama kelamaan baru terasa malam ini sepi sekali.

Sewaktu aku hampir tertidur kudengar bunyi ketukan di pintu, lalu suara seorang laki-laki. “Neng, Neng Mimien, udah tidur belom?” … “Neng bukain pintunya dulu Neng.” Karena ketukan pintunya begitu gencar akhirnya kubukakan pintu untuk Adli. Ia segera masuk ke dalam ruangan, sedangkan aku yang tadi tidur dengan busana yang sangat minim segera kembali ke bawah selimut. Kutanya kepadanya, … “Kenapa Adli, ada apa?” … “Adli nggak bisa tidur Neng, boleh nggak Adli di sini? Nggak usah sampe pagi sih.” Dengan hati-hati kujawab, … “Boleh sih boleh, tapi apa kata pak Soleh nanti?” Adli tersenyum lebar, … “Tadi saya udah bilang mau jalan-jalan. Besok saya bilangin aja Adli nyari kamar lain, soalnya pak Soleh kalo tidur ngorok Neng.” Rupanya biarpun polos jalan juga pikiran anak ini. Waktu Adli mau naik ke atas ranjang kucegah dia, … “Itu kan celana yang tadi siang dipakai, lepas dulu dong, kan kotor.” Tersenyum Adli memandangku, … “O iya Neng, lagi pula supaya nanti gampang ya kalo Neng Mimien mau, kalau begitu sekalian aja saya lepas bajunya ya Neng.” Kurang asem si Adli, berani betul dia membuat asumsi seperti itu. Sebelum kubalikkan tubuhku membelakanginya sempat kulihat tubuhnya yang telanjang kekar naik ke atas ranjang.

Beberapa saat berlalu tiba-tiba kurasa sentuhan tangan Adli di bahuku. “Neng jangan tidur dulu dong Neng,” … pintanya memelas mesra. “Deketan dikit dong, biar nggak kedinginan,” … sambungnya lagi. Kuputuskan untuk beringsut sedikit ke arah tubuhnya. Aku masih diam saja, tapi kubiarkan Adli merangkul dan mengecup bahuku. Setelah itu disusupkannya lengan kirinya ke bawah leherku, sehingga aku sekarang berbantalkan lengan yang kokoh itu. “Balik sini dong Neng,” … pinta Adli sekali lagi. Kuturuti permintaannya. Terasa bulu ketiaknya menusuk pipiku. Tercium juga bau keringatnya yang agak tajam menyengat.

Kurasa Adli belum mandi, dan yang pasti tidak memakai ‘deodorant. Boro-boro mau beli perlengkapan semacam itu, gaji untuk hidup sehari-hari sajapun mungkin pas-pasan. Tapi tidak kuucapkan komentar apapun, karena akupun tidak ingin untuk menyinggung perasaannya. “Neng,” … kata Adli memulai percakapan, … “tadi malam enak ya Neng?” Kutanggapi ia malas-malasan, … “Iya, lumayan juga.” Dengan terbuka ia mengakui, … “Neng, Inget yang tadi malam Adli jadi ngaceng, eh maksudnya bangun lagi ITU-nya Neng.” Dengan maksud iseng kugoda Adli, … “Maksud Adli ITU-nya apa sih?” Dalam kepolosannya sulit ia untuk menjawab dengan tepat, … “Itu Neng, burungnya … eh apa tuh namanya Neng?” Aku jadi tertawa geli mendengar jawabannya itu. Adlipun tertawa bersamaku. “Pegangin dong Neng, “… sekarang dia memintaku. Terus terang aku sendiri juga mulai terangsang. Kumasukkan tanganku ke dalam selimut, dan segera menuju ke arah selangkangannya.

Begitu terpegang ‘tonjolan keras’ di balik celana dalamnya segera tanganku mencari celah masuk. Seperti pengakuannya tadi ternyata ‘alat kejantanan’ Adli sudah menegang keras dan besar sekali. Terasa sekali hangat berdenyut dalam genggamanku. Agak lengket oleh keringat yang barangkali sudah mengendap seharian. Terbawa oleh suasana mesra saat itu kucium dan emut puting dadanya. Adli menggelinjang kegelian. Katanya meminta, … “Terus ke bawah Neng.” Tapi tercium lagi olehku bau keringat Adli. Karena tidak tahan kuusulkan padanya, … “Adli, mandi aja dulu, nanti rasanya lebih segar deh.” Di luar dugaanku Adli menanggapi dengan penuh percaya diri, … “Nggak usah deh Neng, dingin sekali.” Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Kataku membujuknya, … “Lho kan ada air panasnya, sana deh … Apa harus saya yang mandiin?” Sambil berdiri Adli berkata, … “Nggak usah ah kalo dimandiin, emangnya jenazah nggak bisa mandi sendiri.” Adli melorot celana dalamnya, … “Tapi ininya dicium dulu dong.” Agak jengkel aku mendengar permintaannya.

Dari nadanya kesan yang kutangkap seakan-akan dia ingin menguji atau mempermainkan aku. Dengan maksud supaya dia cepat pergi ke kamar mandi, segera kukecup ‘kepala’ dan ‘batang kemaluan’nya, masing-masing sekali. Tapi Adli memintaku untuk mengulanginya sekali lagi, dan setelah itu sekali lagi. Akhirnya malah aku sendiri yang keenakan menciumi ‘batang kemaluan’ Adli. Karena sudah terangsang tanpa dimintanya kujilati juga ‘tonggak kejantanan’ yang perkasa itu. Kesan lengket yang tadinya ada sekarang sudah hilang, tersapu oleh jilatan lidahku. Sementara aku sedang menikmati ’senjata kejantanan’nya Adli kudengar dia bertanya, … “Neng seneng ya sama ITU-nya Adli.” Kujawab singkat, … “Iya dong, seneng sekali.” Rasa penasaran rupanya mendorongnya bertanya lagi, … “Kalau sama yang dulu-dulu.” Pertanyaannya membuat gairahku semakin bergejolak. Tapi kucoba juga untuk menjawabnya, … “Senengan yang ini.” Merasa belum puas dikejarnya terus jawabanku, … “Kenapa?” Dengan nafas tersengal-sengal kujawab dia, … “Ini yang paling hebat, paling besar, paling kuat, … pokoknya … pangjagonalah.” Adli tersenyum bangga. Lalu pelan-pelan didorongnya daguku hingga menjauh dari ‘batang kemaluannya.’ “Iya deh, sekarang Adli mau mandi dulu ya,” … katanya meminta diri. Sejenak aku merasa seperti ditinggal pergi dengan sengaja, bahkan ditolak, atau malah dipermainkan. Rasanya hatiku tidak rela melepas Adli pergi, biarpun hanya untuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian terlihat Adli keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Kuperhatikan setiap lekuk pada tubuh yang bagus dan tegap itu. Lalu kutersenyum padanya. “Kenapa Neng?” … Tanya Adli. “Ah nggak, seneng aja ngeliat lelaki keren,” … kataku merayu. Wajah Adli terlihat senang. Kugamit lengannya agar ia lalu mendekat, setelah itu kutarik handuknya lepas. ‘Batang kejantanan’ Adli terpampang di depanku, sudah tegang keras kembali. Lho, tanyaku heran, … “kok masih keras sih.” Tersenyum Adli menjelaskan, … “Tadi sih udah nggak lagi, tapi begitu ngeliat Neng Mimien jadi bangun lagi.” Sekarang giliran dia yang membuat hatiku senang dengan kata-katanya. Segera kutarik tangannya, kuminta ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Kuciumi wajah pemuda yang telah memikat hatiku ini, sehingga sampai membuatku terlupa pada rumah-tanggaku sendiri. Kugigiti dia dengan lembut bercambur gemas mulai dari leher, lalu bahu dan dadanya, dan setelah itu sepanjang pinggangnya.

Setelah itu kuteruskan ke arah bawah hingga ke sekitar selangkangannya. Tapi kali ini aku hanya menciumi batang kemaluan Adli sekedarnya saja. Sempat kulirik Adli menatapku dengan pandangan heran. Tapi kuteruskan saja menciumi paha dan betisnya hingga aku sampai di kakinya. Waktu jempol kakinya kuemut Adli menjerit, … “Aduh Neng jangan, kasihan Neng Mimien.” Setelah itu kecupan-kecupan bibirku bergerak menuju ke atas lagi, hingga aku berhenti di sekitar selangkangannya. Tubuh Adli terlihat berkeringat, padahal udara malam itu cukup dingin. Rupanya apa yang baru kulakukan tadi telah memacu birahinya. “Enak nggak Adli?” … tanyaku ingin memastikan. “Aduh Neng, Adli nggak pernah ngebayangin seperti ini rasanya.” Jawabannya membuat hatiku berbunga-bunga.

Dengan penuh semangat aku mulai menjilati ‘kepala’ dan ‘batang kemaluan’nya. Lidahku menyapu semua sudut ‘kemaluan’ yang besar dan keras itu. Tidak lupa kujilati juga ‘buah zakar’nya, hingga Adli menjerit keenakan. Apalagi waktu pantatnya kugigit-gigit lembut. Karena masih ingin merangsang Adli lebih jauh lagi kudorong bagian bawah pahanya ke atas. Lalu kujilati sekitar ‘dubur’nya. “Aduh Neng, aduh, ampun Neng,” … Adli mengerang keras sekali. Karena kuatir didengar orang kuhentikan jilatanku itu. Langsung ‘batang kemaluan’ Adli aku kulum dalam dan setelah itu kuemut-emut dengan bernafsu. Beberapa saat kemudian Adli menarik tanganku lembut, … “Sini Neng! … Adli belom pernah ngalamin yang seperti begini … Terima kasih ya Neng!” Kemudian dimintanya aku berbaring menelentang.

Sebelum timbul pikiran macam-macam di benak pemuda cepat kutarik ‘batang kejantanan’nya ke mulutku dan kuemut-emut dengan penuh gairah. Setelah itu terjadilah sesuatu yang tidak kubayangkan akan sebelumnya. Ia menjatuh tubuhnya ke arah bawah, dalam posisi 69 berlawanan arah dengan tubuhku. Didekatkannya wajahnya yang tampan itu ke arah selangkanganku. Dijilatinya seluruh bagian ‘kemaluan’ku. Dipeluk dan ditariknya pantatku, lalu dijilatinya ‘dubur’ku seperti tadi telah kulakukan padanya. Kalau tidak kugigit bibirku pastilah aku sudah menjerit-jerit kegelian. Sewaktu dia kembali menjilati kemaluanku hampir saja aku mencapai puncak orgasmeku. “Adli, sayang, udah ah saya nggak tahan,” … kataku memintanya berhenti.

Pemuda itu menatapku dengan pandangan bertanya. Terpaksa kujelaskan bahwa belum tentu aku setahan dia. Kalau nanti aku orgasme duluan bisa mengganggu pelayananku kepadanya. Setelah mau mengerti Adli kembali ke posisi semula, yaitu mengangkangi tubuh bagian atasku. Kumulai lagi menjilati dan mengemut ‘tonggak kejantanan’ Adli yang keras itu. Sambil tentunya tanganku sendiri mengusap-usap ‘kemaluan’ku yang tadi sudah dirangsang Adli. Lama-kelamaan mulai terasa cairan kental agak asin di mulutku. Kelihatannya Adli sudah mendekati saat-saat puncaknya. Sayangnya tiba-tiba aku merasa agak mual. Terpaksa kuakali Adli dengan meminta sesuatu yang berbeda dari tadi malam. ‘Adli, nanti waktu keluar siramin ya ke atasnya saya.’ Ia bertanya heran, … “Mau Neng seperti begitu, ditumpahin pejuhnya saya?” Kuyakinkan Adli, … “Mau dong kan enak … Oh iya nanti kalau kamu udah keluar punya saya kamu usapin ya, biar saya juga puas.” Setelah itu kembali kuemut-emut ‘batang kemaluan’ Adli, sambil kukocok-kocok keras. Tidak terlalu lama kemudian terdengar Adli mengerang dan mengaduh.

Sesuai permintaanku tadi ditariknya ‘tonggak kejantanan’nya dari dalam mulutku. Lalu dia mengambil alih dengan mengocoknya sendiri. Kuatur posisi diriku sambil tanganku terus meremas-remas pahanya yang keras berotot. Waktu Adli mulai ber’ejakulasi’ aku mengaduh kaget. Cairan yang tadinya kuharap akan jatuh di dadaku, atau paling jauh leherku, ternyata begitu kuat semburannya sehingga tertumpah di wajahku. Mendengar eranganku rupanya Adli mengira aku menyukainya. Didekatkannya barang kejantanan’nya ke wajahku. ‘Ah … ini Neng … ah … ah,’ … semburan demi semburan cairan air mani Adli tersiram ke wajahku. Terpaksa kucoba menikmati itu semua sebisaku. Sementara itu kurasa telapak tangan Adli yang kasar meraba selangkangan dan celah pahaku, berusaha membawaku juga diriku ke puncak orgasme. Dalam keadaan terangsang mulutku mencari ‘batang kejantanan’ Adli. Seperti semalam sebelumnya ternyata masih dalam keadaan sangat keras, dan tetap besar, walaupun sudah mengalami ‘ejakulasi’nya. Dengan cepat kumasukkan ‘barang kepunyaan’ Adli itu ke dalam mulutku dan kuemut-emut lagi. Adli mengerang keenakan dan mengaduh kegelian. Dalam keadaan itulah aku juga mencapai puncak pengalamanku di malam ini.

Melihat keadaanku yang sudah lemah lunglai Adli menyuruhku berbaring santai. Setelah membersihkan dirinya di kamar mandi ia kembali membawa handuk yang telah dibasahinya dengan air hangat. Dibersihkannya seluruh tubuhku dengan telaten dan penuh perhatian. Sambil merebahkan tubuhnya masih sempat ia berkata, … “Aduh Neng, enak sekali rasanya.” “Iya Adli, saya juga puas sekali,” … jawabku sambil beringsut mendekatinya. Kali ini aku yang ingin dipeluknya. Demikianlah selanjutnya akupun terlelap dalam pelukan Adli, seolah-olah dalam pelukan lengan pasangan hidupku yang sejati.

ANCAMAN TEGAS

Pada waktu menemaniku makan pagi di restoran Adli berkomentar, … “Seneng juga ya Neng, bisa puas menikmati yang seperti tadi malam tanpa melanggar perintah agama.” Aku hanya tersenyum mendengarkannya berbicara. Lalu ia melanjutkan, … “Tapi ada juga nih yang Adli nggak seneng.” Kutanya padanya, … “Apanya yang nggak seneng?” Tandas Adli tegas, … “Nggak seneng karena sekarang udah mau balik ke Bandung.” Kebetulan memang sudah saatnya untuk aku kembali ke Bandung. Kucoba menghiburnya, …. “Iya kan di bandung juga banyak kerjaan, lagi pula nanti-nanti saya juga harus ke luar kota lagi … Nanti kamu deh yang saya bawa.” Adli menatapku tajam dengan pandangan curiga, lalu bertanya, … “Emangnya di Bandung kita nggak bisa melakukan yang seperti begini.”

Merinding bulu kudukku mendengar kata-kata Adli. Pelan-pelan aku berusaha menenangkannya dan memberinya pengertian, … “Iya kalau di sana kita kan harus hati-hati, kan susah kalau sampai ketahuan orang.” Wajah Adli terlihat mengeras. Dengan nada getir ia bertanya, … “Di Bandung nanti Neng Mimien nggak akan ngehindarin saya kan?” Aku gelagapan mencoba menjelaskan, … “Oh bukan itu maksud saya …” Dengan nada tegas Adli memotong ucapanku, … “Awas ya Neng, Adli nggak terima kalo dipermainkan, kan Neng Mimien udah Adli lamar!” Aku hanya terdiam, tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ada rasa kuatir di hatiku. Permainan candaku di malam pertama rupanya terlalu serius diterima Adli.



AKHIRNYA KENA

Di Bandung aku kembali menangani kesibukan-kesibukan rutinku. Sengaja aku menyibukkan diriku, maksudnya supaya jangan memberi peluang terhadap Adli. Memang beberapa kali dia berusaha mendekati diriku, dan mencoba mengajakku ngobrol. Tapi terus kucari jalan untuk tidak terlalu bersikap akrab dengannya. Demikianlah hal ini terus berlangsung, barangkali sampai hampir dua minggu sejak acara penyelewenganku dengan Adli. Aku sadar bahwa apa yang kulakukan ini mungkin menyakitinya atau malah membuatnya marah, tapi kuanggap langkah yang terbaik pada saat itu. Tentunya aku tidak pernah memperkirakan bahwa Adli akan berani berbuat nekad. Rupanya perkiraanku itu salah.

Pada suatu kesempatan aku terpaksa bekerja sampai jauh malam. Sebelumnya telah kuberitahu suamiku bahwa ada kegiatan ’stock-taking’ yang harus kuawasi. Begitu sibuknya aku sampai-sampai aku kehilangan kewaspadaanku. Tanpa kusadari tinggal aku berdua dengan seorang tenaga pembukuan, sedang karyawan-karyawanku lainnya sudah kuijinkan pulang lebih dahulu. Karena masih ada beberapa surat yang perlu kubaca, setelah pekerjaan selesai kubiarkan pegawai tata-bukuku untuk berpamitan. Aku merasa tenang saja karena bukankah ada Pak soleh supirku yang masih menunggu untuk nanti mengantarku pulang. Pada waktu akhirnya aku siap untuk pulang kukemasi semua dokumen yang penting dan kumasukkan ke dalam tasku. Tiba-tiba aku sadar betapa lelahnya rasa tubuhku. Sedemikian letihnya lebih daripada yang biasanya. Lalu akupun melangkah keluar bangunan kantorku. Di luar sudah sepi sekali, hanya tampak di lataran parkir mobil yang akan membawaku pulang. Segera aku menuju ke arah kendaraanku, lalu membuka pintu dan masuk kedalamnya. Satpam yang tadinya akan membukakan aku pintu kusuruh langsung membuka pintu pagar. Dengan tenang tanpa rasa curiga kusandarkan tubuhku ke jok mobil. Pelupuk mataku rasanya berat sekali, keadaan diriku benar-benar seperti sangat mengantuk.

Setelah beberapa saat baru aku menyadari bahwa pak Soleh kali ini kurang enak mengendarai mobinya. Langsung saja kutegur dia dengan menyebut namanya. Suara yang menjawab membuatku terkejut. “Pak Soleh tadi udah disuruh pulang neng, malam ini biar Adli aja yang nganter. “Ya ampun ini kan suara si Adli. “Aduh Adli apa-apan kamu, memangnya kamu bisa nyetir,” … tanyaku padanya. “Yah masih belajar sih neng, tapi kalau sedikit-sedikit Adli udah lumayan bisa,” … demikian penjelasannya sekenanya saja. Aku diam saja, berharap segera sampai ke rumah. Tapi beberapa menit kemudian hatiku menjadi was-was. Kendaraan yang kutumpangi ini rupanya sedang menuju ke suatu arah yang tak kukenal. “Adli, salah jalan nih,” … kataku menegurnya. “Nggak neng, memang disengaja, soalnya Adli perlu bicara empat mata sama neng Mimien.” Sia-sia kuminta ia untuk besok saja menemuiku di kantor. Alasannya harus malam ini juga, karena menurut dia sudah beberapa lama ini kelihatannya aku berusaha menghindari dirinya. Aku mulai keringat dingin, bahkan timbul rasa takut di hatiku. Bagaimana kalau Adli menyakitiku, atau malah membunuhku karena marahnya. Soalnya dia kan bukan termasuk orang yang berpendidikan tinggi, sehingga belum tentu mampu bernalar. Tapi aku hanya mampu berdoa dalam hatiku. Daripada aku marah-marah dan dia menjadi kalap, lebih baik kalau aku diam dulu.

Perjalanan yang rasanya begitu panjang itu akhirnya berakhir. Rupanya Adli telah membawaku ke sebuah motel murahan yang letaknya agak tersembunyi. Entah apa maunya. Tapi apapun maunya aku tidak mau panik dulu. Biarlah sementara kuikuti dulu apa yang ada dalam rencananya. Setelah melakukan pembayaran Adli terus membawa kendaraan yang kami tumpangi itu ke salah-satu ‘cottage’ yang letaknya paling pinggir. Setibanya di sana dipersilahkannya aku masuk, lalu dipesannya minuman ringan. Karena aku masih kenyang kutolak tawarannya untuk makan malam. Setelah duduk berhadapan dengan Adli aku mulai merasa tenang. Adli kelihatannya baik-baik saja, tidak terlihat bahwa dia sedang marah, atau bahkan merencanakan hal-hal yang bisa membahayakan diriku. “Ada apa sih Adli, kok saya di bawa ke tempat yang begini asing, mana gelap lagi.” Dengan tajam Adli menatapku, … “ah nggak ada apa-apa neng, hanya mau ngomong-ngomong aja.” Dalam pembicaraan yang urutannya tidak begitu runut itu baru aku menyadari kekeliruan permainanku di Sumedang beberapa minggu yang lalu. Rupanya sekembalinya ke Bandung Adli telah berkonsultasi dengan beberapa sesepuhnya, terutama untuk minta pendapat apakah perbuatannya bersamaku waktu itu melanggar perintah agama atau tidak.

Sekarang dia sudah mempunyai kesimpulannya sendiri. “Begini neng,” … katanya menerangkan, … “apa kita melakukan sepenuhnya atau terbatas seperti waktu itu, tetap aja menyalahi aturan.” Merasa mendapat angin segera kukemukakan pendapatku, … “Kalau begitu ya kita nggak boleh lagi kan melakukannya.” Adli hanya tersenyum. Katanya, … “Pendapat Adli lain neng,” … lalu lanjutnya lagi, … “kan kita sudah berbuat sesuatu, biarpun neng Mimien hanya Adli gituin mulutnya.” Dasar si Adli cara mengemukakan masalahnya kenapa brutal sekali, begitu pikirku. “Terus bagaimana?” Tanyaku pada Adli meminta ketegasan. “Yah karena memang udah kepalang salah Adli mau minta semuanya dong.” Kata-katanya membuatku terkejut seperti disambar geledek. “Aduh jangan Adli, jangan sampai kesitu dong, kan saya sudah bersuami.” Tapi dengan keras kepala Adli terus mengejarku, … “Kalau begitu kenapa neng Mimien ngajak Adli gituan?” Lalu katanya dengan tegas, “Sekarang saya menuntut semuanya!” Dengan sorot mata yang semakin tajam ia menatapku.

Lalu diucapkannya sesuatu yang membuat aku merasa merinding. Katanya, … “Apa neng Mimien maunya Adli perkosa?” Tubuhku terasa lemas, rasanya aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Melihat wajahku yang pasti sudah menjadi pucat pasi Adli menghampiriku. Aku mencoba berontak, tapi rasanya tenagaku sudah menguap entah kemana. Tersenyum agak menyeringai Adli, seperti senang melihat keadaanku begitu tak berdaya. Lalu katanya, “Obatnya manjur ya neng! Tapi nggak pusing kan?” Lalu dibimbingnya aku menuju ke ranjang, yang sepreinya tampak sudah agak belel itu. “Aduh tolong Adli, jangan dong, jangan.” Tapi Adli hanya diam saja, bahkan dengan tenang direbahkannya tubuhku ke atas pembaringan.

Pelan-pelan dan satu persatu dilepasnya busanaku. Sesekali dikecupnya tubuhku di sana sini. Aku yang sudah lemas sekaligus ketakutan lama kelamaan semakin merasa pasrah. Mulai kucoba untuk menikmati apa yang sedang dilakukan Adli. Walaupun hatiku terasa memberontak, kusadari kemaluanku sudah mulai agak basah. “Neng, neng Mimien, udah lama rasanya Adli nggak nyiumin badannya neng Mimien yang begini wangi.” Aku hanya tersenyum lemah, sekarang aku sudah bersikap menyerah. Maka Adli memulai apa yang rupanya telah dipersipkannya dengan matang. Diemut-emutnya puting dadaku dengan ganas, dicium-ciumnya seluruh tubuhku. Pada waktu bibir dan lidahnya menyapu betis dan pahaku aku sampai menggigil kegelian. Puncaknya adalah pada waktu ia menjilati ‘vagina’ku.

Lidahnya ganas menyapu, mulai dari selangkanganku hingga ‘bibir kemaluan’ku. Mulanya rasa geli yang kualami masih dapat aku tahan. Tapi akhirnya daya tahanku bobol juga. “Aduh Adli udah … udah … ampun Yasmin nggak tahan!” Begitu saja aku berteriak, sementara tubuhku menggeliat-geliat mencoba membebaskan diri dari cengkeraman laki-laki ganas ini. “Neng Mimien, neng Mimien, Adli kangen sekali,” … katanya sambil menciumi bulu halus kemaluanku. Lalu sambungnya lagi, … “Kenapa selama ini neng Mimien menjauhi Adli?” Terbit juga rasa penyesalan di hatiku, berbarengan dengan semakin meningkatnyanya gairah birahiku. Kutatap laki-laki tampan tapi lugu itu, lalu kuambil keputusan yang tidak lagi mengandung keraguan. “Adli, siniin punya kamu, aku juga udah kangen!” Suaraku terdengar agak serak, dan nafaskupun memburu kencang. Sekejap Adli terdiam, seperti tidak percaya ia menatapku. Lalu ia menegakkan tubuhnya dan beranjak mendekati wajahku. Segera tanganku menyambar tali ikat pinggangnya, dan segera kulepaskan.

Rasanya tidak sabar aku karena masih harus menurunkan ‘ruitslijting’ celana ‘jeans’ nya dan melorotnya ke bawah. Padahal setelah itu di baiknya masih ada celana dalam lagi. Aku merasa sudah sangat tidak sabar. Maka sebelum seluruh celananya berhasil kulepas turun aku sudah memerosotkan celana dalamnya. Wajah Adli terlihat senang melihat tanganku begitu bergairah menggenggam ‘alat kejantanan’nya yang besar dan tegang mencuat itu. Langsung kuciumi dan kuusapi dengan bibirku. Diikuti jilatan lidahku yang terus menerus bergerak dengan lincahnya. Karena Adli berada pada posisi mengangkang di atasku maka aku dapat menikmati semua ‘kepunyaan’nya. Selangkangan dan ‘buah zakar’nya sempurna kujilati, hingga membuat Adli merintih-rintih keenakan.

Tapi tidak lupa juga ia pelan-pelan melepas celananya, yang tadi baru sampai kulorot kebawah. Setelah itu sementara aku mengulum ‘bonggol kemaluan’nya, dan kemudian mengemut-emut seluruh ‘batang kejantanan’nya itu dalam mulutku, Adli melepas BH-ku yang masih terpasang. Dengan lembut diramas-remasnya payudaraku, sambil sesekali memainkan putingnya. Sejenak sempat kulirik wajahnya sedang tersenyum-senyum kecil. Rupanya ia sedang memandangi aku yang sedang melahap ‘daging keras’nya. Sempat agak merasa malu juga aku dibuatnya, tapi karena sedang asyik-asyiknya kuputuskan untuk berlaga seolah-olah tidak sadar. Begitulah ternyata malam ini aku dan Adli kembali dipertemukan. Barangkali memang sudah jodohnya.

“Neng, neng Mimien, sekarang Adli masukin ya?” Suara pemuda itu terdengar mengusikku. Sempat terbersit keinginan di hatiku untuk menolaknya, tapi akhirnya birahiku yang sudah sangat memuncak mendorongku mengambil keputusan yang berbeda. Kutatap dia dengan lembut, lalu kuiyakan permintaannya. “Tapi pelan-pelan ya Dli, soalnya, soalnya,” … aku kebingungan memilih kata-kata yang tepat. Adli tersenyum bangga. Diteruskannya apa yang kumaksud dengan berkata, … “Soalnya belum pernah dimasukin yang sebesar ini ya?” Aku hanya dapat mengangguk pelan, rupanya Adli telah dapat membaca pikiranku. Kemudian Adli membuka selangkanganku, sementara mengemut-emut puting dadaku, seperti seorang bayi besar yang sedang dahaga.

Diusap-usapnya bibir kemaluanku dengan ‘ujung kejantanan’nya. Aku menggelinjang kegelian, sudah merasa ingin, tapi juga agak takut. Ketika Adli mendorong kepunyaannya itu masuk, rasa pedih yang amat sangat melanda seluruh tubuhku. Ternyata ‘kepunyaan’ku agak sempit dibanding ‘kepunyaan’nya. “Aduh Adli sakit …, sambil kugigit bibirku. Dia berhenti sejenak, lalu mulai mendorong ‘alat kejantanan’nya kembali. Setelah kurang-lebih masuk setengahnya tiba-tiba Adli mendorong agak keras, hingga membuatku menjerit. “Aduh, aduh, aduh, sakit sekali sayang,” … sambil kucoba merenggangkan pahaku selebar-lebarnya. Rasa pedih yang kuderita berlangsung selama kurang-lebih dua menit, sebelum berangsur-angsur mereda. Lubrikasi dari liang kemaluanku akhirnya semakin mempermudah gerakan ‘alat kejantanan’ Adli, sehingga dapat bergerak maju mundur lancar.

Aku merinding dan menggigil dilanda kenikmatan yang baru sekali ini aku rasakan. Belum pernah ‘liang kewanitaan’ku menerima kunjungan ‘benda asing’ milik lelaki yang sebesar ini. Karena memang selama ini pengalaman yang kumiliki hanyalah dengan mas Heru. Dibanding suamiku kelebihan Adli bukan hanya karena ukuran ‘alat vital’nya yang besar, tetapi dia sendiri juga pandai memainkannya. Akibatnya baru sepuluh menit saja aku sudah mencapai orgasmeku yang pertama. Rasanya tubuhku melambung tinggi, dan terbawa melayang entah kemana. Tanpa kendali lagi aku menjerit-jerit memanggil nama pemuda itu, sambil sesekali menggigit-gigit lengannya. Setelah perasaanku mereda baru kusadari bahwa Adli masih dengan gagah menunggangiku.

Terpaksa kuatur nafas dan posisi diriku, supaya bisa mengimbangi keperkasaannya. Menjelang Adli mencapai klimaksnya masih sekali lagi aku dilanda gelombang nikmat orgasme kewanitaanku. Maka ketika kudengar Adli berkata, … “sekarang Adli lepas ya,” … aku hanya dapat mengiyakannya saja. Begitu kukatakan, … “Iya Dli, iya sayang, tolong sekarang aja … akh,” … langsung Adli memperhebat gerakan menghunjamnya. “Neng, neng Mimien, neng … aduh neng … aaahhh,” … demikian Adli meracau sambil mendorong ‘kepunyaan’nya sedalam-dalamnya memasuki ‘liang’ kewanitaanku. Sangat erat ia memeluk tubuhku, sementara jari-jariku meremas punggungnya, karena ‘orgasme’ yang juga sedang kualami. Setelah beberapa saat berlalu, barulah gerak dan erangan kami berdua mereda. Adli masih membiarkan kepunyaannya di dalam kepunyaanku selama beberapa saat, setelah itu baru ditariknya keluar. Sebagian dari ’siraman’nya tadi ikut mengalir tertumpah di selangkanganku.

Nampaknya melakukan hubungan yang memuaskan itu cenderung membuat diriku lapar. Atas permintaanku Adli memesan hidangan dan minuman dari restaurant. Begitu tiba langsung kusantap dengan sepuas-puasnya. Setelah itu kuminta Adli untuk mengantarku pulang. Tetapi ternyata dia belum mau, karena katanya belum puas menyetubuhiku. Terpaksa kulayani dia sekali lagi. Ternyata permainan yang kedua ini juga tidak kalah dibanding yang pertama tadi. Kembali ia membawaku ke puncak ‘orgasme’ku, sebelum ia sendiri menyiramkan ‘air mani’nya ke ‘liang rahim’ku untuk kedua kalinya. Aku sungguh-sungguh merasa puas, kuyakin begitu pula dengan Adli. Akhirnya baru jam 1 malam aku memasuki rumahku. Untunglah mas Heru sudah tertidur lelap, sehingga aku terlepas dari kewajiban untuk menjelaskan apapun padanya.

BUAHKAN HASIL

Hubunganku dengan Adli menjadi sangat akrab setelah peristiwa di malam itu. Ternyata biarpun lugu, sikapnya romantis juga. Bercinta dengannya akhirnya menjadi suatu kebutuhan rutin untukku. Kalau lebih dari seminggu tidak ditungganginya perasaan dan emosiku benar-benar menjadi kacau. Begitu pula halnya dengan Adli. Malah karena nafsu birahinya yang ternyata cukup besar, sering ia meminta jatahnya sampai dua kali seminggu. Untunglah hubungan kami tidak pernah sampai diketahui orang lain. Demikian pula mas Heru tidak pernah merasa curiga sama sekali.

Beberapa bulan kemudian ternyata aku hamil. Baik mas Heru maupun Adli menyambut kehamilanku itu dengan gembira. Demikian pula tentunya orang-tuaku dan orang-tua mas Heru. Aku memang juga gembira, tapi juga kuatir apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Rasa kekuatiranku semakin bertambah karena anak yang kulahirkan ternyata tidak mirip dengan mas Heru. Sekali lagi aku beruntung karena mas Heru tidak merasa curiga sedikitpun. Sebelum tiga tahun berlalu aku dianugerahi seorang anak lagi, kali ini wajahnya mirip mas Heru. Sehingga lengkap sudah rasanya kebahagiaanku.

- Tamat - , , , ,

Airport

Dua tahun yang lalu aku dan Lily bertamasya ke Disney World di Orlando, Amerika Serikat. Karena keuangan yang agak pas-pasan, kami membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah. Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline (selain murah, pada saat itu sedang ada harga promosi).

Semua perencanaan terlihat begitu baik. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 7 malam. Sesuai jadwal yang telah diberitahukan, kami transit selama 1 jam di Kuala Lumpur untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya langsung ke bandara John F Kennedy (JFK) di New York .

Itu yang kami tahu. Akan tetapi pada kenyataannya kami harus transit sekali lagi di Dubai (Arab). Aku sempat kecewa karena kami tidak diberitahukan akan hal ini
sebelumnya. Aku sempat menanyakan tempat transit mana saja yang akan kami jalani pada perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan bahwa kami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur .

Aku sempat mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami di Dubai itu. Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benar-benar menuju ke New York , kami hanya pasrah saja.

Pemeriksaan yang bertele-tele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harus mengantri sekitar 1 jam untuk melewati pemeriksaan bagasi saja.

Setelah barang-barang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas menghampiri tas koper istri saya dan berseru dengan suara agak keras untuk menanyakan siapa pemilik koper tersebut. Istri saya maju dan mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya.

Petugas tersebut memandangi Lily cukup lama. Salah satu hal yang paling kuingat dari wajahnya adalah kumis yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil. Lalu ia membuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya. Isi koper itu hanyalah pakaian-pakaian dan peralatan kosmetik Lily. Tangan pria itu (sebut saja si Kumis) mengeluarkan satu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper.

“What is this?” tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti.

Lily menjawab gugup, “Coffee.”

Alis si Kumis mengkerut. Matanya menatap tajam Lily. Lalu ia mengatakan beberapa kalimat yang sulit dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin dikatakan si Kumis (dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat aneh) adalah membawa kopi dilarang.

Aku mendekati petugas itu dan menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Kumis masih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi koper itu lagi, ia menutupnya dan memandang aku dengan wajah curiga.

“Who are you?” aku menduga ia mengucapkan kata-kata tersebut.

“I’m her husband. What’s the problem, sir?”

Ia terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang petugas lain di belakangnya dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata, “Follow me!”

Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru dipanggil si Kumis sedang yang satunya lagi menggiring kami untuk mengikuti si Kumis. Si Kumis berjalan dengan cepat masuk ke dalam ruangan tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC.

Ruangan yang tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya dilapisi cermin setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atas meja di pinggir. Ketiga pria itu (termasuk si Kumis) telah masuk ke dalam ruangan. Pria yang memiliki brewok lebat menutup pintu lalu menguncinya.

Kami berdua berdiri terpaku di hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksa di ruangan terpisah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memenuhi pikiranku (mungkin tak beda jauh dengan benak Lily).

Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Kumis mengatakan sesuatu yang tak jelas. Kata-kata yang dapat tertangkap oleh telingaku hanyalah “stand”, “wall” (dan “against” setelah berpikir beberapa detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap tembok. Informasi ini kuteruskan ke Lily yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis.

Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin di depan kami, aku melihat si Brewok dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap (sebut saja si Tegap) menghampiri kami. Telapak tangan kami ditempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami direnggangkan dengan menendang telapak kaki kami agar bergeser menjauh.

Si Brewok mulai memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah. Pemeriksaan berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan celanaku dikeluarkan dan diletakkannya di meja terpisah.

Sama halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Lily dari atas ke bawah. Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Lily walau hanya sebentar.

Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Lily. Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalah ekspresi kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap mencari kesempatan dalam kesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa bagian dada Lily, toh dadaku juga diperiksa oleh si Brewok, pikirku.

Benda-benda juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Lily. Meja itu dipenuhi oleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kami berdua.

Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Kumis (yang ternyata adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruh kami untuk membuka pakaian kami. Jantungku seperti berhenti berdetak. Lily masih belum dapat mengira-ngira perkataan si Kumis itu.

Tanpa memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Kumis. Namun si Kumis membentak, yang kuduga isinya (jika diterjemahkan): “Jangan macam-macam! Cepat laksanakan!” Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku adalah “Don’t play” dan “Quick”.

Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Kumis. Mata Lily membesar dan mulutnya terbuka sedikit karena kaget.

Si Tegap dan si Brewok sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami dengan pandangan tajam. Aku melirik ke pinggang si Brewok. Pandanganku tertumpu pada pistol yang menggantung di pinggang tersebut.

Perasaan takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari sweater, kemeja, kaos dan celana panjang. Pada saat aku melepaskan kemejaku, Lily masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya. Karena takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia segera melepaskan pakaiannya.

Akhirnya dengan berat hati ia melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami.

Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik berikutnya si Tegap menarik tangan Lily dan membawanya ke sisi tembok yang bersebelahan dengan tembok di hadapan kami. Tangan si Brewok menahanku ketika aku hendak mengikuti Lily. “Don’t move!” katanya kepadaku dengan sangat jelas.

Aku masih dapat melihat Lily (dari bayangan di tembok cermin) berdiri tak jauh di sebelah kananku. Ia menghadap tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku.

Lalu si Brewok menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembok cermin dan merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula terhadap Lily.

Si Brewok yang berdiri di belakangku, meraba-raba bagian tubuhku yang ditutupi oleh celana dalamku, mencari-cari sesuatu untuk ditemukan. Setelah itu sambil menggelengkan kepalanya, ia mengatakan sesuatu kepada si Kumis.

Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Lily. Dengan jelas aku melihat tangannya meremas payudara Lily selama beberapa detik. Tangannya bergerak ke bagian bawah tubuh Lily. Kemudian si Tegap berjongkok di belakang Lily dan aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya setelah itu. Lily memejamkan matanya. Alisnya sedikit mengkerut.

Selama sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa yang dikerjakan si Tegap pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan kepada si Kumis (lagi-lagi aku tak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan mereka).

Si Kumis berkata-kata lagi diikuti dengan ditariknya celana dalamku ke bawah oleh si Brewok. Belum sempat kaget, aku mendengar Lily menjerit kecil. Rupanya celana dalamnya sudah ditarik ke bawah sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan si Brewok terhadap celana dalamku. Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang BH Lily dan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap meraih BH itu dan menariknya satu kali dengan keras sehingga lepas dari tubuh Lily.

Secepat kilat Lily menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kami berdua berdiri tegang. Si Kumis berjalan perlahan menghampiriku lalu bergerak ke arah Lily. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan memperhatikan tubuh istriku. Aku rasa, Lily mulai akan menangis.

Si Kumis memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap menghampiriku dan berdiri menantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya berubah menjadi lebih kejam tiga kali lipat.

Sambil mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawa oleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Lily yang menutupi buah dadanya. Aku dapat melihat istriku menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Si Kumis kembali memandangi Lily dan kali ini pandangannya terkonsentrasi ke arah payudara istriku.

Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Lily. Lily hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut (atau malu?).

Dengan menggunakan pentungan hitamnya itu, si Kumis menurunkan celana dalam Lily dari lutut sampai ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Lily untuk merenggangkan kakinya sehingga mau tak mau ia melangkah keluar dari celana dalamnya.

Pada saat si Kumis mulai menggerayangi payudara istriku, aku beringsut dari tempatku untuk mencegahnya. Namun bukan aku yang mencegah perbuatan si Kumis, si Tegap dibantu oleh si Brewok menahan tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.

Aku meneriaki si Kumis untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengan tamparan keras pada pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal dari darah yang mengalir dalam mulutku. Akhirnya aku hanya berdiri dan berdiam diri.

Tak beberapa lama setelah itu, si Kumis berjongkok di depan Lily sehingga aku tak dapat melihat apa yang dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat dari bayangan di cermin bagian belakang tubuh si Kumis yang sedang berjongkok di antara kedua paha Lily.

Tidak terdengar suara apa pun selain suara detak jantungku yang semakin keras dan cepat. Lily tetap memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi.

Lily tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Istriku memang agak penakut dan kurang berani mengungkapkan pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran dengan sikap istriku saat itu yang tidak memprotes sedikit pun atas perbuatan si Kumis terhadap dirinya. Atau mungkin saja si Kumis tidak melakukan apa-apa saat itu, batinku.

Setelah lima menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebih menyerupai mendesah), “Hhwwhhh…” Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidak lagi menutup matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.

Setelah itu, si Kumis berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat dengan tangannya kepada si Tegap dan si Brewok untuk meninggalkan ruangan itu.

Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa aku melihat beberapa jari si Kumis mengkilap karena basah. Hanya dengan melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apa yang telah dilakukan si Kumis terhadap istriku.

Si Kumis berkata-kata kepada kami. Kali ini aku yakin ia mengatakannya dalam bahasa inggris. Walau aku hanya dapat menangkap sepenggal kalimat (“may pass”), namun aku yakin bahwa ia menyuruh kami mengenakan kembali pakaian kami dan memperbolehkan kami untuk melanjutkan perjalanan kami.

Awalnya aku tak mempercayai pendengaranku (dan tafsiranku terhadap kata-katanya). Namun setelah mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, aku semakin yakin.

Aku menyuruh Lily untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulai menangis terisak-isak sambil mengenakan pakaiannya.

Setelah selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masih menangis. Dalam pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya mengelus-elus rambutnya dan menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa semua itu sudah berakhir.

Sesampai kami di hotel (di Orlando), Lily akhirnya menceritakan apa yang diperbuat si Kumis terhadap dirinya. Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Kumis menggesek-gesekkan jarinya ke kemaluan istriku. Pada akhirnya si Kumis memasukkan satu – dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu mengocoknya beberapa kali.

Lily mengatakan bahwa dirinya merasa jijik atas perbuatan si Kumis. Setelah beberapa saat, aku menanyakan padanya apakah ia terangsang saat itu.

Mendengar pertanyaan itu, Lily langsung mencak-mencak dan mengambek. Dalam rajukannya, ia menanyakan kenapa aku berpikiran seperti itu.

Aku mengungkapkan bahwa aku melihat jari-jari si Kumis basah pada saat ia menghampiriku sebelum keluar dari ruangan itu. Lily menjawab bahwa jari-jari itu basah karena terkena ludah dari lidah yang menjilati klitorisnya. Karena tak mau melihat dirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima penjelasannya dan meminta maaf karena telah berpikiran seperti itu.

Sebenarnya di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Kumis dapat membasahi sepanjang jari-jarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang terdalam sebenarnya aku tahu bahwa jari-jari si Kumis bukan basah oleh ludah melainkan oleh cairan yang meleleh dari kemaluan istriku.

Namun aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan Lily agar kami dapat menikmati sisa waktu kami di Amerika itu.

- Tamat - , , ,

Paha Bu Guru

Namaku Arif, ini adalah kisah yang baru saja aku alami. Aku adalah siswa dari salah satu SMA negeri terkenal. Saat ini aku duduk di kelas tiga jurusan IPS. Memasuki tahun 2007 berarti persiapan buatku untk lebih serius belajar menghadapi ujian akhir. Aku tahu aku tidak begitu pintar, maka itu aku selalu mencari cara agar guru-guru bisa membantuku dengan nilai. Cara yang aku gunakan adalah selalu mengajukan diri untuk menjadi kordinator pelajaran di sekolah.

Pengalaman menjadi kordinator di kelas tiga inilah yang membawa diriku ke pengalaman yang tak akan
pernah kulupakan seumur hidup. Awalnya aku biasa-biasa saja ketika mendengar aku dipilih menjadi koordinator pelajaran Pendidikan Pancasila. Namun lama-lama aku senang karena ternyata bu Mumum lah yang kembali mengajar kelasku. Ya, bu Mumum adalah guru pancasila saat aku kelas 2. Di kelas 2, bu Mumum sering jadi bahan bisik-bisik teman-teman laki2 ku. Bagaimana tidak, di kelasku itu, meja guru yang menghadap ke arah murid-murid, di depannya biasanya khan tertutup, sehingga kaki guru tidak terlihat dari arah murid, nah, di kelasku mejanya depannya tidak tertutup, jadi setiap guru yang duduk selalu kelihatan kaki dan posisi duduknya. Diantara semua guru, bu Yosi, bu Rahma, bu Tati dan sebagainya, mereka semua sadar akan keadaan meja itu dan sadar bagaimana harus duduk di kursi itu, hanya bu Mumum mutmainah lah yang tidak sadar. Beliau selalu mngajar sambil duduk dan memberikan pelajaran mengenai moral pancasila. Bu Mumum tidak sadar, jika ia duduk selalu agak mengangkang dan hampir setiap dia mengajar anak-anak cowo selalu memaksa duduk di depan supaya bisa lebih jelas melihat paha bu Mumum dan celana dalamnya yang berwarna krem.

Banyak teman-teman yang diam-diam mengambil foto selangkangan bu Mumum dari bawah meja dengan Handphone, namun hasilnya selalu tidak memuaskan karena gelap. Aku pun termasuk salah seorang dari mereka yang selalu horny lihat paha bu Mumum. Bu Mumum berusia 43 tahun, dari logat bicaranya, beliau orang sunda. Kulitnya putih agak keriput dan kemerahan. Semakin dia tidak memakai make-up, semakin nafsu teman-temanku melihatnya. Karena kulitnya menjadi agak mengkilat.

Kembali ke ceritaku, aku pun semakin sering berkomunikasi dengan bu Mumum. Dan aku mencari cara agar aku bisa menarik perhatiannya. Sisi positifnya membuat aku terpaksa membaca-baca hal-hal soal moral dan pancasila dan berusaha mencari-cari pertanyaan untuk sekedar aku tanyakan kepada bu Mumum. Ini supaya bisa menjadi alasan untukku lebih dekat dengannya. Jika berbicara lebih dekat dengan bu Mumum, aku lihat dari dekat kulitnya yang putih agak berbintik kemerahan dan keriput sedikit disana sini. Pantas saja bu Mumum selalu memakai bedak karena kulitnya akan mengkilat dan berminyak jika polos. Namun semakin membuatku bernafsu, karena pikiran ku udah terkotori dengan pengalaman saat kelas dua.

Semaksimal mungkin kubukat bu Mumum berpikiran bahwa aku adalah siswa yang sangat tertarik dengan apa yang ia ajarkan, walaupun sebenarnya tujuanku adalah dekat dengan dirinya.
Suatu hari aku bertanya apakah aku boleh meminjam beberapa buku mengenai nasionalisme yang sering bu Mumum ceritakan padaku. Bu Mumum bilang boleh saja, kalau mau ke rumah. Yes! akhirnya berhasil strategiku. Bu Mumum memberikan alamat rumahnya yang berada di Perumnas dekat SMA tiga di kotaku. Malamnya aku tidak bisa tidur, mengatur rencana seperti apa nanti kalau aku di rumah bu Mumum, mudah-mudahan suaminya belum pulang. Besok aku akan ke rumah bu Mumum sepulang sekolah, kudengar suami bu Mumum PNS di departemen pendidikan daerah, mudah-mudahan suaminya belum pulang sekitar jam dua sampai jam empat.

Esoknya sepulang sekolah aku langsung ke rumah bu Mumum. Tak disangka, saat aku sedang menyetop angkot untuk pergi ke rumah bu Mumum, ternyata bu Mumum juga tengah menunggu angkot.
“Eh, Rif, mo krumah ibu? ya sudah bareng saja”, aku senang sekali aku bisa pergi sama bu Mumum. Aku duduk bersebelahan bu Mumum di kursi depan angkot. Ooh, pahaku bersentuhan dengan pahanya yang mulus, aku takut ketahuan kalau penisku sudah mulai mengeras, maka aku tutupi dengan tasku. Sepanjang perjalanan bu Mumum cerita tentang keluarganya dan terkadang sedikit menanyakan tentang keluargaku. Aku berbohong bahwa aku sudah lama tidak mendapat kasih sayang seorang ibu, karena aku hidup terpisah, lalu aku bilang senang karena aku merasa bisa mendapatkan kenyamanan jika berbicara dan ngobrol dengan bu Mumum, rasanya bu Mumum sudah kuanggap ibu sendiri. Bu Mumum terharu dan Memegang tanganku!! Kata beliau, beliau senang mendengarnya lagian menurutnya aku anak yang baik. Dalam benakku, ya, aku memang anak “baik”, yang siap menikmati tubuh ibu. Aduh penisku sampai keluar pelumas saat itu, basah sekali.

Dua puluh menit kemudian, sampailah kami di rumah beliau. Ternyata dugaanku benar, tidak ada seorangpun di rumah beliau. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Bu Mumum bilang tunggu sebentar untuk ganti baju. Ganti baju??! dalam benakku aduh ingin sekali aku mengintip beliau ganti baju. Aku deg-degan, mataku mengarah kemana bu Mumum pergi. Beberapa menit bu Mumum keluar. Masih memakai baju gurnya sambil membawa buku. Yah, ternyata hari itu belum waktunya untukku, tapi ini adalah awal dari pengalaman yang sebenarnya.

Sejak itu aku jadi sering ke rmah bu Mumum dan kenal dengan keluarganya. Akhirnya puncak pegalaman ini, saat aku pura-pura menangis sedih frustasi akibat ayahku mau menikah lagi dan aku tidak setuju, karena itu ayahku mengusirku dan tidak boleh pulang ke rumah. Tentu saja ceritanya aku karang sendiri. Bu Mumum sangat bersimpati padaku, saat aku cerita panjang lebar di rumahnya tidak ada siapa-siapa, bu Mumum saat itu memakai daster dan tanpa make-up duduk disebelaku sambil memegang pundakku. Aku menangis pura-pura, bu Mumum menenangkan ku dengan memelukku.

Mmh, aku menyentuh pinggiran payudara bu Mumum. Akhirnya aku mencium aroma tubuhnya. Aku mempererat pelukanku dan kepalaku aku sandarkan di leher bu Mumum. aku bisa menghirup aroma lehernya. Bu Mumum memelukku erat pula. Secara nekat kuberanikan diriku untuk mencium pipi bu Mumum secara lembut. Dan bilang kalau aku minta maaf tapi aku merasa cuma bisa tenang jika dekat ibu Mumum. Bu Mumum bilang tidak apa-apa. Aku pun memberanikan mencium pipinya lagi, tapi kali ini lebih dekat ke pinggiran bibir, cukup lama kutempelkan bibirku di pinggiran bibirnya. Bu Mumum diam saja sambil terus memelukku dan mengelus-elus punggunggu sambil menenangkan. Apakah bu Mumum terasa bahwa penisku yang sudah menegang kutempelkan di pahanya. Ku coba menggesek-gesekkan perlahan penisku ke paha bu Mumum. Bu Mumum tahu. Namun beliau diam saja. Aku pegang pipi beliau, tentunya air mataku masih mengalir, sambil aku lekatkan bibirku dengan bibirnya sambil berkata “Ibu…”, bibir bu Mumum tidak terbuka, beliau tetap diam, walaupun bibirku bergerak-gerak mencium bibirnya. Berbarengan dengan itu, aku tekan dan gesekkan terus penisku yang sudah basah ke paha bu Mumum. Kami berdua duduk di sofa. Bu Mumum tahu aku sedang apa dan beliau diam saja, mebiarkan ku beronani dengan menggunakan paha dan bibirnya sebagai media masturbasiku. Aku gesek-gesekkan terus dan terus, bu Mumun tampaknya memejamkan mata dan tidak berkata apa-apa. OOh pembaca, wajahnya aku ciumi, nafasnya aku hirup, dan pahanya yang besar dan lembut aku tekan-telan dengan penis, gesek terus.. Ooh..terus… Dan akhirnya ouuhh.. Cepat sekali aku ejakulasi.

Aku pun lemas sambil memeluk ibu Mumum yang hampir posisinya setengah tertidur di sofa akibat aku tekan terus. Bu Mumum pelan-pelan bilang, “udah..? hm?”, kata bu Mumum pelan dan terdengar sayang sekali denganku. Aku minta maaf sekali lagi dan bu Mumum bilang ia mengerti.

Tentunya setelah kejadian itu, aku semakin dekat dengan ibu, sampai detik ini.. Suaminya dan teman-temanku tidak tahu hubungan kami. Walaupun aku belum sampai berhubungan seks dengan bu Mumum, namun bu Mumum selalu tahu dan bersedia menjadi media onaniku, dengan syarat pakaian kami masih kami kenakan, bu Mumum hanya menyediakan pahanya dan memperbolehkan aku menindihnya dan menekan-nekan penisku ke paha dekat selangkangannya sampai aku dapat klimaks. Maka itu, aku selalu membawa celana dalam cadangan saat aku bilang ke bu Mumum kalau aku ingin ke rumah ibu Mumum. Bu Mumum, arif sayang sama ibu. Biarlah arif tidak berhubungan seks dengan ibu tapi adanya ibu cukup membuat Arif bahagia. Bisa klimaks di atas tubuh ibu dan mencium bibir ibu…

Tamat , , , ,

Monday, June 23, 2014

Kekarnya Mantan Muridku

Kisah dan Cerita Panas ini berawal dari keberanian manta muridku, Sandi. Tampaknya sejak SD dia sudah sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang molek. Sebenernya cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa mau dikata perbuatan itu telah kami lakukan, dan kenikmatan itu ingin kami bagikan disini.

    “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
    “Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

    “Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
    “Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi
    “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
    “Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
    “Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

Namaku Asmiati, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.

Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.

Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SD.

Sandi sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Sandi memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.

Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

“Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

“Bu Asmi..?” Suara Sandi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.

Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

Sekarang tangan Sandi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

“Sandi!! Ngapain kamu?”

Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Sandi menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

“Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Sandi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

“Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.

“Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SD saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandi.

“Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.

Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.

Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.

“Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

“Ibu hebat…,” desisnya.

“Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.

“Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.

“Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.

“Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.

Sandi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.

“Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.

Sandi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang besar.

Berbeda dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Sandi, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

“Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Sandi, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Sandi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!

Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

“Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Sandi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

“Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

“Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”

Sandi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.

“Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”

Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

“Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.

“Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Sandi menyodok-nyodok semakin kencang.

“Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

“Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”

“Oh, ah, uuugghhh… ”

“Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Sandi, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Sandi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.

Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi segera menunduk, dikecupnya pipiku.

“San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.

“Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Sandi melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”

Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.

Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.

“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.

“Aku hampir keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi

“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”

“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

“Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”

“Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

“Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.

“Enak banget,” bisik Sandi beberapa saat kemudian.

“Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di dalam vaginaku.

“Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”

“Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

Sandi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Sandi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

“Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Sandi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.
Tamat , , ,